Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

REDESAIN BIARA SUSTER ORDO KARMEL SANTA THERESIA DI KAKASKASEN (TOMOHON) (IMPLEMENTASI TRADISI KATOLIK DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MEDITERANIA) Lumunon, Austensean S.; Rengkung, Joseph; Mononimbar, Windy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6655

Abstract

Berbagai cara dari manusia untuk berupaya mengabdi kepada Tuhan dengan hidup sesuai ajaran kepercayaannya, berusaha hidup baik dengan berbuat kebajikan namun ada juga sebagian manusia memilih dengan mengabdikan dan menyerahkan diri dengan sepenuh dan seutuhnya kepada Tuhan, seperti dengan memilih hidup menjadi Biarawan atau Biarawati. Hal ini salah satu jalan dalam upaya manusia untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka dengan mendedikasikan hidup mereka kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta, dan berusaha keluar dari semua kesibukan dan rutinitas kehidupan normal. Salah satu jalan untuk melayani Tuhan seutuhnya adalah dengan menjadi Biarawan-Biarawati dari Ordo Karmel Tak Berkasut dari Ordo Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ordo Carmelitarum Discalceatorum atau O.C.D.) dengan kehidupan kontemplatif. Mereka telah berupaya menghadirkan Cahaya Kristus dalam kehidupan dan pelayanan di bidang rohani, sebagai pendoa untuk perlindungan dan permohonan akan belas kasihan dengan doa-doa kepada Allah untuk umat manusia. Biara Suster Karmel Santa Theresia ini telah menjadi tempat untuk jawaban akan panggilan Puteri-puteri Katolik dan umat yang haus akan kebutuhan spiritualitas dan rohani yang telah berdiri sejak tahun 1949 di Kakaskasen, Tomohon. Melihat akan perkembangan yang ada serta beberapa aspek dan pertimbangan lainnya, maka kawasan biara ini membutuhkan Redesain atau Perancangan Kembali dengan mengambil tema “Implementasi Tradisi Katolik dengan Pendekatan Arsitektur Mediterania”. Sangat diharapkan hasil pemugaran dan redesain ini dapat meningkatkan kualitas hidup membiara bagi penghuni biara dan serta kedepan dapat mendorong lebih banyak puteri-puteri katolik untuk menjawab panggilan dan juga umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Penambahan fasilitas-fasilitas seperti Gereja/kapel yang memadai, Jalan Salib, Gua St. Maria dari Lourdes, diharapkan dapat meningkatkan iman dan spiritualitas khususnya umat di Keuskupan Manado dan sekitarnya. Kata Kunci : Biara, Suster Ordo Karmel, Tradisi Katolik dan Arsitektur Mediterania
IMPLEMENTASI ARSITEKTUR GOTHIK PADA BANGUNAN DI DAERAH TROPIS LEMBAB Austensean S. Lumunon; Luther Betteng
MEDIA MATRASAIN Vol. 10 No. 2 (2013)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v10i2.4112

