Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Psychological Well-Being Pada Wanita Yang Menikah di Bawah Umur di Daerah Madura Daniel Bimaaji Wijayanto; Berta Esti Ari Prasetya
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling: Special Issue (General)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9975

Abstract

Data statistik menunjukkan bahwa wanita yang melakukan pernikahan di bawah umur di Madura masih banyak terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi dan faktor apa yang memengaruhi Psychological Well-Being (PWB) pada wanita yang menikah di bawah umur di daerah Madura, serta faktor apa yang mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur di Madura. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomologi. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Dalam hal PWB hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua narasumber cenderung menerima kondisi dirinya ketika sudah menikah, mampu berhubungan baik dengan masyarakat sekitar maupun teman-temannya, memiliki otonomi yang baik yaitu menceritakan masalah ke suami dan mencari solusi bersama-sama, penguasaan lingkungan yang baik yaitu kedua narasumber mampu untuk meyesuaikan diri atas kesulitan-kesulitan yang muncul, kedua narasumber memiliki tujuan hidup setelah menikah yaitu hidup bahagia setelah menikah, dan bertumbuh dengan baik yaitu tidak egois dan tidak mendahulukan emosi, namun demikian kedua narasumber mengalami kesusahan dalam mengatur ekonomi keluarga mereka. Menurut kedua narasumber, faktor yang memengaruhi kondisi PWB dari kedua narasumber tersebut adalah dari pasangan yang baik, keluarga dan dukungan lingkungan sekitar yang mendukung.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA ANAK JALANAN DI KOTA JAYAPURA Niken Virginia Jasman; Berta Esti Ari Prsetya
Media Bina Ilmiah Vol. 17 No. 6: Januari 2023
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/mbi.v17i6.234

Abstract

Keberadaan anak jalanan di Kota Jayapura disebabkan oleh berbagai permasalahan dan ekonomi keluarga. Masalah ini membuat mereka sulit memiliki subjective well-being yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan subjective well-being pada anak jalanan di Kota Jayapura. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik sampling accidental dengan sampel penelitian berjumlah 50 orang. Pengambilan data untuk variabel SWB menggunakan dua skala yaitu skala The Satisfaction With Life Scales (SWLS) dengan nilai alpha cronbach 0,758 dan The PANAS Scales dengan nilai alpha cronbach 0,842. Sedangkan variabel dukungan sosial teman sebaya menggunakan skala Social Provision Scale (SPS) dengan nilai alpha cronbach 0,806. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan subjective well-being pada anak jalanan di Kota Jayapura. Hal ini dilihat dari hasil uji korelasi yang menunjukkan nilai r = -0,099 dengan signifikansi 0,247 (p>0,05). Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara dukungan sosial teman sebaya dan subjective well-being pada anak jalanan di Kota Jayapura.
Hubungan Antara Work-Life Balance dengan Komitmen Organisasi Pada Karyawan Perempuan Yang Sudah Menikah di PT. X Renny Dwi Nugrawati; Berta Esti Ari Prasetya
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 2 No. 03 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.27 KB) | DOI: 10.59141/jiss.v2i03.208

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif dan signifikan antara Work-life balance dengan Komitmen Organisasi. Penelitian ini dilakukan pada karyawan di PT. X yang berjumlah 40 karyawan yang menggunakan teknik sampel jenuh. Variabel Work-life balance diukur menggunakan skala milik Fisher (2001) yang diterjemahkan oleh penulis dan variabel Komitmen Organisasi diukur menggunakan skala milik Allen Mayer (1991) yang terjemahkan oleh penulis. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho, didapatkan hasil r = 0,067; p> 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan positif dan signifikan antara Work-life balance dengan Komitmen Organisasi di PT X.
Gambaran Perasaan Insecure di Kalangan Mahasiswa yang Mengalami Kecanduan Media Sosial Tiktok Agresta Armando Harnata; Berta Esti Ari Prasetya
Bulletin of Counseling and Psychotherapy Vol. 4 No. 3 (2022): Bulletin of Counseling and Psychotherapy
Publisher : Kuras Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/bocp.v4i3.437

