This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Sri Budi Lestari
Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pola Komunikasi Keluarga Single Parent Sebagai Konsekuensi Hilangnya Sosok Ibu Minhaturrohmah .; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.185 KB)

Abstract

Pada tahun 2016, Wisconsin Office of Children’s Mental Health merilis data risiko anak-anak yang tumbuh dalam keluarga single parent. Anak-anak yang hidup di keluarga single parent seringkali memiliki stabilitas yang kurang, disiplin yang keras, dan pengawasan yang kurang, sehingga dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional anak. Sementara itu, menurut data SUPAS BPS 2015, ada kurang lebih 24 juta keluarga single parent di Indonesia. Dari jumlah tersebut, perbandingan jumlah keluarga single parent dengan ibu tunggal dan ayah tunggal adalah 40:6 sehingga timbul keraguan masyarakat akan kemampuan ayah dalam berperan ganda agar keluarga dapat berfungsi normal. Di lain pihak, komunikasi keluarga memiliki peran penting dalam pelaksanaan fungsi keluarga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola komunikasi keluarga dan pengasuhan ayah dalam keluarga single parent setelah kematian ibu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metoda studi kasus. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik penjodohan pola berdasarkan teori pola komunikasi keluarga (FCP) oleh Fitzpatrick dkk dan konsep peran pengasuhan yang dikemukakan oleh Le Poire. FCP menyatakan bahwa keluarga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan cara-cara berkomunikasi satu sama lain yang cukup stabil sehingga dapat terprediksi. Sementara itu, menurut Le Poire, peran pengasuhan dalam keluarga memiliki empat sub peran yakni sub peran provider, nurturer, development expert, dan health care provider. Subjek dalam penelitian ini berupa tiga pasang ayah dan anak dalam keluarga single parent. Hasil penelitian ini menemukan bahwa keluarga single parent memiliki tipe keluarga yang berbeda-beda berdasarkan derajat orientasi percakapan dan kepatuhan keluarga. Tipe keluarga yang ditemukan dalam keluarga single parent adalah tipe plural, laissez faire, dan konsensual. Keluarga yang memiliki derajat orientasi percakapan tinggi, yakni tipe plural dan konsensual, menjalankan pengasuhan keluarga sesuai pola Le Poire sementara keluarga dengan tipe laissez faire yang memiliki derajat orientasi percakapan rendah menjalankan pengasuhan dengan pola provider-health care provider.
Dukungan Keluarga dalam Upaya Membangun Kepercayaan Diri Mantan Teroris Nafisa Nurul Adina; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.388 KB)

Abstract

Kasus terorisme menjadi kasus yang cukup mencolok sepanjang 2017-2018. Aksi teror terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan menelan sejumlah korban jiwa. Selain dampak fisik, aksi terror juga menimbulkan ketakutan dan trauma berkepanjangan bagi masyarakat. Setelah para teroris berhasil ditangkap dan diproses secara hukum, pihak keluarga selalu terbuka bagi mereka, namun sulit bagi masyarakat untuk menerima mereka kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkaji pengalaman komunikasi keluarga yang mendukung mantan teroris dalam upaya membangun kepercayaan dirinya. Penelitian ini menggunakan Social Support Theory, Uncertainty Reduction Theory, dan Self-Disclosure Theory yang menjadi teori dasar proses komunikasi dan dukungan keluarga. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara mendalam kepada 2 informan, yang masing-masing merupakan mantan narapidana terorisme dan tengah menjalani proses deradikalisasi. Temuan penelitian menunjukkan dukungan keluarga berupa komunikasi dengan pasangan dan anak, dorongan materi berupa tempat tinggal dan akomodasi, serta seringnya keluarga melakukan kunjungan mampu memberikan dampak positif bagi mantan teroris yang tengah membangun kepercayaan diri untuk hidup bermasyarakat. Menerima kondisi mantan teroris, membantu menunjukkan sikap yang baik di masyarakat, serta menjaga kedekatan melalui berbagai interaksi merupakan bentuk dukungan lainnya yang diberikan oleh keluarga. Komunikasi yang baik juga terus dijaga sejak informan masih mendekam di dalam lapas. Selain rutin berkunjung dan memberi bantuan materi, pihak keluarga juga kerap menceritakan hal-hal yang tidak diketahui informan selama mendekam di penjara. Pihak keluarga juga bersedia membantu proses bebas bersyarat dengan menjadi penjamin berkelakuan baik serta kerap mengantar informan untuk memberi laporan rutin kepada pihak Bapas. Dukungan yang diberikan terus-menerus menjadi hal yang esensial dalam proses individu membangun kepercayaan dirinya. Mantan teroris cenderung lebih percaya diri untuk menunjukkan perubahannya serta itikad melawan kasus terorisme di Indonesia.
Pola Komunikasi Keluarga Beda Agama Dalam Membangun Keharmonisan (Studi Kasus Keluarga Beda Agama di Getasan, Semarang ) Haninda Rafi Windiastuti; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.763 KB)

