Tinni T. Maskoen
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Perbandingan Teknik Insersi Klasik dengan Teknik Insersi Triple Airway Manoeuvre terhadap Angka Keberhasilan dan Kemudahan Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA) Klasik Simanjuntak, Nelly Margaret; Oktaliansah, Ezra; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.837 KB)

Abstract

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari metode yang dapat meningkatkan angka keberhasilan teknik insersi laryngeal mask airway (LMA) klasik dan mengurangi komplikasi yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka keberhasilan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada teknik triple airway manoeuvre (TAM). Penelitian ini adalah eksperimental prospektif dengan metode acak terkontrol tersamar tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi terencana dalam anestesi umum di kamar operasi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April–Juli 2015. Tiga puluh enam pasien pasien berusia 18–60 tahun, status fisik berdasarkan American Society of Anesthesiologists (ASA) kelas I–II dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok teknik insersi klasik dan teknik insersi TAM. Pada teknik TAM, seorang penolong melakukan protrusi mandibula dan membuka mulut sementara seorang melakukan insersi LMA klasik. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik Eksak Fisher dan Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan angka keberhasilan pemasangan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada kedua kelompok perlakuan berbeda bermakna (p<0,05) dengan teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan lebih tinggi daripada teknik insersi klasik (72,2%) dan teknik insersi TAM memiliki kejadian tahanan di orofaring lebih sedikit dibanding dengan teknik klasik (83,3%). Simpulan, teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan yang lebih tinggi daripada teknik insersi klasik sehingga.Kata kunci: Laryngeal mask airway klasik, teknik triple airway manoeuvre, teknik insersi klasikComparison of Success Rate and Ease of Insertion of Classic Laryngeal Mask Airway when Inserted using Classic Insertion Technique and Triple Airway Maneuver TechniqueAbstractVarious studies are seeking to find new methods to improve techniques of classic laryngeal mask airway (cLMA) insertion and reduce possible complications. This is a clinical study to investigate the succesrate and ease of insertion using triple airway maneuver(TAM) technique and to compare it with the classic technique. This experimental prospective study was conducted using the single-blind randomized controlled trial approach to patients underwent elective surgery under general anesthesia in the operating teather of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of April 2015 to July 2015. Thirty six patients aged 18–60 years old with American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II status were randomly divided into two groups receiving either triple airway maneuver (TAM) technique or classic technique. In TAM technique, jaw thrust and mouth opening are facilitated by a technician and the anesthesiologist inserts the LMA. The collected data were analyzed using Fisher Exact and Kolmogorov Smirnov. The statistical analysis showed that the ratio of success rate and the ease of insertion of cLMA between both treatment groups was significantly different (p<0.05) where the TAM technique showed a higher success rate of insertion (72.2%) and less impacts on the oropharynx compared to the classic method (83.3%). Overall , in this study, the TAM technique is associated with higher of success rate compared to the classic technique and the ease of insertion of TAM method makes it worth to be considered as a safe and effective method to establish a secure airway in anesthetized patients.Key words: Classic laryngeal mask airway, ease of insertion, success rate, triple airway manoeuvre DOI: 10.15851/jap.v4n3.900
Angka Kejadian Delirium dan Faktor Risiko di Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Adiwinata, Rakhman; Oktaliansah, Ezra; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.923 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.744

Abstract

Delirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31, laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Kata kunci: Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit, delirium, faktor risiko, Richmond agitation-sedation scale Incidence and Risk Factors of Deliriumin in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractDelirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31 laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Key words: Confusion Assessment Methode-Intensive Care Unit, delirium, Richmond agitation-sedation scale, risk factor DOI: 10.15851/jap.v4n1.744
Perbandingan Chula Formula dengan Auskultasi 5 Titik terhadap Kedalaman Optimal Pipa Endotracheal pada Anestesi Umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ariestian, Erick; Fuadi, Iwan; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.176 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1286

Abstract

Kedalaman pipa endotracheal (ETT) yang optimal menjadi salah satu perhatian utama karena komplikasi terkait dengan malposisi ETT. Auskultasi 5 titik merupakan metode yang digunakan dalam menentukan kedalaman ETT. Namun, teknik tersebut masih memiliki potensi  malposisi ETT. Penggunaan chula formula terbukti dapat digunakan untuk menentukan kedalaman ETT yang optimal. Penelitian ini bermaksud menilai ketepatan kedalaman yang optimal penempatan ETT setelah dilakukan intubasi endotrakea menggunakan chula formula dibanding dengan tektik auskultasi 5 titik. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif analitik komparatif yang dilakukan pada 48 orang pasien berusia ≥18 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I–II di ruang bedah terjadwal RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2017. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, yaitu kelompok penentuan kedalaman ETT menggunakan teknik auskultasi 5 titik dan kelompok yang dilakukan menggunakan chula formula. Dilakukan penilaian jarak ujung ETT terhadap carina menggunakan fiberoptic bronchoscope (FOB). Hasil penelitian ini menunjukkan kedalaman optimal ETT menggunakan chula formula lebih baik dibanding dengan teknik auskultasi 5 titik. Analisis statistik menggunakan uji Exact Fisher.  Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah penggunaan chula formula menghasilkan kedalaman ETT yang lebih optimal.Kata kunci: Auskultasi 5 titik, bronkoskopi fiberoptik, chula formula, intubasi endotrakea, kedalaman ETT
Perbandingan Angka Keberhasilan Blokade Saraf Iskiadikus Pendekatan Parasakral dengan Labat Menggunakan Stimulator Saraf pada Operasi Daerah Kruris dan Pedis Yadi, Dedi Fitri; Maskoen, Tinni T.; Marlina, Rika
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.42 KB)

Abstract

Blokade saraf iskiadikus digunakan pada operasi daerah kruris dan pedis. Blokade saraf iskiadikus pendekatan Labat membutuhkan rangkaian penanda anatomis, sementara parasakral menggunakan penanda anatomis sederhana. Penelitian bertujuan membandingkan angka keberhasilan blokade saraf iskiadikus pendekatan parasakral dengan Labat. Penelitian uji acak terkendali tersamar ganda dilakukan pada 32 pasien dewasa di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Dr. Slamet Garut selama Desember 2014–Januari 2015. Tempat penyuntikan kelompok Labat pada 4 cm distal garis proyeksi tegak lurus terhadap pertengahan trokanter mayor dan spina iliaka superior posterior. Tempat penyuntikan kelompok parasakral pada 6 cm distal garis proyeksi antara spina iliaka superior posterior dan tuberositas iskiadikus. Penyuntikan 30 mL bupivakain 0,4% dilakukan bila terdapat respons motorik pada arus 0,3 mA. Perbandingan angka keberhasilan diuji dengan Uji Eksak Fisher, bermakna jika p<0,05. Blokade saraf iskiadikus kelompok parasakral berhasil pada 15 subjek, sedangkan Labat berhasil pada 8 subjek dengan nilai p=0,015. Angka keberhasilan blokade saraf iskiadikus pendekatan parasakral lebih tinggi dibanding dengan Labat menggunakan stimulator saraf pada operasi daerah kruris dan pedis.Kata kunci: Blokade saraf iskiadikus, keberhasilan, penanda anatomis, pendekatan parasakral, pendekatan LabatComparison of Success Rates between Parasacral Approach and Labat Approach Applied in Sciatic Nerve Block Using Nerve Stimulator in Leg and Foot SurgeriesAnesthesiologist uses sciatic block in leg and foot surgeries. Labat sciatic block uses a series of anatomical landmarks, while parasacral uses simple anatomical landmarks. This study compared the success rate of parasacral approach of sciatic block to Labat approach using nerve stimulator in leg and foot surgeries. A double-blind randomized controlled trial study was conducted on 32 adult patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Dr. Slamet General Hospital Garut