Malkisesdek Taneo
Departemen Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Eksistensi Kerajaan Bunga Bali di Alor pada Masa Pemerintahan Raja Baololong Kaay, 1840-1875 Susilo Setyo Utomo; Malkisesdek Taneo; Mardhi Abiatar Letuna
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 6, No 1 (2021): Artefak, Etnografi, dan Strategi Pertahanan
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v6i1.28578

Abstract

This article aims to reveal the economic, political and social conditions of the Bunga Bali Kingdom during the reign of King Baolong Kaay in 1840-1875, as well as to revealing his role in political diplomacy in the Lisbon Treaty which certainly had shown existence of the Bali Bunga Kingdom. This study focuses on the locus of the territorial area of the Bunga Bali Kingdom which is centered at Alor Besar. This study uses a historical approach by emphasizing historical facts. Data were obtained from literature or document studies, observations, field studies, and oral traditions. According to this study, there is an economic dependence of the community on the agricultural, livestock and fishery sectors, as well as the political situation. The Bunga Bali  Kingdom has 10 Adang villages, three Islamic villages, and seven Pura villages. This study also reveals the social relations of local communities that did not recognize the division of social classes. On the other hand, the emergence of King Baololong as a mediator in the Lisbon treaty in Sago (Solor) was an important turning point because it resulted in an agreement on the territorial division and recognition for the Portuguese and the Dutch. The territories of Kolana, Batulolong, Kui, and Mademang were given to the Dutch, while the island of Atauro was given to the Portuguese. Meanwhile, based in the participation in the Lisbon, it was a medium of achievement and pride for the community as well as to strengthen the ties of brotherhood and cooperation between Galiyau Watang Lema and Solor Watang Lema.
Makna Sosial Pesta Sekolah Dalam Masyarakat Manggarai di Flores Malkisedek Taneo; Fransiskus Bustan; Basri K
Haumeni Journal of Education Vol 2 No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menjelaskan makna sosial dari pesta sekolah, sebuah pesta khusus yang dirancang untuk mengumpulkan uang untuk mendukung keberhasilan pendidikan bagi anak-anak, di masyarakat Manggarai. Kajian ini dilihat dari teori pendidikan dan budaya ditinjau dari perspektif sosial. Penelitian ini bersifat deskriptif. Makna sosial pesta sekolah dalam masyarakat Manggarai diwujudkan dalam proses perencanaan, tindakan, dan evaluasi yang ditandai dengan kehadiran banyak orang sebagai peserta dengan peran yang berbeda-beda. Makna sosial dari pesta sekolah juga ditunjukan dengan makan bersama sebagai sarana rekonsiliasi di antara mereka
Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru Profesional Lulusan PPG LPTK FKIP Universitas Nusa Cendana di Kabupaten Belu I Gusti Ngurah Budiana; I Made Parsa; Andreas Ande; Malkisedek Taneo; Jacobis J. Messakh; Damianus D Samo; Imelda Paulina Soko
Jurnal Kelimutu Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Kelimutu Journal of Community Service (KJCS)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/kjcs.v5i1.27740

Abstract

Kompetensi pedagogi mencakup kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi pembelajaran secara efektif. Namun demikian, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan termasuk guru profesional lulusan PPG LPTK Universitas Nusa Cendana. Solusi praktis yang dilaksanakan LPTK FKIP Universitas Nusa Cendana yakni dengan mengadakan pelatihan penguatan kompetensi pedagogik berbasis praktik. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan yang digunakan adalah praktik langsung (learning by doing) sehingga guru dapat langsung mengaplikasikan konsep yang dipelajari. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah rata-rata keaktifan peserta pada kategori baik, atau minimal memiliki nilai observasi 3,00 dan ≥ 75% guru memiliki pemahaman yang baik terkait kompetensi pedagogi dan praktiknya dalam pembelajaran di kelas. Hasil kegiatan menunjukan nilai hasil observasi berada pada nila 3,53 atau kategori sangat baik dan adanya perbedaan rata-rata peningkatan yang signifikan pemahaman guru sebelum dan setelah kegiatan pelatihan