Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

STRATEGI KONSERVASI EKOSISTEM MANGROVE DESA MANGEGA DAN DESA BAJO SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA DI KABUPATEN KEPULAUAN SULA Lumbessy, Henriyani; Rengkung, Joseph; Gosal, Pierre H
SPASIAL Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadan hutan mangrove sangat menentukan dan menunjang tingkat perkembangan sosial dan perekonomian masyarakat pantai. Penyebab utama terjadinya kerusakan hutan mangrove adalah perkembangan kota Sanana yang lebih condong kearah utara, yang merupakan pusat perkantoran di Kabupaten Kepulauan Sula. Perkembangan kota inilah  yang membuat hutan mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat dari perkembangan infrastruktur, permukiman, pertanian, perikanan dan industry. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis kerusakan ekosistem hutan mangrove dan penyebabnya di Desa Mangega dan Desa Bajo, dan untuk mengetahui strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk dijadikan sebagai destinasi ekowisata. Pengumpuan data dapat di peroleh dari survey dan wawancara diperoleh dari data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu pengambilan sampel biasanya sedikit dan dipilih menurut tujuan. Lokasi penelitian berada pada 2 desa yaitu Desa Mangega dan Desa Bajo Kecamatan Sanana Utara dengan jumlah sampel 100 orang dimana untuk Desa Mangega dengan jumlah sampel 35 orang dan Desa Bajo 65 orang. Hasil penelitian Strategi pengelolaan wisata mangrove untuk Desa Mangega dan Desa Bajo  dapat di lakukan melalui Langkah-langkah perioritas utama yaitu, pertama menetapkan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan hutan konservasi seluas 50 Ha di mana status kawasan hutan  mangrove dapat diperjelas sehingga memperbaiki sumberdaya alam  dan menunjang pariwisata secara berkelanjutan. Kedua  untuk Desa Bajo yaitu: meningkatkan upaya rehabilitasi pada ekosistem mangrove yang telah rusak seluas 15 Ha dimana dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat guna memperhatikan daya dukung kawasan.   Kata Kunci: Konservasi mangrove, ekowisata dan strategi pengelolaan wisata mangrove
MORFOLOGI KAWASAN PERMUKIMAN AKIBAT KEBERADAAN KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SAM RATULANGI DI KELURAHAN BAHU DAN KLEAK Tumbelaka, Vanessa; Kindangen, Jefrey I; Rengkung, Joseph
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan suatu kota dipengaruhi oleh pertambahan penduduk, perubahan sosial ekonomi dan budaya serta interaksinya dengan daerah sekitar. Pertambahn penduduk perkotaan mendorong terjadi peningkataan  kebutuhan sosial dan ekonomi di kota yang menyebabkan peningkatan kebutuhan terhadap lahan. Universitas merupakan sarana yang menyediakan jasa pendidikan bagi masyarakat. keberadaan universitas ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan suatu Kawasan. Hal ini memicu terjadinya alih fungsi lahan yang dulunya lahan kosong menjadi lahan terbangun , kebutuhan kelengkapan sarana pendidikan dan fasilitas aktivitas mahasiswa dalam bidang pelayanan, perdagangan dan jasa. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah dengan adanya Kampus Universitas Sam Ratulangi berdampak terhadap Kawasan permukiman. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan Teknik Analisis Spasial, Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi perubahan morfologi dan pola kawsan permukiman yang ada disekitar kawasan kampus Universitas Sam Ratulangi. Berdasarkan hasil identifkasi dan pembahasan maka dengan adanya Universitas Sam Ratulangi secara tidak langsung berpengaruh di kawasan permukiman dikarenakan adanya peningkatan aktifitas dalam sektor perdagangan dan jasa dengan adanya pendatang yang tinggal di daerah tersebut  sehingga untuk meningkatkan perekonomian, masyarakat sekitar mengalihfungsikan bangunan-bangunan mereka untuk dijadikan kos, rumah kontrak, toko dan lain-lain. Kata Kunci : Morfologi, Kawasan Permukiman, Universitas Sam Ratulangi
SEKOLAH TINGGI MUSIK GEREJA DI MANADO HARMONI DALAM ARSITEKTUR DAN KONTEMPORER Pitoy, Jonas W.; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i2.6017