during the period of December 2014 to January 2015. In Labat group, a line was drawn from greater trochanter to posterior superior iliac spine. Then, from the midpoint of this line, a second line was drawn perpendicularly and extended caudally to 4 cm. The end of this line represented the needle entry. In parasacral group, a line was drawn from posterior superior iliac spine to ischial tuberosity. The needle entry was then marked on this line at 6 cm from the posterior superior iliac spine. Thirty mL of 0.4% bupivacaine was injected when a proper motor response was elicited at 0.3 mA. Comparison of success rates were analyzed using Fisher’s exact Test with p-value<0.05 considered significant. Fifteen blocks in parasacral group were successful compared to 8 blocks in Labat group, with p-value of 0.015. The success rate of parasacral approach of sciatic block is higher than in the Labat approach when using nerve stimulator in leg and foot surgeries. Key words: Sciatic nerve block, success, anatomical landmarks, parasacral approach, Labat approach DOI: 10.15851/jap.v3n3.613
Perbandingan Kedalaman Sedasi antara Deksmedetomidin dan Kombinasi Fentanil-Propofol Menggunakan Bispectral Index Score pada Pasien yang Dilakukan Kuretase Singarimbun, Daniel Asa; Indriasari, Indriasari; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.029 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1424

Abstract

Kuretase tergolong bedah minor yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan pasien sehingga memerlukan tindakan sedasi-analgesi. Tujuan penelitian adalah membandingkan kedalaman sedasi antara deksmedetomidin dan kombinasi fentanil-propofol menggunakan bispectral index score (BIS) pada pasien yang dilakukan kuretase. Penelitian ini merupakan penelitian randomized controlled trial dengan teknik double blind pada 36 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I−II yang menjalani kuretase di ruangan Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juli sampai Oktober 2017. Kelompok deksmedetomidin mendapatkan loading dose deksmedetomidin 1 mcg/kgBB dalam waktu 10 menit dilanjutkan dosis pemeliharaan 0,5 mcg/kgBB/jam. Kelompol fentanil-propofol mendapatkan loading dose propofol 1 mg/kgBB dalam 10 menit diikuti dosis pemeliharaan 50 mcg/kgBB/jam ditambah fentanil 1 mcg/kgBB dalam 5 menit, lalu dicatat nilai BIS. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney dengan p<0,05 dianggap bermakna. Analisis data statistik nilai BIS kelompok deksmedetomidin 79,50±2,121 dan fentanil-propofol 85,22±0,732 dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, penelitian ini menunjukkan kedalaman sedasi pada kelompok deksmedetomidin menghasilkan nilai BIS lebih rendah dibanding dengan fentanil-propofol pada pasien yang dilakukan kuretase. Kata kunci: Bispectral index score(BIS), dexmedetomidine, fentanil, kuretase, propofol Comparison of Sedation Depth between Dexmedetomidine and Fentanyl-Propofol using Bispectal Index Score in Patients Undergoing Curettage Curettage is a minor surgical procedure that can cause pain and anxiety. Therefore, analgesia and sedation are needed. The purpose of this research was to compare the depth of sedation using bispectral index score (BIS) scale between dexmedetomidine and fentanyl-propofol combination in patients undergoing curettage. This was a double blind randomized controlled trial on 36 patients with American Society of Anesthesiologists (ASA) physical status I−II at the delivery room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital  from July to October 2017. Subjects were randomized into two groups: dexmedetomidine group receiving a loading dose of 1 mcg/kgBW dexmedetomidine in 10 minutes followed by 50 mcg/kgBW/hour for maintenance and fentanyl-propofol group receiving a loading dose of 1 mg/kgBW propofol in 10 minutes and fentanyl 1 mcg/kg within 5 minutes followed by a maintenance dose of propofol 50 mcg/kgBW/hour. The BIS score in dexmedetomidine group (79.0±2.121) was significantly lower than in fentanyl-propofol group (85.22±0.732) with p<0.05. Hence, the sedation depth observed through BIS score evaluation shows that the score in dexmedetomidine group is lower than in fentanyl-propofol group in patients undergoing curettage. Key words: Bispectral index score (BIS), curettage, dexmedetomidine, fentanyl, propofol 
Pola Kuman Terbanyak Sebagai Agen Penyebab Infeksi di Intensive Care Unit pada Beberapa Rumah Sakit di Indonesia Taslim, Emilzon; Maskoen, Tinni T.