Abstract

Interfaith family is a family formed from marriage of different religions where family members in it embraced a different religion. Interfaith family also has different communication with the another family. Communication pattern will influence in a relationship. Aim of this reser to describe how communication pattern in interfaith family applied to constructing harmony. Used the qualitative approach, the post-positivisme, and data analysis referring to the case study matching pattern.The subject of the research is three interfaith family in Getasan, Semarang. This research used Family Scheme Theory from Fitzpatrick and Relational Dialectica Theory from Leslie Baxter and Barbara Montgomery. The results showed that the pattern in line with the predicted earlier pluralistic pattern and consensual pattern found in this study. The consensual pattern is found in pairs 1 and 3 each of which is characterized by high conversation orientation and low compliance orientation. High conversation orientation is manifested through the involvement of all family members in communication activities with each other demonstrated through honest and open communication. While a low compliance orientation is characterized by giving decision-making authority to each family member, for example authorizing the child to choose a religion. The plural pattern found in pair 2 is characterized by high conversation orientation and high compliance orientation. Although all members engage in honest, open communication activities, decision-making authority is in the hands of parents. Despite having different communication patterns, the three pairs of different religious families can live a harmonious life that is marked by the fulfillment of harmony elements according to Dadang Hawari include running a good religious life, having time with family, having good communication, being able to respect fellow family members, the quantity of conflict is minimal and has a close bond between family members
Komunikasi Antar Pribadi dalam Hubungan Berpacaran yang Menimbulkan Konflik Kekerasan Psikis Aisyah Anjani; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.078 KB)

Abstract

Interpersonal communication does not always go well, that is why conflicts arise. Likewise in dating relationships which often experienc conflicts due to lack of quality of communication. Some dating relationships, if the conflict cannot be resolved, will lead to psychological violence. This shows how important interpersonal communication is in managing conflict. This research is interesting to study because the importance of interpersonal communication is used to manage conflicts in dating relationships. This study aims to describe Interpersonal Communication in Dating Relationships which Causes Psychological Violence Conflict. Using a qualitative descriptive study approach with data collection carried out by in-depth interviews. The research subjects were three women who had experienced psychic violence in dating. The theory used is argumentativeness, assertiveness, and verbal aggressiveness theory. The results of this study indicate that the three informants show mutual comfort with closeness and intimacy in their relationships, but there is a feeling of unworthiness that causes excessive dependence on closeness and intimacy that can lead to feelings of discomfort. Individuals feel afraid of being abandoned by their partners and usually overly monitor their relationships with their partners and in this category extreme emotions and low levels of trust. Conflict also often occurs based on jealousy and lack of communication quality. Conflict management efforts that have been carried out are not effective so that problems cannot be resolved properly and occur repeatedly. Even victims of psychic violence because of their own pressure can turn into psychic violence perpetrators as a reaction.
STRATEGI KOMUNIKASI KOMUNITAS KRDE DALAM MEMBANGUN KEPERCAYAAN PT KERETA API INDONESIA UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI PELAYANAN PUBLIK Suzka Adiratna Novitha; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.651 KB)

Abstract

Bagi setiap perusahaan community relations merupakan aset jangka panjang yang dapat meningkatkan reputasinya. KRDE merupakan komunitas yang berhasil membangun kepercayaan PT Kereta Api Indonesia dalam menjalin community relations. Penelitian ini menggunakan pendekatan dimensi kepercayaan oleh Robbins dan teori Relationship Management yang dikemukakan Hon dan Grunigh. Penelitian ini bertujuan mengetahui strategi komunikasi yang dilakukan komunitas KRDE untuk membangun kepercayaan PT Kereta Api Indonesia menggunakan metode studi kasus dan dianalisis dengan teknik logic model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kerja unggulan komunitas KRDE merupakan strategi komunikasi mereka untuk mendekatkan diri pada PT Kereta Api Indonesia. Strategi pertama adalah melalui komunikasi persuasif dengan karyawan PT Kereta Api Indonesia secara formal dan informal diluar kantor yang menciptakan hubungan intim. Kedua melakukan strategi kanalisasi program kerja dan informasi tentang kereta api yang dilakukan komunitas KRDE sebagai mediator perusahaan dengan masyarakat. Ketiga, melakukan strategi promosi produk PT Kereta Api Indonesia secara offline dan online melalui akun media sosial milik anggota komunitas KRDE. Terakhir melalukan strategi terpaan media lokal Semarang terhadap komunitas KRDE untuk menunjukkan eksistensi kepada karyawan PT Kereta Api Indonesia dan masyarakat. Dari program kerja tersebut, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk melakukan pendekatan hingga akhirnya komunitas KRDE dipercaya sebagai mitra PT Kereta Api Indonesia. Penelitian ini menawarkan implikasi bagi keberhasilan komunitas dalam melakukan pendekatan kepada perusahaan untuk mampu menjadi mitra perusahaan yang dipercaya karena sebuah komunitas dapat mempunyai peranan penting bagi perusahaan terutama untuk mendukung kinerja Humas.
Komunikasi dan Pola Asuh Anak dalam Membangun Keharmonisan pada Keluarga Tenaga Kerja Indonesia (Kasus pada Tenaga Kerja Indonesia di Sojomerto, Kendal) Dhesanto Surya Gani; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.444 KB)

