Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK PENDERITA DIABETES MELLITUS YANG BERUMUR ≤44 TAHUN YANG DIRAWAT DI RSUD Dr. RM. DJOELHAM KOTA BINJAI TAHUN 2016-2017 Kristian Adesaputra Zendrato; Sori Muda Sarumpaet; Jemadi .
Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi
Publisher : Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.969 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a communicable diseases which has increasing prevalence every year. World Health Organization (2016) reports that there are 422 million people had DM globally. In the other word, 1 in 11 people around the world live with the disease. Based on data from Riskesdas 2013, proportion of people with DM in Indonesia has increased in the age group ≤44 years, from the age group 15-24 years (1,1%), 25-34 years (2,7%), to 35-44 years (6,1%).   This research is descriptive with case series design. The objective is to know the characteristics of ≤44 years old patients of DM in RSUD Dr. RM. Djoelham Binjai in 2016-2017. The population of this research is 110 people, the sample is the same as population.   The result shows that the proportion of ≤44 years old patients with DM is highest in the late-adulthood age group (80,9%), male (54,5%), Javanese (42,7%), Moslem (55,5%), Senior High School (44,5%), worker (74,5%), main complaints are fatique with nausea and vomiting (64,5%), Type 2 DM (74,5%), with complications (67,3%) especially chronic complications (70,3%), average blood glucose level (BGL) on admission 237,1 mg/dl, hypoglycemic oral medication (49,1%), non self-cost (79,1%), average length of stay 4,2 days, becoming outpatient (59,1%). The statistical test gives no significant differences among age group based on sex (p=0,770), sex based on complication type (p=0,220), average length of stay based on complication type (p=0,829), complication status based on condition when being out of the hospital (p=0,910). There are significant differences among age group based on diabetic type (0,001), age group based on complication status (p=0,001), average length of stay based on complication status (p=0,001), BGL on admission based on medication type (p=0,001), and complication type based on BGL on admission (p=0,034).   It’s suggested to RSUD Dr. RM. Djoelham Binjai to intensify on informing patients. The patients should do routine BGL control, life style and diet improvement, routine exercises, attending counseling and regular medication.   Keywords: Characteristics, Diabetes mellitus of ≤44 years old patient
PENYULUHAN GIZI TENTANG MENU BERBAHAN LOKAL UNTUK MENCEGAH STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS SIMPANG LIMUN KECAMATAN MEDAN KOTA TAHUN 2025 Hutajulu, Johansen; Mindo Tua Siagian; Evawani Martalena Silitonga; Mido Ester J. Sitorus; Febri Putra Sukurman Zalukhu; Kristian Adesaputra Zendrato
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jam.v7i1.6912

Abstract

Latar belakang: Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Penyuluhan Gizi Tentang Menu Berbahan Lokal Untuk Mencegah Stunting Di Wilayah Puskesmas Simpang Limun Kecamatan Medan Kota Tahun 2025, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi peserta. Tujuan: Penyuluhan yang dilakukan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai pengertian stunting, faktor penyebab, serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Metode: Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta terkait gizi seimbang dan pemanfaatan bahan pangan local padat gizi, yang ditunjukkan melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test. Selain itu, peserta juga menunjukkan peningkatan kesadaran dan sikap positif dalam menerapkan praktik pemberian makan yang sesuai usia anak serta memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, dan stimulasi tumbuh kembang. Hasil: Antusiasme dan partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa edukasi gizi dan pola asuh merupakan kebutuhan nyata bagi masyarakat. Dengan pendekatan yang komunikatif dan berbasis kondisi lokal, kegiatan ini berpotensi berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan di tingkat keluarga dan masyarakat. Disarankan kepada Ibu balita diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh mengenai gizi seimbang dan pemanfaatan bahan pangan lokal padat gizi dalam kehidupan sehari-hari, serta aktif memantau pertumbuhan anak melalui kegiatan posyandu secara rutin. Kesimpulan: Pada kader Perlu dilakukan pendampingan dan edukasi lanjutan secara berkala kepada ibu balita guna memperkuat perubahan perilaku dan memastikan keberlanjutan upaya pencegahan stunting di masyarakat. Kepada Pemerintah Diharapkan dapat mendukung kegiatan serupa melalui integrasi program edukasi gizi berbahan pangan lokal dengan program kesehatan ibu dan anak, serta menyediakan sarana dan prasarana pendukung yang memadai.