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi di ruang perawatan intensif atau intensive care unit (ICU) telahmenyebabkan peningkatan kejadian resistensi antibiotik terhadap kuman. Penulisan tinjauan pustaka iniberdasarkan studi kepustakaan yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwakuman yang paling banyak terdapat di ICU adalah Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia. Selain itu,didapatkan pula peningkatan kejadian Methycillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) . Beberapa antibiotiktidak sensitif lagi terhadap kuman-kuman yang terdapat di ICU, antara lain ampicillin, cefotaxime, tetracycline,ceftazidime, chloramphenicol, dan ciprofloxacin. Disarankan agar dilakukan perputaran penggunaan antibiotik(antibiotic cycling) berdasarkan pola kepekaan bakteri dan pola sensitivitas antibiotik untuk mengurangi kejadianresistensi antibiotik. Kata kunci: Intensive Care Unit , pola kuman, resistensi antibiotik High usage of antibiotics in the Intensive Care Unit (ICU) have led to increased incidence of antibiotic resistanceto microbial agents. This paper based on the study of literature gathered from various sources. The results of thispaper show that most numerous microbial agents found in the ICU was Pseudomonas aeruginosa and Klebsielapneumonia. Besides that, there is also an increase of the incidence of MRSA (Methycilin Resistant StaphylococcusAureus). Some antibiotics that are no longer sensitive to microbial agents in the ICU are ampicilin, cefotaxime,tetracycline, ceftazidime, chloramphenicol, and ciprofloxacin. Recommended to do an antibiotic cycling basedon the antibiotics usage pattern and bacterial sensitivity patterns to reduce the incidence of antibiotic resistance. Key words: Antibiotic resistance, bacterial patterns, Intensive Care Unit Reference Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009. Widyaningsih R, Buntaran L. Pola Kuman Penyebab Ventilator Associated Pneumonia (VAP) dan Sensitivitas Terhadap Antibiotik di RSAB Harapan Kita. Sari Pediatri. 2012;13(6):384–90. Noer SF. Pola Bakteri dan Resistensinya Terhadap Antibiotik yang Ditemukan pada Air dan Udara Ruang Instalasi Rawat Khusus RSUP dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 2012;16(2):73–8. Adisasmito AW, Hadinegoro SR. Infeksi Bakteri Gram Negatif di ICU Anak: epidemiologi Manajemen Antibiotik dan Pencegahan. Sari Pediatri. 2004;6(1):32–9. Dwiprahasto I. Kebijakan untuk Meminimalkan Risiko Terjadinya Resistensi Bakteri di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit. JMPK. 2005;8(4):177–81. Fauziyah S, Radji M, Nurgani A. Hubungan Penggunaan Antibiotika pada Terapi Empiris dengan Kepekaan Bakteri di RSUP Fatmawati Jakarta. Jurnal Farmasi Indonesia. 2011;5(3):150–58. Setiawan MW. Pola Kuman Pasien yang Dirawat di Ruang Rawat Intensif RSUP Dr. Kariadi Semarang. Artikel Penelitian. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2010. 2–16. Saharman YR, Lestari DC. Phenotype Characterization of Beta-Lactamase Producing Enterobacteriaceae in the Intensive Care Unit (ICU) of Cipto Mangunkusumo Hospital in 2011. Acta Med Indones.2013;45(1):11–6. Peta Bakteri Terbanyak yang dapat Diisolasi dari Berbagai Spesimen di Ruang ICU di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2012. Tyas WM, Suprapti B, Hardiono, Widodo ADW. Analysis of Antibiotic Use in VAP (Ventilator-Association Pneumonia) Patients. Folia Medica Indonesiana. 2013;49(3):168–72. Mahmudah R, Soleha TU, Ekowati CN. Identifikasi Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada Tenaga Medis dan Paramedis Di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Med J Lampung Univercity. 2013;2(4):70–8.
