Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

DEDIFFERENTIATED LIPOSARCOMA PAYUDARA (LAPORAN KASUS) Lintong, Poppy M.; Tambajong, Eddy H.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 3, No 3 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.3.2011.877

Abstract

Abstrak: Liposarkoma primer pada payudara termasuk salah satu tumor payudara yang sa-ngat jarang, insidennya kurang dari 1% dari semua tumor ganas payudara. Umumnya liposarkoma pada payudara jarang atau tidak menyebar ke kelenjar getah bening aksila. Gambaran histologik liposarkoma pada payudara sama dengan liposarkoma di ekstrimitas atau tubuh. Suatu liposarkoma yang sejati pada payudara ditegakkan bilamana gambaran cystosarcoma phyllodes tidak ditemukan dalam potongan-potongan  jaringan tumor. Satu kasus dilaporkan pada seorang wanita usia 49 tahun dengan tumor payudara besar. Gambaran Dedifferentiated Liposarcoma secara makroskopik menunjukkan massa multinoduler besar, warnanya bervariasi dari kuning, kuning kecoklatan bercampur coklat keabu-abuan. Mikroskopik terdiri dari 2 komponen yaitu lipogenik, menunjukkan gambaran  liposarkoma diferensiasi baik; dan nonlipogenik (dedifferentiated). Daerah dedifferentiated menunjukkan gambaran fibrosarkoma, malignant fibrous histiocytoma, dan liposarkoma miksoid. Daerah yang menyerupai malignant fibrous histiocytoma menunjukkan gambaran sitologik pleo-morfisme, arsitektur storiform, dan sel-sel datia. Fokus-fokus  liposarkoma miksoid telah dibuat pulasan dengan Alcian blue hasilnya positip. Kata kunci: dedifferentiated liposarcoma,  payudara.     Abstract: Primary liposarcoma of the breast belongs to very rarely found breast tumors, hav-ing an incidence of less than 1% of all malignant breast tumors. In general, this liposarcoma rarely or does not spread to axillar lymph nodes. Histopathologically, liposarcoma of the breast is similar to liposarcoma in extremities and other parts of the body. A true liposarcoma of the breast is diagnosed if there is no cystosarcoma phyllodes in the tumor tissues. We re-ported a 49-year-old female with a huge breast tumor (21x18x15cm), associated  with four lymph nodes in the ipsilateral axilla.  Histopathological examination of the tumor tissues showed a dedifferentiated liposarcoma, and of the four lymph nodes, as well as reactive hyperplasia with no metastase. Macroscopically, this dedifferentiated liposarcoma, appeared as large multinodular masses ranging in color from yellow to yellow-tan admixed with firm tan-gray areas. Microscopically, it consisted of two components: lipogenic, a well differen-tiated liposarcoma; and nonlipogenic, dedifferentiated one. These dedifferentiated areas showed a fibrosarcoma, malignant fibrous histiocytoma, and mixoid liposarcoma. Areas of malignant fibrous histiocytoma looked  cytologic pleomorphisme, storiform architecture, and multinucleate cells. Foci of mixoid liposarcoma were stained with Alcian blue, and showed positive results. Key words: dedifferentiated liposarcoma, breast.
GERM CELL TUMORS OVARIUM Lintong, Poppy M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 2, No 1 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.1.2010.836

