Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SINERGI PENGGUNAAN CALCIUM STEARATE DAN FLY ASH DALAM BETON UNTUK MENAHAN TEKANAN AIR Maryoto, Agus
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v16i2.7215

Abstract

Reinforced concrete structure located in corrosive environment and withstand the water pressure is very prone to corrosion attack. The waterinfiltrate to the concrete through the capillaries that are formed during the process of hardening concrete can only be reduced by decreasing the diameter of the micro-capillary. Increasing the contact angle between the water and the concrete surface is also able to reduce the infiltration of water into the concrete. fly ash is a material that has a smaller grain than cement. After the fly ash reacts with cement and water, forming of micro capillary diameter becomes smaller. Calcium stearate is used as an ingredient in making concrete the concrete surface becomes more hydrophobic. Tests were conducted to determine the effect of calcium stearate and fly ash namely compressive strength test, absorption and penetration. The results showed that the use of fly ash and calcium atearate together in the concrete can decrease the value of the absorption and penetration.Struktur beton bertulang yang terletak di daerah korosif dan menahan tekanan air sangat rawan terhadap serangan korosi. Tekanan air yang masuk ke dalam beton melalui kapiler yang terbentuk pada saat proses pengerasan beton hanya bisa dikurangi dengan memperkecil diameter mikro kapiler. Peningkatan sudut kontak antara air dan permukaan beton juga mampu menurunkan infiltrasi air ke dalam beton. Fly ash merupakan material yang mempunyai butir yang lebih kecil dari semen. Setelah fly ash bereaksi dengan semen dan air diameter mikro kapiler yang terbentuk menjadi lebih kecil. Calcium stearate yang digunakan sebagai campuran dalam beton membuat permukaan beton menjadi lebih bersifat hydrophobic. Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh calcium stearate dan fly ash yaitu uji kuat tekan, absorbsi dan penetrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan calcium stearate dan fly ash secara bersama-sama di dalam beton mampu menurunkan nilai absorbsi dan penetrasi.
Finite Element Analysis of One-Way Hollow Plate Capacity with Bamboo Apus and Bamboo Petung Dani Nugroho Saputro; Arnie Widyaningrum; Agus Maryoto; Thomas Calvin Putro Sasongko
Borneo Engineering : Jurnal Teknik Sipil Volume 5 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/be.v5i1.1823

Abstract

Design capacity is one of the main parameters in the analysis of concrete slab behavior. In general, bent tests for concrete slab will be tested experimentally in the laboratory. However, it requires a lot of energy, cost, and a long time. For that we need a simulation approach with numerical methods that is the finite element method using ABAQUS program. The test object is a composite structure in the form of a one-way hollow plate with bamboo Apus and Petung as structural reinforcement, the test object is modeled in a 3D solid model with a concentrated load. Furthermore, material will be inputted their properties based on the result of experimental tests. Numerical analysis using ABAQUS shows similar collapse behavior with experimental analysis, yet the result of concrete slab capacity to the ultimate and the deflection indicates a difference in the value of the experimental tests. Tests with numerical and experimental methods, both concrete slab specimens with bamboo apus and petung produce a similar crack pattern, namely flexural shear crack. The maximum stress hollow concrete slab bamboo apus +17.71 Mpa and bamboo petung +23.2 Mpa
TEKNOLOGI PAPAN PARTIKEL DAN KOMPOSIT DARI LIMBAH POHON AREN (KAYU DAN SERAT) DAN LIMBAH KARET BAN BEKAS N. Intang S.H; Agus Maryoto; Yanuar Haryanto
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 6 No 1 (2008): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v6i1.179