Antibiotik Empirik di Intensive Care Unit (ICU) Aditya, Ricky; Kestriani, Nurita Dian; Maskoen, Tinni T.
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penemuan jenis antibiotik baru diimbangi dengan penemuan resistensi dari bakteri tersebut terhadap beberapa obat.Secara garis besar, antibiotik dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan cara kerja, spektrum, dan efek bakterisidal.Terapi antibiotik terhadap pasien kritis merupakan hal yang menjadi perhatian di dunia akibat tingginya mortalitasdan morbiditas. Aspek efektifitas terapi terus menjadi perhatian akibat peningkatan kebutuhan ruang Intensive CareUnit. Kontrol infeksi dan pemilihan antibiotik yang sesuai merupakan intervensi utama dan harus menjadi prioritasdalam manajemen pasien kritis. Pengetahuan mengenai farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik merupakanfaktor yang esensial karena penentuan dosis antibiotik berkaitan dengan keluaran pasien kritis. Perubahan padavolume of distribution dan clearance antibiotik pada pasien kritis mungkin berefek pada target konsentrasi obatdalam serum. Hal ini menjadi bukti bahwa parameter pharmacokinetics (PK)/pharmacodynamics (PD) berperanterhadap efek obat yang terkait dengan keluaran pasien dan resistensi. Kata kunci: Antibiotik, farmako dinamik, farmako kinetik, ICU, pasien kritis The discovery of new types of antibiotic resistance offset by the discovery of bacteria to multiple drugs. In general,antibiotics are divided into three groups based on the spectrum shape, and the bactericidal effect. Antibiotictherapy for critically ill patients is a concern in the world due to the high mortality and morbidity. Aspects of theeffectiveness of therapy remains a concern due to the increasing needs of the ICU. Pemilihian infection controland appropriate antibiotic is a major intervention and should be a priority in the management of patients in criticalcondition. Knowledge of the pharmacokinetics (PK) and pharmacodynamics (PD) of antibiotics is essential todetermine the doses of antibiotics related to production factor of critically ill patients. Changes in the volumeof distribution and clearance of antibiotics in critically ill patients may have an effect on a target serum drugconcentrations. This is proof that the PK/PD parameter contribute to the effects associated with the drug and theoutput resistance of the patient. Key words: Antibiotic, Critical patients, ICU, pharmacodynamis, pharmacokinetis Reference Davies, JD. Origins and Evolution of Antibiotic Resistance. Microbiology and Molecular Biology Reviews, 2010;74(3): 417–33. Waksman, SA. What is an Antibiotic or an Antibiotic Substance?. Mycoglia. 1947; 39(5):565–9. Bruton, LL., Chabner AB., &amp; Knollmann CB. Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics, 12th ed. California: McGraw-Hill Education, 2010. Aminov, RI. A Brief History of the Antibiotic Era: Lessons Learned and Challenges for the Future. Frontier in Microbiology. 2010;1(134). Davies, J. &amp; Davies D. Origins and Evolution of Antibiotic Resistance. Microbiology and Molecular Biology Review.2010;74(3). Saga, T. &amp; Yamaguchi, K. History of Antimicrobial Agents and Resistant. Research and Reviews.2009;52(2). Kohanski MA, Dwyer DJ, Collins JJ. How Antibiotics Kill Bacteria: from Target to Network. Microbiology.2010;8(1). Mitchigan State University. Antimicrobial Resistence Learnig Site Pharmacology. 2011, Diakses pada 28 Oktober 2015 dari: http://amrls.cvm.msu.edu . Roberts, JA. &amp; Jeffrey L. Pharmacokinetic Issues for Antibiotics in the Critically Ill Patient. Continuing Medical Education Article: Concise Definite Review. 2009;37(3):540–51. McKellar, QA., SF. Sanchez Bruni, &amp; DG. Jones. Pharmacokinetic/Pharmacodynamic Relationship of Antimicrobial Drugs Used in Veterinary Medicine. Journal of Veterinary Pharmacology and Therapeutics. 