Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RESOLUSI KONFLIK DI ASIA TENGGARA: PENGALAMAN MUSLIM INDONESIA Badrus Sholeh
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.29-52

Abstract

Artikel ini akan mengkaji peran kepemimpinan Muslim Indonesia dalam mewakili pemerintah dan masyarakat sipil pada upaya perdamaian di Asia Tenggara. Ini dilakukan sejak masa Menlu Ali Alatas dalam memediasi konflik di Kamboja dan Filipina Selatan, hingga periode Menteri dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Professor M. Din Syamsuddin yang memediasi Filipina Selatan dan Aceh. Muslim Indonesia juga turut memainkan peran aktif dalam memediasi konflik di Thailand Selatan dan Timur Tengah. Sebagai negara demokratis ketiga di dunia dan negara Muslim terbesar, Indonesia telah berubah menjadi negara dengan kekuatan menengah (Middle Power) dan melakukan peran utama dalam menciptakan wilayah Asia Tenggara yang stabil dan sejahtera. Artikel ini berargumen bahwa pengalaman ini bisa membawa Indonesia pada peran lebih besar di Timur Tengah dan Afrika. Tetapi peran ini terhambat akibat masih kurangnya kepercayaan negara-negara Arab yang masih memandang Indonesia sebagai negara pinggiran.This article examines the role of  Indonesian Muslim leaders representing state and civil society on conflict resolution in Southeast Asia from the period of Foreign Minister Ali Alatas on mediating conflict in Cambodia and Southern Philippines to the period of Minister and Vice President Jusuf Kalla, President Susilo Bambang Yudhoyono and Professor M. Din Syamsuddin who mediating conflict of Aceh and Southern Philippines. Indonesian Muslims also took active participation in mediating conflicts in Southern Thailand and conflicts in the Middle East. As the third largest democratic country and the largest Muslim country, Indonesia have transformed as middle power country and confidently taken a leading role in managing stable, peacefu and prosperous region of Southeast Asia. It argues the experience of Indonesia in regional mediation will lead Indonesia towards international conflict resolution in the Middle East and Africa. However, Arab countries still consider Indonesia as periphery of Islam and cultural gap which influence the trust from Arabcountries.
Changes in The Behavior of Religious Radicalism of Young Communities in The Mataraman Region, East Java Nur Kholis; Munardji Munardji; Nuril Mufidah; Salamah Noor Hidayati; Badrus Sholeh
AL-TAHRIR Vol 21, No 1 (2021): Islam: Liberalism and Fundamentalism
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v21i1.2858