Abstract

TikTok is one of the results of advances in the world of technology that can make it easier for someone to do anything online. It is not surprising that most people today use various social media to disseminate the information they get, both in groups and individually. The purpose of the study is to get an overview of the feelings of insecurity among Satya Wacana Christian University psychology students who are addicted to TikTok social media, as well as the factors that affect insecurity that cause feelings of insecurity among Satya Wacana Christian University psychology students who are addicted to TikTok social media. This type of research is qualitative research with a phenomenological research design. Data collection in this study used interviews and observations of 3 participants. This study uses technical triangulation and time triangulation as a test of the credibility of the data. From the results of this study, it was found that the insecurity of the Satya Wacana Christian University psychology faculty students felt anxious and nervous about their own appearance, as well as a feeling of lack of confidence in their abilities. There are factors that affect the insecurity of Satya Wacana Christian University psychology students, namely comparing their work too much and comparing their physical appearance to other people who are more famous.
Gambaran Kecemasan akan Kematian pada Lansia yang Sudah Sayur Matua dalam Budaya Simalungun Sharon Lauranita Purba; Berta Esti Ari Prasetya
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.14269

Abstract

Suku Simalungun sebagai salah satu sub suku Batak memiliki dua pandangan terhadap kematian yaitu kematian sebagai duka; dan kematian yang dianggap sebagai suka cita (Sinaga, 2008). Kematian yang dianggap sebagai sukacita adalah bila orang yang meninggal sudah sayur matua. Istilah sayur matua dalam Simalungun diberikan kepada lansia yang berumur 60 tahun atau lebih dan yang dianggap telah selesai melaksakan tugasnya dan sebagai suatu simbol dari kesempurnaan hidup orang tua. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana gambaran kecemasan akan kematian pada lansia yang menurut pandangan suatu budaya sudah berada pada tahap kesempurnaan dan kebermaknaan hidup yaitu sayur matua. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan partisipan dipilih menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di desa Tigarunggu kabupaten Simalungun dari bulan September sampai dengan Oktober 2022. Hasil penelitian menunjukan bahwa walaupun ketiga partisipan sudah sayur matua, namun ketiga partisipan masih memiliki kecemasan akan kematian. Perbedaan pandangan dan makna sayur matua pada partisipan membuat kecemasan akan kematian antar partisipan dalam penelitian juga berbeda. selain itu sumber, bentuk dan dampak kecemasan akan kematian yang dialami memiliki perbedaan antara ketiga partisipan.
Korelasi antara Sikap Terhadap Perbedaan Kultur dan Intensi Turnover pada Karyawan Perusahaan X Fabrikasi, Tiara; Prasetya, Berta Esti Ari
Psychopreneur Journal Vol. 5 No. 1 (2021): Psychopreneur Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/psy.v5i1.1866

Abstract

This study aims to determine the correlation between attitudes toward cultural differences with turnover intention in employees company X. the hypothesis in this study there is significant negative relation between attitudes toward cultural differences and turnover intention in employees company X. the subject in this studying were 55 employees from company X. The data obtained using aattitudes toward cultural difference scale and a scale of turnover intention. The result showed a value of ρ =-0.738 with p = 0.000 (p<0.05). Thus, it can be concluded that there is a significant negative correlation between attitudes toward cultural differences and turnover intention in employee company X. So, the hypothesis proposed in this study can be accepted.
The Culture of Bayar Harta Kepala During Grieving Process of Sentani Tribe Yemima Costanpina Wasanggay; Berta Esti Ari Prasetya
Journal of Social Research Vol. 2 No. 6 (2023): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v2i6.924

Abstract

Grieving is a natural human response when losing a loved one, but a prolonged grieving process can interfere with daily functioning that needs clinical intervention. An individual's sense of grief can be influenced by various aspects, one of which, is the culture and traditions carried out when grieving. One of the prominent cultures of grieving comes from the people of Sentani, called yung robboni or bayar harta kepala. This culture requires the payment of property by the bereaved family to the birth mother’s family who comes to give food. This may feel burdensome for individuals with a low socioeconomic level and can affect the grieving process that is felt as well. Therefore, this study aims to explain how the people of Sentani interpret the grieving process in the culture of bayar harta kepala. The research was conducted using qualitative methods with a narrative approach. Research participants were obtained by purposive sampling, namely with the criteria of adult individuals aged 23-55 years who have middle to lower economic status, have deceased relatives, and carry out the tradition of bayar harta kepala. Two participants were obtained, one was a female individual aged 54 years old (MT), and the other was a female, aged 46 years old (A). The results showed that the culture of bayar harta kepala, although economically burdensome, was seen as a means of obtaining social support from the family, thus alleviating the grief that was felt. Overall, this study emphasizes the importance of empowering a culture of bayar harta kepala, followed by social and family support, in overcoming individual grief.
Budaya Wor Dalam Pengembangan Resiliensi Perempuan Yang Mengalami Peristiwa Biak Berdarah Tahun 1998 Yuliana Miryam Rumwaropen; Berta Esti Ari Prasetya
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Desember 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v9i1.6300