Abstract

Tropikalitas dapat dipahami sebagai suatu resultan dari respon-respon manusia untuk hidup beradaptasi dengan iklim tropis. Respon-respon ini sangat evolutif dan kaya akan kemungkinan-kemungkinan sehingga tropikalitas menjadi begitu kompleks dan menarik sebagai suatu titik temu antara tantangan alam dengan tuntutan kualitas hidup manusia. Bruno Stagno dalam artikelnya yang berjudul “Tropicality” mengungkapkan bahwa masyarakat tropis cenderung responsif dan tidak antisipatif terhadap tantangan alam. Mereka cenderung menunggu dan berusaha bertahan dengan beradaptasi dan menjadi kultur yang khas. Isu Tropikalitas juga telah dipahami sebagai suatu konstrain yang tak terhindarkan dalam desain Arsitektur Gothik di daerah Tropis.Langgam Arsitektur di Eropa seperti Arsitektur Gothik tidak bisa begitu saja diterapkan di Indonesia tanpa memperhatikan aspek tropikalitas. Sejalan dengan kultur masyarakat tropis yang adaptatif, maka arsitektur Gothik pun harus dapat beradaptasi sebagai respon terhadap isu tropikalitas. Arsitektur sebagai produk budaya tidak terlepas dari aspek estetika. Demikian juga dengan arsitektur Gothik yang telah sekian lama membentuk wajah kota di beberapa daerah di Indonesia sebagai elemen estetis yang signifikan. Adaptasi langgam Arsitektur Gothik dari Eropa terhadap isu Tropikalitas di Indonesia tentunya menghasilkan bentuk gubahan yang khas dan menjadi elemen yang menarik dalam tinjauan estetika. Salah satu contoh bangunan Arsitektur Gothik era peninggalan jaman kolonial yang signifikan keberadaannya di daerah tropis adalah Gereja Katedral St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Jakarta karya Pater Antonius Dijkmans di lanjutkan MJ Hulswit dan St. Petrus, Bandung karya W.C.P. Schoemaker. Kedua Bangunan ini telah beradaptasi dengan masalah tropikalitas lewat pemilihan material, kemiringan atap yang tinggi dan bukaan-bukaan berupa jendela dan ventilasi yang menghiasi elemen pelingkup ruang pada bangunan ini.Penelitian ini dengan pembahasan dan studi kasus lapangan ini mau menunjukkan bahwa adaptasi terhadap iklim tropis menghasilkan elemen-elemen desain yang sangat kaya dan berpotensi untuk menjadi elemen unsur – unsur Arsitektur Gothik yang berestetika tinggi, yang terintegras dengan mengimplementasi atau menerapkan pada daerah Tropis.Kata kunci : Implementasi, Arsitektur Gothik, Arsitektur Tropis, Tropis Lembab.
REVITALISASI ARSITEKTUR PADA KAWASAN PANJUNAN SEBAGAI KAMPUNG WISATA WARISAN BUDAYA DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PARIWISATA DI KOTA CIREBON Prayuko, Bregas Vikri; Arif, Kamal Abdullah; Herwindo, Rahadhian Prajudi; Pangestu, Mira Dewi; Lumunon, Austensean Stanislaus; Nurhidayah, Nurhidayah; Purnama, Iwan; Rachmansyah, Bima Sakti; Bangun, Patricia Grasella Savalen; Rayhansyah, Muhammad Azka; Alphadianto, Andanti Eveline Emmanuella; Wijaya, Aileen Febriani
SUBAKTYA: UNPAR COMMUNITY SERVICE JOURNAL Vol. 1 No. 2 (2024): (DESEMBER 2024) SUBAKTYA: UNPAR Community Service Journal
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sucsj.v1i2.7957.1-15

Abstract

Kota Cirebon, di Jawa Barat, kaya akan sejarah dan budaya namun belum memiliki perkembangan yang pesat dalam aspek pariwisatanya. Kampung Panjunan potensial untuk dikembangkan, dengan kolaborasi antara Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STT Cirebon) dan Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) bertujuan meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pengembangan pariwisata berbasis arsitektur dan budaya di Jawa Barat. Melibatkan Dinas Pariwisata Kota Cirebon dan Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Cirebon. Panjunan memiliki Masjid Merah yang kaya budaya, dibangun tahun 1480, salah satu masjid tertua di Cirebon, memiliki potensi pariwisata religi dan budaya. Pemerintah kota mendukung pengembangan pariwisata dan wisata lokal. Keterlibatan masyarakat dimulai dengan mempelajari aspek sosial-budaya Panjunan, memetakan budayanya, mengidentifikasi karakteristik fisik dan spasial untuk menjaga akar sejarahnya, termasuk pembentukan desa wisata. Hasilnya termasuk rencana konseptual untuk pengembangan pariwisata Panjunan dan dokumen pendukung untuk revitalisasi daerah tersebut, berdampak pada aspek fisik, ekonomi, dan sosial-budaya kawasan Panjunan.
Analisis Komparatif Elemen Arsitektur Neo-Gotik Pada Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tomohon: Kajian Visual Berbasis Variabel Terhadap Bangunan Era Hindia Belanda Austensean Stanislaus Lumunon; Priscilla Nelvy Gosal; Risty Uswatun Hasanah
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.66635

