Setiya Utari
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry with Reading Infusion untuk Mengidentifikasi Perkembangan Kompetensi Literasi Saintifik Siswa SMA pada Materi Alat Optik Zahra Raudi Maulidia; Saeful Karim; Setiya Utari; Duden Saepuzaman; Muhamad Gina Nugraha; Eka Cahya Prima
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.361 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20114

Abstract

Kompetensi literasi saintifik dipandang sebagai kompetensi yang perlu dimiliki dalam menghadapi tantangan di abad 21, kompetensi literasi saintifik ini dimaknai sebagai pengetahuan dan cara-cara saintifik yang digunakan untuk menyelidiki suatu permasalahan serta pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan kompetensi literasi saintifik ini dipandang belum dimiliki siswa karena adanya kesulitan guru melatihkan kompetensi literasi saintifik melalui proses inquiry, karena siswa tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Inquiry merupakan langkah yang di pandang sesuai untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik karena memiliki tahapan yang sistemasis dan terstruktur yang alamiah dalam kaitannya untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik. Dan dengan tambahan tugas awal berupa reading infusion diharapkan dapat menjadi informasi pendukung dalam proses inquiry di dalam kelas. Sehingga melalui pembelajaran Inquiry with Reading Infusion diharapkan dapat memfasilitasi untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik. Kompetensi literasi saintifik yang dilatihkan meliputi menjelaskan fenomena ilmiah, mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti ilmiah. Penelitian pre-experimental designs dengan bentuk one group pre-test post-test design menggunakan populasi di salah satu sekolah negeri di Bandung sebanyak 257 siswa dengan sampel 30 siswa yang diperoleh dengan teknik cluster random sampling. Untuk melihat perkembangan kompetensi literasi saintifik ini dianalisis berdasarkan jawaban LKS dengan kategori peningkatan merujuk rubrik yang di kembangkan oleh Lati  W.  Hasil penelitian menunjukkan  pada aspek menjelaskan fenomena ilmiah meningkat lebih baik dibanding aspek lainnya, meskipun dalam prosesnya penggunaan inquiry ini dominasi guru masih lebih kental. Sehingga perlu dipikirkan lagi langkah yang lebih fokus dalam melatihkan kedua aspek kompetensi literasi saintifik lainnya.Kata Kunci:  Inquiry; Kompetensi literasi saintifik; Reading Infusion.  ABSTRACT Scientific literacy competence is the competence that need to be looked at as belonging in the face of challenges in the 21st century, this meant scientific literacy competence as knowledge and scientific methods are used to investigate a issue and decision making over a problem. The results showed the scientific literacy competence is viewed not yet owned by the students due to the difficulty of the teacher in teaching scientific literacy competency through the inquiry process, because students did not have sufficient knowledge. Inquiry is a step that is appropriate for the trained point of view on scientific literacy competence since it has a step that systematic and structured in relation to trained scientific literacy competence. And with the additional task of beginning reading infusion is expected to be supportive in the process of inquiry in the classroom. So that through learning Inquiry with Reading Infusion is expected to facilitate to train scientific literacy competencies. Scientific literacy competency training includes explaining scientific phenomena, evaluate and design of scientific research, and interpret the data and scientific evidence. This research uses the pre-experimental designs with one group pre-test post-test design, using population in one of the public schools in Bandung as many as 257 students with samples of 30 students who obtained by cluster random sampling technique. To see the development of scientific literacy competence is analyzed based on student worksheet with answer categories increased refer a rubric developed by Lati W. The results showed on the aspect of scientific phenomena explained increased better than any other aspect, although in the process of the use of this inquiry the dominance of teachers still more viscous. So it needs to be thought through again the steps more focus in trained both aspects of other scientific literacy competency.Keywords: Scientific literacy competence; Inquiry; Reading Infusion
Pengembangan Model Penilaian Eksperimen Menggunakan Socio-Assessment pada Pembelajaran IPA (Fisika) di SMP Duden Saepuzaman; Setiya Utari; Muhamad Gina Nugraha; Saeful Karim; Raden Giovanni
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 1 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.218 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i1.15725

