Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PELATIHAN PENGUKURAN KEBISINGAN LINGKUNGAN BAGI SISWA SMA WALISONGO SEMARANG Andarina Aji Pamurti; Wahjoerini Wahjoerini; Dwi Prabowo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i1.13029

Abstract

ABSTRAKSekolah adalah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Salah satu faktor untuk mencapai kondisi lingkungan belajar yang baik adalah terhindar dari masalah kebisingan. SMA Walisongo Semarang merupakan sekolah yang terletak di jalan raya primer yang berada pada kawasan stadion dan komersil. Aktivitas jalan raya, stadion dan komersil menimbulkan kebisingan. Kegiatan pembelajaran di SMA Walisongo Semarang mendapat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, namun belum diberikan pengetahuan akan pengukuran kebisingan yaitu penggunaan alat ukur kebisingan. Oleh karena itu diperlukan pelatihan pengukuran kebisingan untuk siswa SMA Walisongo Semarang. Pelatihan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan siswa yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam. Manfaat dari pelatihan ini dapat digunakan untuk jenjang berikutnya yaitu perguruan tinggi dan dunia kerja. Metode pelaksanaan terdiri dari metode pengenalan, Pre Test, pelatihan pengukuran kebisingan yaitu siswa mengukur kebisingan di halaman sekolah yaitu membaca dan mencatat angka kebisingan dalam satuan desibel, kemudian evaluasi dilakukan Post Test. Hasil Pre Test yaitu menunjukkan 66,3 % siswa paham akan pengetahuan tentang kebisingan. Sedangkan hasil Post Test menunjukkan siswa 95,3 % paham akan pengetahuan kebisingan jadi dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa mengalami peningkatan setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ini siswa dapat mengetahui kebisingan di lingkungan sekolah yang berkaitan dengan besaran desibel, sumber kebisingan dan solusi penurunan kebisingan. Kata Kunci: kebisingan; lingkungan; sekolah ABSTRACTSchool is the place where the teaching and learning process takes place. One of the factors for achieving a good learning environment is avoiding noise problems. SMA Walisongo Semarang is a school located on a primary highway which is in the stadium and commercial area. Road, stadium and commercial activities generate noise. Learning activities at SMA Walisongo Semarang receive lessons in Natural Sciences, but they have not been given knowledge of noise measurement, namely the use of noise measuring instruments. Therefore, noise measurement training is needed for SMA Walisongo Semarang students. This training aims to increase students' knowledge related to Natural Sciences. The benefits of this training can be used for the next level, namely higher education and the world of work. The implementation method consists of an introduction method, Pre Test, noise measurement training in which students measure noise in the school yard, namely reading and recording noise numbers in decibel units, then the evaluation is carried out in the Post Test. The results of the Pre Test showed that 66.3% of students understood knowledge about noise. While the results of the Post Test showed that 95.3% of students understood noise knowledge, so it can be concluded that students' understanding has increased after participating in the training. In this training students can find out about noise in the school environment related to the decibel level, noise sources and noise reduction solutions. Keywords: noise; environment; school
KAJIAN KUALITAS DAN TINGKAT PELAYANAN JALUR PEJALAN KAKI (STUDI KASUS : KORIDOR JALAN IMAM BONJOL SEMARANG) Alfrian Syaiful Annasa; Andarina Aji Pamurti
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol 4, No 1 (2023): VOLUME 4 NOMOR 1 MARET 2023
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v4i1.6753

Abstract

Jalur pedestrian yang nyaman merupakan salah satu bentuk pelayanan untuk pejalan kaki sehingga kenyamanan pada jalur pedestrian menjadi lebih diutamakan atau menjadi tujuan utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan tingkat pelayanan jalur pejalan kaki pada koridor jalur pejalan kaki Jalan Imam Bonjol Semarang. Penelitian ini berdasarkan permasalahan eksisting koridor jalur pejalan kaki Jalan Imam Bonjol Semarang yaitu masih terdapat perkerasan jalur pejalan kaki yang mengalami kerusakan, terjadinya transfer fungsi jalur pejalan kaki dan penyempitan ruang pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan pendekatan Pedestrian Enviromental Quality Index (PEQI, 2008) untuk mengetahui kualitas persimpangan dan kualitas ruas jalan. Sedangkan untuk mengetahui tingkat pelayanan jalur pejaan kaki menggunakan metode High Capacity Manual (HCM 2000) yang mengutamakan arus pejalan kaki, kecepatan pejalan kaki  dan kepadatan pejalan kaki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian ini kualitas persimpangan zona 1 masuk kelas IV skor 57,980 (kualitas pejalan kaki dasar), zona 2 masuk kelas V skor 19,326 (lingkungan pejalan kaki yang tidak cocok untuk pejalan kaki) dan zona 3 masuk kelas V skor 19,327 (lingkungan pejalan kaki yang tidak cocok untuk pejalan kaki) . Untuk kualitas ruas pejalan kaki zona 1 masuk dalam kelas III skor 40,378 (kualitas pejalan kaki dasar), zona 2 masuk kelas IV skor 28,075 (kualitas pejalan kaki yang buruk) dan zona 3 masuk kelas IV skor 28,075 (kualitas pejalan kaki yang buruk). Untuk tingkat pelayanan jalur pejalan kaki berdasarkan arus pejalan kaki, kecepatan pejalan kaki dan kepadatan pejalan kaki berdasarkan HCM 2000 masuk dalam kategori A yaitu pejalan kaki bergerak dijalur yang digunakan tanpa dipengaruhi pejalan kaki lainnya, bebas menentukan kecepatan berjalan dan konflik antar pejalan kaki tidak mungkin terjadi.
Analisa Penggunaan Energi Pada Gedung Berdasar Overall Thermal Transfer Value (OTTV) di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang Andarina Aji Pamurti
G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan Vol 7 No 3 (2023): G-Tech, Vol. 7 No. 3 Juli 2023
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/gtech.v7i3.2653

