Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

HUBUNGAN DURASI KERJA DENGAN KELUHAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA JURU KETIK DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Lisay, Evanli Ken Risky; Polii, Hedison; Doda, Vanda
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Carpal tunnel syndrome is one of the conditions that caused by occupational factors. Typist is one of the occupations that daily exposed to the risk of carpal tunnel syndrome which is doing repetitive motion for the long time and also some other risk factors. The aim of this research is to evaluate the relation between working duration with complaint of carpal tunnel syndrome on typist in Malalayang District of Manado City. This research is a cross sectional study with 30 respondent of typist.The data dere analised using chi square test with p value=0,05. From 30 respondent that tested 18 people (60%) have complaint of carpal tunnel syndrome. The result of chi square statistical test in this research shown the value of p=0,0058 (p>0,05) in the corelation between duration with complaint of carpal tunnel syndrome on typist in Malalayang District of Manado City. The research found that there is no relationship between working duration with complaint of carpal tunnel syndrome. Keywords: Carpal tunnel syndrome, working duration, typist   Abstrak Carpal tunnel syndrome merupakan salah satu penyakit yang muncul akibat faktor pekerjaan. Juru ketik ialah salah satu pekerjaan yang setiap harinya terpapar dengan faktor risiko dari carpal tunnel syndrome yaitu melakukan gerakan repetitif dalam jangka waktu lama, juga ada beberapa faktor risiko lain yang berhubungan dengan pekerjaan mengetik. Penelitian ini bertujuan ntuk mengevaluasi apakah ada hubungan antara durasi kerja dengan keluhan carpal tunnel syndrome pada juru ketik di Kecamatan Malalayang Kota Manado. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Data yang didapatkan kemudian di olah dengan menggunakan uji chi square dengan nilai p=0,05. Pada penelitian ini dari 30 responden didapatkan 18 orang (60%) mengalami keluhan carpal tunnel syndrome. Berdasarkan hasil uji chi square di dapatkan nilai p=0,058 (p>0,05) pada hubungan antara durasi kerja dengan keluhan carpal tunnel syndrome pada juru ketik di Kecamatan Malalayang Kota Manado, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja dengan keluhan carpal tunnel syndrome. Kata Kunci: Carpal tunnel syndrome, durasi kerja, juru ketik.
Hubungan Merokok dengan Kadar Hemoglobin dan Trombosit pada Perokok Dewasa Wibowo, Devina V.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18510

Abstract

Abstract: Smoking is one of the leading causes of death world wide. that cause death. The World Health Organization (WHO) shows that 6 millions of people died as active smokers and 890.000 as passive smokers. Several studies suggest that smoking can influence blood components, such as erythrocytes, leukocytes, and platelets. This study was aimed to determine the correlation between smoking to hemoglobin and platelet levels in adult smokers. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design that was conducted on 30 students of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Sam Ratulangi University Manado. Data were analyzed with the One Way Anova test on hemoglobin levels and the Kruskall-Walis test on thrombocyte levels. The results showed that of the 30 respondents, 21 (70%) had normal hemoglobin levels and 9 (30%) had high hemoglobin levels. The One Way Anova test obtained a P value of 0.634. All respondents (100%) had normal platelet counts.The Kruskall-Walis test obtained a P value of 0.471. Conclusion: There was no significant relationship between smoking with hemoglobin and platelet levels.Keywords: smoking, hemoglobin level, platelet level. Abstrak: Merokok merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan terbanyak di dunia yang menyebabkan kematian. World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 6 juta orang meninggal sebagai perokok aktif dan 890 ribu orang meninggal sebagai perokok pasif. Beberapa penelitian menyatakan bahwa merokok dapat memengaruhi komponen – komponen darah, misalnya eritrosit, leukosit dan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dengan kadar hemoglobin dan trombosit pada perokok dewasa. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 30 mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado. Uji statistik menggunakan One Way Anova pada kadar hemoglobin dan uji Kruskall-Walis pada kadar trombosit. Responden terbanyak memiliki kadar hemoglobin normal yaitu 21 orang (70%) dan kadar hemoglobin tinggi sebanyak 9 orang (30%). Hasil uji One Way Anova mendapatkan nilai P = 0,634. Seluruh responden (100%) memiliki kadar trombosit normal. Hasil uji Kruskall-Walis mendapatkan nilai P = 0,471. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan kadar hemoglobin dan trombosit.Kata Kunci : merokok, kadar hemoglobin, kadar trombosit
Hubungan lingkar pinggang dengan frekuensi napas pada guru SMP Kristen Eben Haezar 1, 2, dan SMA Kristen Eben Haezar Manado Mogi, Jessica G.; Wungouw, Herlina I.S.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14612