Abstract

Unsur-unsur dalam ibadah selain pemberitaan Firman Tuhan (khotbah), maka ada unsur satu lagi yang sangat penting yaitu puji-pujian dalam ibadah. Peranan musik yang sangat besar pengaruh dalam kebaktian ini sering diremehkan oleh penyelenggara kebaktian, padahal ini adalah salah satu unsur yang sangat vital dalam ibadah, karena meningkatkan kualitas musik dalam kebaktian maka kualitas ibadah akan semakin baik pula, dan ini membawa pengaruh positif bagi perkembangan jemaat. Pemikiran yang terjadi di gereja-gereja saat ini ialah bahwa untuk melayani Tuhan dalam bidang musik tidak diperlukan keahlian yang “sangat” mendalam, dengan memiliki teknik bermain musik yang lumayan dan tidak perlu sekolah itu sudah di kategorikan cukup, hal ini sangat berbeda dengan pandangan yang seharusnya tertulis di Alkitab, di dalam Kitab Keluaran tertulis bahwa dalam kebaktian ada pada jaman itu, ada kumpulan orang yang dibentuk atas perintah Tuhan untuk melayani ibadah dalam bidang musik, mereka disebut ahli-ahli musik, melalui hal inilah maka sangat diperlukan orang-orang yang rindu melayani Tuhan dalam bidang musik dengan mengambil pendidikan formal sekolah musik. Karena itu penulis merencanakan untuk merancang bangunan Sekolah Musik Gereja di Manado, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat di Sulawesi Utara yang berpusat di Kota Manado. Sekolah Tinggi Musik Gereja di Manado ini adalah proyek yang merupakan fasilitas umum di bidang pendidikan. Musik di Manado beberapa tahun belakangan ini mulai menunjukkan perkembangan yang pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan musik gerejawi pun menunjukkan hal yang serupa. Konsep atau tema perancangan yaitu “Harmoni dalam Arsitektur Kontemporer Kata Kunci : Sekolah Tinggi, Musik, Gereja, Kontemporer.
RESORT SPA & TERAPI di PANTAI MOINIT AMURANG Katihokang, Dreity N; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i2.2100

Abstract

ABSTRAK Pantai Moinit merupakan salah satu pantai yang memiliki sumber air panas terletak di Kabupaten Minahasa Selatan. Pantai ini terletak di antara desa Teep dan desa Tawaang kecamatan Amurang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai salah salah satu kawasan wisata karena sumber air panas yang dimilikinya. Akan tetapi permasalahannya  yaitu pada kawasan yang diunggulkan pemerintah sebagai salah satu kawasan wisata andalan ini belum memiliki fasilitas memadai yang dapat mengakomodir kebutuhan wisatawan berkunjung ke tempat tersebut. Melihat kondisi yang ada,  maka dinilai perlu merencanakan untuk suatu fasilitas yang dapat mengoptimalkan potensi Pantai Moinit ini. Fasilitas direncanakan yaitu Resort Spa & Terapi. Dalam proses perancangan Resort Spa & Terapi di Pantai Moinit,Amurang dilakukan dengan pendekatan konsep strategi simbiosis arsitektur yang  mengekspresikan suatu hubungan simbiosis antara satu bagian pada arsitektur dengan bagian lain yang  berbeda, dan mengkombinasikannya secara simbiotik. Simbiosis sebagai proses perancangan digunakan untuk mendeskripsikan hubungan yang kita buat antara dua elemen penting secara timbal balik yang bisa saja hal itu saling menguntungkan, saling merugikan maupun netral bagi kedua belah pihak. Demikian diharapkan dengan hadir Resort Spa dan Terapi di kawasan wisata Pantai Moinit Amurang dapat memberikan solusi kebutuhan dan kesehatan (penyegaran) juga dapat memberikan keuntungan bagi Kawasan Wisata Pantai Moinit Amurang tersebut. Kata kunci : Amurang, Resort Spa dan Terapi, Strategi Simbiosis.
KAWASAN PROMOSI KEBUDAYAAN SULAWESI UTARA DI MANADO - Kajian Semiotika Dalam Arsitektur Dariwu, Claudia; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013.
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i1.915

Abstract

ABSTRAK Dinamika kebudayaan Sulawesi Utara dirasakan tidak hanya mengalami perubahan, tapi juga mengalami penurunan. Terancam sistem tradisi, memudar bahasa lokal, tidak tumbuh kreativitas ilmu pengetahuan dan teknologi, hilang ruang-ruang kebudayaan, sepi penyelenggaraan festival budaya adalah bagian-bagian dari gejala perubahan kebudayaan Sulawesi Utara zaman ini. Meninjau  dan mengantisipasi gejala kebudayaan tersebut maka penulis mengangkat objek Kawasan Promosi Kebudayaan Sulawesi Utara di Manado sebagai sarana dalam mengembangkan, memelihara serta mempromosikan kebudayaan Sulawesi Utara. Tema yang diangkat dalam objek yaitu Kajian Semiotika Dalam Arsitektur, Semiotika dalam arsitektur merupakan bahasa simbol yang memberi informasi kepada pengamat lewat bentuk-bentuk tertentu. Dimana komunikasi ini dapat menginformasikan suatu nilai yang terkandung didalamnya bahkan menjelaskan suatu konteks budaya. Kata kunci : kawasan promosi, kebudayaan, semiotika
RE-DESIGN TAMAN BUDAYA SULAWESI UTARA DI MANADO “NEO-VERNACULAR ARCHITECTURE” Maloring, Indri Y. W.; Rengkung, Joseph; Wuisang, Cynthia
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.9663