Abstract

Alongside with the demands of needs in each household, the fulfillment of these demands is achieved with varied methods, one of which is by working abroad as Tenaga Kerja Indonesia (TKI/Indonesian Workers). Individuals departing as Indonesian workers carry a consequence, that is a shifting in communication process within their family. This study aims to describe the Pattern of Communication and Nurturing in Indonesian Labor Family in building harmony within their family by implementing qualitative approach and case study method with pattern matching data analysis technique. The subjects of this study involve three families that work abroad as Indonesian Workers. Theory applied in this study is the Family Communication Patterns Theory and Relational Dialectics Theory. The results of this study show that the consensual and protective patterns that have been predicted before are found. Consensual Patterns are found in couple 1 and 2 each of who are characterized by high-conversation orientation and high-compliance orientation. High-conversation orientation is accomplished through the participation of the entire family members in intense, honest, and open communication activity. Meanwhile, high-compliance orientation is characterized by parents that are dominant in making decisions for the family members although the parents still listen to every opinion from each family member. Protective Patterns are found in couple 3 who is characterized with low-conversation orientation that is achieved through low communication rate between the children and parents. Protective parents are characterized by decision making that is in the hands of the parents. Despite the different communication and nurturing patterns, the three families left by one family member working abroad manage to have a harmonious life as they have enough time to live a good religious life, build affection within the family, respect fellow family members, minimalize conflicts, and construct a strong bond between family members.
MEMAHAMI KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DAN GURU DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN SOSIAL (SOCIAL SKILLS) PADA ANAK AUTIS Arlini Agestia Pangestika; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.294 KB)

Abstract

Autism is a developmental disorder characterized by disruption in communication and limited social interaction. This limitation makes the importance of the role of parents and teachers in building social skills in autism children to help them interact with others and organize themselves in certain social situations. This research focuses to describe the interpersonal communication performed by parents and teachers in the process of building social skills of autism children that using Symbolic Interaction Theory (George Herbert Mead) which explains that behavior can be formed through interaction, and Social Learning Theory (Albert Bandura) which explains that people can form behavior based on observation result. This research used descriptive qualitative type of research and phenomenology approach, and the research resource are parents who have autism children as much as three informants, and teachers who special educate autism children as much as two informants. The results showed that the interpersonal communication performed by parents and teachers to autism children is built through the closeness that get in by openness, attention, empathy, equality, and supportive when communicating, this closeness is used to build social skills through interpersonal persuasion in autism children. The understanding of parents and teachers to verbal and nonverbal messages of autism children becomes very important because it will be help the communication process between parents, teachers, and autism children.Then the belief of parents and teachers to the ability of autism children is the one of the factors that encourage the development of social skills, because autism children will be more flexible to develop their behavior according to ability possessed. In addition, rewarding and positive assessment to autism children also provide their motivation and confidence to form positive behavior, while punishment will provide an understanding to autism children that negative behavior should be avoided. Therefore, parents and teachers should have a commitment in educating autism children by giving examples of positive behaviors and practice together with them to be more easily observed and perfomed by autism children, because parents and teachers have an important role to provided awareness about social norms in society obtained through the formation of social skills in autism children.
Disolusi Hubungan Persahabatan Lawan Jenis Ketika Friendzone Kartini Lidyawati; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.822 KB)

