Slamet Hargono
Jurusan Teknik Sipil FT. UNDIP Jl. Prof. H. Soedarto SH., Tembalang, Semarang, 50275

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PREDICTION OF WAVE RUN-UP ON A COASTAL IMPERMEABLE STRUCTURE Wicakcono, Bambang Rizki; Mustafid .; Slamet Hargono
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 4, No 2 (2001): Volume 4, Number 2, Year 2001
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.975 KB)

Abstract

A knowledge of wave run-up behavior on a coastal structure is one of the most important factors affecting the design of coastal structures exposed to wave attack. Prediction of wave run-up on a coastal impermeable structure with slope face and various friction factors are discussed with simplifying assumptions. An analytical approach is given for predicting wave run-up based on data measurements as the parameters of  incident waves entering to coastal structure.  Statistical approach with Weibull distribution is given on prediction of wave run-up, and present the probability distribution of wave run-up height.
PENANGGULANGAN ABRASI DI PANTAI LAUT JAWA : TINJAUAN KASUS Slamet Hargono
KEAIRAN Vol 2, No 2 (1998): Desember 1998
Publisher : KEAIRAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4133.599 KB)

Abstract

Kerusakan pantai yang diakibatkan oleh pukulan gelombang laut seringkali kita dengan dan atau ikuti di surat kabar/media cetak maupun dalam berita radio/televisi. Pada kesempatan ini yang disajikan adalah pada pantai utara pulau Jawa. Usaha untuk mengatasi kerusakan ataupun penanggulangannya sudah diupayakan, akan tetapi tidak selalu berhasil dengan baik. Ketidakberhasilan ini disebabkan beberapa faktor antara lain data/pemantauan gelombang yang kurang memadai, kurang data sekunder, batasan biaya yang tersedia dan masih banyak lagi. Pada penulisan ini disajikan data-data apa saja yang diperlukan untuk keperluan penanggulangan abrasi, analisa dari yang ada dan keluaran yang diharapkan dari hasil analisa. Dari beberapa kasus yang penulis amati, dapat disimpulkanbahwa dengan konstruksi kawat bronjong kurang dapat dipertanggung jawabkan, karena akan mengalami kegagalan dalam waktu yang relatif singkat. Kegagalan ini dikarenakan kawat bronjong sebagai pengikat batu kali mengalami korosi dan dalam waktu yang relatif singkat akan putus. Konstruksi yang penulis anggap cocok adalah dari kostruksi beton dengan tulangan praktis, pasangan batu kali, konstruksi dari buis beton yang didalamnya diisi dengan beton “cyclope” berfungsi sekaligus sebagai pengikat antara dua buis beton. Disaming itu faktor tanah juga punya peran yang cukup besar . artinya bahwa pemilihan konstruksi harus disesuaikan terhadap kondisi tanah yang ada.
PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI PARTISIPATIF, TINJAUAN RENCANA OPERASI, D.I.JETIS, KABUPATEN SRAGEN Slamet Hargono
KEAIRAN Nomor 1, Tahun 7, JULI 2000
Publisher : KEAIRAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3470.166 KB)

Abstract

Perencanaan jaringan irigasi pada dua tahun terakhir ini mengalami perubahan, yaitu dengan melibatkan unsur Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) pada proses perencanaannya. Hal ini merupakan tindak lanjut dari inpres No. 3 tahun 1999 tentang Reformasi Kebijakan Pengelolaan Irigasi. Pada prinsipnya suatu jaringan irigasi teknis yang sudah ada dilakukan rehabilitasi/up grading, dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi jaringan yang ada agar tercapai efisiensi pemakaian air. Setelah proses desain dan masa konstruksi dapat dilakukan pada suatu wilayah daerah/sistem irigasi tertentu, kemudian dilakukan Penyerahan Pengelolaan Irigasi (PPI). Dengan telah dilakukannya penyerahan pengelolaan irigasiini nantinya, maka berarti pengelolaan jaringan irigasi akan diserahkan secara penuh kepada petani (P3A dan Gabungan P3A). Dari pemikiran ini, maka suatu perencanaan/desain irigasi partisipatif akan terkait dua aspek sekaligus yaitu aspek non teknis dengan melibatkan langsung P3A/Gabungan P3A mulai dari awal proses perencanaan dan aspek teknis yang menggunakan buku pegangan yang ada dengan melibatkan Dinas Pengairan setempat. Pembahasan pada rencana operasi dimulai dari tinjauan tentang persediaan dan kebutuhan air, rencana tanam dan kalender tanam; rencana operasi yang meliputi sistem pembagian air baik pada saat ini maupun yang diusulkan. Pada tahap berikutnya, P3A/Gabungan P3A harus dapat menangani permasalahan teknis baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan operasional melalui Kerja Sama Operasional (KSO) dan Kerja Sama pengelolaan (KSP). Dengan metode Pemahaman Partisipasi Kondisi Pedesaan (PPKP) petani/P3A diberdayakan untuk dapat berperan aktif dalam melaksanakan Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi.
KAJIAN LAYANAN DAN UTILITAS DERMAGA TERMINAL PETI KEMAS PELABUHAN PANJANG Luthfi Habibi Amanullah; M.Gilang Indra Mandika; Slamet Hargono; Salamun Salamun
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.557 KB)

