Sylvia Marunduh
Universitas Sam Ratulangi

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KADAR HBA1C PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Utomo, Mohammad R. S.; Wungouw, Herlina; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6620

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by blood glucose levels that exceed normal values. Riskesdas in 2013 showed that North Sulawesi is one of the provinces with the highest prevalence of diabetes in Indonesia. HbA1c measurement is the most accurate way to determine blood sugar levels over the past two to three months. HbA1c is also the best single examination to assess risks to the tissue damage caused by high blood sugar levels. This study aims to determine the levels of HbA1c in patients with type 2 diabetes mellitus in Bahu Community Health Center Manado. This study is a descriptive cross sectional study. Primary data were collected through interviews, physical examination and laboratory tests. Respondents were all patients with type 2 diabetes mellitus who came in Bahu Community Health Center and willing to become respondents. The sample size is 22 people. The results of this study prove that more than half of the respondents have not controlled HbA1c levels (> 7%) of 17 respondents. Of the 17 respondents were 9 respondents have overweight body mass index, 13 respondents not take the medicine as directed by doctor and 9 respondents did not exercise regularly. It can be concluded that the blood glucose levels of patients in Bahu Community Health Center is still not controlled, by HbA1c values above 7%.Keywords: HbA1c, Diabetes Mellitus Type 2Abstrak: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Laporan Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi dengan angka prevalensi DM yang tertinggi di Indonesia. Pengukuran HbA1c adalah cara yang paling akurat untuk menentukan tingginya kadar gula darah selama dua sampai tiga bulan terakhir. HbA1c juga merupakan pemeriksaan tunggal terbaik untuk menilai risiko terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Bahu Kota Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Responden adalah semua pasien diabetes melitus tipe 2 yang datang di Puskesmas Bahu dan bersedia menjadi responden. Besar sampel penelitian adalah 22 orang. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa lebih dari setengah jumlah responden memiliki kadar HbA1c tidak terkontrol (> 7%) sebanyak 17 responden. Dari 17 responden tersebut 9 responden memiliki indeks massa tubuh overweight, 13 responden tidak mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter dan 9 responden tidak rutin berolahraga. Dapat disimpulkan bahwa kadar gula darah pasien di Puskesmas Bahu masih belum terkontrol berdasarkan nilai HbA1c di atas 7%.Kata kunci: HbA1c, Diabetes Melitus tipe 2
PENGARUH LATIHAN BEBAN TERHADAP KEKUATAN OTOT LANSIA R., Febriani Patandianan; Wungouw, Herlina I. S.; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.8075

Abstract

Abstract: Elderly are people who have biological systems changing both functional and structural due to the aging process. They experience a decline usphysical capacity, marked by the decrease. This study aimed to determine the effect of weight training on muscle strength of elderly. This was an experimental study with pre-post test group design. Results and Conclusion: In several movements which are showed a significant p value=0.000 (p<0.005) in muscle strength with elbow flexion, elbow extension, and shoulder extension. A significant value of p=0.001(p<0.005) is obtained on the movement of shoulder flexion, shoulder abduction, left foot flexion, and right foot extension, another results p value= 0.002 (p<0.005) in foot dorsoflexion, and p value 0.003 (p<0.005) on the movements of the left leg extension, leg flexion while dextra obtained significant p value=0.004 (p<0.005). As a conclusion weight training can strengthen the muscle of elderly.Keywords: weight training, muscle strength, elderlyAbstrak: Lansia merupakan orang yang sistem biologisnya mengalami perubahan-perubahan struktur dan fungsi dikarenakan usia yang sudah lanjut. Pada lansia terjadi penurunan kapasitas fisik yang ditandai dengan penurunan massa otot serta kekuatannya yang akan menjadi penghambat dalam melaksanakan aktivitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan beban terhadap kekuatan otot lansia. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre-post one group test. Hasil dan simpulan: Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikan p=0,000 (p<0,05) pada kekuatan otot dengan gerakan fleksi siku, ekstensi siku dan ekstensi bahu. Nilai signifikan p=0,001 (p<0,05) pada gerakan fleksi bahu, abduksi bahu dan fleksi kaki sinistra, ekstensi kaki dextra, nilai p=0,002 (p<0,005) pada dorsofleksi kaki dan nilai p=0,003 (p<0,05) pada gerakan ekstensi kaki sinistra, sedangkan gerakan fleksi kaki dextra diperoleh nilai signifikan p=0,004 (p<0,05). Pada penelitian ini terdapat pengaruh latihan beban terhadap kekuatan otot lansia.Kata kunci: latihan beban, kekuatan otot, lansia
PENGARUH SENAM BUGAR LANSIA TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA Sondakh, Ronald; Pangemanan, Damajanty; Marunduh, Sylvia
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4631