Abstract

Budaya adalah suatu cara hidup/tradisi/kebiasaan yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sulawesi Utara adalah Provinsi yang kaya akan budaya. Tiga etnis besar yang menjadi penduduk asli dari provinsi ini memiliki beragam tradisi kebudayaan disetiap etnisnya. Kebudayaan yang sudah ada secara turun ditemurun ini sudah seharusnya diperkenalkan dan dilestarikan oleh generasi-generasi selanjutnya. Perlu adanya sebuah wadah untuk dapat mempersatukan seluruh kebudayaan yang ada dan untuk terus mendekatkan budaya dengan masyarakat. Taman budaya adalah sarana yang dihadirkan pemerintah sebagai tempat mempromosikan, mengekpresikan dan mengembangkan setiap kebudayaan daerah. Penerapan tema “Neo Vernacular Architecture” dalam kegiatan medesain kembali objek Taman Budaya Sulawesi Utara di Manado ini merupakan solusi yang tepat untuk menghadirkan sebuah objek wisata budaya yang menggambarkan kebudayaan asli dalam sebuah bangunan arsitektural modern . Kata kunci : Taman Budaya, Sulawesi Utara, Neo Vernacular Architecture
RESORT DI TOMOHON Arsitektur Bambu Narsi, Wiwi; Rengkung, Joseph; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.15655

Abstract

Mengingat daerah Sulawesi Utara memiliki beragam potensi kekayaan alam maupun budaya, maka untuk lebih memanfaatkan potensi-potensi yang ada maka pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah membagi daerah-daerah yang memiliki potensi demi pertumbuhan dan pengembangan kepariwisataan kedalam daerah-daerah tujuan wisata.  Tomohon adalah salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara yang berjarak sekitar 25 km dari Manado. Kota Tomohon dikenal memiliki potensi alam dari bentuk wilayah, iklim serta hasil-hasil alam menjadi daya tarik bagi kalangan masyarakat luas untuk mengenal wilayah tersebut. Pengadaan wadah wisata dapat menjadi salah satu alternatif guna merespon kunjungan para wisatawan dan melengkapi kebutuhan objek wisata Tomohon. Perancangan Resort di Tomohon dapat dijadikan strategi untuk menyediakan wadah bagi penikmat wisata masyarakat luas baik skala domestik maupun mancanegara. Resort dengan tema perancangan “Arsitektur Bambu” menghadirkan rancangan yang mengangkat karakteristik lokal kota Tomohon yang digabungkan dengan perkembangan inovasi arsitektur yang sedang berkembang. Kata Kunci : Tomohon, Objek Wisata, Resort, Arsitektur Bambu
REDESAIN BIARA SUSTER ORDO KARMEL SANTA THERESIA DI KAKASKASEN (TOMOHON) (IMPLEMENTASI TRADISI KATOLIK DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MEDITERANIA) Lumunon, Austensean S.; Rengkung, Joseph; Mononimbar, Windy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6655

Abstract

Berbagai cara dari manusia untuk berupaya mengabdi kepada Tuhan dengan hidup sesuai ajaran kepercayaannya, berusaha hidup baik dengan berbuat kebajikan namun ada juga sebagian manusia memilih dengan mengabdikan dan menyerahkan diri dengan sepenuh dan seutuhnya kepada Tuhan, seperti dengan memilih hidup menjadi Biarawan atau Biarawati. Hal ini salah satu jalan dalam upaya manusia untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka dengan mendedikasikan hidup mereka kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta, dan berusaha keluar dari semua kesibukan dan rutinitas kehidupan normal. Salah satu jalan untuk melayani Tuhan seutuhnya adalah dengan menjadi Biarawan-Biarawati dari Ordo Karmel Tak Berkasut dari Ordo Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ordo Carmelitarum Discalceatorum atau O.C.D.) dengan kehidupan kontemplatif. Mereka telah berupaya menghadirkan Cahaya Kristus dalam kehidupan dan pelayanan di bidang rohani, sebagai pendoa untuk perlindungan dan permohonan akan belas kasihan dengan doa-doa kepada Allah untuk umat manusia. Biara Suster Karmel Santa Theresia ini telah menjadi tempat untuk jawaban akan panggilan Puteri-puteri Katolik dan umat yang haus akan kebutuhan spiritualitas dan rohani yang telah berdiri sejak tahun 1949 di Kakaskasen, Tomohon. Melihat akan perkembangan yang ada serta beberapa aspek dan pertimbangan lainnya, maka kawasan biara ini membutuhkan Redesain atau Perancangan Kembali dengan mengambil tema “Implementasi Tradisi Katolik dengan Pendekatan Arsitektur Mediterania”. Sangat diharapkan hasil pemugaran dan redesain ini dapat meningkatkan kualitas hidup membiara bagi penghuni biara dan serta kedepan dapat mendorong lebih banyak puteri-puteri katolik untuk menjawab panggilan dan juga umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Penambahan fasilitas-fasilitas seperti Gereja/kapel yang memadai, Jalan Salib, Gua St. Maria dari Lourdes, diharapkan dapat meningkatkan iman dan spiritualitas khususnya umat di Keuskupan Manado dan sekitarnya. Kata Kunci : Biara, Suster Ordo Karmel, Tradisi Katolik dan Arsitektur Mediterania
KAJIAN SEMIOTOKA DALAM ARSITEKTUR TRADISONAL MINAHASA Dariwu, Claudia T.; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v1i1.361

