Muhammad Novrizal Abdi Sahid
Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Jl. Sekip Utara, Yogyakarta, Indonesia, 55281

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Empowerment of Livestock Farmers in Subclinical Mastitis Test with GAMA Anti-Haptoglobin in “Sahabat Ternak” Etawah Crossbreed Goat Farm Fajar Budi Lestari; Madarina Wasissa; Muhammad Novrizal Abdi Sahid; Siti Isrina Oktavia Salasia
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.747 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.60490

Abstract

Sahabat Ternak is one of the Etawah crossbreed (PE) goat farm groups in Sleman. This farm group focuses on goat milk production and processed goods. Problems that commonly arise in dairy goat farms are the cases of subclinical mastitis, which are quite high. This disease may cause a decrease in milk production and quality. The mastitis subclinical detection method which is often used by the farming community is the somatic cell count (SCC) and California mastitis test (CMT). However, both tests have low accuracy. Recently, a new method named GAMA Anti-Haptoglobin, which is more accurate and can be done easily has been established by livestock farmers. This community service aims to empower livestock farmers in applying GAMA Anti-Haptoglobin as a sensitive, rapid, and accurate subclinical mastitis detection kit in Sahabat Ternak goat farm. The method used in this activity consisted of discussion, socialization, and training for livestock farmers, as well as laboratory testing, evaluation of test findings, and treatment for PE goats. After the training, the livestock farmers were able to apply GAMA Anti-Haptoglobin mastitis detection method effectively. The implementation of this easy and accurate field mastitis detection method, as well as personnel with reliable skills, will support in the decrease of mastitis cases and increase milk production and quality, as well as community welfare.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia Linn) terhadap Respon Inflamasi Tikus yang diinduksi Kolitis Tri Fitri Yana Utami; Muhammad Novrizal Abdi Sahid; Ediati Ediati; Ika Puspita Sari
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i3.71388

Abstract

Kolitis Ulseratif (KU) merupakan penyakit peradangan usus yang dapat berkembang menjadi kanker usus dan akan meningkatkan kematian jika tidak tertangani dengan baik. Pengobatan KU dilakukan dengan pemberian kortikosteroid, imunosupresan dan agen biologis, namun hal itu dapat menyebabkan munculnya penyakit lainnya. Mengkudu (Morinda citrifolia Linn) mengandung senyawa flavonoid yang mampu memberikan efek preventif dan terapeutik dengan menurunkan sitokin proinflamasi sehingga diperkirakan dapat memperbaiki kondisi KU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian Ekstrak Buah Mengkudu (EBM) terhadap KU pada tikus yang diinduksi asam asetat. EBM diperoleh dari ekstraksi metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Induksi KU dilakukan pada tikus Sprague Dawley menggunakan 2% asam asetat. Tikus dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu:  K1 (kontrol normal); K2 (kontrol negatif); K3 (Kontrol positif); K4, K5 dan K6 yaitu perlakuan berturut-turut diberi EBM dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB. Kemudian dilakukan pengamatan respon inflamasi dengan paramater skoring penilaian indeks aktivitas penyakit (IAP) kolitis (berat badan, konsistensi feses, dan keberadaan darah pada feses), makrokopi lesi kolon serta rasio berat kolon/panjang kolon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EBM berpengaruh pada penurunan skor IAP KU, makroskopi lesi kolon dan rasio berat kolon/ panjang kolon pada dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB dimana dosis 400 mg/kgBB menunjukkan aktivitas yang lebih baik dan menunjukkan perbedaan siginifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif. EBM memberikan respon yang baik pada kondisi KU jika dinilai dengan parameter tersebut. Perbaikan respon inflamasi pada KU oleh EBM, menjadikan EBM sebagai kandidat pengobatan KU yang potensial.