Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

REVIEWING AL-QAEDA'S INFILTRATION IN INDONESIA: A HISTORICAL REFLECTION Sahrasad, Herdi; Syukur, Yanuardi; Tabrani, Dedy; Chaidar, Al
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 27, No 2 (2019)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.27.2.3739

Abstract

Al-Qaeda's infiltration into the Southeast Asian region is inseparable from the existence of Jamaah Islamiyah (JI). Some Jamaah Islamiyah cadres are veterans of the Afghanistan War. Historically Al-Qaeda under the leadership of Osama Bin Laden has trained the military skills of Jamaah Islamiyah cadres to help the Afghan jihadists fight Soviet communism until the Soviets defeated and left Afghanistan. Then Al-Qaeda succeeded in entering Indonesia through the Jamaah Islamiyah network and its cells in Southeast Asia by mobilizing key actors and radical actions. In Indonesia, Jamaah Islamiyah with the support of Al-Qaeda succeeded in carrying out a series of bomb attacks including Bali Bomb (2002), Kuningan Bomb (2004), JW Marriot and Ritz-Carlton Bomb Jakarta (2009). The strategy of the Al-Qaeda movement in Indonesia does not appear openly by forming an underground organization (clandestine). Its existence exists but in the form of a Formless Organization (OTB) for the security of its organization. Their infiltration through these networks has succeeded in bringing in their radical ideology and movements in Indonesia in particular and in the Southeast Asian region in general.
Reviewing Al-Qaeda's Infiltration in Indonesia: A Historical Reflection Sahrasad, Herdi; Syukur, Yanuardi; Tabrani, Dedy; Chaidar, Al
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 27, No 2 (2019)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.27.2.3739

Abstract

Al-Qaeda's infiltration into the Southeast Asian region is inseparable from the existence of Jamaah Islamiyah (JI). Some Jamaah Islamiyah cadres are veterans of the Afghanistan War. Historically Al-Qaeda under the leadership of Osama Bin Laden has trained the military skills of Jamaah Islamiyah cadres to help the Afghan jihadists fight Soviet communism until the Soviets defeated and left Afghanistan. Then Al-Qaeda succeeded in entering Indonesia through the Jamaah Islamiyah network and its cells in Southeast Asia by mobilizing key actors and radical actions. In Indonesia, Jamaah Islamiyah with the support of Al-Qaeda succeeded in carrying out a series of bomb attacks including Bali Bomb (2002), Kuningan Bomb (2004), JW Marriot and Ritz-Carlton Bomb Jakarta (2009). The strategy of the Al-Qaeda movement in Indonesia does not appear openly by forming an underground organization (clandestine). Its existence exists but in the form of a Formless Organization (OTB) for the security of its organization. Their infiltration through these networks has succeeded in bringing in their radical ideology and movements in Indonesia in particular and in the Southeast Asian region in general.
Al-Qaeda’s New Orientation After the Death of Osama bin Laden Siti Fatimah; Yanuardi Syukur
Jurnal Studi Sosial dan Politik Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Studi Sosial dan Politik
Publisher : FISIP Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jssp.v3i2.4390

Abstract

After the death of Osama Bin Laden and the declaration of the establishment of the Islamic State in Iraq and Syria (ISIS), the Al-Qaeda movement changed from being aggressive to being passive. The aggressiveness of the Al-Qaeda movement, for instance, was seen during the spectacular terror of 9/11, which was then followed by various actions carried out by followers in various parts of the world. However, Bin Laden's death and the rise of the ISIS group made Al-Qaeda look passive. This paper seeks to see the history of the Al-Qaeda movement to the dynamics that influence the movement’s choices. The author found that changing Al-Qaeda's orientation from aggressive to passive did not deny the existence of a consolidated movement that deliberately distanced itself from the anti-terrorism campaign carried out by the United States.
Reviewing Al-Qaeda's Infiltration in Indonesia: A Historical Reflection Herdi Sahrasad; Yanuardi Syukur; Dedy Tabrani; Al Chaidar
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 27, No 2 (2019)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.27.2.3739

