Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perilaku Memanggil Ngengat Betina dan Evaluasi Respons Ngengat Jantan terhadap Ekstrak Kelenjar Feromon Seks pada Tanaman Cabai Merah Ashol Hasyim; Wiwin Setiawati; Rini Murtiningsih
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p72-79

Abstract

Helicoverpa armigera merupakan hama penggerek buah pada tanaman cabai merah di Indonesia. Kehilangan hasil  akibat serangan H. armigera dapat mencapai 60%. Pengendalian yang umum dilakukan ialah menggunakan insektisida secara intensif, yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Feromon seks merupakan salah satu alternatif cara yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengendalikan H. armigera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perilaku kawin ngengat betina H. armigera dan untuk mengevaluasi respons ngengat jantan terhadap feromon seks dari kelenjar ngengat betina dara H. armigera  pada tanaman cabai merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran dan di lahan petani di Desa Pabedilan Kaler, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon dari Bulan April 2009 sampai dengan Maret 2010. Penelitian dilakukan pada tiga tahap kegiatan yaitu : (1) perilaku memanggil betina dara dilakukan dengan cara memasukkan 20 ekor betina dara ke dalam vial plastik (10 ml) dan diberi makan larutan sukrosa 10%. Perilaku memanggil diamati setiap jam sepanjang malam, dimulai dari saat periode gelap mulai pukul 18.00 – 06.00, perlakuan diulang tiga kali, (2) untuk mengetahui respons ngengat jantan terhadap feromon seks dilakukan menggunakan tabung olfaktometer. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas lima perlakuan dan diulang lima kali, dan (3) evaluasi feromon seks  dilakukan di lahan petani di Kabupaten Cirebon. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku memanggil betina dara H. armigera mulai umur 1 hari mencapai maksimum pada hari ketiga pada periode 7 sampai 8 jam setelah scotophase. Respons ngengat jantan tertinggi terhadap feromon seks diperoleh dari ekstrak kelenjar feromon asal betina dara umur 4 hari sebesar 20,33% dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya kecuali dengan betina dara umur 2 dan 3 hari. Kerusakan buah cabai terendah dan berbeda nyata diperoleh dari perlakuan feromonoid seks + insektisida (9,25%) diikuti  feromon seks + insektisida (16,13%), dan insektisida (13,55%). Kerusakan buah cabai tertinggi (49,29%) diperoleh pada  perlakuan kontrol. Kombinasi antara penggunaan feromon dengan insektisida mampu menekan kehilangan hasil buah cabai merah akibat serangan H. armigera sebesar 61,10 – 62,18 % bila dibandingkan dengan kontrol. Feromon seks merupakan senyawa kimia yang efektif untuk memonitor dan mengendalikan populasi H. armigera pada tanaman cabai di lapangan.
Optimalisasi Dosis Pupuk Tunggal dan Pupuk Kandang untuk Produksi Bawang Putih di Dataran Tinggi Ika Cartika; Abdi Hudaya; Fahmi Aprianto; Rini Murtiningsih
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.311 KB) | DOI: 10.30595/pspfs.v2i.168

Abstract

The addition of nutrients for garlic plants consists of two type, namely the application of anorganic fertilizers in the form of single fertilizers N, P, K and organic fertilizers such as manure. The purpose of this study was to obtain the right dose of single fertilizer N, P, K and chicken manure. The experiment was arranged using a Randomized Block Design with 4 replications. The treatments consisted of 9 treatment combinations consisting of A = 100% single fertilizer + 15 tons of manure, B = 100% single fertilizer + 10 tons of manure, C = 100% single fertilizer + 5 tons of manure, D = 75% single fertilizer + 15 tons of manure, E = 75% single fertilizer + 10 tons of manure, F = 75% single fertilizer + 5 tons of manure, G = 50% single fertilizer + 15 tons of manure, H = 50% single fertilizer + 10 tons of manure, I = 50% single fertilizer + 5 tons of manure. The dose of 100% single fertilizer was SP36 375 kg.ha-1, ZA 1.144 kg.ha-1and KCl 200 kg.ha-1. The type of manure used is chicken manure. The results showed that doses of 75% and 100% of single fertilizer combined with 15 ton.ha-1 resulted in the wet and dry weight of the stover, the diameter and weight of the tubers, which were the same, respectively, the dry weight of the stover 32,57 grams and 39,40 grams, the dry weight of the stover. 17,43 grams and 17,63 grams, tuber diameter 33,09 and 33,13, tuber weight 14,07 grams and 14,30 grams. These results tend to be higher than other treatments. 75% single fertilizer and 15 ton.ha-1 chicken manure can be recommended for fertilization in garlic production.