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendayagunakan (added value) limbah industri pengolahan tepung aren (kulit kayu dan serat) dan karet ban bekas untuk bahan bangunan berupa papan partikel/komposit yang berkualitas dan unggulan serta mempunyai prospek yang cukup baik. Bahan perekat digunakan urea formaldehida (UF) kempa panas jenis UA-147 untuk papan partikel dan jenis UA-125 untuk finir (papan komposit). Panel papan partikel/komposit dibuat ukuran 40cm x 40cm dengan perlakuan campuran (% perbandingan serat dan partikel) yaitu 0 : 100 ; 25 : 75 ; 50 : 50 ; 75 : 25 ; dan 100 : 0 dan kadar potongan serat karet ban bekas dibuat : 0%; 5%; 10%, dan 15%. Papan partikel yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dikatagorikan ke dalam papan partikel kualitas sedang dengan nilai kerapatan papan 0,581 g/cm3, kadar air 8,567%, dan nilai kuat lentur (Modulus of Rufture/MOR) sebesar 82,120 kg/cm2. Sedangkan papan komposit yang dihasilkan dapat dikatagorikan ke dalam jenis papan kualitas sedang mendekati tinggi, dengan nilai kerapatan sebesar 0,864 g/cm3, nilai kadar air 9,953%, dan nilai kekuatan lentur (MOR) sebesar 478,518 kg/cm2. Persentese peningkatan karapatan (berat jenis) papan komposit yang terjadi adalah sekitar 0,5 kali (48,590%) terhadap papan partikel. Untuk persentase peningkatan kuat lentur (MOR) papan komposit adalah sekitar hampir 7 kali (484,76% - 1.416,72%) terhadap kuat lentur papan partikel. Komposisi campuran bahan papan partikel yang paling optimal dengan bahan perekat UF jenis UA 147 (15%) adalah menggunakan serat aren 50% dan serbuk gergaji (partikel) 50%.
PENYEDIAAN PRASARANA AIR BERSIH DI DESA BINANGUN KECAMATAN MREBET KABUPATEN PURBALINGGA Gandjar Pamudji; Yanuar Haryanto; Arnie Widyaningrum; Nor Intang Setyo Hermanto; Agus Maryoto
Dinamika Journal : Pengabdian Masyarakat Vol 1, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dj.2019.1.4.939

Abstract

Khalayak mitra dalam Pengabdian Kepada Masyarakat skim KKN Tematik adalah Desa Binangun, Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Permasalahan yang harus diselesaikan adalah kesulitan/kekuerangan ketersediaan air bersih pada saat musim kemarau. Penyelsaian masalah ini dilakukan menjadi dua tahap yaitu tahap pertama melakukan pencarian sumber mata air dengan metode penyeldikan mata air dengan menggunakan geolistrik dan penelusuran sumber mata air di pegunungan Slamet serta membuat penampungan air bersih disekitar lokasi sumber mata air. Tahap kedua adalah menyalurkan air dari penampungan air bersih disekitar lokasi sumber mata air ke pamsimas dusun IV desa Binangun Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. Melalui kegiatan KKN Tematik-1 tahun 2018 dan KKN Tematik-2 tahun 2019 serta bantuan dana dari pemerintah setempat maka pendistribusian air dari sumber mata air pegunungan telah dapat dialiri hingga penampungan pamsimas dusun IV desa Binangun.
Nilai Penetrasi Air Pada Beton Mutu 40 MPa yang Menggunakan Bahan Tambah Pengikat Ordinary Portland Cement dan Bahan Tambah Calcium Stearate Agus Maryoto; Lutfiyah Nurul Muslimah; Gathot Heri Sudibyo
Jurnal Civronlit Unbari Vol 7, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/civronlit.v7i1.91