Abstract

Al-Qaeda's infiltration into the Southeast Asian region is inseparable from the existence of Jamaah Islamiyah (JI). Some Jamaah Islamiyah cadres are veterans of the Afghanistan War. Historically Al-Qaeda under the leadership of Osama Bin Laden has trained the military skills of Jamaah Islamiyah cadres to help the Afghan jihadists fight Soviet communism until the Soviets defeated and left Afghanistan. Then Al-Qaeda succeeded in entering Indonesia through the Jamaah Islamiyah network and its cells in Southeast Asia by mobilizing key actors and radical actions. In Indonesia, Jamaah Islamiyah with the support of Al-Qaeda succeeded in carrying out a series of bomb attacks including Bali Bomb (2002), Kuningan Bomb (2004), JW Marriot and Ritz-Carlton Bomb Jakarta (2009). The strategy of the Al-Qaeda movement in Indonesia does not appear openly by forming an underground organization (clandestine). Its existence exists but in the form of a Formless Organization (OTB) for the security of its organization. Their infiltration through these networks has succeeded in bringing in their radical ideology and movements in Indonesia in particular and in the Southeast Asian region in general.
Open Booking Online (BO): Prostitusi di Facebook dalam Tinjauan Antropologi Simbolik Yanuardi Syukur
Jurnal Studi Pemuda Vol 3, No 2 (2014): EDISI KHUSUS: Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Anak Muda
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.337 KB) | DOI: 10.22146/studipemudaugm.32025

Abstract

Artikel ini mencoba membahas tentang pekerja seks online di grup Facebook dari perspektif antropologi simbolik. Ada dua hal yang dibahas dalam perspektif ini, yaitu identitas dalam dunia maya dan kebudayaan simbolik yang ditemukan dalam kiriman status-status di dinding grup Facebook seperti pesan Open Booking yang berarti bisa dipesan untuk transaksi seks. Kebudayaan simbolik ini dipahami bersama oleh anggota komunitas (grup) yang biasa menyebut dirinya dengan istilah Wanita Panggilan (WP) dan melahirkan interaksi sosial-ekonomi di dunia maya. Dalam artikel ini juga dijelaskan tentang foto profil pekerja seks yang asli dan tidak asli, cara promosi, sistem pembayaran, dan menjaga pelanggan yang dipraktikkan oleh pekerja seks, setidaknya dapat dilihat status-status dan komentar sebagai simbol dalam kajian ini.Kata kunci: prostitusi di Facebook, open booking (BO), antropologi simbolik.
Etos Politik Manusia Modern Yanuardi Syukur
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.534 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v1i2.814

Abstract

Fenomena politik Indonesia tidak bisa menyelesaikan jika tidak belajar dalamperspektif etos politik. Indonesia sering dianggap sebagai bagian dari timur yanglemah lembut, membantu-orang, tetapi di sisi lain beberapa penelitian tentang etoskepribadian Indonesia yang diprediksi oleh Mochtar Lubis pada tahun 1977 jawab atas tindakan, keputusan, meskipun, dan lain-lain, 3. semangat feodalisme yangdiwujudkan dalam perilaku feodalisme, 4) percaya pada takhayul, artistik, dan 5) lemahdalam karakter. Versi Mochtar Lubis tentang karakteristik dasar dari Indonesia masihperlu dipelajari dan bahkan diperdebatkan, karena orang bisa berubah kapan saja.Psikolog, Sarlito Wirawan Sarwono menyebutkan beberapa karakteristik lebih tepatsebagai “profil kepribadian”, sementara itu di bidang antropologi, karakteristik bisadisebut sebagai “etos” atau “sifat khusus” dari sebuah komunitas sebagai studi RuthBenedict (1962) tentang etos dalam Pola buku berjudul Kebudayaan.Penelitian ini mencoba untuk menganalisis pemikiran Mochtar Lubis pada tahun 1977yang pada beberapa bagian masih menunjukkan tentang kesamaan dan berhubungandengan orang-orang bagaimana Indonesia berdasarkan antropolog Koentjaraningrat.Studi perhatian dengan dua penulis ini Indonesia (wartawan senior dan seorangantropolog). Ini akan membuat tipologi tentang etos bagaimana politik masyarakatIndonesia. Dengan demikian, beberapa fenomena politik seperti “kutu loncat” dari satupihak ke pihak lain, uang korupsi secara bersamaan, tidak konsisten denganmengatakan dan tindakan (selama kampanye dan telah memenangkan pemilu) akandimengerti. Selanjutnya adalah, pengetahuan kita tentang etos politik ini akan bergunasetidaknya dalam dua hal: (1) akademik dan, (2) praktis. Secara akademis, penelitian inidiharapkan dapat menjadi referensi dan sebuah studi yang menarik di bidang sosiologipolitik, antropologi politik atau psikologi politik dan praktis penelitian ini juga bergunabagi para pembuat kebijakan di kedua pemerintah atau partai politik.
‘Kololi Kie’: Kajian Ritual Budaya Kesultanan Ternate Yanuardi Syukur
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.674 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v1i1.806