Abstract

Pelabuhan Panjang merupakan pelabuhan utama di Lampung dan salah satu pelabuhan besar di Pulau Sumatera. Oleh sebab itu peran Pelabuhan Panjang menjadi sangat penting dan strategis, karena merupakan simpul utama perekonomian dan sebagai pintu gerbang ekspor-impor di Lampung. Pentingnya keberadaaan Pelabuhan Panjang salah satunya ditunjukan dari kinerja Terminal Peti Kemas Pelabuhan Panjang. Dalam menyikapi pertumbuhan bongkar muat peti kemas, Terminal Peti Kemas meningkatkan pelayanan pelabuhan. Studi yang dilakukan mengenai analisis kinerja operasional dan utilitas peti kemas di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Panjang Provinsi Lampung pada kondisi saat ini dan selanjutnya meramalkan kinerja pelayanan hingga tahun 2025.Analisis yang dilakukan  mengenai BOR (Berth Occupancy Ratio), CYOR (Container Yard Occupancy Ratio), kinerja peralatan bongkar muat, BTP (Berth Throughput), KD (Kapasitas Dermaga), dan prediksi arus kapal dan arus peti kemas dengan menggunakan analisis regresi. Dengan panjang dermaga 400 m dan waktu efektif dalam setahun adalah 355 hari diperoleh arus kapal pada tahun 2016 berjumlah 206 unit dan tahun 2025 berjumlah 46. Untuk arus peti kemas pada tahun 2016 berjumlah 101.462 TEUs/tahun dan tahun 2025 berjumlah 154.284 TEUs/tahun. BOR pada tahun 2016 adalah  14,89% dan tahun 2025 bernilai 20,577% dikategorikan baik karena masih dibawah 50% seperti yang disarankan UNCTAD. Nilai CYOR  pada tahun 2016 bernilai 14,50% dan pada tahun 2025 bernilai 29,43% dikategorikan baik. Pada Terminal Peti Kemas Pelabuhan Panjang penanganan peti kemas menggunakan beberapa alat yaitu dengan Container Crane yang dapat menangani 881.280 TEUs/tahun dan Rubber Tired Gantry yang dapat menangani 550.800 TEUs/tahun mencukupi untuk melayani peti kemas sebanyak 101.462 TEUs/tahun pada tahun 2016 bahkan masih mencukupi untuk tahun 2025 yang diproyeksikan sebanyak 154.284 TEUs/tahun. Untuk BTP pada tahun 2016 yaitu 1.307 TEUs/m/tahun dan tahun 2025 yaitu 1.253 TEUs/m/tahun. Untuk KD pada tahun 2016 berjumlah 522.646 TEUs/tahun dan pada tahun 2018 berjumlah 501.220 TEUs/tahun. Jadi, layanan dan utilitas pada Terminal peti Kemas Pelabuhan Panjang pada kondisi eksisting dan peramalan hingga tahun 2025 dikategorikan baik. Hal ini terlihat pada nilai BOR, CYOR, BTP, KD dan kinerja peralatan bongkar muat dimana nilai-nilai tersebut memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh UNCTAD dan PT.PELINDO. 
STUDI PERENCANAAN SUBMERGED DAN NON SUBMERGED BREAKWATER UNTUK PENANGANAN ABRASI DI PANTAI MOROSARI DEMAK Zhafarina Hafizha Kautsar; Tubagus Nauval Dzaki; Sriyana Sriyana; Slamet Hargono
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pantai Morosari, Kevamatan Sayung, Kabupaten Demak adalah salah satu pantai yang mengalami abrasi disetiap tahunnya ditambah dengan penurunan tanah menyebabkan banjir rob, sehingga menenggelamkan pemukiman warga serta ekosistem mangrove. Tujuan studi yaitu mengembalikan daratan pantai yang tenggelam akibat abrasi dengan merencanakan bangunan pelindung pantai. Perencanaan bangunan pelindung pantai berupa bangunan submerged dan non submerged breakwater yang ditempatkan rangkap sejajar pada dua lokasi, yaitu dari arah barat laut garis pantai sebagai lokasi 1 dan dari arah barat daya garis pantai sebagai lokasi 2. Simulasi terhadap tinggi gelombang dan periode gelombang maksimum menggunakan program MIKE21, menunjukkan bahwa reduksi gelombang oleh submerged breakwater sebesar 80% sedangkan submerged breakwater sebesar 66,67%. Simulasi perubahan garis pantai menunjukkan kemajuan garis pantai sejauh +100m. Simulasi terhadap deformasi tanah pada dasar bangunan menunjukkan deformasi tanah terbesar setelah pembangunan adalah 31,41 mm. Penentuan kedalaman cerucuk bambu pada bangunan pelindung pantai menggunakan program FoundationProV1 menghasilkan kedalaman cerucuk 20m untuk non submerged breakwater dan 12m untuk submerged breakwater. Hasil perhitungan dimensi menunjukkan konstruksi pada Lokasi 1 akan mempunyai cost yang relatif jauh lebih besar dibandingkan Lokasi 2, namun efektivitas dalam melindungi wilayah pantai pada Lokasi1 lebih baik dibandingkan Lokasi2.
STUDI PELAYANAN PELABUHAN BATU AMPAR BATAM Pengkuh Budi Purwanto; Errina Cintia; Slamet Hargono; Salamun Salamun
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.414 KB)

