Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Riwayat Kesehatan Reproduksi terhadap Kejadian Mioma Uteri pada Perempuan di Perkotaan Indonesia Tumaji Tumaji; Rukmini Rukmini; Oktarina Oktarina; Nailul Izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.3238

Abstract

Uterine myoma is a reproductive health problem that causes serious morbidity and can affect the quality of life of suff erers. Many factors cause uterine myoma. This study aims to analyze the factors related to reproductive health history that can influence the occurrence of uterine myoma in women in urban Indonesia. This study is a non-intervention analysis which is a further analysis of the 2016 PTM Research results. The 2016 PTM research design is cross-sectional. The population is all women aged 25-64 years in urban Indonesia. Data collection was carried out by interview. In this paper, the data analyzed were respondent characteristics, reproductive health history and the incidence of uterine myomas. Data were analyzed univariate, bivariate, and multivariate. The results showed that the age of menarche and parity did not aff ect the incidence of uterine myoma (p= 0.861 and p= 0.424). Meanwhile, giving birth to a child for the fi rst time under the age of 30 reduced the risk by 48% (95% CI: 0.439-0.607). Having children 1-2 has a risk of 1.3 times greater than those who have more than 2 children (95% CI: 1.126-1.463). Use of contraceptives decreases risk by 30% (95% CI: 0.613-0808). The use of hormonal drugs for infertility treatment increases the risk 3.2 times greater (95% CI: 2.562-4.013). Women who did not use hormone replacement therapy were reduced by around 74% (95% CI: 0.114-0.608). The incidence of uterine myoma is influenced by the age of fi rst birth, number of children, use of contraceptives, use of hormonal drugs for infertility treatment, and hormone replacement therapy drugs. Health promotion is needed so that risk factors that can be prevented/modifi ed can be minimized to reduce the chance of developing uterine myoma. Abstrak Mioma uteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang menyebabkan morbiditas yang cukup serius serta dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Banyak faktor yang menjadi penyebab mioma uteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait riwayat kesehatan reproduksi yang dapat mempengaruhi terjadinya mioma uteri pada perempuan di perkotaan Indonesia. Penelitian ini adalah analisis non-intervensi yang merupakan analisis lanjut dari data hasil riset PTM 2016. Desain riset PTM 2016 adalah potong lintang dengan populasi seluruh perempuan usia 25–64 tahun di perkotaan Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Dalam tulisan ini, data yang dianalisis adalah karakteristik responden, riwayat kesehatan reproduksi serta kejadian mioma uteri. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan umur menarche dan paritas tidak berpengaruh terhadap kejadian mioma uteri (p= 0,861 dan p= 0,424). Sementara itu, melahirkan anak pertama kali di bawah umur 30 tahun menurunkan risiko sebesar 48% (95%CI: 0,439–0,607). Memiliki anak 1–2 memiliki risiko 1,3 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki anak lebih dari 2 (95%CI: 1,126–1,463). Penggunaan alat kontrasepsi menurunkan risiko sebesar 30% (95%CI: 0,613–0,808). Penggunaan obat-obatan hormonal pengobatan infertilitas meningkatkan risiko 3,2 kali lebih besar (95%CI: 2,562–4,013). Perempuan yang tidak menggunakan obat-obatan terapi sulih hormon risikonya berkurang sekitar 74% (95%CI: 0,114–0,608). Kejadian mioma uteri dipengaruhi oleh umur pertama kali melahirkan, jumlah anak, penggunaan alat kontrasepsi, penggunaan obat-obatan hormonal pengobatan infertilitas, dan obat-obatan terapi sulih hormon. Diperlukan promosi kesehatan sehingga faktor risiko yang dapat dicegah/dimodifi kasi dapat diminimalkan untuk mengurangi peluang terkena mioma uteri.
Peran Agen Perubahan sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular akibat Perilaku Merokok Dicky Andiarsa; Tety Rachmawati; Tri Wurisastuti; Tumaji Tumaji; Nikson Sitorus; Anni Yulianti; Muhammad Rasyid Ridha
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 3, No 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v3i4.16799

Abstract

Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung semakin meningkat di Indonesia. Salah satu faktor risiko utama adalah tingginya prevalensi merokok. Upaya pengendalian rokok tidak cukup hanya melalui regulasi, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Agen perubahan dipandang memiliki peran penting sebagai penggerak di komunitas. Artikel ini bertujuan menjelaskan peran agen perubahan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan perilaku merokok dan pengendalian Penyakit tidak menular. Kegiatan dilaksanakan pada Mei 2024 di wilayah kerja Puskesmas Cibinong, Kabupaten Bogor. Sebanyak 20 agen perubahan dipilih dari tokoh masyarakat, kader kesehatan, pemuda, dan perwakilan organisasi lokal. Intervensi dilakukan melalui edukasi tematik, diskusi kelompok, refleksi lapangan, serta penyusunan komitmen bersama. Evaluasi hasil dilakukan dengan membandingkan kondisi pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah kegiatan serta analisis naratif terhadap refleksi peserta. Kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan pada berbagai aspek, termasuk dampak merokok pada ibu hamil, remaja, penyakit menular, dan beban ekonomi keluarga. Sikap peserta juga berubah positif, ditandai dengan meningkatnya kesediaan menjadi teladan, memberikan edukasi, dan mendukung penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Refleksi lapangan memperlihatkan bahwa hambatan perubahan perilaku merokok bukan kurangnya informasi, tetapi pengaruh lingkungan dan kebiasaan sosial. Agen perubahan terbukti berperan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan ini, terbentuk kesadaran, komitmen kolektif, serta potensi dukungan terhadap kebijakan pengendaliannya. Kata Kunci: Agen Perubahan, Pemberdayaan Masyarakat, Merokok, PTM Non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension, diabetes, and cardiovascular diseases continue to rise in Indonesia, with smoking identified as a major risk factor. Tobacco control requires not only regulations but also active community engagement. This study highlights the role of change agents as a strategy for community empowerment in smoking prevention and NCD control. The program was implemented in May 2024 in the working area of Cibinong Health Center, Bogor District, involving 20 selected change agents consisting of community leaders, health cadres, youth, and representatives of local organizations. Interventions included thematic education, group discussions, field reflections, and the development of collective commitments. Evaluation was based on pre- and post-activity comparisons of knowledge and attitudes, complemented by narrative analysis of participant reflections. Results showed improved understanding on the health and social impacts of smoking, including its effects on pregnant women, adolescents, communicable diseases, and household economic burdens. Positive changes in attitudes were also observed, such as greater willingness to act as role models, deliver education, and support smoke-free area initiatives. Field reflections revealed that environmental influences and social norms, rather than lack of information, were the main barriers to behavior change. Overall, change agents proved effective in fostering awareness, collective commitment, and support for tobacco control policies.