Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESILIENSI BANGUNAN CAGAR BUDAYA DENGAN KONSEP ADAPTIVE REUSE STUDI KASUS: HOTEL IBIS STYLES BRAGA BANDUNG REZA PHALEVI SIHOMBING; Nurtati Soewarno
STORAGE: Jurnal Ilmiah Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 1 No. 3 (2022): Agustus
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.488 KB) | DOI: 10.55123/storage.v1i3.772

Abstract

Jalan Braga merupakan salah satu jalan populer di kota Bandung. Pada awalnya jalan ini digunakan untuk mengangkut kopi dari gudang ke jalan Raya Pos. Seiring dengan meningkatnya kondisi perekonomian kota, jalan ini kemudian berubah menjadi sebuah kawasan komersial. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan bertransformasi menjadi restaurant, hotel, rumah-toko, theater dengan gaya art deco yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat Belanda. Pada awal abad ke 20 jalan ini menjadi shopping street terpenting di Hindia Belanda sehingga Bandung dijuluki Parijs van Java. Sejalan dengan kemajuan teknologi, sosial dan pergeseran gaya hidup dibangunlah beberapa Department Store dan Mall di kota Bandung yang berdampak terhadap kemunduran jalan Braga. Berkurangnya jumlah pengunjung menjadikan koridor Braga kusam dan bangunan-bangunannya dibiarkan kosong dan terbengkalai, salah satunya adalah Hotel Braga. Hotel Braga yang semula bernama Hotel Wilhelmina didirikan tahun 1928-1931 dan telah dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya kelas B. Dengan menerapkan konsep adaptive reuse, makalah ini akan memaparkan upaya revitalisasi yang dilakukan pada Hotel Braga. Apakah fungsi baru dari Hotel Braga? Bagaimana bentuk adaptasi sebagai upaya pertahanan? Adaptive reuse dinilai sebagai sebuah konsep yang tepat diterapkan untuk mempertahankan dan merevitalisai bangunan dan kawasan lama. Dengan konsep ini diyakini bangunan dan kawasan cagar budaya sebagai warisan bangsa dapat dipertahankan dengan baik.
OBSERVASI IMPLEMENTASI BAHASA ARSITEKTUR FRANK GEHRY PADA BENTUK BANGUNAN GUGGENHEIM MUSEUM BILBAO REZA PHALEVI SIHOMBING; Kylie Dwi Andreas
STORAGE: Jurnal Ilmiah Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 2 No. 3 (2023): Agustus
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/storage.v2i3.2314

Abstract

Setiap karya arsitektur bukan hanya sekedar karya seni yang bisa dijelaskan mengenai bentuk dan estetika namun juga perihal makna hipotesis mendalam dari sang perancang yang sebenarnya bisa ditelaah dari berbagai macam jenis perspektif yang berbeda. Sama seperti apa yang dikatakan oleh Amos Rapoport (1981) bahwa arsitektur adalah tempat hidup manusia, yang lebih dari sekedar fisik, tapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Hal tersebutlah yang bisa melahirkan ide-ide yang bersifat komprehensif salah satunya menuangkan tata bahasa komunikasi atau linguistik menjadi sebuah pemikiran elok yang membentuk sistem kompleks dalam bentuk sebuah bangunan. Guggenheim Museum merupakan salah satu implementasi bahasa diri seorang Frank Gehry yang diawali dari struktur pemikiran yang kemudian dituangkan dalam objek struktur kompleks berkurva. Analisa karya arsitektur ini selain bertujuan sebagai pengetahuan baru juga memastikan kesamaan landasan hasil karya dengan sebuah analogi yang menjadi pemikiran dari perancangnya dengan metode mensinkronisasi hasil karya dengan teori-teori para ahli yang telah dikemukakan.