Abstract

Pelabuhan Batu Ampar terletak di Pulau Batam yang merupakan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas dengan arus kedatangan kapal dan volume bongkar muat barang dan peti kemas yang tinggi sehingga lama masa sandar kapal sangat penting. Kinerja pelabuhan Batu Ampar dinilai lamban karena layanan dermaga tidak maksimal sehingga mengakibatkan banyaknya antrian kapal sehingga perlu adanya evaluasi mengenai analisis kinerja layanan, dan SWOT pengelolaan pelabuhan Batu Ampar. Data lalu lintas kapal dan bongkar muat barang yang diperlukan untuk analisis diperoleh dari Kantor Pelabuhan Laut BP Batam, selain itu diperlukan data pendukung tambahan yang diperoleh dari hasil observasi lokasi dan wawancara. Evaluasi dilakukan dengan melakukan analisis data lalu lintas kapal dan bongkar muat barang pada tahun 2012-2016 untuk mengetahui berth occupancy ratio (BOR), yard occupancy ratio (YOR), berth thoughput (BTP), dan kapasitas alat.Hasil analisis data selama penelitian diperoleh tingkat kinerja terminal pada tahun 2016 berdasarkan persamaan BOR (berth occopuncy ratio / kinerja dermaga) beberapa tambatan diperoleh nilai BOR yang telah melebihi persyaratan UNCTAD, serta peti kemas yang lewat dermaga (BTP / berth throughtput) 286 TEUs/meter panjang dermaga/tahun. Kinerja lapangan penumpukan peti kemas mempunyai nilai YOR (yard occupancy ratio) 34,3%  untuk peti kemas yang ditumpuk di container yard. Nilai BOR telah melebihi syarat UNCTAD sehingga perlu adanya pengembangan pelabuhan Batu Ampar pada terminal multipurpose dan terminal peti kemas dermaga utara.Dari hasil analisis SWOT diperoleh strategi untuk memaksimalkan potensi yang ada yaitu dengan memperbaiki kinerja pelayanan pelabuhan. Selain itu, untuk menghadapi permasalahan maka perlu adanya optimalisasi dermaga dengan mengoperasionalkan dermaga peti kemas utara yang belum berfungsi dan memperbaiki produktivitas peralatan bongkar muat. Pada terminal multipurpose dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2019 perlu  peningkatan layanan kinerja bongkar muat dengan diadakan penambahan alat yaitu 1 unit mobile crane, dan pada terminal peti kemas dermaga utara perlu penambahan peralatan bongkar muat yaitu  2 unit  container crane, dan 1 unit RTG.
ANALISIS KINERJA DERMAGA 3 PELABUHAN CITRANUSA KABIL, BATAM Harry J Pangaribuan; Resi Ayu Agettis; Slamet Hargono; Sriyana Sriyana
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBatam merupakan suatu daerah atau kawasan yang potensial untuk dapat dikembangkan. Sehingga untuk kepentingan industri dan ekonomi Pemerintah Indonesia menetapkan Batam menjadi kawasan perdagangan bebas (free trade zone) dan pelabuhan bebas (free port). Otorita Batam sebagai lembaga pusat pemerintahan di Batam memberikan hak pengelolaannya kepada PT Sarana Citranusa Kabil dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 261 tahun 2005 tentang Pengoperasian Pelabuhan Umum Kawasan Industri Kabil yang berlokasi di Desa Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.Evaluasi dilakukan dengan melakukan analisis data lalu lintas kapal dan bongkar muat barang pada tahun 2010 hingga tahun 2016, untuk mendapatkan nilai berth occupancy ratio (BOR), berth throughput (BTP) dan kapasitas alat yang