Abstract

Kota merupakan penyumbang penggunaan energi yang besar di bumi. Kawasan Simpang Lima merupakan kawasan pusat kota Semarang yang memiliki beberapa gedung bertingkat dengan dominan material kaca. Desain facade gedung, penggunaan material bangunan dan sun shading device memberikan pengaruh terhadap besarnya penggunaan energi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan energi pada gedung di kawasan Simpang Lima Semarang dengan studi kasus Gedung Indosat dan Gedung Bapelkes. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif dengan perhitungan menggunakan rumus Overall Thermal Transfer Value. Hasil penelitian ini berdasar perhitungan OTTV, penggunaan energi Gedung Indosat Semarang untuk orientasi utara yaitu 83 Watt/m2, orientasi barat 65.7 Watt/m2 dan orientasi timur 75.3 Watt/m2. Gedung Bapelkes Semarang dengan facade utama orientasi timur adalah 68.2 Watt/m2. Jadi Gedung Indosat Kota Semarang dan Gedung Bapelkes Semarang berdasarkan perhitungan OTTV melebihi 35 watt/m2 sehingga termasuk gedung yang penggunaan energi nya besar dan kawasan Simpang Lima memberikan peranan penting dalam besarnya penggunaan energi kota.
Analisis Keberlanjutan Kawasan Permukiman Di Bantaran Sungai Kelurahan Sendangguwo Semarang Andarina Aji Pamurti; Wahjoerini Wahjoerini; Dwi Prabowo
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol. 9 No. 3 (2023): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v9i3.3450

Abstract

Tingkat urbanisasi yang tinggi mengakibatkan kepadatan jumlah penduduk Kota Semarang. Kurangnya perekonomian dan kebutuhan akan rumah sehingga menimbulkan permukiman yang menempati sekitar bantaran sungai salah satunya adalah di Kelurahan Sendangguwo Semarang. Kawasan permukiman di sekitar bantaran sungai, perlu memperhatikan beberapa aspek. Aspek tersebut adalah penempatan bangunan yang sesuai dengan garis sempadan sungai, kesehatan lingkungan dan kualitas hunian, kemudahan pemenuhan akan sarana dan prasarana, kehidupan sosial, ekonomi dan hukum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat keberlanjutan permukiman di sekitar bantaran sungai Sendangguwo Semarang. Dalam mewujudkan keberlanjutan perlu memiliki empat pilar yang perlu diperhatikan yaitu keseimbangan ekonomi, sosial, lingkungan serta hukum. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu dengan analisis deskriptif kuantitatif. Analisa penelitian ini adalah analisa lingkungan, sosial, ekonomi, hukum dan analis tingkat berkelanjutan. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan dalam penataan permukiman serta berkehidupan di permukiman bantaran sungai Kelurahan Sendangguwo Semarang. Berdasar hasil analisa, pilar lingkungan memiliki score 2,86 sedangkan pilar sosial dengan score 2,87 dan pilar ekonomi dengan score 2,92 serta pilar hukum dengan score 2,92. Berdasarkan rata-rata, permukiman bantaran sungai Kelurahan Sendangguwo secara multi pilar adalah dengan score 2,89. Yaitu menunjukkan bahwa permukiman bantaran sungai di Kelurahan Sendangguwo adalah masuk dalam kategori tingkat keberlanjutan Sedang.
Kajian Penerapan Konsep Green City di Kelurahan Sekayu, Kota Semarang Diah Septiorini; Andarina Aji Pamurti
G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan Vol 7 No 4 (2023): G-Tech, Vol. 7 No. 4 Oktober 2023
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/gtech.v7i4.3192