Abstract

Abstract: Waist circumference is a simple method of measuring abdominal fat, which encompasses visceral and subcutaneous fat. Excessive abdominal fat in people with large waist circumference can compress the chest wall and diaphragm mechanically causing an inability of the lungs to expand optimally, which results in shallow and rapid breathing pattern. Teachers are among the high-risk groups to experience an increase in the waist circumference due to the sedentary work pattern. This was an observational study with a cross-sectional design. This study was aimed to obtain the correlation between waist circumference and respiratory rate in teachers. The results showed that there were 84 teachers of Eben Haezar Christian Junior High School 1, 2, and Eben Haezar Christian Senior High School Manado as subjects. Measurements of waist circumference and respiratry rate were performed on all subjects. It was found that the mean waist circumference of female teachers was 89.04 cm meanwhile of male teachers was 92.31 cm. The mean respiratory rate was 21 breaths per minute. The Pearson Bivariate Correlation statistic test showed that there was a significant positive moderate correlation between waist circumference and respiratory rate (r = 0.493; p < 0.05).Keywords: waist circumference, respiratory rate, teachers Abstrak: Lingkar pinggang merupakan suatu metode sederhana yang digunakan untuk mengukur lemak di bagian abdomen, meliputi lemak viseral dan lemak subkutan. Lemak abdominal yang berlebihan menekan dinding dada dan diafragma sehingga paru-paru tidak dapat mengembang secara optimal, menyebabkan pernapasan yang cepat dan dangkal. Guru merupakan kelompok yang berisiko mengalami peningkatan ukuran lingkar pinggang dikarenakan pola pekerjaan yang sedenter. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara lingkar pinggang dan frekuensi napas pada guru-guru. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Terdapat 84 subjek terdiri dari guru-guru yang mengajar di SMP Kristen Eben Haezar 1, 2, dan SMA Kristen Eben Haezar Manado. Pengukuran lingkar pinggang dan frekuensi pernapasan dilakukan secara langsung. Hasil penelitian mendapatkan rerata lingkar pinggang pada guru wanita ialah 89,04 cm dan pada guru pria 92,31 cm, dengan rerata frekuensi napas 21 kali per menit. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Pearson bivariat menunjukkan bahwa ukuran lingkar pinggang memiliki korelasi positif yang bermakna dan cukup kuat dengan frekuensi napas (r = 0,493; p < 0,05). Kata kunci: lingkar pinggang, frekuensi napas, guru
Pengaruh senam Prolanis terhadap penyandang hipertensi Lumempouw, Deiby O.; Wungouw, Herlina I.S; Polii, Hedison .
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11697

