Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Empowerment Of Pkk Groups Through Diabetes Self Management Efforts To Control Diabetes Mellitus In Sembilangan Village – Bangkalan District: Pemberdayaan Kelompok Pkk Melalui Diabetes Self Management Upaya Pengendalian Penyakit Diabetes Mellitus Di Desa Sembilangan – Kecamatan Bangkalan Luluk Jnauarti; Rahmad Wahyudi; M.Shofwan Haris
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2024): JPM SEPTEMBER 2024
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v10i2.2300

Abstract

Diabetes melitus (DM) penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai oleh kadar glukosa darah tinggi (hiperglikemia) yang dapat menyebabkan komplikasi neuropati perifer dan terjadi ulkus diabetikum. pemberdayaan dengan mengikutsertakan kelompok mitra PKK sebagai kader kesehatan primer di Masyarakat dibutuhkan sebagai agen perubahan. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk memberdayakan, melatih dan memberikan edukasi Kesehatan sebagai Upaya pencegeahan dan pengendaliandiabetes mellitus.  Metode dalam kegiatan ini Pendidikan Kesehatan, pelatihan dan Praktik Comprehensive Clinical Skill, meliputi kegiatan pekan deteksi dini Kesehatan dasar, diabetes self management, senam kaki diabetes, manajemen perawatan kaki, pelatihan kader Kesehatan dan screening resiko luka ulkus. Kegiatan dilaksanakan pada kelompok mitra PKK sejumlah 25 orang beserta masyarakat desa Sembilangan. Hasil kegiatan terdapat 13 warga desa sembilangan mengalami diabetes mellitus, peningkatan pengetahuan kelompok mitra PKK tentang diabetes self management, manajemen perawatan kaki, tugas dan fungsi kader yang dibuktikan dengan peningkatan nilai mean sebelum dan sesudah kegiatan serta  mampu melakukan demonstrasi ketrampilan senam kaki diabetes dan screening luka ulkus serta terlibat aktif dalam pekan deteksi dini Kesehatan dasar. Pengetahuan dibutuhkan guna untuk membentuk sikap dan tindakan seseorang. Pendidikan kesehatan merupakan aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan, dimana kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap, praktik pada individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri. Diharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan bekerja sama dengan pihak Puskesmas untuk mengembangkan inovasi kelompok peduli perubahan dalam bidang kesehatan. Serta menjadi project based learning bagi wilayah desa lain
Pemberdayaan Masyarakat Dengan Metode Peri Cantik Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Kecacatan Kusta Rahmad Wahyudi; Nisfil Mufidah; Khozainun Niam; Ummi Kulsum
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i2.301

Abstract

Kusta penyakit menular akibat infeksi microbacterium leprae yang menyerang kulit maupun saraf. Kecacatan yang dialami oleh penderita kusta menyebabkan Fenomena sosial masyarakat di Madura mengenal kusta adalah Dhaging jube’ (Daging busuk) yang berakibat kecacatan membuat penderita terisolasi karena adanya stigma negatif serta dapat meningkatkan kemiskinan karena kurangnya produktifitas penderita. Program ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat dan penderita kusta dalam peningkatan pengetahuan, merubah stigma dan mengurangi tingkat kecacatan. Pelaksanaan program meliputi Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat, Pendampingan Pelatihan Perawatan diri, Dan Pembentukan Kelompok Perawatan diri Kusta. Kegiatan program telah dilaksanakan selama 3 bulan mulai bulan Juni sampai Agustus 2021.Terjadi perubahan peningkatan pengetahuan dan perubahan tingkat kecacatan serta terbentuknya kelompok perawatan diri kusta. Pengetahuan masyarakat tentang kusta menyebabkan stigma negatif sulit dihilangkan masyarakat hanya mengetahui perubahan fisik berupa kecacatan sebagai dampak yang ditimbulkannya Proporsi kecacatan yang lebih tinggi pada laki-laki juga berhubungan dengan risiko terjadinya luka sekunder Pekerjaan responden sebagai petani menyebabkan mereka rentan mengalami kecacatan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan pengobatan dan kerusakan saraf permanen