Abstract

Abstract: Germ cell tumors of the ovary are primary ovarian tumors which derived from primitive germinal cells. These tumors are derived from primitive germinal cells. The total incidence of these tumors is around 30% of all tumors, and are mostly found in children and young adults. The etiology and pathogenesis  of these tumors are not clearly defined, but some studies have shown that etiology is related to genetic origin. WHO classification divides these germ cell tumors of the ovarian into two groups: dysgerminoma and the other ovarian germ cell tumors, which consist of pure types and mixed types. The pure type consists of endodermal sinus tumor, embryonal carcinoma, polyembryoma, choriocarcinoma, anda teratoma. Dysgerminoma is the most frequent malignant type. This tumor has characteristic microscopic features and different histo-logical variants, which sometimes leads to difficulty in making a diagnosis. Immuno-histochemical tests are needed for making several differential diagnoses and finding the most appropriate diagnosis. Pathological examination of tissues and ascites fluid are also important in determi-nation of the clinical stages, which play some important roles in managing the therapy and prognosis. Keywords: germ cell tumors, ovarium, pathogenesis, classification, dysgerminoma.     Abstrak: Germ cell tumors ovarium merupakan tumor primer ovarium yang berasal dari sel-sel germinal primitif. Insidennya kira-kira 30% dari seluruh tumor ovarium, dan teruta-ma menyerang anak-anak dan dewasa muda. Etiologi dan patogenesis dari germ cell tumors ovarium belum diketahui dengan jelas, namun beberapa studi telah menunjukkan  bahwa hal ini ada hubungannya dengan etiologi genetik. Menurut klasifikasi WHO germ cell tumors ovarium digolongkan atas dua bagian besar yaitu dysgerminoma, dan germ cell tumors ovarium lainnya, yang terdiri dari bentuk murni dan campuran. Bentuk murni terdiri dari endodermal sinus tumor, embryonal carcinoma, polyembryoma, chorio-carcinoma, dan teratoma. Dysgerminoma merupakan germ cell tumors ovarium ganas tersering. Tumor ini mempunyai ciri-ciri mikroskopik yang karakteristik dan varian histologik berbeda-beda, yang kadang-kadang dapat menimbulkan problem diagnostik karena sulit dibedakan dengan jenis tumor yang lain. Dalam melakukan diagnosis banding  dan menegaskan diagnosis secara pasti perlu dilakukan pemeriksaan imunohistokimia. Pemeriksaan patologi jaringan dan sitologi cairan asites  penting dalam penentuan stadium klinik, dan hal ini berpengaruh terhadap pilihan pengobatan dan prognosis penderita. Pada tulisan ini selain  dibahas tentang germ cell tumors ovarium secara umum, juga dibahas salah satu germ cell tumors ovarium yang tersering yaitu dysgerminoma. Kata kunci: germ cell tumors, ovarium, patogenesis, klasifikasi, dysgerminoma.
ENDOMETRIAL STROMAL SARCOMA PADA SERVIKS UTERI Lintong, Poppy M.; Durry, Meilany F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.3.2015.9489

Abstract

Abstract: Endometrial stromal sarcoma (ESS) is a rare malignant tumor, about 0.2% of all malignant uterine tumors. Around 75% of ESS cases occur in females under 50 years, with clinical signs such as abdominal pain and bleeding per vaginam. The uterus usually enlarges, associated with polypoid tumors protruding into the uterine cavity which can be misdiagnosed with a leiomyoma. ESS occurs in the cervix, ovarium, or retroperitoneal areas, and can be derived from endometriosis in the pelvic cavity. The immunohistochemical test of the tumor cells is positive for CD10, which is typical to differ it from a leiomyoma. We reported a case of ESS in a woman of 43 years old, with a clinical diagnosis of myoma geburt. She complained of abdominal pain and a mass that came out of her vagina. Post operation, she was diagnosed as having a cervical myoma. The macroscopic examination showed enlargement of uterus tissues 15x6x7 cm, thickened endometrium, and an exophytic tumor mass (8 cm) in the cervix, with cystic and necrotic parts in it. The microscopic examination showed endometrium hypertrophy in secretion phase, cervix with endometriosis, and ESS. ESS in uterine cervix is a rare case, and in this case it is related to endometriosis in the uterine cervix. Conclusion: This case was diagnosed as endometrial stromal sarcoma in the uterine cervix based on anamnesis, physical examination, histopathological examination, and immunohistochemistry positive for CD10.Keywords: endometrial stromal sarcoma, endometriosis, uterine cervixAbstrak: Endometrial stromal sarcoma (ESS) merupakan tumor ganas yang jarang terjadi, hanya 0,2 % dari semua tumor ganas di uterus. Sekitar 75% kasus terjadi pada wanita usia di bawah 50 tahun dengan gejala klinis nyeri perut dan perdarahan melalui jalan lahir. Uterus biasanya membesar disertai tumor polipoid menonjol dalam rongga uterus dan bisa disalah diagnosis sebagai leiomioma. ESS dapat terjadi juga di serviks uteri, ovarium, retroperitoneal, dan di rongga pelvis; dapat berasal dari endometriosis. Pemeriksaan imunohistokimia dari sel-sel tumor ESS yaitu positif untuk CD10, merupakan petanda tipikal untuk membedakannya dari leiomioma. Kami melaporkan kasus ESS pada seorang wanita berusia 43 tahun dengan keluhan nyeri perut dan adanya massa jaringan yang keluar dari jalan lahir. Diagnosis klinis ialah mioma geburt dan pasca operasi diduga sebagai mioma servikal. Pemeriksaan makroskopik menunjukkan jaringan uterus membesar berukuran 15x6x7 cm, dan pada serviks terdapat massa tumor berukuran 8 cm eksofitik, dengan fokus kistik dan nekrotik. Hasil pemeriksaan mikroskopik menunjukkan serviks dengan endometriosis dan ESS. Pemeriksaan imunohistokimia positif untuk CD10. ESS pada serviks uteri merupakan kasus jarang yang berkembang dari endometriosis serviks uteri. Simpulan: Pada kasus ini diagnosis ESS pada serviks uterus ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan histopatlogik, dan imunohistokimia CD10 positif.Kata kunci: endometrial stromal sarcoma, endometriosis, serviks uteri
PANKREAS EKTOPIK DI SUBMUKOSA ILEUM PADA PENDERITA ADENOKARSINOMA KOLON Lintong, Poppy M.; Tambajong, Eddy H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 2 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.2.2011.869

