Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pengaruh Alelokimia Ekstrak Gulma Pilea microphylla terhadap Kandungan Superoksida dan Perkecambahan Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis) Hesti Siti Astuti; Sri Darmanti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.86-93

Abstract

Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis) merupakan salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi  masyaraka, namun produksinya sering menurun akibat  gangguan gulma, diantaranya adalah gulma Pilea microphylla. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian ekstrak alelokimia Pilea microphylla terhadap akumulasi superoksida, perkecambahan dan pertumbuhan awal kecambah sawi hijau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu factor berupa konsentrasi ekstrak alelokimia Pilea microphylla yaitu : 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% ,  masing-masing perlakuan dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah kandungan fenol total Pilea microphylla serta kandungan superoksida, laju perkecambahan, persentase perkecambahan, panjang hipokotil, tinggi kecambah, panjang akar, bobot basah, bobot kering dan warna daun gulma Pilea microphylla. Data dianalisis dengan  Analisys of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan fenol total  dalam 100% ekstrak Pilea microphylla adalah 8.242 µg/g. Semakin tinggi konsentrasi alelokimia ekstrak Pilea microphylla menyebabkan kandungan superoksida sawi hijau semakin meningkat dan penurunan pertumbuhan awal kecambah  tetapi tidak berpengaruh terhadap  laju perkecambahan dan daya perkecambahan sawi hijau.Kata kunci : alelopati; gulma; fenolik; superoksida; Pilea microphylla
Pertumbuhan dan Kandungan Antosianin Tanaman Bayam Merah (Alternanthera amoena Voss) Setelah Perlakuan Limbah Teh Pada Lama Pengomposan Yang Berbeda Dian Rosiana Fatikasari; Endah Dwi Hastuti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.35-41

Abstract

Pertumbuhan dan kandungan antosianin bayam merah sangat dipengaruhi oleh faktor pemupukan. Limbah teh merupakan pupuk organik yang memiliki unsur hara seperti nitrogen dan fosfor dimana penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan antosianin bayam merah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah teh pada lama pengomposan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kandungan antosianin bayam merah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah lama pengomposan 0, 1 dan 2 minggu. Perlakuan diaplikasikan dengan cara memberikan pupuk kompos limbah teh, tanah dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 pada tanaman bayam merah yang seragam. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah tanaman, berat kering tanaman, panjang akar, berat basah akar, berat kering akar, berat kering tajuk, rasio tajuk akar dan nilai antosianin. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dilanjutkan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan lama pengomposan berpengaruh meningkatkan tinggi tanaman, berat basah tanaman, berat kering tanaman, berat basah akar, nilai antosianin dan ratio tajuk akar. Perlakuan limbah teh lama pengomposan satu minggu memberikan rerata tertinggi terhadap pertumbuhan dan kandungan antosianin tanaman bayam merah. Growth of red amaranth and anthosyanin influenced by the fertilizer. Tea waste contain of nutrients such as nitrogen and phospor that important for red amaranth. The composting will effect for the fertilizer contain. Anthocyanin is a red- purple pigment. The aim of this experiment was to know the effects of tea waste in different composting time on red amaranth’s growth and anthocyanin. The design that used is Complate Random Design with 3 treatment and 5 replicates. The treatment of compost time were: 0 week, a week and 2 week. The parameters observed were plant height, leaf number, wet weight and dry weight of plant, root length, wet weight and dry weight of root, crown root ratio and anthocyanin. The result of data analysis using ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test. The result showed that the difference of compost duration affected and improved the growth of plant height, leaf number, wet weight and dry weight of plant, root length, wet and dry weight of root, anthocyanin, crown root ratio. The treatment of tea waste by a week compost duration create the highest average for growth and anthocyanin of red amaranth.
Pengaruh Perbedaan Kedalaman Tanam dan Volume Air terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Benih Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench) Febiasasti Trias Nugraheni; Sri Haryanti; Erma Prihastanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.51 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.223-232