Abstract

Beton merupakan material yang sering dipakai pada bangunan sipil karena kuat tekannya yang tinggi dan memiliki durabilitas yang baik. Material ini tidak sepenuhnya impermeable terhadap penetrasi air karena terbentuknya jutaan kapiler pada saat proses pembuatan beton. Senyawa korosif masuk bersama air melalui kapiler ini.  Oleh karena itu diperlukan bahan tambah yang bisa memperbaiki sifat fisik beton. Penggunaan calcium stearate telah terbukti mampu menurunkan serangan korosi melalui uji korosi dipercepat. Sayangnya masih jarang penelitian yang menguji infiltrasi air ke dalam beton menggunakan permeabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan calcium stearate terhadap nilai penetrasi air. Dosis calcium stearate yang digunakan yaitu 0, 1, 2 dan 3% dari berat semen. Mutu beton yang digunakan adalah 40 MPa. Benda uji berupa kubus dengan sisi 15x15x15 cm. Hasil penelitian menunjukan adanya penurunan nilai penetrasi air akibat penambahan calcium stearate. Nilai penetrasi pada masing-masing kadar calcium stearate 0, 1, 2 dan 3%  adalah sebesar 1.27, 1.07, 0.93 dan 0.70 cm. Hal ini menunjukan bahwa calcium stearate dapat menurunkan penetrasi air ke dalam beton.
Studi Komparasi Antara Angkur dari Baja dan Kayu Untuk Prategang Pada Beton Bertulangan Limbah Ban Agus Maryoto
Dinamika Rekayasa Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Ilmiah Dinamika Rekayasa - Agustus 2015
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2015.11.2.76

Abstract

Salah satu cara pemusnahan limbah ban adalah penggunaan limbah ban di dalam beton. Penerapannya sebagai pentransfer gaya prategang pada balok beton menunjukkan bahwa ada peningkatan kapasitas lentur beton bila dibandingkan dengan beton tanpa tulangan limbah ban. Angkur yang digunakan berupa klem dari baja. Harga angkur besi ini masih mahal. Studi ini mencoba menggunakan angkur yang terbuat dari kayu sebagai pengganti angkur besi. Metode yang digunakan adalah memasang angkur kayu didalam beton. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan angkur dari kayu pada beton mempunyai kapasitas lentur yang setara dengan angkur dari besi. Sehingga disimpulkan bahwa kayu layak digunakan sebagai angkur pada beton prategang bertulangan limbah ban. 
Pemanfaatan Pemotongan Ban Bekas Untuk Campuran Beton Serat Perkerasan Kaku Nastain Nastain; Agus Maryoto
Dinamika Rekayasa Vol 6, No 1 (2010): Dinamika Rekayasa - Februari 2010
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2010.6.1.29

Abstract

Basically, construction of road pavement has 2 (two) types, are rigid pavement and flexible pavement. Rigid pavement has many advantages: the design is simple, the maintenance is easy and it is suitable for heavy load traffic as well as for sub grade with low CBR value However, the main disadvantage of rigid pavement is its inflexibility because the flexural strength of concrete is low. To increase the flexibility of concrete, adding elastic material (waste tire) into concrete mixture is needed. This is very possible, because waste tire has high modulus of elasticity value and low density. This research is conducted to find the influence of waste tire fiber addition towards the increase of flexural strength and compressive strength of rigid pavement. This research uses tire shreds 4 mm x 4 mm x 60 in mm size which are mixed randomly into various concentrations. Concrete mechanic behaviors, flexural strength and compressive strength, are measured by testing cylinder and beam concrete specimens. The research results show that the addition of waste tire fiber can increase flexural strength of concrete up to 20.84% and compressive strength of concrete up to 4.73% higher than normal concrete when the waste tire fiber content is 0.75%.
PENGARUH PENGGUNAAN VISCOCRETE-10 DAN SERAT BAN BEKAS TERHADAP NILAI SLUMP DAN KUAT TEKAN BETON SERAT Agus Maryoto; Gandjar Pamudji
Dinamika Rekayasa Vol 3, No 2 (2007): Dinamika Rekayasa - Agustus 2007
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2007.3.2.107