Abstract

Abstract: Ectopic pancreatic tissue is a rarely found congenital anomaly. In routine autopsies, it has been found at about 2%. In this case, ectopic pancreatic tissues are found in the stomach, duodenum, jejunum, appendix, Meckel diverticulum, and more rarely in the ileum. Ectopic pancreas is mostly asymptomatic and occasionally found without any pre-operative suspicion. Microscopically, this ectopic tissue mostly consists of acini and gland ducts; albeit Langerhans islets were found in 1/3 of the cases. We reported a 57-year-old male, with a pain in the abdomen and an intestinal obstruction due to a sigmoid tumor. In laparatomy, there was a tumor mass in the sigmoid colon and a nodule (diameter 1.5 cm) in the submucosal layer of the ileum. In the histopathological examination, we identified that these ileum nodal tissues contained acini and pancreatic gland ducts, and the tumor mass of the sigmoid colon showed a papillary adenocarcinoma. At first, this submucosal nodule was diagnosed as a carcinoid tumor, but based on the immunohistochemical examination at the Diagnostic Centre of the Pathology Department, University of Indonesia, the nodule tissue, stained with chromogranin, showed a negative result. It means that the diagnosis of a carcinoid tumor was eliminated. Key words: exocrine glands, pancreatic gland ducts, submucosal layer of ileum.   Abstrak: Jaringan pankreas ektopik merupakan kelainan kongenital dan jarang ditemukan. Insidennya sekitar 2 % dari pemeriksaan otopsi rutin. Tempat tersering ditemukan pankreas ektopik  yaitu pada  lambung, duodenum, jejunum, apendiks, divertikulum Meckel, dan lebih jarang pada ileum. Pankreas ektopik sering asimtomatik, kadang ditemukan dan tanpa kecurigaan pada saat preoperatif. Gambaran mikroskopik jaringan pankreas ektopik umumnya terdiri dari asinus dan duktus kelenjar, sedangkan pulau-pulau Langerhans hanya ditemukan pada 1/3 kasus. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki berusia 57 tahun dengan gejala nyeri perut dan obstruksi usus yang disebabkan tumor kolon sigmoid. Pada saat laparatomi, selain massa tumor pada kolon sigmoid juga ditemukan nodul berdiameter 1,5 cm pada submukosa ileum. Pada pemeriksaan histopatologi,   jaringan dari nodul submukosa ileum menunjukkan asinus-asinus dan duktus duktus kelenjar pankreas di antara stroma submukosa ileum, sedangkan massa tumor pada kolon sigmoid menunjukkan  adenokarsinoma papiler. Pada awalnya nodul submukosa pada ileum dibuat diagnosis sebagai carcinoid tumor, namun berdasarkan  pemeriksaan imunohistokimia  di Sentra Diagnostik Departement Patologi Anatomik FK UI yang memberi hasil pulasan kromogranin negatif, maka diagnosis carcinoid tumor telah disingkirkan. Kata kunci: kelenjar eksokrin, duktus kelenjar pankreas, lapisan submukosa ileum.
MIXED GERM CELL-SEX CORD-STROMAL TUMORS Lintong, Poppy M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1207

