Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

APLIKASI PUPUK ORGANIK DAN ZAT PENGATUR TUMBUH DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAH DAN TANAMAN Yeni Pramita; Niken Rani Wandansari; Agus Salim; Andri Laksono
UNEJ e-Proceeding 2018: Pembangunan Pertanian dan Peran Pendidikan Tinggi Agribisnis: Peluang & Tantangan di Era Indus
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pertanian adalah sebagai pemasok kebutuhan pangan nasional. Akan tetapi produktivitas lahan pertanian di Indonesia semakin tahun semakin rendah karena terjadinya penurunan kualitas lahan. Untuk mengurangi penurunan kesuburan tanah sebagai daya dukung kegiatan pertanian, sekaligus memperoleh peningkatan hasil panen yang berkelanjutan, maka pemanfaatan pupuk organik secara tepat dan sesuai kebutuhan serta konyiuitas dalam pengaplikasian pupuk organik sangat di perlukan. melalui teknologi pengomposan sederhana dengan penambahan dekomposer, serta pengkayaan dengan hara lain di harapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan. Dalam penelitian ini pupuk organik yang digunakan terbuat dari campuran limbah blotong pengolahan pabrik gula sebagai bahan baku utama dan kotoran kambing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh interaksi antara pupuk organik dan ZPT yang terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi sawi, dan 2) dosis pupuk organik dan jenis ZPT yang terbaik terhadap tanaman uji. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Tanah dan Kesuburan Tanah STPP Malang dan Laboratorium Tanah Universitas Brawijaya Malang pada bulan Mei hingga September 2017. Percobaan selama kajian menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik dengan 3 taraf perlakuan, yaitu: 0 ton/ha (P0), 100 gram/pot (≈20 ton/Ha) (P1), dan 200 gram/pot (≈40 ton/Ha) (P2). Sedangkan faktor kedua merupakan jenis ZPT dengan 3 taraf perlakuan, yaitu: tanpa pemberian ZPT (Z0), pemberian ZPT ekstrak tanaman (Z1), dan pemberian ZPT di pasaran (Z2). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan P berbeda nyata, perlakuan H ≠ berbeda nyata dan interaksi antara P x H menunjukan interaksi berbeda nyata. Pengaruh penggunaan pupuk organik dan jenis ZPT terhadap kandungan hara tanah diketahui bahwa peningkatan unsur N sebesar 0,2% , unsur P sebesar 061,6 ppm dan unsur K mengalami kenaikan sebesar1,85 me/100g.
PEMANFAATAN LIMBAH BLOTONG PENGOLAHAN TEBU MENJADI PUPUK ORGANIK BERKUALITAS Latarus Fangohoy; Niken Rani Wandansari
JURNAL TRITON Vol 8 No 2 (2017): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian pupuk organik dapat memperbaiki sifat-sifat tanah, mempertahankan cadangan total bahan organik tanah, menyeimbangkan penggunaan pupuk anorganik dalam rangka mengurangi dampak negatifnya terhadap tanah, serta secara tidak langsung meningkatkan produktivitas lahan. Blotong merupakan limbah pabrik gula yang mengandung karbon, nitrogen, fosfat, kalium dan mineral lain yang dapat dijadikan alternatif bahan baku pembuatan pupuk organik melalui metode pengomposan, serta cukup melimpah ketersediaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan yang berasal dari limbah blotong. Penelitian untuk mendapatkan pupuk organik berkualitas dari bahan baku utama blotong dilakukan melalui pengomposan aerobik dengan metode agitasi pada varian blotong sebesar 100%, 80% dan 60% /kgVs. Dan sebagai bahan campuran digunakan kotoran kambing dengan varian sebesar 0%, 20% dan 40%, serta penambahan dedak halus, dolomit dan zeolit sebagai bahan pengkaya sebesar 15%. Perlakuan blotong dengan jumlah 100% dan tanpa penambahan bahan pengkaya merupakan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian ini pupuk organik yang dihasilkan dari seluruh perlakuan sudah matang secara fisik setelah 2 minggu waktu pengomposan dan mendekati ciri fisik tanah, baik dari faktor suhu, warna dan bau, serta distribusi ukuran partikel. Sedangkan berdasarkan sifat kimia pupuk organik, meskipun beberapa pupuk organik yang dihasilkan memiliki C/N rasio dan hara makro di bawah standar persyaratan Permentan no. 70 tahun 2011, namun pupuk organik tersebut dapat diaplikasikan ke dalam tanah karena memiliki C/N rasio < 20 dan pH netral.
POTENSI PEMANFAATAN LAHAN RAWA UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN DI WILAYAH PERBATASAN Niken Rani Wandansari; Yeni Pramita
Agriekstensia : Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian Vol. 18 No. 1 (2019): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.209 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v18i1.29