Abstract

This study aims to describe and analyze behavioral changes in religious radicalism and the factors that influence these behavioral changes. This type of research is qualitative, using a case study approach—the place of a research area that is categorized as Mataraman culture. The primary consideration is that the character of this region adheres to the notion of integration of religion, culture, and politics, which can be called a society with a harmonious character. The facts on the ground show this community with a culture of harmony has been exposed to radical ideas, especially among teenagers. For example, there were two raids on people suspected of being exposed to radicalism in Tulungagung. Data collection techniques are in-depth interviews, observation, and documentation. The collected data were analyzed using Miles & Huberman's interactive model. The study results show that changes in behavior to become radical in religion are determined by several factors: the strength of belief, Daulah Islamiyyah as the subjective norm of the group, scriptural studies, and economic programs/activities to improve the welfare of members. These four factors strengthen the birth of the intention to turn into a radical in religion. A firm intention among youth serves to trigger the actualization of radical behavior in religion among youth. الملخصتهدف هذه الدراسة إلى وصف وتحليل التغيرات السلوكية في التطرف الديني ، والعوامل التي تؤثر على هذه التغيرات السلوكية. هذا النوع من البحث نوعي باستخدام نهج دراسة الحالة. مكان منطقة البحث المصنفة على أنها ثقافة ماتارامان. الاعتبار الرئيسي هو أن طبيعة هذه المنطقة تتمسك بفهم تكامل الدين والثقافة والسياسة ، والذي يمكن تسميته بمجتمع ذي طابع متناغم. تظهر الحقائق على الأرض أن هذا المجتمع الذي يتمتع بثقافة الانسجام قد تعرض لأفكار راديكالية ، خاصة بين المراهقين ، على سبيل المثال ، كانت هناك غارتان على الأشخاص المشتبه في تعرضهم للتطرف في تولونغاغونغ. تقنيات جمع البيانات هي المقابلات المتعمقة والملاحظة والتوثيق. تم تحليل البيانات التي تم جمعها باستخدام النموذج التفاعلي Miles & Hubermans. تظهر نتائج الدراسة أن التغيرات في السلوك ليصبح متطرفًا في الدين تتحدد بعدة عوامل هي ؛ قوة الإيمان ، الدولة الإسلامية كقاعدة ذاتية للجماعة ، والدراسات الكتابية ، والبرامج / الأنشطة الاقتصادية لتحسين رفاهية الأعضاء. هذه العوامل الأربعة تعزز ولادة نية التحول إلى راديكالية في الدين. تعمل النية القوية لدى الشباب على تفعيل السلوك الراديكالي في الدين بين الشباب. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perubahan perilaku radikalisme beragama, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Tempat penelitian wilayah yang masuk kategori budaya Mataraman. Pertimbangan utamanya adalah karakter wilayah ini menganut paham integrasi agama, budaya, dan politik dapat disebut sebagai masyarakat berkarakter harmoni. Fakta dilapangan menunjukkan komunitas masyarakat yang berbudaya harmoni  ini telah terpapar paham radikal terutama kalangan remaja, misalnya dua kali terjadi penggerebekan orang yang diduga terpapar paham radikal di Tulungagung. Teknik pengumpulan datanya adalah Interview mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data-data yang terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Hubermans. Hasil penelitian menujukkan bahwa perubahan perilaku menjadi radikal dalam beragama ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu; kekuatan keyakinan, Daulah Islamiyyah sebagai norma subyektif kelompok, kajian-kajian yang bersifat skriptural, dan program/kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Keempat faktor ini menguatkan lahirnya niat untuk berubah menjadi radikal dalam beragama. Niat yang kuat pada kalangan pemuda berfungsi memicu aktualisasi perilaku radikal dalam beragama di kalangan pemuda. 
RESOLUSI KONFLIK DI ASIA TENGGARA: PENGALAMAN MUSLIM INDONESIA Badrus Sholeh
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.29-52

Abstract

Artikel ini akan mengkaji peran kepemimpinan Muslim Indonesia dalam mewakili pemerintah dan masyarakat sipil pada upaya perdamaian di Asia Tenggara. Ini dilakukan sejak masa Menlu Ali Alatas dalam memediasi konflik di Kamboja dan Filipina Selatan, hingga periode Menteri dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Professor M. Din Syamsuddin yang memediasi Filipina Selatan dan Aceh. Muslim Indonesia juga turut memainkan peran aktif dalam memediasi konflik di Thailand Selatan dan Timur Tengah. Sebagai negara demokratis ketiga di dunia dan negara Muslim terbesar, Indonesia telah berubah menjadi negara dengan kekuatan menengah (Middle Power) dan melakukan peran utama dalam menciptakan wilayah Asia Tenggara yang stabil dan sejahtera. Artikel ini berargumen bahwa pengalaman ini bisa membawa Indonesia pada peran lebih besar di Timur Tengah dan Afrika. Tetapi peran ini terhambat akibat masih kurangnya kepercayaan negara-negara Arab yang masih memandang Indonesia sebagai negara pinggiran.This article examines the role of  Indonesian Muslim leaders representing state and civil society on conflict resolution in Southeast Asia from the period of Foreign Minister Ali Alatas on mediating conflict in Cambodia and Southern Philippines to the period of Minister and Vice President Jusuf Kalla, President Susilo Bambang Yudhoyono and Professor M. Din Syamsuddin who mediating conflict of Aceh and Southern Philippines. Indonesian Muslims also took active participation in mediating conflicts in Southern Thailand and conflicts in the Middle East. As the third largest democratic country and the largest Muslim country, Indonesia have transformed as middle power country and confidently taken a leading role in managing stable, peacefu and prosperous region of Southeast Asia. It argues the experience of Indonesia in regional mediation will lead Indonesia towards international conflict resolution in the Middle East and Africa. However, Arab countries still consider Indonesia as periphery of Islam and cultural gap which influence the trust from Arabcountries.
Literasi dan Edukasi Keuangan Waspada Investasi Bodong Guru Migran Sekolah Indonesia di Arab Saudi Abdul Mongid; Susanti Susanti; Anang Kistyanto; Moch. Khoirul Anwar; Badrus Sholeh
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i2.778