Abstract

Sorgum merupakan tanaman yang dapat digunakan sumber pangan dan dapat dijadikan alternatif pengganti gandum karena memiliki kandungan karbohidrat yang sama dengan gandum sebagai bahan baku tepung terigu. Produksi sorgum di Indonesia masih rendah, sehingga untuk mendapatkan bibit sorgum yang unggul dan berkualitas perlu memperhatikan kedalaman tanam dan volume air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan kedalaman tanam dan volume air terhadap perkecambahan dan pertumbuhan sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench). Penelitian terdiri dari 2 unit, yaitu perkecambahan dan pertumbuhan sorgum yang menggunakan 9 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan kedalaman tanam terdiri dari K1 (1 cm), K2 (3 cm), K3 (5 cm) dan volume air P1 (150 ml), P2 (300 ml), P3 (600 ml). Kedua faktor dikombinasikan menjadi perlakuan K1P1, K1P2, K1P3, K2P1, K2P2, K2P3, K3P1, K3P2, K3P3. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktorial. Data penelitian dianalisis dengan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada taraf signifikasi 95%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh terhadap persentase perkecambahan, laju perkecambahan, tinggi tanaman, dan jumlah daun, tetapi terdapat perbedaan yang nyata terhadap berat basah, berat kering, dan panjang akar sorgum. Perlakuan K3P2 menunjukkan perkecambahan dan pertumbuhan sorgum terbaik.
Morfoanatomi Daun Jambu Air (Syzygium samarangense) var. Demak Normal dan Terserang Hama Ulat Hadyani Millati Hanifa; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 1, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.1.1.2016.24-29

Abstract

Jenis jambu air yang banyak ditanam yaitu  Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air besar). Jambu Citra yang berasal dari daerah Demak adalah yang paling diminati masyarakat, karena buahnya besar dan perawatan tanamannya mudah. Meskipun demikian keberadaan hama pengganggu tanaman tidak jarang dijumpai, sehingga menyerang daun dan buahnya. Akibat serangan hama produktivitas buah menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati perbedaan morfologi dan anatomi antara daun yang normal dengan daun yang terserang hama. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2013 dengan  wawancara, observasi, studi pustaka dan  praktik di laboratorium yaitu pembuatan preparat irisan melintang daun metode semipermanen dan replika. Pengamatan parameter daun normal dan yang terserang hama dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi dan anatomi daun jambu normal berbeda dengan yang terserang hama. Daun yang normal berbentuk lonjong dengan ujung meruncing tersusun oleh jaringan epidermis atas dan bawah, palisade dan spons parenkim serta berkas pengangkut. Daun yang terserang hama bentuknya ada yang tidak teratur, berkerut, helaian tidak rata, menggulung atau warna helaian kecoklatan atau hitam. Secara anatomis  ada yang epidermisnya hilang/rusak, palisade rusak membentuk rongga-rongga, spons parenkim atau berkas pengangkut  rusak atau helaiannya berlubang, sehingga mengurangi fungsi daun dalam proses fotosintesis. Kata kunci : daun; normal; terserang hama; anatomi
Pertumbuhan Kalus Eksplan Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.) pada Berbagai Konsentrasi Sukrosa Secara In Vitro Ilma Khaerasani; Erma Prihastanti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.858 KB) | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.43-49

Abstract

Sukrosa adalah disakarida yang merupakan produk fotosintesis tidak langsung. Penelitian ini dilakukan dengan metode in vitro dengan cara inisiasi kalus untuk menginduksi kalus dari eksplan mata tunas rimpang  jahe merah  (Zingiber officinale Rosc). Konsentrasi senyawa osmotik dari medium menjadi faktor penting untuk pertumbuhan kalus. Selain sebagai sumber karbon dan sumber energi, sukrosa yang terserap mempengaruhi tekanan osmotik sehingga berperan dalam pemanjangan sel. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu variasi konsentrasi sukrosa. Konsentrasi sukrosa sebagai perlakuan adalah 20 g/l (S1); 30 g/l (S2); 40 g/l (S3); dan 50 g/l (S4), masing- masing 5 ulangan. Peningkatan berat basah kalus tertinggi diperoleh pada perlakuan konsentrasi sukrosa 30 g/l. Sedangkan berat kering kalus tertinggi diperoleh pada perlakuan konsentrasi sukrosa 50 g/l, semakin banyak jumlah sukrosa dalam media maka semakin besar berat kalus. Namun berdasarkan uji statistik ANOVA, pemberian variasi konsentrasi pada pertumbuhan kalus menunjukkan tidak berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna kalus yang diamati dari konsentrasi yang berbeda menunjukkan warna putih kekuningan dan dengan tekstur remah. Kata kunci : Zingiber officinale Rosc; pertumbuhan; kalus; sukrosa
Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK dan Pengapuran pada Tanah Gambut Rawa Pening terhadap Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill) Amelia Lestari; Endah Dwi Hastuti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.1-10