Abstract

Abstract: Hypertension is one of the degenerative diseases commonly found in Indoensia. It is characterized by an increase of blood pressure above its normal level and is caused by various factors. This study aimed to obtain the influence of Prolanis exercise on hypertensive patients. This was an experimental field study with a pre-post test one group design conducted for 4 weeks. There were 25 respondents in this study obtained by using purposive sampling. Data were analyzed with the paired t-test.The results showed that there were significant differences between before and after two-times-per-week Prolanis exercise in systolic blood pressure ( p = 0,003 < α =0,001) and in diastolic blood pressure ( p = 0,002 < α =0,001). There were significant differences before and after three- times-per-week Prolanis exercise in systolic blood pressure (p = 0,000 < α = 0,01) and in diastolic blood pressure (p = 0,000 < α = 0,01). There were changes in mean blood pressure before and after Prolanis exercise two times per week and there times perweek. Conclusion: In the two groups, there were significant decreases of systolic and diastolic blood pressures after Prolanis exercise for 4 weeks consecutively. Keywords: senam Prolanis, hypertension Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyakit degenerative yang banyak ditemukan di Indonesia, ditandai oleh kenaikan tekanan darah diatas nilai normal yang dapat diakibatkan oleh berbagai macam faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam Prolanis terhadap penderita hipertensi. Jenis penelitian ini ialah ekperimental lapangan dengan pre-post test one group design. Sampel penelitian berjumlah 25 orang lansia yang diperoleh melalui purposive sampling. Senam Prolanis dilakukan selama 4 minggu. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat perbedaan bermakna antara tekanan darah sistolik awal dan akhir pada latihan 2 kali/minggu (p = 0,003 <α =0,001); antara tekanan darah diastolik awal dan akhir pada latihan 2 kali/minggu (p = 0,002 <α =0,001); antara tekanan darah sistolik awal dan akhir pada latihan 3 kali/minggu (p = 0,000 <α = 0,01); dan antara tekanan darah diastolik awal dan akhir pada latihan 3 kali/minggu (p = 0,000 <α = 0,01). Terdapat perubahan rerata tekanan darah sebelum dan sesudah latihan senam baik pada latihan 2 kali/minggu maupun 3 kali/minggu. Simpulan: Pada kedua kelompok latihan terdapat penurunan bermakna tekanan darah sistolik dan diastolik setelah senam Prolanis selama 4 minggu berturut-turut.Kata kunci: senam prolanis, hipertensi
PENGARUH LATIHAN PEREGANGAN TERHADAP FLEKSIBILITAS LANSIA Ibrahim, Renold C.; Polii, Hedison; Wungouw, Herlina
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.8074

Abstract

Abstract: Flexibilityis the ability of a joint, muscles, and ligaments around it to move free lyandcomfortably in the space for the expected maximum. Flexibility is influenced by many factors. These factors are the muscles, tendons, ligaments, age, gender, body temperature and joint structure. Less flexibility may lead toa slower movement and injury pronetomuscles, ligaments, andothertissues. With increasing age, the person’s flexibility will reduce. The best way to increase the flexibility is stretching exercises. This study aimed to find the effect of stretching exercises for flexibility among the eldery. This was an experimental field study with pre-post test design. Samples were 30 elderly people who were in BPLU Senjah Cerah, Paniki Bawah. Samples were measured by using a goniometer flexibility before doing stretching exercises. After stretching exercises for 3 weeks, they were measured again with the goniometer. The results showed that stretching influenced the flexibility of the elderly (p<0.05), except the glexibility of the right arm flexion did not increase p =0.134(p>0.05). Conclusion: Stretching exercises can improve joint flexibility.Keywords: flexibility, stretching exercises, elderlyAbstrak: Fleksibilitas merupakan kemampuan dari sebuah sendi,otot dan ligamen di sekitarnya untuk bergerak dengan leluasa dan nyaman dalam ruang gerak maksimal yang diharapkan. Fleksibiltas dipengaruhi oleh banyak factor yaitu otot, tendon, ligamen, usia, jenis kelamin, suhu tubuh dan struktur sendi. Fleksibilitas yang kurang dapat menyebabkan gerakan lebih lamban dan rentan terhadap cedera otot, ligamen, dan jaringan lainnya. Dengan bertambahnya usia maka fleksibilitas seseorang akan berkurang. Cara terbaik meningkatkan fleksibilitas ialah dengan latihan peregangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh latihan peregangan terhadap fleksibilitas. Penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post test design. Sampel berjumlah 30 orang Lansia yang berada di BPLU Senjah Cerah, Paniki Bawah. Sampel di ukur fleksibilitasnya dengan menggunakan goniometer terlebih dahulu sebelum melakukan latihan peregangan Setelah latihan peregangan selama 3 minggu dilakukan pengukuran kembali dengan menggunakan goniometer. Hasil yang didapatkan terdapat pengaruh peregangan lingkup gerak sendi pada fleksibilitas lansia (p<0,05) kecuali pada fleksi lengan dextra tidak terjadi peningkatan fleksibilitas diperoleh nilai p = 0,134 (p>005). Simpulan: Latihan Peregangan dapat meningkatkan Fleksibilitas Sendi.Kata kunci: fleksibilitas, latihan peregangan, lansia
Hubungan diabetes melitus dengan kualitas tidur Tentero, Inry N.; Pangemanan, Damayanti H.C.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14626