ada di dermaga 3. Hasil analisis data selama peneltian diperoleh bahwa nilai BOR (berth occupancy ratio) bulanan terkecil 1,60% dan terbesar adalah 67,41% di mana nilai ini telah melebihi nilai BOR UNCTAD, akan tetapi masih di bawah standar nilai BOR Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor: UM.002/38/18/DJPL-11. Untuk barang yang lewat dermaga (BTP/berth throughput) 1.763,07 ton/meter/bulan dan kapasitas alat 614.892,19 ton/bulan. Berdasarkan analisis regresi arus kedatangan kapal dan arus barang pada dermaga 3 menunjukkan penurunan, hal ini dapat disimpulkan bahwa fasilitas dermaga 3 sudah cukup untuk dapat melayani arus barang dan kedatangan kapal yang ada.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN FERRY INTERNASIONAL BATAM CENTER, KEPULAUAN RIAU Andrivo Ferlian; Claudia pualam bestari; slamet Hargono; Hari Nugroho
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Batam adalah zona perdagangan bebas yang dipersiapkan menjadi pintu utama pengiriman dan pelayaran internasional. Pelabuhan Batam Center adalah pelabuhan penyeberangan internasional yang berada di pantai utara Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pelabuhan ini menghubungkan kota Batam dengan Pelabuhan Internasional Singapore dan Pelabuhan Internasional di Johor Baru, Malaysia. PT Synergy Tharada selaku Pengelola Pelabuhan Batam Center, telah melakukan banyak pengembangan untuk meningkatkan pelayanan, kenyamanan dan keamanan di Pelabuhan Batam Center.Berdasarkan hasil analisis pada tahun 2014 hingga tahun 2016, Pelabuhan Internasional Batam Center termasuk kedalam klasifikasi pelabuhan Kelas I dengan waktu operasional 16 Jam/Hari, jumlah penumpang 4010 Org/Hari dan jumlah trip 59 Trip/Hari. Kunjungan kapal mengalami peningkatan hingga 0,144% tiap tahunnya. Trend Arus Penumpang kedatangan WNI naik sebesar 5,57% dan WNA naik sebesar 4,83 % tiap tahunnya. Untuk trend arus penumpang keberangkatan WNI naik sebesar 4,70% dan WNA naik sebesar 3,76% tiap tahunnya.Hasil analisis BOR (Berth Occopuncy Ratio) pelabuhan berdasarkan pemanfaatan dermaga sampai tahun 2021 sebesar 291,12%. Nilai ini telah melebihi nilai BOR UNCTAD dan perlu dilakukan penambahan dermaga untuk melayani aktivitas kapal, untuk itu disimpulkan perlu adanya penambahan dermaga 1 unit dengan panjang 30 meter dan lebar 3 meter. Luas gedung terminal yang dibutuhkan pada tahun 2021 adalah 6880 m² , artinya luas terminal saat ini 7250 m² masih mampu menampung pergerakan arus penumpang. Luas lahan parkir yang dibutuhkan pada tahun 2021 adalah 10783 m², sehingga perlu dilakukan penambahan area parkir dari luasan saat ini 9500 m²  untuk menunjang aktivatas penumpang pada pelabuhan.
PERENCANAAN SUBMERGED DAN NON SUBMERGED BREAKWATER UNTUK PENANGANAN ABRASI, DI PANTAI MOROSARI DEMAK Zhafarina Hafizha Kautsar; Tubagus Nauval Dzaki; Sriyana Sriyana; Slamet Hargono