Abstract

Tanah gambut berasal dari dekomposisi bahan organik sehingga memiliki pH tanah yang asam dan kaya kadar C-organik. Pemanfaatan tanah gambut Rawa Pening saat ini masih sangat terbatas. Pemberian kombinasi pupuk NPK dan kapur dolomit sebagai upaya meningkatkan pH tanah, sehingga tanah gambut dapat dimanfaatkan sebagai media tanam yang baik bagi tanaman tomat. Tujuan penelitian ini mengetahui kombinasi pupuk NPK dan kapur dolomit terhadap pertumbuhan tanaman tomat yang optimum pada media tanah gambut.. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi pupuk NPK (P): tanpa pupuk NPK (P0), pupuk NPK 5 g/tanaman (P1), pupuk NPK 10 g/tanaman (P2), pupuk NPK 15 g/tanaman (P3) dan kapur dolomit (K): tanpa kapur dolomit (K0), kapur dolomit 15 g/tanaman (P1), kapur dolomit 25 g/tanaman. Penelitian menggunakan 12 perlakuan masing-masing dengan 3 ulangan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf kepercayaan 95 %. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, berat basah dan berat kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak berpengaruh. Terdapat interaksi antara pupuk NPK dan kapur dolomit terhadap berat basah dan berat kering tanaman tomat. Interaksi 5 g/tanaman dan kapur dolomit 15 g/tanaman menghasilkan berat basah dan berat kering yang optimal. Kata kunci: tomat (Lycopersicon esculentum Mill); gambut; NPK; dolomit; pertumbuhan
Struktur Morfoanatomi Bunga, Daun dan Akar Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw.) pada Beberapa Daerah di Kabupaten Magelang Erma Prihastanti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.2.2020.103-108

Abstract

 Salak merupakan tanaman buah asli dari Indonesia. Varietas salak juga berbagai macam, salah satunya adalah salak pondok yang terkenal komoditas unggul dari DI Yogyakarta dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan satu faktor yaitu: lokasi pengamatan yang berbeda. Lokasi atau daerah tersebut adalah Salamsari, Ngablak, dan Banyuadem. Ketiga daerah tersebut berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dimana secara geografis terletak dekat DIY yang terkenal dengan salak pondohnya. Parameter yang digunakan adalah jumlah tangkai, jumlah tandan, keliling bunga dan buah, panjang bunga, serta ukuran stomata. Selain itu, diamati juga anatomi akar tanaman salak pondoh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan morfologi bunga dan anatomi akar salak pondoh pada daerah yang berbeda di Kabupaten Magelang. Hasil dari penelitian ini adalah tidak terdapatnya perbedaan nyata pada morfologi bunga maupun ukuran stomata yang diamati. Sedangkan, anatomi akar berbeda pada susunan sel korteks pada lahan recovery lebih rapat dan beraturan dan pada lahan unrecovery, susunan sel korteks akar lebih tidak beraturan dan banyak rongga udara. Kata kunci : keliling bunga, salak, tandan
Perbedaan Kadar Glukosa, Karotenoid dan Biomassa Alang-Alang (Imperata cylindrica L. Beauv) yang Tumbuh di Daerah Ternaungi di Kec. Kunduran Blora dan Ungaran Timur Semarang Dhitya Arlan Bayu Martha; Erma Prihastanti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 1, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.1.1.2016.59-67