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a serious problem with the incidence rising sharply. DM can affect almost all segments of society throughout the world. The number of people with diabetes continues to grow from year to year due to poor lifestyle. People today are less likely to move and have unhealthy eating patterns. High blood sugar levels are disturb concetration to sleep, due to frequent urge to urinate during the night. Sleep disorder is a common problem that occurs in patients with DM and DM reverse can also cause sleep disturbance due to nocturia and pain complaints. The purpose of this study was to determine the relationship of the DM with the quality of sleep in out patients with DM who in the Pancaran Kasih General Hospital Manado. This research is descriptive analytic with cross-sectional study. The study population was the out patients with DM in Pancaran Kasih General Hospital Manado totaling 456 people. Samples were taken using total sampling technique as much as 78 respondents who met the inclusion criteria. The data were analyzed using Pearson's correlation to determine whether there is a correlation between diabetes mellitus and sleep quality by using the application of computer programs. There is a correlation between Diabetes Mellitus with the quality of sleep in patients of Pancaran Kasih General Hospital Manado.Keywords: diabetes mellitus, sleep quality, people with diabetes mellitus Abstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah serius dengan angka kejadian yang meningkat tajam. DM dapat menyerang hampir semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah penderita DM terus bertambah dari tahun ke tahun karena pola hidup manusia zaman sekarang yang cenderung jarang bergerak dan pola makan yang tidak sehat. Kadar gula darah yang tinggi sangat mengganggu konsentrasi untuk tidur nyenyak, dikarenakan seringnya keinginan untuk buang air kecil pada malam hari. Kadang muncul rasa haus yang berlebihan. Gangguan tidur merupakan masalah umum yang terjadi pada pasien DM dan sebaliknya DM juga dapat menimbulkan gangguan tidur akibat adanya keluhan nocturia dan nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan DM dengan kualitas tidur pada pasien DM yang melakukan pemeriksaan rawat jalan di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Manado. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional study. Populasi penelitian adalah semua pasien DM yang melakukan pemeriksaan rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Manado yang berjumlah 456 orang. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik total sampling sebanyak 78 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data-data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Pearson untuk mengetahui apakah ada hubungan antara diabetes mellitus dan kualitas tidur dengan menggunakan aplikasi dari program komputer. Terdapat hubungan antara Diabetes Mellitus dengan kualitas tidur pada pasien Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih GMIM Manado. Kata kunci: diabetes melitus, kualitas tidur, penderita diabetes melitus
Gambaran kadar lipid trigliserida pada pasien usia produktif di Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado periode November 2014 – Desember 2014 Watuseke, Anggara E.; Polii, Hedison; Wowor, Pemsi M.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.13913

Abstract

Abstract: Trigliserida is especial fat in human being food and represent especial deposit fat at animal and plant. Increase of trigliserida earn because of body overweight, also physical activities, age, disparity of genetic, or high diet of carbohydrate. Purpose To know picture of trigliserida at productive age pursuant to age at Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang, Manado. Method The design’s study is a descriptive study with cross sectional method. Result Responder owning rate of trigliserida highest reside in spanning age 31-40 years old equal 46,15%, second sequence at spanning age 51 – 60 years old equal 36,36%, third sequence at spanning age 41 – 50 years old equal 20%. Pursuant to gender, responder owning rate of trigliserida highest is men equal to 36,85% and women equal to 16,13%. Pursuant of job responder owning rate of trigliserida highest is private sector 35,72%, PNS equal to 23,81%, and third sequence is unemployment equal 20%. Conclusion: The highest level of trigliserida is from 31-40 years old, male, and who has private jobs. This proves that triglyceride levels can be effected by age, sex, and occupation. Keywords: lipid triglycerides, the productive age. Abstrak: Trigliserida adalah lemak utama dalam makanan manusia dan merupakan lemak simpanan utama pada tumbuhan dan hewan. Peningkatan trigliserida dapat disebabkan oleh kelebihan berat badan, karna juga aktivitas fisik, usia, kelainan genetik, atau diet tinggi karbohidrat. Tujuan penelitian Untuk mengetahui gambaran trigliserida pada usia produktif berdasarkan usia di Puskesmas Bahu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Desain penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode potong lintang. Hasil penelitian responden yang memiliki kadar trigliserida tertinggi berada pada rentan usia 31 – 40 tahun sebesar 46,15%, urutan kedua pada rentan usia 51 – 60 tahun sebesar 36,36%, urutan ketiga pada rentan usia 41 – 50 tahun sebesar 20%. Berdasarkan jenis kelamin, responden yang memiliki kadar trigliserida tinggi terbanyak adalah laki – laki sebesar 36,85% dan perempuan sebesar 16,13%. Berdasarkan jenis pekerjaan responden yang memiliki kadar trigliserida tinggi terbanyak adalah swasta sebesar 35,72%, urutan kedua PNS sebesar 23,81%, dan urutan ketiga tak bekerja sebesar 20%. Simpulan: Kadar trigliserida tertinggi ada pada rentan usia 31 – 40 tahun, jenis kelamin laki – laki dan pekerjaan swasta. Hal ini membuktikan bahwa ada hubungan antara usia, jenis kelamin dan pekerjaan dengan peningkatan kadar trigliserida.Kata kunci: lipid trigliserida, usia produktif.
PENGARUH SENAM ZUMBA TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN ANGKATAN 2014 Wuisantono, Dennis Ch.; Rattu, Joy A. M.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i2.8860

