Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUMBU LINCAH PLIEKU DENGAN PENAMBAHAN ASAM JAWA DI KOTA BANDA ACEH Rahmayani .; Laili Suhairi; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 7, No 1 (2022): FEBRUARI 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plieku adalah bumbu khas dari daerah Aceh. Bahan yang digunakan untuk membuat Plieku ialah buah kelapa dengan cara di fermentasi. Tidak hanya di fermentasi dalam pembuatan Plieku daging buah kelapa juga melalui proses penjemuran agar minyak dan daging buah kelapa terpisah dan kering sehingga menjadi Plieku. Plieku dan minyaknya sudah lama digunakan oleh masyarakat Aceh sebagai makanan dan sebagai obat.Tujuan Penelitian untuk (1) Mengetahui daya terima konsumen Bumbu Lincah Plieku. Metode penelitian adalah metode eksperimen dengan 3 kali perlakuan yaitu Blp0(0g),Blp1 dengan penambahan (5g) asam jawa dan Blp2 dengan penambahan (10g) asam jawa. Teknik Pengumpulan data menggunakan uji pengamatan (sensory evaluation) oleh 5 orang narasumber dan uji penerimaan (Hedonic Scale) kepada 30 orang konusumen. Data hasil uji pengamatan dianalisis dengan cara menghitung nilai rata-rata (mean) yang diperoleh dari narasumber sedangkan uji penerimaan dianalisis dengan menggunakan analisis varian (anava). Berdasarkan hasil uji pengamatan diketahui bahwa untuk warna 19,2, aroma 21,2, dan rasa 20,8 lebih disukai pada perlakuan tiga (Blp2) dengan penambahan asam jawa 10 g, karena terdapat warna yang cerah, aroma Bumbu Lincah Plieku dan rasa yang segar. Namun untuk tekstu yang disukai adalah perlakuan kesatu (Blp0) tanpa penambahan asam jawa, karena memiliki tekstur yang halus. Sedangkan berdasarkan uji penerimaan diketahui bahwa untuk aroma 3,9, tekstur 3,9 dan rasa 4,1 lebih disukai pada perlakuan kedua (Blp2) dengan penambahan asam jawa 10 g, karena terdapat aroma khas Bumbu Lincah Plieku, tekstur yang halus dan rasa yang segar. Namun untuk warna 4,1 yang disukai adalah perlakuan kesatu (Blp2) dengan penambahan 10g asam jawa, karena mempunyai warna yang lebih bagus.Kata Kunci: Preferensi konsumen, Plieku, Asam Jawa
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PENGETAHUAN MENGENAI VAGINAL DISCHARGE PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 01 DARUL KAMAL ACEH BESAR Raudhatun Nuzul ZA; Rahmayani .
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia, about 90% of women have the potential to experience vaginal discharge because Indonesia is a tropical area so that the fungus is easy to develop which results in many cases of vaginal discharge. Symptoms of vaginal discharge are also experienced by unmarried women or girls aged 15-24 years, which is around 31.8%. This shows that adolescents are more at risk of developing vaginal discharge. In 2002 as many as 50% of Indonesian women had experienced vaginal discharge, then in 2003 it increased to 60% and in 2004 it increased again to almost 70% of Indonesian women who had experienced vaginal discharge at least once in their life. Adolescence is the most complex phase of development with all its problems. The most important phase for adolescents is puberty, where for young women is marked by the maturity of the reproductive organs. Leucorrhoea (leukorrhea, white discharge, or fluoralbus) is a symptom in the form of discharge from the genital organs that is not in the form of blood. This discharge is a physiological condition from the female genital tract. The entire surface of the female genital tract can discharge in the form of a saturated mucus, colorless and odorless.