Abstract

Abstract: The term mixed germ cell sex-cord-stromal tumors is used for a mixed tumor containing mixed germ cells and sex-cord-stromal tumors. In pathology, this is an unusual phenomenon because although the tumor has several components, the histopathologic feature is still as a single unit. The most frequent form of mixed germ cell and sex-cord-stromal tumors is gonadoblastoma. This tumor usuallly occurs in sexual development abnormality, and can be found either in ovarium or testis. The basic microscopic features of this tumor are a mixture of dysgerminoma-like primitive germinal cells, and granulosa and immature Sertoli like cells of the sex-cord-stromal tumor. Besides gonadoblastoma, there is an unclassified tumor consisting of mixed germ cells and sex-cord-stromal tumor which cover all tumors containing a mixture of germinal cells and sex-cords but its cellular characteristics differ from gonadoblastoma. Keywords: mixed germ cell, sex cord-stromal tumors, gonadoblastoma.   Abstrak: Istilah mixed germ cell - sex cord-stromal tumors sering digunakan untuk tumor campuran mixed germ cell dan sex cord-stromal tumors. Dalam bidang patologi hal ini merupakan suatu fenomena luar biasa karena  meskipun terdapat beberapa komponen tumor  namun tetap memberikan gambaran histopatologik sebagai suatu kesatuan tunggal. Bentuk paling sering dari mixed germ cell - sex cord-stromal tumors ialah gonadoblastoma. Gonadoblastoma sering ditemukan pada individu dengan perilaku seksual tidak normal. Selain pada ovarium, tumor ini juga dapat ditemukan pada testis. Gambaran mikroskopik yang mendasar dari tumor ini ialah campuran dari sel-sel germinal primitif menyerupai disgerminoma dan sel stroma sex-cord menyerupai sel-sel granulosa dan sertoli imatur. Selain gonadoblastoma, juga terdapat mixed germ cell - sex cord-stromal tumors unclassified yang mencakup semua tumor yang mengandung campuran bermacam-macam sel germinal dan sex-cord namun karakteristik selulernya tidak  serupa dengan gonadoblastoma. Kata kunci: mixed germ cell, sex cord-stromal tumors, gonadoblastomsa.
PSEUDOTUMOR TUBERKULOSIS HATI DIAGNOSIS MELALUI BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS Lintong, Poppy M.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 2 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.2.2010.852