Abstract

Abstract: Uric acid is a compound of nitrogen which is derived from purine catabolism of dietary and endogenous nucleic acid. Most uric acid is excreted through the kidneys and only a small portion through the gastrointestinal tract. Increased level of uric acid in blood due to either excessive production or decreased excretion is called hyperuricemia. The causes of hyperuricemia are alcoholism, leukemia, metastasic carcinoma, multiple myeloma, hyperliprotenemia, diabetes mellitus, renal failure, stress, lead poisoning, and dehydration resulting from the use of diuretics. Physical exercises can lower the level of blood uric acid; one of them is zumba gymnastics. This study aimed to obtain the change of blood uric acid after zumba exercise. This was a randomized pre test and post- test control group design. Respondents were female students of Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi batch 2014. Zumba gymnastics was exercised for 2 weeks. The results showed that the average of blood uric acid before exercise was 4.172 mg/dL and after exercise was 4.817 mg/dl with a P value of 0.08 which meant no significant change. Conclusion: There was no significant change of blood uric acid after zumba exercise for 2 weeks.Keywords: blood uric acid, female studentAbstrak: Asam urat adalah senyawa nitrogen yang di hasilkan dari proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat endogen. Asam urat sebagian besar dieksresi melalui ginjal dan hanya sebagian kecil melalui saluran cerna. Kadar asam urat meningkat disebut hiperurisemia yang diakibatkan oleh produksi yang berlebihan atau ekskresi yang menurun. Penyebab terjadinya hiperurisemia antara lain: alkohol, leukemia, karsinoma metastasik, multiple myeloma, hiperlipoprotenemia, diabetes melitus, gagal ginjal, stress, keracunan timbal, dan dehidrasi akibat pemakaian diuretik. Cara terbaik untuk menurunkan kadar asam urat ialah dengan latihan fisik antara lain senam zumba. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perubahan kadar asam urat darah setelah latihan senam zumba. Metode penelitian menggunakan randomized pre test and post- test control group design. Respoden ialah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2014. Latihan senam zumba dilakukan selama 2 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan rerata kadar asam urat sebelum latihan zumba 4,172 mg/dL dan rerata kadar asam urat setelah latihan 4,817mg/dL dengan nilai P 0,08 yang berarti tidak ada perubahan yang bermakna. Simpulan: Tidak terdapat perubahan kadar asam urat darah yang bermakna setelah latihan senam zumba selama 2 minggu.Kata kunci: asam urat darah, mahasiswi
PENGARUH SENAM ZUMBA TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRATORI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI ANGKATAN 2014 Gunawan, Andre; Polii, Hedison; Pengemanan, Damajanty H. C.
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6605