2004;27:503–14. Finberg, RW. &amp; Guharoy R. Clinical Use of Anti-infective Agents: A Guide on How to Prescribe Drugs Used to Treat Infections. Springer Science &amp; Business Media, LLC. 2012. p. 5–13 Maramba-Lazarte, CC. Determining Correct Dosing Regimens of Antibiotics Based on the Their Bacterial Activity. Pediatric Infectious Disease Society of the Philippines Journal, 2010;11(2):44–9. Levison, ME. &amp; Levison JH. Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of Antibacterial Agent. Infectious Desease Clinical North America, 2009;24(3):791–830. Bennet, PN. Brown, MJ. Clinical Phamacology, 9th ed. Spain: Elvisier, 2003.
Weil’s Disease dengan Perdarahan Pulmonal Harly, Patra Rijalul; Sitanggang, Ruli Herman; Maskoen, Tinni T.
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis adalah zoonosis akibat leptospira yang banyak ditemukan di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi. Manifestasi klinis bervariasi mulai dari penyakit yang self-limited dengan tanda dan gejala yang tidak spesifik, meningitis aseptik benigna, Weil’s disease (ikterus, disfungsi renal, dan perdarahan), hingga perdarahan pulmonal yang memiliki mortalitas tinggi. Seorang laki – laki 18 tahun datang ke unit gawat darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin pada bulan Juni 2016 dengan Weil’s disease yang disertai perdarahan pulmonal. Terjadi kegagalan fungsi organ multipel yang memberat, sehingga dikonsulkan ke ICU pada hari ke 2 perawatan di rumah sakit. Didapatkan APACHE II Score 17 dengan prediksi mortalitas 25% pada saat masuk ICU. Kegagalan fungsi organ yang didapatkan adalah respirasi (P/F Ratio 52,6), ginjal (Kreatinin 5,36mg/dL), dan hati (bilirubin total 26,26 mg/dL). Diagnosis leptospirosis ditegakkan dengan skor Modified Faine Criteria 31. Manajemen di ICU pada pasien ini dilakukan dengan ventilasi mekanis, hemodialisis, meropenem dan methylprednisolone. Kortikosteroid diberikan mengingat patofisiologi leptospirosis yang diperkirakan akibat reaksi autoimun. Terjadi perbaikan pada fungsi respirasi (P/F Ratio 445), ginjal (Kreatinin 0,52/dL), dan hati (bilirubin total 10,76 mg/dL). Pasien diekstubasi pada hari ke 7 perawatan di ICU dan pindah ke ruang perawatan pada hari ke 8 perawatan di ICU. Kata kunci: Weil’s disease, Perdarahan Pulmonal, Methylprednisolone Weil’s Disease with Pulmonary HemorrhageLeptospirosis is a zoonosis caused by leptospira spp. mainly found in high rainfall tropical area. Clinical manifestation greatly varies from self limited non specific disease, benign aseptic meningitis, Weil’s disease (jaundice, acute kidney injury, and hemorrhage), to a highly lethal pulmonary hemorrhage. An 18 years old male came to the Dr. Hasan Sadikin Hospital emergency department on June 2016, diagnosed as Weil’s disease with pulmonary hemorrhage. He has a worsening multiple organ failure, and consulted to the ICU at the 2nd day of hospitalization.Apache II score at ICU admission is 17 with predicted mortality 25%. Organ failure at ICU admission were respiration (P/F Ratio 52,6), kidney (Creatinine 5,36mg/dL), and liver (Total Bilirubin 26,26 mg/dL). Diagnosis of leptospirosis is made based on Modified Faine Criteria score of 31. ICU management consist of menchanical ventilation, hemodialysis, meropenem, and methylprednisolone. Rationale of corticosteroid administration is due to pathophysiology of leptospirosis, which is believed to be related to an autoimmune process. Respiration function (P/F Ratio 445), kidney function (Creatinine 0,52/dL), and liver function (Total Bilirubin 10,76 mg/dL)were resolved. Patient was extubated on the 7th day after ICU admission, and discharged to the ward on the 8th day after ICU admission. Key words: Weil’s disease, Pulmonary Hemorrhage, Methylprednisolone
Glasgow Coma Scale dalam Memprediksi Outcome pada Pasien dengan Penurunan Kesadaran di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo S, Achmad Afif; Fuadi, Iwan; Maskoen, Tinni T.