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Perubahan garis pantai dapat disebabkan oleh faktor alam maupun ulah manusia. Pantai Morosari Demak salah satu pantai yang mengalami abrasi disetiap tahunnya sehingga menenggelamkan pemukiman warga serta ekosistem mangrove. Tujuan dari perencanaan bangunan pelindung pantai ini adalah mengembalikan daratan pantai beserta eksistensi dari mangrove yang tenggelam akibat abrasi dengan merencanakan bangunan pelindung pantai. Bangunan pelindung pantai inilah yang nantinya berfungsi untuk meredam energi gelombang dan membuat garis pantai maju akibat sedimentasi. Dari analisa windrose dengan data angin selama 10 tahun 5 bulan (2007 - Bulan Mei 2017) diketahui arah angin dominan berasal dari barat laut. Gelombang rencana menggunakan periode ulang 25 tahun. Simulasi terhadap tinggi gelombang dan periode gelombang maksimum menggunakan program Mike21. Perbandingan perubahan garis pantai sebelum dan sesudah adanya bangunan pantai menggunakan program Genesis. besarnya deformasi bangunan pelindung pantai menggunakan program Plaxis. Besarnya kedalaman cerucuk bambu pada bangunan pelindung pantai menggunakan program Foundation Pro V1. Perencanaan bangunan pelindung pantai berupa bangunan submerged dan non submerged breakwater yang ditempatkan rangkap pada dua lokasi, yaitu dari arah barat laut garis pantai sebagai lokasi 1 dan dari arah barat daya garis pantai sebagai lokasi 2. Susunan lapisan dari yang paling bawah sampai ke lapisan yang paling atas pada bangunan pelindung pantai submerged dan non submerged breakwater adalah lapisan geoteknik berupa cerucuk bambu dengan kedalaman 12 m untuk non submerged breakwater dan kedalaman 20 m untuk submerged breakwater, matras bambu dengan tebal 3 lapisan atau setebal 0,5 m, lapisan geogrid setebal 20 cm; dilanjutkan pada lapisan diatasnya terdapat tumpukan batu mulai dari lapisan inti dan berm kaki, untuk lapis lindung kedua dari kedua bangunan tersebut menggunakan tumpukan batu kasar dengan berat 50 kg per butir, pada lapisan yang paling atas terdapat lapis lindung luar menggunakan struktur tetrapod dengan berat 500 kg per butir. Rekapitulasi rencana anggaran biaya untuk pembangunan submerged dan non submerged breakwater pada lokasi 1 sebesar Rp. 71.252.574.500, sedangkan rekapitulasi rencana anggaran biaya untuk pembangunan submerged dan non submerged breakwater pada lokasi 2 sebesar Rp. 30.727.219.500.
PERENCANAAN SLIPWAY PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA M. Riza Falahudin; Ady Satria; Slamet Hargono; Priyo Nugroho
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.169 KB)

Abstract

Slipway which is going to be built is in Fishing Port of Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ). The objective of this final project is to design slipway structure that is able to provide repaired and maintenance service, as well as constructing new ships with 271,71 GT is the maximum weight. From the calculation result, it was obtained that the total length of slipway structure is 152 m, 40 m on the land and 112 m on the sea. The width of this slipway is 13 m. Elements of the structure planned consisted of dimension of longitudinal beams, transverse beams, and plates. Software SAP2000 was used for modeling and analytical calculation of slipway structure. The structure consisted of reinforced concrete with the concrete quality of 30 Mpa. The dimension for the longitudinal beams is 40x25 cm and for the transverse beams is 35x25 cm. The thickness slab of land section is 160 mm, and 60 mm for the concrete cover. The foundations used is spun pile with the depth of 42 m.