Abstract

Abstract: Physical exercise is an attempt to keep the physical fitness. Zumba is a form of the implementation of HIIT’s (High Intensity Interval Training) method ie cardio exercise done in a short time with high intensity. Cardiorespiratory fitness is the ability the heart and lungs to absorb and take advantage of oxygen during the exercise occurred. Cardiorespiratory fitness was assessed through VO2 max. The research is meant to know the effect of zumba to the cardiorespiratory fitness. This research is field experimental study with pre-post one group test design. The subject of this research where 20 students which fulfilled the inclusion criteria. The subject were told to do the zumba for 60 minutes and then jogging within ±1,6 km. The data analysis using paired t test. The result of the research, there is a significant increase in average value of VO2 Max, pre test 37,36 ml/kg/minute and post test 46,72 ml/kg/minute (p=0.000). It was concluded that there was an effect on cardiorespiratory fitness (p=0.00<0,05)Keywords: zumba, cardiorespiratory fitness, VO2 maxAbstrak: Latihan fisik adalah usaha untuk menjaga kesegaran jasmani. Senam zumba merupakan bentuk penerapan dari metode HIIT (High Intensity Interval Training) yaitu latihan kardio yang dilakukan dalam waktu singkat dengan intensitas yang tinggi. Kebugaran kardiorespiratori adalah kemampuan jantung dan paru untuk menyerap dan memanfaatkan oksigen selama latihan fisik. Kebugaran kardiorespiratori dinilai melalui VO2 Max. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam zumba terhadap kebugaran kardiorespiratori. Jenis penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Responden penelitian sebanyak 20 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi. Responden diberikan latihan senam zumba selama 60 menit kemudian berjalan sejauh ±1,6 km. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil penelitian didapatkan terjadi peningkatan nilai rerata VO2 Max secara signifikan sebelum perlakuan 37,36 ml/kg/menit dan setelah 46,72 ml/kg/menit (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh senam zumba terhadap kebugaran kardiorespiratori (p=0,00<0,05)Kata kunci: senam zumba, kebugaran kardiorespiratori, VO2 max
Perbandingan Kadar Kolesterol pada Guru Obes dan Non-Obes di SMP Negeri I dan II Kauditan Minahasa Utara Rumampuk, Hizkia; Doda, Diana V.D.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18518

Abstract

Abstract: To date, obesity incidence is increasing globally in developing and developed countries. Increased prevalence of obesity suggests that there is an increased risk of obesity-related illnesses. Metabolic and lipid transport disorders can lead to hypercholesterolemia. This can happen especially among people with less physical activity, such as teacher. This study was aimed to assess the comparison of cholesterol levels in obese and non-obese teachers. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Respondents were 35 teachers at SMP Negeri I and II (junior high school) Kauditan Kabupaten Minahasa Utara consisting of 26 females and 9 males. Body mass index (BMI) was calculated and fasting cholesterol levels were checked from peripheral blood using autocheck tool. The results showed that there were 16 (45.7%) non-obese respondents and 19 (54.3%) obese respondents. Of the 35 respondents, 24 (68.6%) had normal cholesterol levels and 11 (31.4%) had hypercholesterolemia. The bivariate analysis using Mann Whitney test revealed that there was no significant difference in cholesterol levels between obese and non-obese teachers (P = 0.537). Conclusion: There was no significant difference in cholesterol levels between obese and non-obese teachers at SMP Negeri I and II Kauditan Kabupaten Minahasa Utara.Keywords: cholesterol level, BMl, teachers Abstrak: Insiden obesitas dilaporkan tetap mengalami peningkatan secara global, baik di negara berkembang maupun negara maju. Peningkatan prevalensi obesitas ini memberikan informasi bahwa terdapat peningkatan risiko penyakit yang terkait obesitas. Gangguan metabolism dan transportasi lipid bisa mengakibatkan hiperkolesterolemia. Hal ini bisa terjadi pada orang yang kurang aktif secara fisik, antara lain guru. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar kolesterol guru yang obes dan tidak obes. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Responden ialah 35 orang guru di SMP Negeri I dan II Kauditan Kabupaten Minahasa Utara, terdiri dari 26 perempuan dan 9 laki-laki. Indeks masa tubuh (IMT) dihitung dan kadar kolesterol puasa diperiksa dari darah perifer menggunakan alat autocheck. Analisis bivariat menggunakan Mann Whitney dengan nilai signifikan P ≤ 0,05. Hasil penelitian mendapatkan 16 (45,7%) responden non-obes dan 19 (54,3%) responden obes. Kadar kolesterol normal pada 24 (68,6%) responden dan hiper-kolesterolemia pada 11 (31,4%) responden. Anilisis bivariat menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar kolesterol antara guru obes dan non-obes (P=0,537). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar kolesterol antara guru obes dan non-obes di SMP Negeri I dan II Kauditan Kabupaten Minahasa Utara.Kata kunci: kadar kolesterol, IMT, guru