Abstract

Socio-assessment adalah penilaian proses pendidikan dari perspektif sosiologi yang  meliputi beberapa hal, diantaranya: pola umum kehidupan sosial siswa  (selama berlangsungnya proses belajar  ataupun setelah mengalami belajar), cara berpikir dan bertindak siswa di pengaruhi oleh bagaimana pihak guru memperlakukannya, prilaku siswa juga dipengaruhi oleh interaksi sosial siswa baik dilingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah,  pada akhirnya siswa akan  termarginalkan setelah menempuh pendidikan untuk mendapatkan   perubahan status sosial yang diinginkan. Studi ini difokuskan pada bagaimana keterlaksanaan, rubrik penilaian dan temuan pada saat pelaksanaan eksperimen IPA (Fisika) pada beberapa materi yang telah dilakukan di beberapa sekolah menengah pertama. Tinjauan temuan mulai dari observasi kelas melihat bagaimana guru dan siswa mengalami interaksi sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran sampai pada menganalisis hasil temuan (refleksi) untuk membangun masyarakat belajar yang lebih baik. Penelitian akan menghasilkan model eksperimen dan model penilaian yang dipandang dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa dalam kemampuan bereksperimen. metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (RD). Populasi yang digunakan adalah peserta didik SMP di beberapa  sekolah yang berbeda dengan masing-masing kelas melakukan eksperimen dengan judul yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukan masih perlu adanya upaya tidakan guru selama proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada temuan proses pembelajaran baik yang langsung maupun yang tertulis dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Sebagai contoh untuk aspek observasi, Sebagian siswa menuliskan hasil observasinya tidak benar-benar berdasarkan apa yang diamati menggunakan panca indra mereka, melainkan sudah menyinggung materi-materi IPA Fisika berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki masing-masing siswa. Selain itu, siswa belum secara optimal mengungkapkan semua data yang diobservasi.Sebagai upaya tindakan guru dengan cara Mengembangkan pertanyaan arahan untuk melakukan pengamatan berkaitan dengan data yang dapat diobservasi jangan biarkan siswa terlalu menggunakan pengetahuannya untuk mengungkapkan hal yang diobservasi, hal ini penting agar kemampuan observasinya terlatihkan. Kata Kunci: sosio-assesment, penilaian, kemampuan eksperimen ABSTRACT Socio-assessment is an assessment of the educational process from a sociological perspective which includes several things, including: general patterns of student social life (during the learning process or after experiencing learning), students' ways of thinking and acting influenced by how the teacher treats them, student behavior by the social interaction of students both in the school environment and outside the school environment, in the end students will be marginalized after taking education to get the desired change in social status. This study focused on how the implementation, assessment and finding rubrics were carried out during the implementation of the Science (Physics) experiment on some material that had been carried out in several junior high schools. An overview of findings starting from class observations looks at how teachers and students experience social interactions to achieve learning objectives until analyzing findings (reflection) to build a better learning community. Research will produce experimental models and assessment models that are seen to provide meaningful experiences for students in their ability to experiment. The research method used is research and development (R D). The population used was junior high school students in several different schools with each class conducting experiments with different titles. The results of the study show that there is still a need for teacher action during the learning process. This is based on the findings of the learning process both directly and in writing on the Student Worksheet (LKS). For example for the aspect of observation, some students write down the results of their observations not really based on what is observed using their five senses, but have already touched on the material of Science Physics based on the initial knowledge that each student has. In addition, students have not optimally revealed all observed data. As a teacher's action effort by developing referral questions to make observations relating to observable data, do not allow students to use their knowledge to express observations, this is important so that their observational abilities are trained Kata Kunci: sosio-assesment, assesment, experiment skills
Profil Keterampilan Abad 21 (4C’s) Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor Melalui Model Project Based Learning (PjBL) Ating Herawati; Didi Teguh Candra; Agus Jauhari; Setiya Utari
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.858 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20183

Abstract

Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui profil keterampilan abad ke-21 (4C’s) siswa SMA pada materi suhu dan kalor dan pada pembelajaran Project Based Learning (PjBl). Penelitian menggunakan populasi siswa kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Cimahi  dengan jumlah sampel 62 orang yang di pilih secara random clauster. Profill keterampilan abad ke-21 yang diamati meliputi keterampilan berpikir kritis (critical thnking), keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), keterampilan komunikasi (communication) dan keterampilan kolaborasi (collaboration). Profil keterampilan abad ke-21 tersebut diperoleh melalui observasi berdasarkan lembar observasi oleh observer yang telah dilatih terlebih dahulu dan LKS sebagai penunjuk arah bagi siswa selama kegiatan pembelajaran. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada keterampilan critical thinking terdapat 51% siswa berada pada kategori “mendekati standar” , untuk keterampilan  kreativitas dan inovasi (creativity and innovation) terdapat 40% siswa berada pada kategori  mendekati standar”, dan keterampilan komunikasi (communication) terdapat 59% siswa berada pada kategori “mendekati standar” sedangkan untuk keterampilan kolaborasi (collaboration) terdapat 64% siswa berada pada kategori “sesuai standar”. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan abad 21 (4C’s) sudah muncul dan dimiliki oleh siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation) siswa pada pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan materi Suhu dan Kalor masih perlu dioptimalkan.terutama untuk keterampilan berpikir kritis  (critical thinking) , keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), dan keterampilan komunikasi (communication). Kata Kunci :  Keterampilan abad 21 (4C’s), Model Project Based Learning (PjBL) ABSTRACT This quantitative descriptive study aims to determine the profile of 21st century skills (4Cs) of high school students in the material of temperature and heat and in learning Project Based Learning (PjBl). The study used a population of class XI students in one of the Public High Schools in Cimahi City with a sample of 62 people selected by random clauster sampling. The professions of the 21st century skills observed include critical thinking skills, creativity and innovation skills (creativity and innovation), communication skills and collaboration skills. The profile of 21st century skills is obtained through observation based on the observation sheet by observers who have been trained in advance and LKS as a guide for students during the learning activities. The results of data analysis show that in skill critical thinking there are 51% of students in the category of "approaching standards", for creativity and innovation skills there are 40% of students in the category “approaching standard "and communication skills there are 59 % of students are in the category of "approaching standard" while for collaboration skills there are 64% of students in the category " at standards". Based on these data shows that 21st century skills (4Cs) have emerged and are owned by students. This shows that students' creativity and innovation skills in Project Based Learning (PjBL) with Temperature and Heat material still need to be optimized. Especially for critical thinking skills, creativity and innovation skills. and communication skills. Keywoard  : 21st century skills (4Cs), Project Based Learning (PjBL)