Abstract

Tanaman alang-alang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri jamu dan obat terutama rhizomenya. Kualitas rhizome tanaman alang-alang dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah lingkungan tumbuhnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa, karotenoid dan biomassa tanaman alang-alang yang tumbuh pada daerah ternaungi di Kabupaten Blora dan  Kabupaten Semarang. Sampel tanaman diambil dari lokasi di daerah Kabupaten Blora dan Semarang dengan 10 ulangan. Metode pengukuran kadar glukosa dan karotenoid dilakukan dengan menggunakan alat UV-Spektrofotometer. Pengukuran Biomassa tanaman alang-alang meliputi berat basah dan berat kering tanaman. Analisis data menggunakan Independent  T – Test pada taraf kepercayaan 95 % dengan software SPSS versi 16. Kadar karotenoid dan glukosa pada rhizome tanaman alang-alang yang berasal dari Kabupaten Blora yaitu 0,8817 ppm dan 2,871 ppm dan biomassa (berat basah 10,98 gram dan berat kering 2,81 gram di Semarang. Kadar Karotenoid dan glukosa pada rhizome tanaman alang-alang yang berasal dari Kabupaten Semarang yaitu 0,7966 ppm dan 2,0686 ppm. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa dan karotenoid tanaman alang-alang dari Kabupaten Blora dan Semarang tidak berbeda secara signifikan namun Biomassa tanaman alang-alang berbeda secara signifikan. Kata kunci : Tanaman alang-alang; karotenoid; glukosa; biomassa
Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica rapa L.) dengan Pupuk Organik Berbahan Azolla pinnata dan Telur Keong Mas (Pomacea cannaliculata) Regina Cahya Cendekianesti; Erma Prihastanti; Sri Haryanti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 1 (2022): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i1.16919

Abstract

AbstrakSawi hijau (Brassica rapa L.) merupakan sayuran yang memiliki nilai ekonomis karena banyak digemari oleh masyarakat, sehingga budi dayanya membutuhkan pemupukan yang menunjang pertumbuhannya. Penggunaan pupuk organik cair memiliki keunggulan cepat diserap oleh tanaman. Azolla pinnata dan telur keong mas (Pomacea cannaliculata) dapat menjadi kandidat pupuk cair karena mengandung unsur hara tinggi berupa sumber nitrogen, fosfat, dan kalium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk A. pinnata dan P. cannaliculata berbeda konsentrasi terhadap pertumbuhan dan produktivitas sawi hijau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3 x 3 yang terdiri dari 9 perlakuan dan 6 kali ulangan. Konsentrasi pupuk A. pinnata adalah 0 mL/L, 100 mL/L, dan 150 mL/L, sedangkan konsentrasi pupuk P. cannaliculata adalah 0%, 15%, dan 45%. Parameter pengamatan berupa tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering, panjang daun, lebar daun dan klorofil total. Dana dianalisis menggunakan analisis variansi dan Duncan Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pupuk Azolla pinata dan P. cannaliculata tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering, lebar daun, panjang daun, dan kadar klorofil total. Namun demikian, pemberian pupuk secara terpisah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan sawi hijau, dengan penggunaan yang disarankan 100 mL/L air A. pinnata dan 45% P. canaliculata.Abstract Green mustard (Brassica rapa L.) is a vegetable has economic value because it is favored by the community, so its cultivation requires fertilization to support its growth. The use of liquid organic fertilizer has the advantage of being quickly absorbed by plants. Azolla pinnata and golden snail eggs (Pomacea cannaliculata) can be candidates for liquid fertilizer because they contain high nutrients in the form of nitrogen, phosphate and potassium. The study aims to determine the effect of A. pinnata and gold snail eggs as fertilizers with different concentrations on the growth and productivity of green mustard. The research used a factorial Completely Randomized Design (CRD) of 3 x 3 consisting of 9 treatments and 6 replications. Concentrations of A. pinnata were 0 mL/L, 100 mL/L, and 150 mL/L, while P. cannaliculata were 0%, 15%, and 45%. Parameters observed included plant height, number of leaves, wet weight, dry weight, chlorophyll content, leaves width and length. Data obtained were analyzed using the analysis of variance and Duncan Multiple Range Test. Result showed that combination of Azolla pinnata and P. canaliculata had no significant effect on plant height, the number of leaves, wet weight, dry weight, leaf width, leaf length, and total chlorophyll content. However, the application of fertilizer separately showed a positive effect on the growth of the plant, with the recommended use of A. pinnata at 100 mL/L of water and P. canaliculata at 45%.