Abstract

Abstract : Triglycerides are one of fat body. Elevated levels of triglycerides occur because of obesity, alcohol consumption, sugar, and lack of activity, induced accumulation of triglycerides in the blood. Elderly is individuals with a restriction of physical activity due to physical conditions or disallowance of the family. This restriction leads to reduced physical activity that very useful for lowering triglycerides level. This causes an increase triglyceride levels. This study aims to look at the influence of elderly aerobics exercise on triglyceride levels. This research was an experimental design of the field with pre-post one group test. Samples were 30 elderly that lived in BPLU Senja Cerah, Paniki Bawah. Samples fasting for 8 hours to blood sampling. Tests performed are elderly aerobics exercise performed for 30 minutes in a 3x a week for 3 weeks. The results analyze with paired sample t-test to determine  the differenc e in the results  triglyceride levels before and after exercise. The  obtained  results  showed  a highly significant difference between  triglycerides levels before and after exercise with ? = 0,004 (<0,05) as shown by thitung (3.153) > Ttabel (2.045) Elderly aerobics exercise showed a significant effect in reducing trigiyceride levels in the blood. Keyword: elderly aerobics exercise, triglycerides, elderly.   Abstrak: Trigliserida merupakan salah satu lemak didalam tubuh. Peningkatan kadar trigliserida terjadi karena kegemukan, konsumsi alkohol, gula, serta kurangnya aktivitas sehingga menyebabkan penumpukan trigliserida dalam darah. Lansia merupakan individu yang mengalami pembatasan aktivitas fisik dikarenakan kondisi fisik atau larangan dari keluarga. Pembatasan ini menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik yang berguna untuk menurunkan kadar trigliserida dalam darah. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar trigliserida dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh senam bugar lansia terhadap kadar trigliserida. Penelitian ini bersifat ekperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Sampel berjumlah 30 orang yang merupakan Lansia yang berada di BPLU Senja Cerah, Paniki Bawah. Sampel berpuasa selama 10 jam sebelum dilakukan pengambilan darah. Tes yang dilakukan adalah senam bugar lansia yang dilakukan selama 30 menit dalam 3x seminggu selama 3 minggu. Hasil yang didapatkan diolah dengan uji t berpasangan untuk melihat perbedaan hasil kadar trigliserida sebelum melakukan senam dan setelah melakukan senam.  Hasil yang didapatkan menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara  kadar trigliserida lansia sebelum senam dan sesudah senam dengan ? = 0,004 (<0,05%) hal ini ditunjukkan dengan thitung (3,153) > ttabel (2,045). Senam bugar lansia memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam menurunkan kadar trigliserida dalam darah. Kata Kunci: aktivitas fisik, senam bugar, trigliserida, lansia.
PENGARUH LATIHAN BEBAN TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA LANSIA DI PANTI WREDHA BETANIA LEMBEAN Uga, Mirani A.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6606