Abstract

ABSTRAK Semiotika sebagai ilmu tentang Tanda, memandang Arsitektur secara lebih utuh lewat komunikasi visual.  Dimana komunikasi ini dapat menginformasikan suatu nilai yang terkandung didalamnya bahkan mendeskripsikan suatu konteks budaya atau zaman Arsitektur itu dijewantahkan.  Semiotika dibagi menjadi Semiotika Signifikasi dan Komunikasi.  Semiotika Signifikasi lebih berorientasi pada ranah Linguistik sedangkan Semiotika Komunikasi meliputi banyak hal yang punya keterkaitan dengan Tanda. Semiotika dalam Arsitektur adalah merupakan Bahasa Simbol yang memberi informasi kepada pengamat lewat bentuk-bentuk tertentu.  Dengan demikian, maka proses pemaknaan sebuah bangunan yang ingin di sampaikan sang arsitek, akan mampu atau setidaknya dihayati oleh setiap individu  pemakai/pengguna bangunan.  Pemaknaan sebuah objek Arsitektural tidak hanya terbatas pada bentuk atau tampak saja tapi diharapkan akan mampu mengartikan hal yang esensial terselubung dalam bentuk yang dapat diidentifikasi melalui pengamatan yang mendalam. Arsitektur Tradisional Minahasa sebagai cermin nilai budaya tergambar dalam perwujutan bentuk, struktur, tata ruang, dan ragam  hias, dimana bentuk fisik rumah tradisional walaupun tidak mengabaikan rasa keindahan (estetika), namun tetap terikat oleh nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat. Hal tersebut dapat di lihat dan terkomunikasi melalui bentuk dan metode perwujudannya. Kata kunci: Semiotika, Signifikasi, Komunikasi, Tradisional, Minahasa
GEREJA TORAJA DI MANADO “ SIMBOLISME DALAM ARSITEKTUR” Srianovita, S; Betteng, Luther; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.9662

Abstract

Kebutuhan manusia terbagi menjadi dua yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan rohani dapat ditunjang melalui sarana dan prasaran peribadatan keagamaan. Sarana peribadatan agama Kristen Protestan adalah Gereja. Gereja merupakan bangunan religius yang mewadahi kegiatan yang sakral antara umat dengan Tuhan. Selain sebagai tempat peribadatan, gereja juga sebagai sarana interaksi antara manusia dengan sesama. Manado merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi salah satu daerah tujuan masyarakat Toraja untuk merantau. Banyak masyarakat Toraja yang bekerja dan menuntut ilmu di daerah ini. Ada juga yang sudah menetap / berdomisili dan berkeluarga di Kota Manado. Dalam perantauan, masyarakat Toraja yang beragama Kristen Protestan akan membutuhkan keberadaan Gereja sebagai tempat untuk menjalankan ibadah dengan suasana yang khusuk dan sakral yang sekaligus memperlihatkan image Gereja Toraja yang sesungguhnya, yaitu gereja yang sesuai dengan budaya (kultural) asal yakni Toraja. Kehadiran Gereja Toraja di Manado ini diharapkan bisa mewadahi peribadatan dan aktifitas kerohanian lainnya bagi masyarakat Toraja di Kota Manado. Perancangan Gereja Toraja di Manado ini menggunakan pendekatan tema perancangan “Simbolisme dalam Arsitektur”. Konsep utama perancangan ini adalah diterapkannya konfigurasi antara nilai atau filosofi simbol-simbol budaya Toraja dengan simbol-simbol Kristiani ke dalam bentuk fisik bangunan sehingga menciptakan suatu peribadatan yang religius dan etnis. Dengan itu pesan keagamaan dapat lebih dipahami dan menyatu sebab disampaikan dengan budaya masyarakat Toraja sekaligus menyimbolkan pemersatu keluarga di tengah segala kesibukan di tempat perantauan. Kata kunci       : Simbolisme, Kristiani, Budaya Toraja