Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perubahan Kecepatan Pertumbuhan Larva Lalat Chrysomya sp. pada Bangkai Tikus yang Mengandung Berbagai Kadar Morfin Primahatmaja, Bayu; Sardjono, Teguh W; Lestari, Ngesti
Majalah Kesehatan FKUB Vol 1, No 4 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.307 KB)

Abstract

Penentuan waktu minimum sejak kematian dapat dilakukan dengan mengidentifikasi umur larva lalat pada jenazah. Pertumbuhan larva lalat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk iklim, geografi, dan obat-obatan yang terkandung di tubuh jenazah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek berbagai dosis morfin terhadap pertumbuhan larva Chrysomya sp. Sampel penelitian adalah 4 ekor tikus (Rattus norvegicus) yang masing-masing diinjeksi dengan 5 mg, 10 mg, dan 20 mg morfin secara intraperitoneal serta 1 tikus sebagai kontrol. Dua jam kemudian keempat tikus dimatikan dengan cara membiusnya terlebih dulu dengan kloroform. Dinding perut tikus dibuka pada posisi terlentang dan organ dalamnya dibuka kemudian dimasukkan ke dalam kandang pertama yang berisi 120 ekor lalat Chrysomya sp. agar lalat meletakkan telurnya pada bangkai tikus tersebut. Setelah 12 jam bangkai tikus dikeluarkan dari kandang pertama dan dimasukkan ke dalam empat kandang lain yang terpisah. Lima larva diambil dari masing-masing perlakuan dan diukur panjang, keliling, dan berat tubuhnya setiap 12 jam, yaitu pagi (p) dan sore (s)  hingga menjadi pupa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa panjang maksimum larva lalat pada bangkai tikus yang mengandung morfin 5 mg, 10 mg, 20 mg dan kontrol masing-masing dicapai pada H6p, H4s, H4s, dan H5p. Keliling maksimal dicapai pada H5p, H4s, H5p dan H5p, berat maksimal dicapai pada H5s, H4s, H4s dan H4s. Sementara larva lalat menjadi pupa pada H6s, H6p, H5p dan H6p. Pengaruh paling nyata didapat pada dosis 20 mg (ANOVA, p < 0,05), yang mempercepat proses larva menjadi pupa. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan larva lalat Chrysomya sp. menjadi lebih cepat pada morfin dosis tinggi, sebaliknya akan timbul perlambatan pada morfin dosis rendah.Kata kunci : Larva Chrysomya sp., Morfin, PMI (post mortem inteval).
Perbedaan Perbandingan Golden Rectangle Mahkota Gigi Incisivus Sentral terhadap Golden Proportion pada Etnis Jawa dan Tionghoa Indratomo, Muhammad Bayu; Fidya, Fidya; Lestari, Ngesti
E-Prodenta Journal of Dentistry Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi UB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.859 KB) | DOI: 10.21776/ub.eprodenta.2017.001.01.2

Abstract

  Ilmu odontologi forensik menggunakan gigi sebagai alat untuk identifikasi korban. Ukuran gigi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah etnis. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan perbandingan golden rectangle gigi insisivus sentral terhadap golden proportion pada Etnis Jawa dan Tionghoa di Kota Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan foto 60 gigi insisivus sentral masing-masing 30 dari Etnis Jawa dan Tionghoa yang memenuhi kriteria inklusi. Foto gigi insisivus sentral diukur menggunakan software adobe photoshop CS 5. Hasil: Dari pengukuran, diperoleh rerata tinggi, lebar, golden rectangle, dan perbandingan golden rectangle terhadap golden proportion mahkota gigi insisivus sentral perempuan Etnis Jawa dan Tionghoa adalah 0,97 cm, 1,63 cm, 1:1,683, 0,066 dan 0,94 cm, 1,62 cm 1:1,711, 0,093. Rerata tinggi, lebar, golden rectangle, dan perbandingan golden rectangle terhadap golden proportion mahkota gigi insisivus laki-laki Etnis Jawa dan Tionghoa adalah 1,02 cm, 1,64 cm, 1:1,627, 0,009 dan 0,78 cm, 1,63 cm, 1:1,680, 0,062. Uji T-test  Independen menunjukkan nilai signifikansi (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada  tinggi, lebar, golden rectangle , dan perbandingan golden rectangle  terhadap golden proportion  mahkota gigi insisivus sentral antara laki-laki dan perempuan Etnis Jawa dan Tionghoa. Kata Kunci: Etnis, Golden Rectangle, Mahkota Gigi Insisivus
PENGALIHAN SARANA TEMU BALIK ARSIP STATIS TEKSTUAL DARI SISTEM MANUAL KE SISTEM ELEKTRONIK (STUDI KASUS JARINGAN INFORMASI KEARSIPAN STATIS DI BADAN ARSIP DAN PERPUSTAKAAN PROVINSI JAWA TENGAH) Maghfiroh, Lisa Noviani; Lestari, Ngesti; Nugroho, Ellen CH
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 3, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini tentang pengalihan sarana temu balik arsip statis tekstual dari sistem manual ke sistem elektronik (studi kasus Jaringan Informasi Kearsipan Statisdi Badan Arsip  dan perpustakaan Provinsi Jawa Tengah). Tujuan penelitian  ini adalah untuk mengetahui seluk beluk proses pengalihan sarana temu balik arsip statis tekstual dari sistem manual ke Jaringan Informasi Kearsipan Statis (JIKS). Dalam penelitian ini peneliti  menggunakan metode deskriptif kualititatif dengan jenis studi kasus. Informan yang dipilih secara bertujuan (purposive sampling) dengan teknik pengumpulan data teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Dilakukan triangulasi sumber terhadap data yang diperoleh. Analisis data menunjukan, pengalihan sarana temu balik arsip statis tekstual dari sistem manual ke sistem elektronik Jaringan Informasi Kearsipan Statis (JIKS) dilatar belakangi oleh kebutuhan user di era informasi dan kebijakan nasional tentang digitization arsip, tahap-tahap peralihan meliputi  persiapan JIKS, kebijakan, sarana prasarana, Sumber daya Manusia (SDM), prosedur pengalihan data manual ke Jaringan Informansi Kearsipan, penetapan mekanisme kerja, penetapan prioritas Daftar Pencarian Arsip (DPA) yang dialihkan, serta uji coba temu balik arsip yang dialihkan. Pengalihan sistem manual tidak sekaligus ke Jaringan Informasi Kearsipan Statis membutuhkan waktu bertahun-tahun sehingga sistem manual tidak bisa sekaligus ditinggalkan. Kendala terbesar dalam  proses pengalihan ini adalah keterbatasan SDM  dan  sarana prasarana.