Abstract

Abstract: Triglyceride is the main fat in the body, was formed in the liver from glycerol and fat from food or from excess calories due to overeating. Elderly individuals who are aging resulting in a progressive loss of muscle mass and replaced by fatty tissue. Increased levels of fat (triglycerides) elderly is also caused by a decrease in the ability of their activities as usual. This study aims to prove whether or not the effect of weight training on elderly triglyceride levels. This study is an experimental field with research design one group pre-post test and the sample size of 30 elderly. This research was conducted at Panti Wredha Lembean Bethany began in November 2014 until January 2015. Weight training on the left and right upper extremity was performed twice a week in a period of one month. This study showed a decrease in triglyceride levels in the elderly after a given intervention of weight training for a month. The analysis results obtained by the α = 0.00 (<0.05), which means there is a significant difference between weight training and triglyceride levels elderly.Keywords: triglycerides, weight training, elderlyAbstrak : Trigliserida merupakan lemak utama di dalam tubuh, dibentuk di hati dari gliserol dan lemak yang berasal dari makanan atau dari kelebihan kalori akibat makan berlebihan. Lansia adalah individu yang mengalami proses penuaan yang mengakibatkan terjadinya kehilangan massa otot secara progressif dan terganti dengan jaringan lemak. Peningkatan kadar lemak (trigliserida) lansia juga disebabkan oleh penurunan kemampuan beraktifitas sebagaimana biasanya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh latihan beban terhadap kadar trigliserida lansia. Penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan menggunakan desain penelitian one group pre-post test dan jumlah sampel 30 orang lansia. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Wredha Betania Lembean dimulai pada bulan November 2014 sampai Januari 2015. Latihan beban pada ekstremitas atas kiri dan kanan dilakukan dua kali seminggu dalam jangka waktu satu bulan. Penelitian ini menunjukkan terjadinya penurunan kadar trigliserida pada lansia setelah diberi intervensi latihan beban selama satu bulan. Analisis Hasil yang diperoleh yaitu α = 0.00 (<0.05) yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan beban dan kadar trigliserida lansia.Kata Kunci: trigliserida, latihan beban, lansia
Perbandingan Saturasi Oksigen pada Mahasiswa Obes Sentral dan Non Obes Sentral saat Posisi Berbaring dan Posisi Berdiri Samola, Adella; Polii, Hedison; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.27101

Abstract

Abstract: Obesity could cause impairment of the ventilation-perfusion mechanism and gas exchange which results in a decrease of oxygen saturation followed by an increase in respiratory rate. This study was aimed to obtain the ratio of oxygen saturation among obese and non-obese students in standing and lying positions. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples taken by using purposive sampling method consisted of students of batch 2016, 2017, 2018, and 2019 of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, classified as centrally obese and non-centrally obese groups by measuring waist circumference, followed by oxygen saturation measurement in standing and lying positions using a pulse oximeter. The statistical test analysis used was the Mann-Whitney test. The results showed that there were 126 students that met the inclusion criteria. The average oxygen saturation values of both groups were 97%, which showed no significant difference between them. The pulse oximeter values showed 57 respondents had higher oxygen saturation in standing than in lying down position; 27 respondents had higher oxygen saturation in lying position, and the remaining 42 respondents had equal oxygen saturation values in the standing and in lying position. In conclusion, there was no difference in oxygen saturation between centrally obese and non-centrally obese respondents, albeit, there were differences in oxygen saturation between lying position and standing position among both groups.Keywords: obesity, waist circumference, oxygen saturation, standing position, lying position Abstrak: Obesitas mengakibatkan gangguan mekanisme ventilasi-perfusi dan gangguan pertukaran gas yang berakibat pada penurunan saturasi oksigen yang diikuti peningkatan frekuensi pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan saturasi oksigen pada mahasiswa obes dan non-obes pada posisi berdiri dan pada posisi berbaring. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potog lintang. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling pada mahasiswa angkatan 2016, 2017, 2018 dan 2019 di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dengan mengelompokkan responden obes sentral dan non-obes sentral. Dilakukan pengukuran lingkar pinggang kemudian pengukuran saturasi oksigen pada posisi berdiri dan berbaring menggunakan pulse oximeter. Analisis uji statistik yang digunakan ialah uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 126 mahasiswa memenuhi kriteria inklusi. Nilai saturasi oksigen rerata pada kelompok obes sentral dan non-obes sentral keduanya ialah 97%, yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan saturasi di antara kedua kelompok. Distribusi nilai pulse oximeter yang diukur pada 57 responden memiliki saturasi oksigen yang lebih tinggi saat berdiri dibandingkan saat berbaring. Terdapat 27 responden lainnya memiliki tingkat saturasi oksigen yang lebih tinggi pada posisi berbaring dan 42 responden sisanya menunjukkan nilai saturasi oksigen yang sama pada posisi berdiri maupun berbaring. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan saturasi oksigen pada responden obes sentral dan non-obes sentral namun terdapat perbedaan saturasi oksigen pada posisi berbaring dan posisi berdiri pada kedua kelompok.Kata kunci: obesitas, lingkar pinggang, saturasi oksigen, posisi berdiri, posisi berbaring
PROFIL TNF-α PADA ORANG LANJUT USIA DI PANTI WREDHA BETHANIA LEMBEAN Lumentut, Aristo R.; Marunduh, Sylvia; Rampengan, J. J. V.
eBiomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.2.2015.8727