Abstract

ABSTRAK                                                          Gereja Katolik Hati Kudus Yesus di Tomohon merupakan salah satu peninggalan arsitektur era Hindia Belanda yang memiliki kekayaan elemen visual Neo-Gotik sekaligus variasi penyimpangan dari standar kanon Neo-Gotik di Belanda dan Eropa. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif setiap variabel elemen arsitektur Neo-Gotik berdasarkan standar referensi dari tradisi Belanda dan Eropa dengan kondisi visual nyata yang teramati pada bangunan, mencakup elemen yang hadir secara utuh, hadir dengan modifikasi, maupun tidak hadir sama sekali. Metode yang digunakan adalah deskriptif-komparatif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi lapangan sistematis, dokumentasi visual detail, dan komparasi terhadap indikator standar referensi untuk elemen Neo-Gotik dari literatur arsitektur. Analisis dilakukan terhadap 16 variabel elemen dan 3 tipologi denah, yang dikelompokkan dalam enam kategori: struktur kolom dan penopang, bukaan, atap dan langit-langit, simbol khas gotik, ornamen, serta menara. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 16 variabel elemen, 10 variabel teridentifikasi hadir pada bangunan, sebagian dengan modifikasi formal yang signifikan sementara 6 variabel tidak hadir. Kehadiran elemen seperti buttresses, stained glass, rose window, tracery, gable, pointed arches, moulding, portal, dan spire menunjukkan komitmen kuat terhadap kanon Neo-Gotik; sementara absennya clustered column, ribbed vaults, tympanum, jamb statue, gargoyle, dan pinnacle mencerminkan seleksi elemen berdasarkan pertimbangan struktural, keadaan setempat, dan ketersediaan material. Denah bangunan mengikuti tipologi rectangular (basilika), bukan crux immissa (salib latin) maupun hallenkirche (aula). Temuan ini mengkonfirmasi bahwa bangunan gereja ini merupakan representasi Neo-Gotik yang hibrid namun koheren secara visual dan simbolik, menghasilkan karakter arsitektur yang khas dan bernilai sebagai warisan budaya. Kata Kunci: Analisis Komparatif, Neo-Gotik, Hindia Belanda, Arsitektur Gereja, Tomohon ABSTRACT The Sacred Heart of Jesus Catholic Church in Tomohon is one of the architectural legacies of the Dutch East Indies period, distinguished by its rich Neo-Gothic visual elements as well as several deviations from the canonical Neo-Gothic standards established in the Netherlands and Europe. This study aims to conduct a comparative analysis of each Neo-Gothic architectural element based on reference standards derived from Dutch and European traditions and the actual visual conditions observed in the building, encompassing elements that are fully present, present with modifications, or entirely absent. A descriptive-comparative method with a case study approach was employed, involving systematic field observations, detailed visual documentation, and comparison with standard reference indicators for Neo-Gothic elements derived from architectural literature. The analysis examined sixteen architectural element variables and three floor-plan typologies, grouped into six categories: columns and supporting structures, openings, roofs and ceilings, characteristic Gothic symbols, ornaments, and towers. The findings indicate that, of the sixteen architectural element variables analyzed, ten are present in the building, some exhibiting significant formal modifications, while six are absent. The presence of elements such as buttresses, stained glass, rose windows, tracery, gables, pointed arches, mouldings, portals, and spires demonstrates a strong adherence to Neo-Gothic canon. In contrast, the absence of clustered columns, ribbed vaults, tympana, jamb statues, gargoyles, and pinnacles reflects a selective adaptation of architectural elements influenced by structural considerations, local conditions, and material availability. The building's floor plan follows a rectangular (basilica) typology rather than the crux immissa (Latin cross) or hallenkirche (hall church) forms. These findings confirm that the church represents a hybrid yet visually and symbolically coherent expression of Neo-Gothic architecture, resulting in a distinctive architectural character and reinforcing its significance as a cultural heritage asset. Keywords: Comparative Analysis, Neo-Gothic, Dutch East Indies, Church Architecture, Tomohon
Studi Identifikasi Gaya Arsitektur Neo-Gotik pada Bangunan dari Era Hindia Belanda di Tomohon (Studi Kasus Gereja Katolik Hati Kudus Yesus) Austensean Stanislaus Lumunon
Jurnal Ilmu Teknik Terapan Vol 2 No 1 (2026): Journal of Applied Engineering Science (JUNI)
Publisher : Politeknik Kebangsaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65177/jaes.v2i1.64

Abstract

The aim of this study is to examine the adaptation of the Neo-Gothic architectural style in historical buildings from the Dutch East Indies era, focusing on the Sacred Heart of Jesus Catholic Church in Tomohon, North Sulawesi. Originally designed for local conditions and temperate climates, the application of Neo-Gothic architecture in non-European regions poses challenges related to thermal comfort, protection against high rainfall, and building material durability. The study will identify the adaptation strategies employed for this colonial church and analyse their impact on the building's style and spatial configuration. A qualitative descriptive method with a case study approach was employed, incorporating visual observation, analysis of architectural elements, and a literature review concerning Neo-Gothic and Dutch East Indies architecture. The results show that the church buildings adapt to their surroundings through several main strategies: steeply sloping roofs and wide eaves in response to high rainfall; windows that open and close to allow cross ventilation; and façade materials and colours that reflect solar radiation. These strategies have been proven to improve passive thermal comfort without compromising the symbolic and aesthetic characteristics of the Neo-Gothic architectural style. This research confirms that adapting neo-Gothic architecture to its surroundings is not merely a technical compromise, but a process that produces a distinctive form that is aesthetically pleasing. These findings are expected to inform the development of building designs, particularly places of worship in high-altitude tropical regions prone to disasters. This is particularly relevant in the context of applying neo-Gothic architectural principles to non-European climates.