Abstract

Gam (Partai rakyat). Ritual Kololi Kie merupakan tradisi yang terjadi di sekitar gunung /pulau Ternate melalui laut. Ritual tersebut yang diadakan untuk meminta perlindungandari Allah, untuk menyelamatkan negara ini dari hal-hal buruk. Dalam tradisi ritual KololiKie ini, ada beberapa kategori niat aspek. Kategorisasi ini dibagi menjadi tiga bagianitem, yaitu: perayaan individu, kelompok dan perayaan besar lainnya dari Kesultanan.Inti dari ritual Kie Kololi adalah rasa syukur atas karunia nikmat dari Allah sebagaipencipta atau meminta perlindungan dan keselamatan dari Allah denganmelambangkan gunung Gamalama. Makalah ini membahas Kololi Kie dari perspektifkajian budaya ritual.
JEMBATAN SATU JARI: MUSLIM EXCHANGE PROGRAM DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI KOGNITIF Yanuardi Syukur
Humano: Jurnal Penelitian Vol 7, No 1 (2016): Periode Juni
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.686 KB) | DOI: 10.33387/humano.v7i1.295

Abstract

ABSTRAK. Program pertukaran Muslim Indonesia-Australia mempunyai suatu visi untuk membangun kontak antara penduduk kedua negara Indonesia dan Australia. Pada aktifitas ini, para peserta mendapat keuntungan pengalaman langsung untuk bekunjung dan berdiskusi dengan banyak masyarakat di kedua negara itu. Tulisan ini ingin mengambarkan bagaimana peserta program pertukaran Muslim Indonesia-Australia melihat Australia dalam banyak prespektif. Selanjutnya, menganalisa banyak alumni program pertukaran Muslim Indonesia-Australia yang berpengalaman dengan pendekatan  antopologi kognitif berdasarkan penting untuk mengetahui apa pengaruh pada program itu untuk alumni Indonesia.Kata Kunci:  Program Pertukaran Muslim, Antropologi Kognitif, Hubungan Australia-IndonesiaABSTRACT.Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (MEP) has a vision to establish contacts between people for both Australia and Indonesia. In this activity, participants gain direct experience of visiting and dialogue with the various multicultural communities in both countries. This paper wants to describe how MEP participants from Indonesia see Australia in a various perspectives. Furthermore, analasying some MEP’s alumni experience bycognitive anthropology based on important to know what the the impact of MEP program to the Indonesian alumni. Keywords: MEP, Cognitive Anthropology, Indonesia-Australia Relationship
Open Booking Online (BO): Prostitusi di Facebook dalam Tinjauan Antropologi Simbolik Yanuardi Syukur
Jurnal Studi Pemuda Vol 3, No 2 (2014): EDISI KHUSUS: Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Anak Muda
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/studipemudaugm.32025

Abstract

Artikel ini mencoba membahas tentang pekerja seks online di grup Facebook dari perspektif antropologi simbolik. Ada dua hal yang dibahas dalam perspektif ini, yaitu identitas dalam dunia maya dan kebudayaan simbolik yang ditemukan dalam kiriman status-status di dinding grup Facebook seperti pesan Open Booking yang berarti bisa dipesan untuk transaksi seks. Kebudayaan simbolik ini dipahami bersama oleh anggota komunitas (grup) yang biasa menyebut dirinya dengan istilah Wanita Panggilan (WP) dan melahirkan interaksi sosial-ekonomi di dunia maya. Dalam artikel ini juga dijelaskan tentang foto profil pekerja seks yang asli dan tidak asli, cara promosi, sistem pembayaran, dan menjaga pelanggan yang dipraktikkan oleh pekerja seks, setidaknya dapat dilihat status-status dan komentar sebagai simbol dalam kajian ini.Kata kunci: prostitusi di Facebook, open booking (BO), antropologi simbolik.
Transformasi Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas pada Komunitas Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di Indonesia Yanuardi Syukur
Misykat al-Anwar Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Islamic Studies, University of Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4089.66 KB) | DOI: 10.24853/ma.2.2.%p

Abstract

The transformation of intellectual thought from Malaysia, Syed Al-Attas in Indonesia, was carried out massively by young intellectuals who were members of the Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) who had been students of Al-Attas in Kuala Lumpur, Malaysia. In the transformation of this point of view, the INSISTS Community became a controlling actor (act) in controlling the network of the spread of Al-Attas ideas which was carried out using technology in a network based on the similarity of ideas and thoughts. The role of INSISTS as an actor in this transformation makes this community an act in terms of the transformation of Al-Attas thinking in Indonesia.