Abstract

Pemanfaatan lahan rawa di Indonesia memiliki peranan penting dan strategis bagi pengembangan pertanian terutama mendukung ketahanan pangan Nasional. Hal ini disebabkan oleh luas lahan rawa yang berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian khususnya tanaman padi masih tersedia cukup luas. Lahan rawa merupakan salah satu lahan suboptimal yang memiliki kendala secara alami kesuburan tanahnya tergolong rendah. Oleh karena itu penting dilakukan pengkajian untuk mengetahui potensi pemanfaatan lahan rawa di Kab. Lingga, Kepulauan Riau untuk digunakan sebagai lahan pertanian padi sawah. Kajian ini merupakan action research menggunakan lahan seluas tiga hektar sebagai demplot pertanaman padi yang terletak di tiga kecamatan utama di Pulau Lingga. Berdasarkan hasil kajian, diketahui bahwa: (1) kendala utama pengembangan lahan rawa lebak adalah genangan maupun kekeringan yang belum dapat diprediksi dan reaksi tanah yang bersifat sangat masam-masam, serta status hara yang tergolong rendah-sedang dan (2) hasil panen menggunakan varietas INPARA 5 masih tergolong rendah, sekitar 0.5 – 2.5 ton/ha. Produksi padi pada lahan rawa lebak masih berpeluang untuk dikembangkan dan ditingkatkan dengan melalui penerapan teknologi spesifik lokasi, terutama inovasi pengelolaan air, hara dan tanaman secara terpadu, serta dilakukan pembentukan kelembagaan petani.
Peningkatan Mutu Beras Giling Menggunakan Zeolit Pada Berbagai Ketebalan Lapisan Pengeringan Gabah Niken Rani Wandansari; Arum Pratiwi; Dwi Purnomo; Latarus Fangohoy
Rona Teknik Pertanian Vol 15, No 1 (2022): Volume No. 15, No. 1, April 2022
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v15i1.24818

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas gabah yang dihasilkan pada berbagai kombinasi ketebalan tumpukan gabah dan penambahan jumlah zeolit pada proses pengeringan, serta kualitas beras giling yang dihasilkan berdasarkan persentase kadar air, butir beras kepala dan butir beras patah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekperimental menggunakan box dryer, sedangkan design penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga kali ulangan pada setiap kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tipis lapisan gabah, maka proses pengeringan menjadi lebih cepat. Demikian pula dengan semakin banyak zeolit yang ditambahkan, maka proses pengeringan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Perlakuan lapisan gabah 30 cm dan komposisi zeolit 10% mampu memberikan waktu pengeringan tercepat, yaitu sembilan jam dengan rerata kadar air gabah 13,5%. Ketebalan lapisan gabah dan penambahan zeolit secara signifikan mempengaruhi kualitas fisik beras giling, meliputi persentase kadar air, butir beras kepala, beras patah, beras menir dan butir gabah. Perlakuan ketebalan lapisan gabah 30 cm dengan persentase komposisi zeolit 10% memberikan nilai persentase butir beras kepala tertinggi, yaitu 92,5% dan butir beras patah terendah, yaitu 4,1%. Sebagian besar perlakuan menghasilkan beras dengan kualitas komersial dengan mutu menengah.Improving The Quality Of Milled Rice Using Zeolite At Various Levels Of Paddy Drying Layer Thickness.Abstract. The aim of this study was to determine the quality of the grain produced at various combinations of the paddy pile thickness and the addition of the amount of zeolite in the drying process, as well as the quality of milled rice produced based on the percentage of water content, head rice grains, and broken rice grains. The method used in this research is an experimental method using a box dryer. While the research design used was a factorial randomized block design with three replications for each treatment combination. The results showed that the thinner the layer of paddy, the faster the drying process. Likewise, the more zeolite was added, the drying process took a shorter time. Treatment of 30 cm paddy layer and 10% zeolite composition was able to provide the fastest drying time, which was nine hours with an average grain moisture content of 13.5%. The thickness of the paddy layer and the addition of zeolite significantly affected the physical quality of milled rice, including the percentage of moisture content, head of rice grains, broken rice, groats, and grain. Treatment of the thickness of the 30 cm grain layer with 10 % zeolite composition percentage gave the highest grain percentage value of rice heads, namely 92.5%, and the lowest broken rice grains, namely 4.1%. Most of the treatments produced rice of medium quality commercial quality. 
RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI HIBRIDA TERHADAP APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR LIDAH BUAYA DAN PUPUK ANORGANIK P wandansari, niken rani; Swandaru, Hendra; Cahya, Utik Tri Wulan
BUANA SAINS Vol 24, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/bs.v24i2.5975

