Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prototipe Pemantauan Tetes Cairan Infus Berbasis IoT Terkoneksi Perangkat Android Indra Sucipta; Joni Welman Simatupang; Carolus Kaswandi; Irwan Purnama
Jurnal Teknologi Elektro Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Electrical Engineering, Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jte.2021.v12i3.003

Abstract

Setiap beberapa waktu perawat melakukan pemantauan tetes cairan infus dengan manual secara langsung. Bahkan, saat cairan infus akan habis, keluarga pasien harus memanggil perawat untuk melakukan penggantian cairan infus. Hal ini bisa menyebabkan terlambatnya penanganan terhadap pasien karena keterbatasan waktu. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah alat pemantauan tetes cairan infus yang dapat memberikan notifikasi otomatis bahwa cairan infus akan habis. Artikel ini menjelaskan tentang implementasi alat pemantauan tetes cairan infus berbasis IoT yang terhubung dengan perangkat android. Prototipe ini menggunakan sensor Optocoupler sebagai pendeteksi adanya tetes cairan infus, Motor Servo SG90 untuk menekuk selang infus, Mikrokontroler ESP32 sebagai pengendali. Komunikasi perangkat keras dengan perangkat android menggunakan server lokal sehingga harus menggunakan Hotspot WiFi yang sama. Data yang dikirimkan dari perangkat android akan tersimpan ke database kemudian diakses oleh ESP32 sehingga menjalankan sensor dan motor servo. Pada android application terdapat informasi kondisi tetes cairan infus yang sudah dikonversi menjadi persentase sisa cairan infus. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa prototipe dapat melakukan pengaturan tetes cairan infus per menit sesuai dengan yang diinginkan dan android application dapat menampilkan status dan mengirimkan notifikasi secara akurat. Sebagai kesimpulan dari hasil pengukuran, rata – rata rasio persentase yang dicapai dalam pengujian mencapai 70 % dengan rata – rata error sebesar 1,46 %.
Peningkatan Kemampuan Motorik Anak dengan Membatik di Rumah Belajar Pelangi Nusantara Ika Bali; Rahmadiah Josina Ukas; Naurah Satya Azkia; Hans Perdana Wijaya; Intan Kumala Pasya; Mutiara Anisa Putri; Silfa Sabila; Zefanya Febe Putranti; B. M. A. S. Anaconda Bangkara; Carolus Kaswandi
Jurnal Pelita Pengabdian Vol. 3 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah hal penting untuk masa depan anak. Namun, banyak yang harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi, sehingga anak-anak tersebut tidak dapat melanjutkan pendidikan formal dan mengembangkan kemampuan motorik halus. Manfaat perkembangan motorik bagi anak adalah meningkatkan perkembangan dan aktivitas peredaran darah, pencernaan, pernapasan dan saraf, meningkatkan pertumbuhan fisik, meningkatkan perkembangan keterampilan, emosi intelektual dan keterampilan sosial. Indonesia kaya akan budaya, salah satunya batik, yang dapat meningkatkan kemampuan motorik anak melalui teknik lilin dan pewarnaan. Oleh karena itu, penulis mengadakan kegiatan sosial di Rumah Belajar Pelangi Nusantara untuk belajar batik bersama anak-anak di tempat tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak, edukasi budaya, meningkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman. Metode yang digunakan adalah penelitian partisipatoris berbasis komunitas, melibatkan anak-anak secara langsung dalam pembelajaran batik sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan motorik halus, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak, serta lingkungan belajar yang aman dan lebih mendukung di Rumah Belajar Pelangi Nusantara. Selain itu, kegiatan ini menekankan manfaat budaya dan pendidikan dari batik untuk perkembangan anak secara menyeluruh, terutama bagi mereka yang memiliki akses terbatas ke pendidikan formal. Kesimpulannya, kemampuan motorik halus anak-anak meningkat, namun terdapat perbedaan antara anak yang belajar di sekolah formal dan informal dengan keterbatasan ekonomi. Disarankan agar kegiatan ini diperluas ke lebih banyak lokasi dan melibatkan lebih banyak anak dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi, serta lingkungan belajar yang aman dan mendukung untuk jangka panjang dapat disediakan.