Abstract

Peristiwa Biak berdarah pada tahun 1998 cukup meninggalkan trauma bukan hanya pada korban namun terhadap perempuan yang mengalami peristiwa Biak berdarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana budaya wor dalam pengembangan resiliensi perempuan yang mengalami peristiwa Biak berdarah pada tahun 1998. Partisipan dalam penelitian ini merupakan perempuan dewasa madya berusia 40-60 tahun yang mengalami peristiwa Biak berdarah pada Tahun 1998. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) kemudian uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya wor dalam pengembangan resiliensi perempuan yang mengalami peristiwa Biak berdarah mendorong partisipan untuk mampu meregulasi emosi dan bersikap optimis mendukung partisipan untuk resilien. Kata kunci: resiliensi, budaya wor, perempuan
Coping Stress Pada Pelajar Kawruh Jiwa Lansia Duda Pasca Kematian Pasangan Himawan, Ronan; Prasetya, Berta Esti Ari
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 1 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.3028

Abstract

Becoming a widower after the death of a spouse in the elderly is not an easy matter for men. The event of the death of a life partner is one of life's challenges that cause and increase stress in the elderly. Culture also influences the way individuals cope with stress. This study explores the perspective of individuals living within the wisdom of local culture, as adherents of kawruh jiwa spirituality. The research employs a qualitative phenomenological study method, involving two elderly spiritual adherents who are widowers following the death of their partners. Moustakas' phenomenological data analysis is utilized. The research findings reveal the existence of a spiritual concept of kawruh jiwa knowledge that is utilized as a stress coping strategy. Among these concepts are saiki kene ngene yo gelem, nyawang karep, bungah susah, and sabutuhe saperlune sacukupe sapenake samestine sabenere. This study's findings offer novelty in terms of thematic analysis using the concept of kawruh jiwa spirituality as a source of coping strategies for elderly widowers following the death of their partners.    Menjadi duda pasca kematian pasangan pada lansia bukanlah perkara mudah bagi para pria. Peristiwa kematian pasangan hidup merupakan salah satu tantangan hidup yang mengakibatkan dan meningkatkan stres pada lansia. Kebudayaan juga turut memengaruhi cara individu tersebut dalam menghadapi stres. Dalam penelitian ini peneliti mengeksplorasisudut pandang dari individu yang hidup dalam kearifan budaya lokal, sebagai penghayat kawruh jiwa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kualitatif fenomenologi, dengan melibatkan dua orang penghayat kawruh jiwa lansia yang berstatus duda pasca kematian pasangan. Analisis data menggunakan analisis data fenomenologi Moustakas. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat konsep spiritual kawruh jiwa yang dimanfaatkan sebagaistrategi koping stres. Di antaranya adalah konsep saiki kene ngene yo gelem, nyawang karep, bungah susah, dan sabutuhe saperlune sacukupe sapenake samestine sabenere. Temuan studi ini menawarkan kebaharuan dari sisi analisis tema yang menggunakan konsep spiritual kawruh jiwa sebagai sumber strategi pemecahan masalah bagi lansia duda pasca kematian pasangan.
Self-Efficacy and Emotional Intelligence as Predictors of Public Speaking Anxiety in College Students Sri Mariati; Berta Esti Ari Prasetya
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 6 No. 6 (2025): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v6i6.1775

Abstract

This study involved three variables, namely self-efficacy (X1), emotional intelligence (X2), and anxiety of public speaking (Y). The research sample consists of 175 students from the class of 2017 (semester 2) at Satya Wacana Christian University (Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW), representing 13 existing faculties. This study uses a quantitative method with a sampling technique employing random sampling. The data collection technique utilized is scale distribution. The variable of public speaking anxiety uses a scale from Bartholomay & Houlihan (2016), which consists of 17 items. The self-efficacy variable uses the scale of Ralf Schwarzer and his colleagues (in Zhou, 2015), which consists of 10 items, and the emotional intelligence variable uses the scale of Schutte et al. (in Jonker & Vosloo, 2008), which consists of 29 items. The results of the study prove that: 1) Self-efficacy independently can be a predictor for the emergence of public speaking anxiety in UKSW students; 2) Emotional intelligence independently cannot play a role as a predictor for the emergence of public speaking anxiety in UKSW students; and 3) Self-efficacy and emotional intelligence together can play a role as a predictor, accounting for 12.7% of the appearance of public speaking anxiety in UKSW students.