Abstract

This research aimed to observe the growth and production response of the Inpari 32 hybrid rice variety to the application of aloe vera liquid organic fertilizer and inorganic P fertilizer compared to the absence of the combination of these two fertilizers. The research method used was comparative, comparing rice field plots treated with a combination of inorganic P fertilizer (Phonsgreen) at a dose of 150 kg/ha and aloe vera liquid organic fertilizer (P1) at a dose of 6 liters/ha with rice field plots without the combination of the two fertilizers (P0). Parameters observed included plant height, number of tillers, number of productive tillers, panicle length, number of grains per panicle, grain weight per clump, and weight of 1000 grains. The results showed that aloe vera liquid organic fertilizer and inorganic P fertilizer could increase milled dry grain production by up to 29.9%.
Pemanfaatan Serasah Jagung dengan Penambahan Tanaman Kirinyuh Sebagai Pupuk Organik pada Pertumbuhan Jagung Manis di Kota Batu Raga Sefinda Putra; Acep Hariri; Niken Rani Wandansari
Jurnal Penyuluhan Pembangunan Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v4i1.2984

Abstract

Produktivitas jagung manis yang dihasilkan petani tersebut masih rendah Ketersediaan pupuk subsidi yang dari dulu hingga sekarang semakin menurun dan juga pupuk non subsidi yang memiliki harga mahal. Salah satu potensi yaitu limbah serasah jagung manis dengan penambahan tanaman kirinyuh sebagai pupuk organik. Kandungan unsur hara N pada serasah jagung sebanyak 0,90%, pada bagian daun jagung sebanyak 1,49%, dan pada bagian kelobot jagung terdapat 0,30%. Sedangkan, Hasil pengujian pupuk dari bahan dasar kirinyuh diketahui bahwa kandungan hara yaitu; N: 0,145 %, P: 2,07 % dan K: 0,45 %. sehingga pupuk organik yang dihasilkan dapat optimal meningkatkan produksi. Penelitian ini menggunakan metode RAK dengan 4 perlakuan yaitu P0 (100 pupuk anorganik), P1 (10 ton/ha + 75% pupuk anorganik), P2 (20 ton/ha + 50% pupuk anorganik), P3 (30 ton/ha + 25% pupuk anorganik). Terdapat 6 ulangan dan metode pengacakan terdapat 24 satuan percoban. parameter pengamatan meliputi; tinggi tanaman, diameter batang, muncul bunga jantan, berat buah kelobot, berat buah tanpa kelobot, dan kadar kemanisan buah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik pada dosis 30 ton/ha yang memberikan perbedaan nyyata terhadap perlakuan dengan dosis lainnya.
Pengaruh Penggunaan Zat Perangsang Tumbuh Alami Kulit Bawang Merah Terhadap Pembentukan Akar Stek Pucuk Bibit Bunga Krisan: The Effect of Using Natural Growth Stimulant of Red Onion Skin on Root Formation of Chrysanthemum Flower Seedling Cuttings Ahmad Sony Wijaya; Romadi, Ugik; Niken Rani Wandansari
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.4855