Abstract

Abstract: Nowadays, the role of Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) in the evaluation of focal lesions in the liver, especially nodular hepatocellular carcinoma, is well developed. As one of the diagnostic tools, FNAB is very important in making a preoperative diagnosis to prevent unneeded hepatectomy. Although a CT scan or USG can detect a tubercular lesion in the abdo-minal cavity, this imaging is not always specific, and still needs microbiologic and histo-pathologic examinations for further confirmation. We reported a case of a 45-year-old female with a tumor in the right upper abdominal cavity. She had undergone a USG twice with two different results: the first one was a hepatoma, and the second one was a benign nodule of the liver. The AFP test was within normal limits (2.6 mg/ul). FNAB showed a tubercular granuloma consisting of epitheloid cell aggregations and Langhans datia cells, with a background of necrotic tissues, connective tissue fibrils, and normal hepatocytes. Localized tuberculosis as a clinical entity producing large nodules is exceedingly rare, even in endemic areas. These pseudotumors often resemble metastatic cancer, clinically and radiographically. By using FNAB we can detect liver tuberculosis that clinically manifests as a tumor. Key words: FNAB, liver tuberculosis, pseudotumor.     Abstrak: Saat ini peranan biopsi  aspirasi jarum halus  dalam        hal menilai kelainan-kelainan fo-kal pada hati sudah berkembang, terutama pada nodul karsinoma hepatoseluler. Biopsi aspirasi jarum halus pada hati  sebagai salah satu sarana diagnostik  sangat berguna untuk menegakkan diagnosis preoperatif sehingga dapat  menghindari tindakan hepatektomi yang tidak perlu. Meskipun pemeriksaan computerized tomography scan (CT-scan) dan ultrasonography (USG) pada hati dapat mendeteksi lesi tuberkulosis dalam rongga perut, namun  pencitraannya tidak selalu spesifik sehingga membutuhkan konfirmasi pemeriksaan mikrobiologi dan histopatologi. Dilaporkan kasus  seorang wanita berusia 45 tahun dengan tumor pada perut kanan atas. Telah dilakukan dua kali pemeriksaan USG: yang pertama hasilnya suatu hepatoma dan yang kedua suatu nodul jinak pada hati. Pemeriksaan alpha-feto protein (AFP) dalam batas normal (2,6 mg/ul). Kemudian dilakukan pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus dengan hasil menunjukkan granuloma tuberkulosis dari agregat sel-sel epiteloid yang tersusun dalam granuloma dan sel-sel datia Langhans dengan latar belakang fokus-fokus nekrosis, fibril jaringan ikat serta sel-sel hati normal. Tuberkulosis terlokalisir pada hati  yang secara klinik menimbulkan nodul besar, sangat jarang terjadi, sekalipun pada daerah endemik. Pseudotumor seperti ini sering menyerupai  metastatik kanker secara klinik dan radiologik. Melalui pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus dapat dikonfirmasi suatu tuberkulosis hati yang klinisnya memberi manifestasi seperti tumor. Kata kunci: biopsi  aspirasi jarum halus, tuberkulosis hati, pseudotumor.
SPOROTRIKOSIS LIMFOKUTAN DIAGNOSIS HISTOPATOLOGI DAN SITOLOGI Lintong, Poppy M.; Sumolang, Inneke V.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 1 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.1.2010.843

Abstract

Abstract: Diagnosis of sporotrichosis associated with lymphocutaneous nodules was made based on the histopathological examination of skin lesions and the cytology of fine needle aspiration biopsy (FNAB). A case of sporotrichosis in a 63-year-old man was reported with papules and nodules spread along the back of the left hand, forearm, and arm. The histopatho-logical examination showed infiltration of PMNs, granulomas, and giant cells in the dermis and epidermis, along with hyperplasia and microabscesses. Sporothrix schenckii was not found in the skin lesion tissues. However, in the FNAB cytology examination of lymphocutaneus nodules we found spores of Sporothrix schenckii in the cytoplasma of histiocytes besides granuloma and infiltration of PMNs. Key words: sporothrix schenckii, histopathology, FNAB cytology.  Abstrak: Diagnosis sporotrikosis kulit dengan nodul limfokutan ditegakkan melalui pemerik-saan histopatologi pada lesi kulit dan sitologi biopsi aspirasi jarum halus pada nodul limfo-kutan. Kami melaporkan kasus sporotrikosis pada laki-laki berusia 63 tahun dengan papul-papul dan nodul-nodul eritematosa pada dorsum manus, antebrakium, dan brakium sinistra. Pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi dari lesi kulit menunjukkan reaksi radang, gambaran granuloma, dan sel datia dalam dermis dan epidermis, dengan mikroabses disertai hiperplasia. Tidak ditemukan jamur Sporothrix schenckii dalam potongan jaringan histopatologi. Hasil pemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus pada nodul limfokutan memperlihatkan adanya spora-spora jamur Sporothrix schenckii dalam sitoplasma sel-sel histiosit disamping  terdapatnya bentuk granuloma dalam infiltrat radang. Kata kunci: sporothrix schenckii, histopatologi, sitologi biopsi aspirasi jarum halus.
LESI PRAKANKER DAN KANKER RONGGA MULUT Lintong, Poppy M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4350