Abstract

PKM-I ini merupakan implementasi dan evaluasi program literasi keuangan dan edukasi pendidikan investasi bagi guru-guru Sekolah Indonesia di bawah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi. Program ini bertujuan berhasil meningkatkan pemahaman para guru dan tenaga pendidikan tentang literasi keuangan dan identifikasi skema investasi penipuan (investasi bodong) sebesar 34%, termasuk skema Ponzi. Kegiatan-kegiatan tersebut disampaikan melalui sesi pelatihan, diskusi berbasis kasus, dan evaluasi lanjutan menggunakan kuesioner google form. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa meskipun peserta menunjukkan pemahaman dasar tentang konsep keuangan, sejumlah besar peserta tetap rentan ketika dihadapkan pada tawaran investasi yang menjanjikan imbal hasil tinggi dengan janji risiko rendah. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan dan kesadaran peserta terhadap risiko investasi masih tidak merata, suatu keadaan harus diatasi. Temuan ini menekankan pentingnya pendidikan keuangan yang berkelanjutan dan terstruktur untuk memperkuat pengambilan keputusan keuangan dan mengurangi paparan terhadap penipuan investasi. Meningkatkan literasi keuangan guru juga secara strategis penting, karena mereka dapat mentransfer pengetahuan keuangan yang baik kepada siswa yang bermanfaat bagi siswa.
Analisis Konstruksi Norma dan Identitas Transatlantik antara Amerika-Uni Eropa dalam Kebijakan Perubahan Iklim Periode 2015–2025 Raden Mohammad Rangga Faturrahman; Wahyu Rifqi Febrian; Asyaima Labibah Iqbal; Badrus Sholeh
Mondial: Jurnal Hubungan Internasional Vol 3, No 1 (2026): Maret-Agustus 2026
Publisher : Universitas Al-azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/mondial.v3i1.5129

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi norma dan identitas transatlantik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam kebijakan perubahan iklim pada periode 2015–2025. Dengan menelaah peristiwa kunci mulai dari pengadopsian Perjanjian Paris pada tahun 2015, fluktuasi kebijakan AS (2017–2021), dan inisiatif Uni Eropa sebagai pemimpin dalam bidang perubahan iklim. Studi ini mengeksplorasi bagaimana identitas dan norma membentuk pola kerja sama dan ketidakseimbangan antara kedua aktor. Menggunakan kerangka teori konstruktivisme, penelitian menjelaskan peran proses sosial, narasi identitas, dan kepemimpinan normatif dalam menjelaskan stabilitas kebijakan UE dan volatilitas kebijakan AS serta implikasinya terhadap efektivitas implementasi kerja sama transatlantik dalam bidang iklim. Metode yang dipakai adalah penelitian kualitatif deskriptif berbasis kajian pustaka dengan teknik pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari dokumen berupa buku, e-book, artikel, jurnal, portal berita lokal dan internasional, situs web, dan data lain dari internet. Temuan menunjukkan bahwa kontinuitas normatif UE memperkuat kapasitas kepemimpinan iklim, sementara perubahan identitas politik domestik di AS menghasilkan gap kepemimpinan dan ketidakpastian transatlantik. Oleh karena itu, keberlanjutan kerja sama bergantung pada internalisasi norma iklim dalam politik domestik AS dan mekanisme penguatan koordinasi multilevel di UE.