Abstract

Decomposed of tire waste is too difficult. The tire waste has good resistance against sea water and acids attack in long time and cause not significantly damages. The tire waste as fiber has moderate tensile strength, so that can used on concrete structure very well. This research is conducted to find the influence of viscocrete-10 towards slump value and compressive strength of fiber concrete. The viscocrete-10 dosage is 1 liter per cubic meter of concrete. The waste tire fiber sizes are 1 mm x 1 mm cross section and 1 mm, 5 mm, 10 mm, 25 mm, 50 mm and 75 mm length. Concentration of the waste tire fiber is 2.5% by volume. The research results show that the using of viscocrete-10 can increase workability of fresh fiber concrete, waste tire fiber can increase flexural strength of concrete except fiber 75 mm length decrease slump value amount 4 cm. Normally fiber addition cause decrease workability of fresh concrete. Meanwhile, fiber 10 mm length cause concrete compressive strength decrease 19.77% and fiber 75 mm length decrease compressive strength of concrete up to 28.88% than normal concrete.
Pemanfaatan Bambu Laminasi Pada Produksi Kerajinan Untuk Meningkatkan Nilai Ekonomis Dan Ergonomis Dani Nugroho Saputro; Gandjar Pamudji; Agus Maryoto
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : Politeknik Dharma Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v2i1.517

Abstract

Bambu merupakan tanaman rakyat dengan pertumbuhan yang cepat, dimana bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh antara umur 3,5 sampai dengan 5 tahun. Pemanfaatan bambu pada sentra kerajinan di desa Kemutug, Kecamatan Baturraden hanya memanfaatkan bahan baku bambu sebagai mebelair seperti kursi, meja, balai bengong. Material waste yang dihasilkan dari produk mebelair ini sangat tinggi dan belum dimanfaatkan dengan baik. Salah satu alternatif pemanfaatan material waste dari produk bambu adalah dengan dijadikan bambu laminasi untuk menambah nilai ergonomis. Metode yang digunakan adalah pendidikan masyarakat dan pelatihan, pendidikan masyarakat dilakukan dengan memaparkan dan menjelasan mengenai gambaran pengetahuan tentang pemanfaatan bambu, Pelatihan dilakukan dengan mempraktikkan proses pembuatan bambu laminasi. Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan ketertarikan sentra produksi kerajinan bambu pada bambu laminasi sehingga dapat meningkatkan diversifikasi produk untuk terciptanya ekonomi yang kreatif. Respon dan keberterimaan masyarakat terhadap teknologi bambu laminasi cukup tinggi, masyarakat menyambut baik dengan adanya perkembangan teknologi bambu laminasi.
Kekuatan Tahanan Lateral Sambungan Baut Pada Komposit Kayu-Bambu Laminasi Nor Intang Setyo Hermanto; Agus Maryoto; Dani Nugroho Saputro
Dinamika Rekayasa Vol 19, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Dinamika Rekayasa - Agustus 2023
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2023.19.2.746

Abstract

Kayu kualitas tinggi dengan ukuran besar dewasa ini sudah sangat jarang ditemui. Salah satu cara meningkatkan kualitas kayu dengan cara teknik laminasi dan atau dikompositkan dengan bambu. Selain itu, keterbatasan ukuran kayu dan bambu maka diperlukan teknik penyambungan. Sambungan pada kayu memegang peranan sangat penting karena untuk memperoleh dimensi yang dibutuhkan. Alat sambung pada kayu umumnya yaitu baut atau pasak (dowel). Kekuatan sambungan dowel dapat ditentukan dengan teori Europen Yield Model (EYM), yaitu untuk menentukan kekuatan tahanan lateral (Z) akibat gaya aksial berdasarkan mutu dowel, bahan yang disambung dan bentuk geometri sambungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kekuatan tahanan lateral alat sambung baut pada komposit bambu-kayu. Benda uji dibuat dengan ukuran 50 x 50 x 150 mm dengan alat sambung baut diameter 5 mm, 10 mm, dan 15 mm dengan persentase bambu adalah 50%. Pengujian tahanan lateral dengan memberikan beban tekan statik pada benda uji sampai runtuh dengan alat Universal Testing Machine (UTM). Hasil eksperimental menunjukkan nilai tahanan lateral sambungan baut 5 mm, 10 mm, dan 15 mm berturut-turut yaitu 12,71 kN; 20,17 kN; dan 25,75 kN. Persentase peningkatan adalah sebesar 58,74 % (diameter 10 mm) dan 102,68 % (diameter 15 mm) terhadap baut diameter 5 mm yang dipengaruhi nilai kuat tumpu kayu-bambu dan kuat leleh baut.