Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya: Kontekstualisme Arsitektur Cina pada Kompleks Gedung Permaba, Bandung Fajar Arief Syahputra; Nadia Khairunnisa; Hanani Asma Aulia; Nikho Asruri; Nurtati Soewarno
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3676

Abstract

ABSTRAK Kota selalu mengalami perubahan dari masa ke masa yang dapat dikenal dari berbagai peninggalan yang tersisa, baik situs, bangunan, maupun kawasan. Kawasan peninggalan dapat dikenali dari bentuk dan gaya bangunannya yang mencerminkan masyarakatnya, salah satunya adalah Pecinan. Kawasan ini identik dengan kawasan perdagangan yang mudah dikenali dari tipologi bangunan rumah-toko bergaya arsitektur Cina dan Kelenteng. Pesatnya perkembangan perekonomian kota mendorong terjadinya berbagai perubahan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya. Saat ini rumah-toko bergaya arsitektur Cina sudah langka ditemukan berganti dengan rumah-toko dan bangunan komersil lain berlantai banyak bergaya modern. Apakah kawasan ini masih dapat disebut Pecinan? Bagaimana mengembalikan kawasan Pecinan sebagai bagian dari sejarah pembentukan kota Bandung? Makalah ini akan membahas upaya revitalisasi pada bangunan cagar budaya eks-bioskop milik Permaba (Persatuan Masyarakat Bandung) di kawasan Pecinan. Kontekstual terhadap bangunan cagar budaya Kelenteng diterapkan pada kompleks perbelanjaan dan kuliner yang dibangun baru berlokasi dibelakang gedung Permaba. Metoda observasi dan wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kandungan terapan gaya arsitektur Cina pada kompleks ini sehingga terlihat konteks dengan bangunan Kelenteng. Dapatkah kawasan ini menjadi ciri kawasan Pecinan yang sudah hampir tidak dapat dikenali lagi? Diharapkan upaya revitalisasi bangunan Permaba dapat sejalan dengan tujuan Pemerintah Kota menghidupkan kembali kawasan Pecinan di kota Bandung. Kata kunci: Kontekstual, Arsitektur Cina, Revitalisasi Bangunan Permaba. ABSTRACT City always changes through time, it can be known from various remaining heritage, site, building, and area. Heritage area can be known from it shape and builduing site that reflected its society, Pecinan for example. This areas are identical with tradement area that are easy to identify from Chinese style shophouse building tipology and temple. High city development inisiate various changes, its economic, sosial, and culture. Nowadays, Chinese style shophouses are rarely seen, it changes to modern style shophouses and middle rise bulidng. Are these area still can be called Pecinan? How to restore Pecinan area as part of Bandung city formation. This research encompass revitalization efforts on cultural conserved ex-cinema building owned by Permaba (Persatuan Masyarakat Bandung) in Pecinan. Contextualism towards cultural conserved temple were implied in new shopping and food complex building located at the back of the Permaba building. Observation and interview methods were used to identify Chinese architecture impliment in the complex on suiting temple contextual. Could this area become the Pecinan characterisitc area that can’t be identified no longer? Hope that Permaba builidng revitalization efforts can parallel with City Council goals to restore Pecinan area in Bandung city. Keywords: Contextual, Chinese Architecture, Permaba Building Revitalization
RESILIENSI BANGUNAN CAGAR BUDAYA DENGAN KONSEP ADAPTIVE REUSE STUDI KASUS: HOTEL IBIS STYLES BRAGA BANDUNG REZA PHALEVI SIHOMBING; Nurtati Soewarno
STORAGE: Jurnal Ilmiah Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 1 No. 3 (2022): Agustus
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.488 KB) | DOI: 10.55123/storage.v1i3.772

Abstract

Jalan Braga merupakan salah satu jalan populer di kota Bandung. Pada awalnya jalan ini digunakan untuk mengangkut kopi dari gudang ke jalan Raya Pos. Seiring dengan meningkatnya kondisi perekonomian kota, jalan ini kemudian berubah menjadi sebuah kawasan komersial. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan bertransformasi menjadi restaurant, hotel, rumah-toko, theater dengan gaya art deco yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat Belanda. Pada awal abad ke 20 jalan ini menjadi shopping street terpenting di Hindia Belanda sehingga Bandung dijuluki Parijs van Java. Sejalan dengan kemajuan teknologi, sosial dan pergeseran gaya hidup dibangunlah beberapa Department Store dan Mall di kota Bandung yang berdampak terhadap kemunduran jalan Braga. Berkurangnya jumlah pengunjung menjadikan koridor Braga kusam dan bangunan-bangunannya dibiarkan kosong dan terbengkalai, salah satunya adalah Hotel Braga. Hotel Braga yang semula bernama Hotel Wilhelmina didirikan tahun 1928-1931 dan telah dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya kelas B. Dengan menerapkan konsep adaptive reuse, makalah ini akan memaparkan upaya revitalisasi yang dilakukan pada Hotel Braga. Apakah fungsi baru dari Hotel Braga? Bagaimana bentuk adaptasi sebagai upaya pertahanan? Adaptive reuse dinilai sebagai sebuah konsep yang tepat diterapkan untuk mempertahankan dan merevitalisai bangunan dan kawasan lama. Dengan konsep ini diyakini bangunan dan kawasan cagar budaya sebagai warisan bangsa dapat dipertahankan dengan baik.