Abstract

Bunga krisan (Chrysanthemum sp), juga dikenal sebagai bunga Seruni, merupakan tanaman hias yang memiliki potensi tinggi di Indonesia. Krisan adalah jenis tanaman perdu yang menghasilkan bunga cantik. Permintaan akan tanaman hias bunga krisan saat ini semakin tinggi, terutama untuk kebutuhan hiasan hotel, kebutuhan dekorasi maupun upacara-upacara keagamaan. Dengan meningkatnya permintaan, upaya perbaikan kualitas bunga terus dilakukan, termasuk peningkatan kualitas bibit bunga krisan yang dihasilkan. Salah satu cara pembibitan yang umum digunakan adalah stek pucuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh zat pengatur tumbuh alami dari kulit bawang merah terhadap pembentukan akar stek pucuk tanaman bunga krisan. Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak kulit bawang merah yang digunakan pada bibit bunga krisan. Metode yang dignakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, dengan menggunakan dosis aplikasi ZPT terdiri dari 4 perlakukan, yang terdiri dari :P1 = tanpa pemberian ZPT (kontrol), P2 = pemberian ZPT konsentrasi 50%, P3 = pemberian ZPT konsentrasi 75, P4 = pemberian ZPT konsentrasi 100%. Parameter pada penelitian ini meliputi, panjang akar, laju pertumbuhan akar dan kerapatan akar. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pada setiap parameter yang digunakan perlakuan 4 merupakan perlakuan terbaik dengan hasil panjang akar (5.10 cm), laju pertumbuhan akar (0.32 cm/h) dan kerapatan akar (13 biji). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ZPT alami kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap akar bibit stek pucuk bunga krisan. The chrysanthemum flower (Chrysanthemum sp), also known as “bunga Seruni” in Indonesia, is a high-potential ornamental plant. Chrysanthemums are perennial plants that produce beautiful flowers. The demand for ornamental chrysanthemum plants is currently increasing, especially for hotel decoration needs, decoration needs, and religious ceremonies. With increasing demand, efforts to improve flower quality continue, including enhancing the quality of chrysanthemum seedlings. One common propagation method is stem cutting. The purpose of this research is to analyze the effect of natural growth regulators from red onion skins on root formation in chrysanthemum stem cuttings. The main material used in this study is an extract from red onion skins, which is applied to chrysanthemum seedlings. The research follows a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor, using four treatments: P1: No growth regulator application (control), P2: Application of growth regulator at 50% concentration, P3: Application of growth regulator at 75% concentration, P4: Application of growth regulator at 100% concentration. The parameters studied include root length, root growth rate, and root density. The results indicate that treatment 4 (100% concentration) performed best in all parameters, with root length measuring 5.10 cm, growth rate at 0.32 cm/h, and root density of 13 roots. In conclusion, the natural growth regulator from red onion skins significantly affects the root development of chrysanthemum stem cuttings.
Pengaruh Penggunaan Zat Perangsang Tumbuh Alami Kulit Bawang Merah Terhadap Pembentukan Akar Stek Pucuk Bibit Bunga Krisan: The Effect of Using Natural Growth Stimulant of Red Onion Skin on Root Formation of Chrysanthemum Flower Seedling Cuttings Ahmad Sony Wijaya; Romadi, Ugik; Niken Rani Wandansari
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.4855