Abstract

Pesahabatan lawan jenis berbeda dari persahabatan sesama jenis dan lebih kompleks sifatnya. Adanya tantangan dalam persahabatan lawan jenis dapat dilihat pada fenomenan unik yang sudah banyak terjadi di kalangan anak muda yang menjalin hubungan persahabatan lawan jenis oleh dua orang, yaitu friendzone. Friendzone populer didefinisikan sebagai situasi dimana seseorang memiliki perasaan romantis atau seksual yang tidak berbalas terhadap temannya. Keinginan untuk mengembangkan hubungan dari seorang sahabat menjadi pacar yang tidak terwujud acap kali menimbulkan masalah bahkan mengakibatkan hubungan persahabatan menjadi rusak dan tidak jarang putus hubungan Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam mengenai disolusi hubungan yang terjadi dalam persahabatan lawan jenis ketika friendzone. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma interpretif, dan teknik analisa data yang digunakan mengacu pada metode fenomenologi. Teori yang digunakan adalah Relational Dissolution Theory. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disolusi hubungan dalam persahabatan lawan jenis dapat dilakukan melalui beberapa fase. Namun tidak semua individu melalui fase-fase tersebut, setiap individu memiliki caranya tersendiri melalui fase disolusi hubungan. Dalam penelitian ini hanya informan kedua dan keempat yang melalui semua fase disolusi hubungan, yaitu mulai dari breakdown phase, intrapsychic phase, dyadic phase, social phase, grave-dressing phase, hingga resurrection phase. Sedangkan informan pertama tidak melalui social phase dan grave-dressing phase. Pada informan ketiga dan kelima tidak melalui grave-dressing phase.
PARTICULAR OTHERS DAN PEER GROUP TEACHING PRIO UTOMO DALAM PROSES MEMOTIVASI PRIA UNTUK BERVASEKTOMI Dwinda Sekar Andrea; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.825 KB)

Abstract

Family planning is initiated by the government to control birthrate and improve people’s quality of life. It targets both women and men, but in fact there has been an imbalance participation between both genders. The less participation of men and stigmas in the society about vasectomy backgrounds this research. Prio utomo is a community based acceptor supprting group, created by the government, whose mission to motivate, educate and inspire people, so there will be no more stigmas towards vasectomy. This research desscribes how particular others and Prio Utomo in the process of motivation men to do vasectomy. Using case study as a research method, this research took place in Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Central Java, Indonesia, where the local Prio Utomo is one of the most successful and active compared to other regions. Analysis result based on Theory of Planned Behavior shows that several informants were motivated by the urge to provide a better life for their family and the raising concern about the wife’s health. More to that, Prio Utomo itself has been motivating men using both personal and interpersonal approach. According to Persuassive Communicaton Theory, motivating activity conducted by Prio Utomo is actually using two dominant appeal that is psychological appeal—in which is achievement motive—and credibility appeal. This research also found the fact that people in Kecamatan Getasan are very heterogeneous and have high level of tolerance. A high tolerance level initiates such an open atmosphere, as of this characteristic don’t allow stigmas to grow and affect people’s decision on family planning. The finding is also a uniqueness for this research. The result of this research shows that Prio Utomo's activities have contributed a significant role in promoting vasectomy. Yet support from government's family planning institution is imperative to ensure the sustainability of this program. Hence during such an awareness and motivation process, the motivator should consider using more interpersonal approach.
MEMAHAMI KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENGELOLA PERILAKU ANTISOSIAL PADA REMAJA YANG ORANGTUANYA BERCERAI Febriana Krisma Damayanti; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perceraian mengubah tidak hanya struktur dalam sebuah keluarga tetapi esensi alami dari interaksi dan hubungan keluarga. Interaksi yang berubah tersebut dapat mengubah sikap anak menjadi ke arah yang lebih baik atau justru ke arah yang lebih buruk yang biasa disebut dengan perilaku antisosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana memahami komunikasi keluarga setelah perceraian dan bagaimana mengelola perilaku antisosial pada remaja yang orangtuanya bercerai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma interpretif, dan teknik analisa data yang mengacu pada metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah tiga informan yang merupakan remaja usia 12-22 tahun dan merupakan remaja dari keluarga yang telah bercerai. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Peran dan Teori Dialektika Rasional. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa pada setiap keluarga yang terjadi perceraian ada yang komunikasi keluarganya berubah namun ada pula yang tidak berubah. Perubahan komunikasi dalam keluarga yang bercerai tersebut dapat mengakibatkan perubahan perilaku pada setiap anak namun tidak semua anak mengalami perubahan perilaku antisosial. Untuk mengelola perubahan perilaku antisosial dibutuhkan komunikasi keluarga yang sesuai untuk memahami perubahan perilaku tersebut karena anak yang memiliki perubahan perilaku antisosial tidak dapat mengelola perubahan perilaku itu sendirian. Mereka cenderung membutuhkan perhatian yang ekstra dari kedua orangtuanya yang bercerai, dibutuhkan adanya pengertian sehingga seorang anak dapat mengerti mengapa terjadinya perceraian serta dibutuhkan peran seorang ibu dan ayah untuk mendampingi anak agar mereka tidak merasakan kekosongan pada dirinya sehingga perilaku antisosial dapat dihindari.