Abstract

Abstract: TNF-α is a pleiotrophic cytokine that plays an important role in the inflammatory system, especially in an acute inflammation. This cytokine initiates and activates polymorphonuclears (PMNs) to reach the site of infection. This was an observational study with a pre-test design. This study aimed to obtain the TNF-α level among elderly. Population was all elderly in Bethania nursing home in Lembean. Subjects were 30 people obtained by using simple random sampling. The TNF-α level was measured by using sandwich ELISA technique with a kit of Quantikine ELISA Human TNF-α, R&D, USA. The results showed that the average level of TNF-α in subjects aged 64-74 years (73.33%) was 78.63 pg/ml. Seven subjects aged 75-90 years (23.33%) had the average level of TNF-α 69.56 pg/ml; and 1 subject aged >90 years (3.33%) with the TNF-α level 133.05 pg/ml. Conclusion: Most of the elderly in Bethania nursing home in Lembean had normal TNF-α level, however, some of them had increased TNF-α level.Keywords: TNF α, elderlyAbstrak: TNF-α adalah suatu sitokin pleiotropik yang berperan dalam sistem inflamasi, yang menginisiasi polymorphonuclear (PMN) dan mengaktivitasinya sehingga PMN dapat mencapai tempat infeksi. Peran TNF-α khususnya pada inflamasi akut. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan pre-test design. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar TNF-α pada orang lanjut usia. Populasi ialah semua lanjut usia di wilayah kerja Panti Wredha Bethania Lembean. Subyek penelitian berjumlah 30 orang yang diambil dari populasi secara simple random sampling. Pengukuran kadar TNF-α menggunakan teknik Sandwich ELISA dengan kit Quantikine ELISA Human TNF-α, R&D, USA. Hasil penelitian memperlihatkan 22 subyek berumur 64-74 tahun (73,33%) dengan rerata kadar TNF-α 78,63 pg/ml; 7 subyek berumur 75-90 tahun (23,33%) dengan rerata kadar TNF-α 69.56 pg/ml; dan 1 subyek berumur >90 tahun (3,33%) dengan kadar TNF-α 133.05 pg/ml. Simpulan: Sebagian besar orang usia lanjut di Panti Wredha Bethania Lembean mempunyai kadar TNF-α berada pada kisaran normal. Kadar TNF-α yang meningkat ditemukan pada sebagian kecil subyek.Kata kunci: TNF α, lanjut usia