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 32 No 1 (2014): Februari
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ventilator associated pneumonia (VAP) merupakan Hospital associated pneumonia (HAP) yang paling sering terjadi di intensive care unit (ICU). Salah satu strategi pencegahan terjadinya VAP yang termasuk dalam VAP bundle adalah penghisapan sekret subglotis dengan menggunakan pipa endotrakea dengan drainase sekret subglotis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan pipa endotrakea dengan drainase sekret subglotis terhadap angka kejadian VAP di ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian dilakukan dengan uji acak tersamar tunggal terhadap 26 subjek yang menggunakan ventilator lebih dari 48 jam di ICU RSHS Bandung. Setelah dilakukan randomisasi secara blok permutasi, subjek penelitian dikelompokan menjadi dua, yaitu 13 subjek kelompok kontrol menggunakan pipa endotrakea standar dan 13 subjek kelompok perlakuan menggunakan pipa endotrakea dengan drainase sekret subglotis. Sekret subglotis dihisap setiap 2 jam dan tekanan balon pipa endotrakea diperiksa setiap 4 jam. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik yaitu uji independent t, Uji Mann Whitney dan uji chi kuadrat, di mana nilai p&lt;0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok perlakuan terhadap kejadian VAP (p=0,033), dimana kejadian VAP lebih sedikit pada kelompok yang menggunakan pipa endotrakea dengan drainase subglotis (0%) dibandingkan dengan kelompok yang menggunakan pipa endotrakea standar (23,1%). Simpulan dari penelitian ini adalah penggunaan pipa endotrakea dengan drainase sekret subglotis dapat menurunkan kejadian VAP di ICU RSHS Bandung. Kata kunci: Drainase sekret subglotis, pipa endotrakea, ventilator associated pneumonia The Influence of Endotracheal Tube with Subglottic Secretion Drainage on Ventilator Associated Pneumonia In Intensive Care Unit Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung Ventilator associated pneumonia (VAP) is the most common Hospital associated pneumonia in Intensive Care Unit (ICU). One of the strategies to prevent occurence of VAP that is part of the VAP bundle is suctioning of subglottic secretion using special endotracheal tube with subglotic secretion drainage. The aim of this study is to know the influence of using endotracheal tube with subglottic secretion drainage to the incidence of VAP in ICU RSHS Bandung. This is a single-blind randomized study involving 26 patients who use ventilator for more than 48 hours in ICU RSHS Bandung. After permuted block randomization, the subjects were divided into two groups, 13 subjects in the control group whom are using standard endotracheal tube and 13 subjects in the group whom are using endotracheal tube with subglottic secretion drainage. Subglottic secretion is drained every two hours and the pressure of the endotracheal tube cuff is checked every four hours. The result of this study is analyzed using various statistical tests, including independent t test, Mann Whitney and Chi Square test, where p value &lt;0.05 is considered significant. Statistical analysis shows that there is a significant difference between two groups in the incidence of VAP (p=0.033) where incidence of VAP is less in the group using endotracheal tube with subglotic drainage (0%) in comparison to the group using standard endotracheal tube (23.1%). The conclusion of this study is that endotracheal tube with subglottic secretion drainage can decrease incidence of VAP in ICU RSHS Bandung. Key words: Endotracheal tube, subglotic secretion drainage, ventilator associated pneumonia&nbsp;