Abstract

Bunga krisan (Chrysanthemum sp), juga dikenal sebagai bunga Seruni, merupakan tanaman hias yang memiliki potensi tinggi di Indonesia. Krisan adalah jenis tanaman perdu yang menghasilkan bunga cantik. Permintaan akan tanaman hias bunga krisan saat ini semakin tinggi, terutama untuk kebutuhan hiasan hotel, kebutuhan dekorasi maupun upacara-upacara keagamaan. Dengan meningkatnya permintaan, upaya perbaikan kualitas bunga terus dilakukan, termasuk peningkatan kualitas bibit bunga krisan yang dihasilkan. Salah satu cara pembibitan yang umum digunakan adalah stek pucuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh zat pengatur tumbuh alami dari kulit bawang merah terhadap pembentukan akar stek pucuk tanaman bunga krisan. Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak kulit bawang merah yang digunakan pada bibit bunga krisan. Metode yang dignakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, dengan menggunakan dosis aplikasi ZPT terdiri dari 4 perlakukan, yang terdiri dari :P1 = tanpa pemberian ZPT (kontrol), P2 = pemberian ZPT konsentrasi 50%, P3 = pemberian ZPT konsentrasi 75, P4 = pemberian ZPT konsentrasi 100%. Parameter pada penelitian ini meliputi, panjang akar, laju pertumbuhan akar dan kerapatan akar. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pada setiap parameter yang digunakan perlakuan 4 merupakan perlakuan terbaik dengan hasil panjang akar (5.10 cm), laju pertumbuhan akar (0.32 cm/h) dan kerapatan akar (13 biji). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ZPT alami kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap akar bibit stek pucuk bunga krisan. The chrysanthemum flower (Chrysanthemum sp), also known as “bunga Seruni” in Indonesia, is a high-potential ornamental plant. Chrysanthemums are perennial plants that produce beautiful flowers. The demand for ornamental chrysanthemum plants is currently increasing, especially for hotel decoration needs, decoration needs, and religious ceremonies. With increasing demand, efforts to improve flower quality continue, including enhancing the quality of chrysanthemum seedlings. One common propagation method is stem cutting. The purpose of this research is to analyze the effect of natural growth regulators from red onion skins on root formation in chrysanthemum stem cuttings. The main material used in this study is an extract from red onion skins, which is applied to chrysanthemum seedlings. The research follows a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor, using four treatments: P1: No growth regulator application (control), P2: Application of growth regulator at 50% concentration, P3: Application of growth regulator at 75% concentration, P4: Application of growth regulator at 100% concentration. The parameters studied include root length, root growth rate, and root density. The results indicate that treatment 4 (100% concentration) performed best in all parameters, with root length measuring 5.10 cm, growth rate at 0.32 cm/h, and root density of 13 roots. In conclusion, the natural growth regulator from red onion skins significantly affects the root development of chrysanthemum stem cuttings.
Extension Program on the Utilization of Cow Urine Waste into Biourine with the Addition of Pineapple Peel Bioactivator in Sumberpitu Village, Pasuruan Regency Manek, Petrus; Gunawan, Gunawan; Wandansari, Niken Rani
Journal of Agriprecision & Social Impact Vol. 1 No. 1 (2024): March: JAPSI (Journal of Agriprecision & Social Impact)
Publisher : CV. Komunitas Dunia Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62793/japsi.v1i1.9

Abstract

Agriculture is one of the main business sectors used as the livelihood of the people of Sumberpitu village with dairy farming as an accompanying business unit. However, from the existing potential, there are several problems such as steps and expensive inorganic fertilizers. From the results of deepening the problem through interviews, it shows that farmers in Sumberpitu Village do not have any knowledge and skills to use cow urine as liquid organic fertilizer in their farming business. The purpose of this study is to conduct extension program on the use of cow urine waste as biourine with the addition of pineapple skin bioactivators and analyze behavior changes in aspects of knowledge, attitudes and skills of farmers in Sumberpitu village. The research method used in this study is the Level III action research method. The evaluation results show that extension services can increase farmers' knowledge from a percentage of pre-test scores of 50% to 82% in post-test scores, which can be categorized as very high. In the aspect of attitude, the percentage of pre-test scores of 48% increased to 76% in post-test scores and was included in the high category so as to show a positive attitude towards the extension program material delivered. While in the aspect of presentation skills, the post test score is 83%, which can be categorized as “very high”. These results show that the extension program provided has proven effective in changing farmer behavior in increasing knowledge and attitudes as well as developing farmers' skills in utilizing cow urine waste as biourine with the addition of pineapple peel as a bioactivator.
Persepsi Petani tentang Penggunaan Pestisida Nabati sebagai Upaya Pencegahan Virus Gemini pada Tanaman Cabai Maratun; Sawitri, Budi; Rani Wandansari, Niken
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 10 No. 1 (2025): Vol. 10 No. 1 (2025): Impact for Change: Menakar Nilai Sosial, Ekonomi, dan Li
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (CARE) IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi petani terhadap penggunaan pestisida nabati sebagai upaya pencegahan virus gemini. Penelitian dilakukan di Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel terdiri dari 53 responden yang ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani tergolong sedang dalam hal kemudahan, manfaat, dan risiko penggunaan pestisida nabati. Secara umum, persepsi petani terhadap pestisida nabati berada pada kategori sedang, dengan pandangan bahwa penggunaannya belum mudah karena keterbatasan informasi dan pengalaman. Manfaatnya dipandang cukup positif dari segi ekonomi, kesehatan, dan lingkungan, meskipun masih terdapat beberapa keraguan. Ada kekhawatiran terkait risiko dan ketidakpastian efektivitasnya, namun pestisida nabati diakui lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan dengan pestisida kimia.