Abstract

Skrining  terhadap  perkembangan  lesi prakanker dan kanker rongga mulut telah meningkat secara pesat dalam beberapa dekade terakhir. Bermacam macam lesi mukosa mulut seperti lesi kemerahan (erythroplasias) dan lesi putih (leukoplakias) berpotensi menjadi kanker, Keadaan ini harus dibedakan dari lesi hiperplastik kronik seperti kandidosis yang sangat kurang berpotensi menjadi kanker. Lesi-lesi erythroplasia dan leukoplakia mempunyai risiko untuk berubah menjadi ganas, sehingga dibutuhkan perhatian untuk mengenal lesi-lesi ini. Akurasi prediksi rendah terhadap lesi-lesi ini, namun lesi-lesi yang berisiko ini dapat menjadi dasar untuk diagnosis dan rencana pengobatan. Faktor-faktor yang menyokong terjadinya lesi-lesi ini antara lain merokok tembakau, alkohol, dan gangguan genetik. Tingkat prediktor terbaik terhadap lesi yang berpotensi menjadi ganas secara histologik dapat dilihat dari derajat displasia. Displasia merupakan pertumbuhan tidak normal secara sitologik, dan dapat dijumpai pada sel-sel prakanker maupun kanker. Lesi prakanker dibedakan dari kanker berdasarkan  pada invasi sel-sel tumor ke dalam stroma dan metastase atau penyebaran. Kanker pada rongga mulut diatas 90% adalah jenis karsinoma sel skuamous, berasal dari sel-sel epitel mukosa. Patogenesis dari karsinoma sel skuamous  multifaktorial. Di Amerika Utara dan Eropah  kanker rongga mulut umumnya terjadi pada pria usia pertengahan dengan riwayat perokok tembakau kronis dan peminum alkohol. Faktor-faktor lain yang  menyokong terjadinya karsinoma sel skuamous yaitu infeksi dengan virus HPV, dan lebih jarang virus HIV. Studi mengenai ekspresi gen telah mengidentifikasi tanda-tanda transkripsi gen pada karsinoma sel skuamous rongga mulut. Evaluasi dan deteksi lesi prakanker dan kanker rongga mulut dapat dilakukan melalui pemeriksaan sitologi, biopsi, dan potong beku. Pengambilan sampel yang baik melalui biopsi jaringan dapat menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan histopatologik. Pemeriksaan sitologi melalui skreping pada lesi erythroplasia atau leukoplakia dapat mendeteksi adanya lesi prakanker atau karsinoma in situ lebih awal. Biopsi aspirasi jarum halus pada kelenjar getah bening di daerah leher dapat mengkonfirmasi adanya penyebaran atau metastase. Pemeriksaan potong beku berperan untuk mendeteksi batas-batas dari tumor. Pengenalan dan diagnosis dini lesi-lesi prakanker sangat bermanfaat dalam prognosis dan penyembuhan yang optimal.
KARSINOMA MEDULER TIROID DIAGNOSIS MELALUI BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS Lintong, Poppy M.; Sambuaga, Maria
Jurnal Biomedik : JBM Vol 2, No 3 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.3.2010.1199

Abstract

Abstract: Medullary carcinoma of the thyroid is a rare thyroid cancer that is derived from parafollicular cells (C cells) of the thyroid gland. It only accounts for approximately 5% of all thyroid neoplasms. We reported a case of medullary carcinoma of the thyroid in a 44-year-old woman with tetraparesis, hypokalemia, and diarrhea. She also had two lumps in the anterior and left part of her neck. Medullary carcinoma was diagnosed by using fine needle aspiration biopsy (FNAB) of both lumps. The smears showed rich cellularity of variated cells from small and large round cells, spindles, and with plasmacitoid and hyperchromatic nuclei. These cells were dispersed and clustered. The background of the amyloid mass (amorphous material) showed as magenta masses with an MGG stain and orange masses with a Pap’s stain. The amyloid material is one of the diagnostic features of medullary carcinoma of the thyroid. The diagnosis can be confirmed with the patient’s blood calcitonin serum. In this case, we already performed an immunocytochemical stain of calcitonin but it was negative. Altough the calcitonin stain was negative, this medullary carcinoma of the thyroid could not be excluded because the patient still showed clinical symptoms due to hypercalcitoninemia. Some studies reported that the immunoreactive reaction of the calcitonin were more than 25% of the tumor cells. Keywords: medullary carcinoma thyroid, amyloid, fine needle aspiration biopsy.  Abstrak: Karsinoma meduler tiroid adalah keganasan kelenjar tiroid yang berasal dari sel-sel parafolikuler (sel C) kelenjar tiroid. Tumor jenis ini jarang ditemukan, hanya sekitar 5 % dari semua kanker tiroid. Kami melaporkan kasus seorang wanita berusia 44 tahun dengan gejala klinis tetraparesa, hipokalemia, diare, dan disertai adanya dua benjolan sebesar bola pingpong pada leher bagian anterior dan lateral kiri. Diagnosis karsinoma meduler tiroid ditegakkan melalui pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus pada kedua benjolan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan hapusan seluler terdiri dari sel-sel yang bervariasi: berbentuk bulat dengan ukuran kecil dan besar, spindel, dan plasmasitoid; inti  sel tampak hiperkromatik, tersebar atau berkelompok. Latar belakang terlihat bahan amorf amiloid berwarna merah magenta pada pengecatan MGG, dan berwarna jingga pada pengecatan Papanicolaou. Bahan amiloid merupakan salah satu tanda diagnostik untuk karsinoma meduler tiroid. Untuk kepastian diagnosis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan kadar kalsitonin serum. Pada kasus ini  pemeriksaan imunositokimia untuk kalsitonin memberi hasil negatif, namun belum dapat menyingkirkan diagnosis karsinoma meduler tiroid.  Beberapa peneliti melaporkan imunoreaktif kalsitonin untuk karsinoma meduler tiroid 25% atau lebih pada sel-sel tumor tersebut. Kata kunci: karsinoma meduler tiroid, amiloid, biopsi aspirasi jarum halus.  
KEANEKARAGAMAN TERATOMA OVARIUM Lintong, Poppy M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 3, No 1 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.1.2011.856