AREA UNDER THE CURVE DAN AKURASI CYSTATIN C UNTUK DIAGNOSIS ACUTE KIDNEY INJURY PADA PASIEN POLITRAUMA Maskoen, Tinni T.; Purnama, Djaya
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.214 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n4.1342

Abstract

Pasien yang mengalami cedera dengan Injury Severity Score (ISS) >16 didefinisikan sebagai politrauma. Pada politrauma terjadi hipoksia jaringan, autoregulasi terganggu, mikrosirkulasi glomerulus, cedera sel tubular serta proses inflamasi yang apabila tidak diatasi secara adekuat dapat menyebabkan acute kidney injury (AKI). Saat ini diagnosis AKI berdasar atas kenaikan kreatinin serum yang terdeteksi setelah terjadi kerusakan ginjal. Cystatin C merupakan penanda biologis yang dapat mendeteksi AKI. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai area under the curve (AUC) dan akurasi cystatin C untuk diagnosis AKI pada pasien politrauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian uji diagnostik ini dengan analisis data sekunder pada sebagian data penelitian Academic Leadership Grant (ALG) pasien politrauma di IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari?Juni 2017. Analisis data menggunakan kurva receiver operating characteristic (ROC) dengan program statistical product and service solution (SPSS)versi 24.0 for windows. Hasil penelitian dari 23 sampel menunjukkan pada cut-off point 354,97 ng/mL cystatin C plasma memiliki sensitivitas 100%, spesifisitas 88,9%, nilai duga positif 71,4%; nilai duga negatif 100%; nilai AUC 0,967; dan akurasi 91,3%. Simpulan penelitian ini adalah nilai AUC dan akurasi cystatin C memberikan hasil yang baik dalam diagnosis AKI pada pasien politrauma.Kata kunci: Acute kidney injury, akurasi, cystatin C, nilai AUC, politrauma Area Under the Curve and Cystatin C Accuracy for Acute Kidney Injury Diagnosis in Polytrauma PatientsPatients experiencing injuries with an Injury Severity Score (ISS) of >16 are defined as polytrauma patients. Polytrauma can cause hypoxia, disruption of autoregulation, glomerular microcirculation, tubular cell injury, and inflammation processes that, without adequate treatment, may lead to acute kidney injury (AKI). The current diagnosis of AKI is based on the elevated serum creatinine that can be detected after kidney damage. Cystatin C is a biomarker that can detect AKI. The aim of this study was to determine the value of area under the curve (AUC) and accuracy of cystatin C for diagnosing AKI in polytrauma patients in the Emergency Room (ER) of Dr. Hasan Sadikin Bandung. A diagnostic test study using secondary data  from theAcademic Leadership Grant (ALG) study onpolytrauma patients in the ER of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, from January 2017?June 2017 was performed. Data was analyzed using the receiver operating characteristic (ROC) curve with statistical product and service solution (SPSS) version 24.0 for windows. Results from 23 samples showed that the cut off point of plasma cystatin C was 354.97ng/mL with a sensitivity of 100.0%, specificity of 88.9%, positive predictive value of 71.4%, negative value of 100.0%, AUC value of 0.967 and accuracy of 91.3%. Hence, the AUC values and cystatin C accuracy present  good results for diagnosing AKI in polytrauma patients.Key words: Accuracy, acute kidney injury, cystatin C, the value  of AUC, polytrauma