Abstract

Global warming caused by trade and service activities and population density is a critical issue in the development of a city. The impact of global warming is climate change, increased air pollution, and decreased environmental quality. Sekayu Village is the central area of ​​Semarang city which has high economic activity. Sustainable cities can use the Green City concept. The purpose of this study was to identify the application of the Green City concept to Sekayu Village. The method used is descriptive quantitative. The results of the study are Green Planning and Design with basic building coefficients not all in accordance with the provisions, Green Open Space is an adequate green open space area, Green Waste does not have 3R waste management but has bank waste, Green Transportation is served by BRT public transportation, Green Water the environment has no water management, Green Energy low use of renewable energy, Green Buildings less use of environmentally friendly materials, Green Community there is no green community. With the scoring analysis technique, the level of application of the green city concept in Sekayu Village is in the low category.
Edukasi dan Pelatihan Pengolahan Limbah Diapers menjadi Pupuk Tanaman pada Warga Kelurahan Sendangguwo Semarang Andarina Aji Pamurti; Dwi Prabowo
Jurnal Pengabdian KOLABORATIF Vol 1, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jpk.v1i1.5991

Abstract

Diapers waste generated by residents of RT 04 and RT 08/ RW 07 Sendangguwo Village, Semarang City has a large amount. Diapers waste is difficult to decompose by soil microbes. The decomposition process takes up to hundreds of years. The amount of diapers waste is quite large and disposed of anywhere can have a negative impact on the environment. Diapers waste can be used to make useful products. The absorbent gel can be used as plant fertilizer. The gel is very good at absorbing water so it can retain soil moisture and become nutrients for plants. However, not many people know about the impact of diapers waste and do not know that diapers waste can be made into useful products. It is necessary to provide knowledge about the negative impacts of diapers waste which can pollute the environment. Then it was continued with training on diaper waste management to become plant fertilizer for residents in the Sendangguwo Village, Tembalang District, Semarang City. The implementation method used is by giving socialization and hands-on practice regarding the stages of processing diapers waste into plant fertilizer. The results of the training were in the form of plant fertilizer products from diapers waste which were then packaged in plastic containers and then handed over to the community.
Penanaman Tanaman Obat Di Desa Amongrogo Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Nugroho Ariya Putra; Andarina Aji Pamurti
Jurnal Pengabdian KOLABORATIF Vol 1, No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jpk.v1i2.5981

Abstract

The potential for agriculture and plantations in Amongrogo Village, Limpung District, Batang Regency is enormous. This is because the majority of the people of Amongrogo Village work as farmers and agricultural land in the village is categorized as productive land. Based on the existing conditions, the community needs education about the importance of growing medicinal plants for daily life. The function of medicinal plants can meet the needs of traditional medicine for the community. The activity of planting medicinal plants is by utilizing vacant land as a place for planting. The benefit of this activity is to increase public knowledge about the importance of medicinal plants. Planting of medicinal plants is done using polybag media. The selection of this medium is based on planting through polybags does not require a large area of land and is quite affordable. From the community service activities that have been carried out, the community can see how to grow medicinal plants and understand the importance of medicinal plants for everyday life and can apply them in their respective environments.
KAJIAN KETAHANAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA ROB DI KAWASAN PESISIR, KELURAHAN TERBOYO KULON, KOTA SEMARANG Fatieli Laoli; Andarina Aji Pamurti
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Manajemen Bencana (JMB)
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v9i2.12592

Abstract

Kawasan pesisir Kota Semarang saat ini menjadi masalah karena sering terjadi bencana, salah satunya adalah banjir rob. Kepadatan penduduk yang semakin meningkat, penurunan permukaan tanah akibat pembangunan infrastruktur, serta pengaruh iklim menjadi penyebab terjadinya banjir rob. Kelurahan Terboyo Kulon berada dikawasan pesisir Kota Semarang dan berbatasan langsung dengan laut jawa, meyebabkan kelurahan ini sering terjadi  banjir rob dengan ketinggian antara mata kaki sampai pinggang. Keadaan ini mengharuskan masyarakat yang tidak ingin berpindah ke tempat lain untuk membentuk ketahanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan masyarakat dalam menghadapi banjir rob di kawasan pesisir Kelurahan Terboyo Kulon, Kota Semarang. Dalam mencapai tujuan tersebut diharuskan untuk mengetahui ketahanan masyarakat pada aspek Ekonomi, Sosial, dan lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif dengan teknik pengolahan data menggunakan skoring. Ketahanan masyarakat terhadap bencana rob di Kelurahan Terboyo Kulon, Kota Semarang masuk dalam kategori tingkat tinggi dengan skor 199,79 (78,3%) yang dipengaruhi oleh aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ada di dalamnya. Pada aspek ekonomi memperoleh hasil ketahanan masyarakat dengan skor 203,6 (79,84%) dan sosial dengan skor 216,75 (85%) yang masuk dalam kategori tingkat tinggi. Sedangkan pada aspek lingkungan ketahanan masyarakat masuk dalam kategori tingkat sedang dengan skor 170,83 (69,9%).