Abstract

Abstract: Ovarian teratoma is a germinal cell tumor derived from fetal yolk sac germinal cells. This tumor can occur in gonads and extragonads. Its frequency is around 25%, which is less than 40% for sacrococygeal teratoma. According to WHO’s classification, ovarian teratoma is divided into three groups: immature, mature, and monodermal teratoma. Among these groups, the dermoid cyst has the highest incidence of all ovarian tumors (26-44%); and 85% of these have an age range of 20-56 years. But the other kinds of teratoma are rarely found. Clinicopathological aspects of teratomas are very unique, since these tumors develop from totipotential germinal cells. If these germinal cells differentiate along the embryonic line, then the tumor will consist of three components: ectoderm, endoderm, and mesoderm. As a result of this, the tumors show a variety of morphologies. A monodermal teratoma, e.g. an ovarian struma or a carcinoid tumor, contains only one component. Clinically, ovarian teratoma manifests itself as a mass in the ovarium, with accompanying pain, abdominal distention, or emesis. However, mostly there is no palpable mass in the abdomen, and clinical signs and symptoms manifest themselves later. The tumor can be detected earlier in case of an ovarian torsion. Key words: teratoma, mature, immature, monodermal.   Abstrak: Teratoma ovarium merupakan tumor sel germinal yang berasal dari sel-sel germinal yolk sac fetus. Tumor ini dapat ditemukan pada gonad dan ekstragonad. Frekuensi teratoma ovarium sekitar 25%, sesudah teratoma sakrokoksigeal 40%. Menurut klasifikasi  WHO teratoma ovarium dibagi atas tiga kelompok: teratoma imatur, matur, dan monodermal. Di antara ketiga jenis teratoma ovarium ini, kista dermoid  mempunyai insiden tertinggi (26%-44%) dari semua tumor ovarium; dan 85% penderita berusia antara 20-56 tahun. Jenis lain sangat jarang ditemukan. Aspek klinikopatologik teratoma tergolong unik karena secara  patogenesis teratoma berkembang dari sel-sel germinal totipotensial. Bila sel-sel germinal berdiferensiasi sepanjang garis embrionik, maka tumor biasanya terdiri atas tiga komponen, yaitu ektoderm, endoderm, dan mesoderm, dengan  morfologi yang berbeda-beda. Teratoma monodermal (struma ovarium dan tumor karsinoid) terdiri dari satu komponen jaringan saja. Secara klinis  teratoma ovarium ditandai oleh adanya massa pada ovarium, disertai nyeri, distensi abdomen, atau emesis.  Walaupun demikian, umumnya jarang teraba massa dan gejala klinis timbul lambat. Diagnosis penyakit dapat ditegakkan lebih dini bila terjadi torsi ovarium. Kata kunci: teratoma, matur, imatur, monodermal.