Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

INCLUSIVE PARADIGM –RELIGION PLURALISM ON AL-QURAN PERSPECTIVE (QS. al-Baqarah/2: 136-137 & QS. Ali Imran/3: 64 Analysis) Maulasa, Aisma; Rahman, M. Gazali
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.673 KB)

Abstract

This writing is discussing Alquran perspective about the attitude which should be owned by every Moslem in facing religion pluralism as something is possible and factual. By doing deep analysis on QS AlBaqarah /2: 136-137 and QS Ali Imran /3: 64, it is clear that pluralism is factual and be sunnatulah which should be exclaimed its truth. The three verses are also claim five ideal forms which should be had and implemented by all Moslem in regulating their interaction with other religion followers. As the biggest inspiration of a Moslem, then the finding meaning on Alquran verses will minimalize even erupt all exclusive paradigm on religion which for long time constraint the harmony of religion relationship. Exclusive religion bears, because there is misunderstanding and less of understanding about Alquran verses. ----------Tulisan ini menyorot pandangan Alquran tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dalam menyikapi pluralitas agama sebagai sesuatu yang niscaya dan faktual. Melalui analisis mendalam terhadap QS. al-Baqarah/2: 136-137 dan QS. Ali Imran/3: 64, tampak jelas fakta pluralitas sebagai sunnatullah yang harus diakui keberadaannya. Ketiga ayat tersebut juga menegaskan lima bentuk sikap ideal yang harus dimiliki dan diimplementasikan oleh setiap muslim dalam menata interaksinya dengan penganut agama lain. Sebagai sumber inspirasi terbesar seorang muslim, maka penyingkapan makna di balik ayat-ayat Alquran tersebut akan meminimalisir bahkan mengikis habis sikap ekslusivis beragama yang selama ini telah memasung keharmonisan hubungan antaumat beragama, sebab lahirnya sikap ekslusivis beragama tidak terlepas dari adanya miss understanding dan kedangkalan pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran.
INCLUSIVE PARADIGM –RELIGION PLURALISM ON AL-QURAN PERSPECTIVE (QS. al-Baqarah/2: 136-137 & QS. Ali Imran/3: 64 Analysis) Maulasa, Aisma; Rahman, M. Gazali
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): Al-Ulum December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.736 KB)

Abstract

This writing is discussing Alquran perspective about the attitude which should be owned by every Moslem in facing religion pluralism as something is possible and factual. By doing deep analysis on QS AlBaqarah /2: 136-137 and QS Ali Imran /3: 64, it is clear that pluralism is factual and be sunnatulah which should be exclaimed its truth. The three verses are also claim five ideal forms which should be had and implemented by all Moslem in regulating their interaction with other religion followers. As the biggest inspiration of a Moslem, then the finding meaning on Alquran verses will minimalize even erupt all exclusive paradigm on religion which for long time constraint the harmony of religion relationship. Exclusive religion bears, because there is misunderstanding and less of understanding about Alquran verses. -----Tulisan ini menyorot pandangan Alquran tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dalam menyikapi pluralitas agama sebagai sesuatu yang niscaya dan faktual. Melalui analisis mendalam terhadap QS. al-Baqarah/2: 136-137 dan QS. Ali Imran/3: 64, tampak jelas fakta pluralitas sebagai sunnatullah yang harus diakui keberadaannya. Ketiga ayat tersebut juga menegaskan lima bentuk sikap ideal yang harus dimiliki dan diimplementasikan oleh setiap muslim dalam menata interaksinya dengan penganut agama lain. Sebagai sumber inspirasi terbesar seorang muslim, maka penyingkapan makna di balik ayat-ayat Alquran tersebut akan meminimalisir bahkan mengikis habis sikap ekslusivis beragama yang selama ini telah memasung keharmonisan hubungan antaumat beragama, sebab lahirnya sikap ekslusivis beragama tidak terlepas dari adanya miss understanding dan kedangkalan pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran.
ISLAM DAN FENIMISME Telaah Atas Teologi Feminisme Maulasa, Aisma
Al-Mizan Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Feminisme adalah penolakan terhadap segala kecenderungan sistem yang tidak adil, baik bersifat struktural maupun personal. Sebagai teori, feminisme adalah alat untuk menjelaskan akar penyebab pola relasi yang asimetri antara laki-laki dan perempuan, penyebab terjadinya penindasan terhadap perempuan, sekaligus reaksi dan perlawanan terhadap situasi yang menindas dan tidak adil terhadap perempuan. Kajian islam empirik bertolak dari situasi asumsi bahwa Islam bukan hanya sekedar dokrin, tetapi sebuah realitas yang dikontruksi secara sosial (social contructed reality) oleh para pemeluknya yang tetap berpijak pada teks. Kajian feminisme yang awalnya merupakan budaya pinjaman (culcural borrowing) dapat ditangkap sebagai rangkaian dialektika religius yang hidup dalam seluruh proses kemanusiaan. Untuk kepentingan studi dipandang perlu dibedakan antara feminisme dalam persfektif doktrin dan feminisme sebagai sebuah realitas sosial.
Hijrah anak Punk pada Komunitas Bikers Subuhan Kotamobagu Mustamin, Kamaruddin; Macpal, Sunandar; Maulasa, Aisma
Farabi Vol 19 No 2 (2022): Farabi
Publisher : LPPM IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/jf.v19i2.7582

Abstract

Street children, including punk youth, are often associated with negative social stigmas such as delinquency, deviance, and public disorder. However, this generalization does not fully capture the lived experiences of punk youth, particularly those involved in the Bikers Subuhan Community in Kotamobagu. This study aims to examine the hijrah process, the factors motivating it, and the transformation of religious behavior among punk youth after joining the community. Employing a qualitative method with a phenomenological approach, this research focuses on the subjective experiences and meanings constructed by the participants. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, involving former punk youth as primary informants, as well as community leaders and residents as supporting informants. The findings reveal that hijrah is understood as a multilayered and ongoing spiritual transformation, encompassing i‘tiqadiyah hijrah (realignment of faith and intention), fikriyah hijrah (transformation of mindset), syu‘uriyyah hijrah (shifts in preferences and lifestyles), and sulukiyyah hijrah (moral and behavioral transformation). This process unfolds gradually through personal experiences, emotional struggles, and strong community support. Analysis based on Max Weber’s theory of social action indicates that post-hijrah behavioral changes are shaped by the interplay of instrumental rationality, value-oriented rationality, traditional action, and affective action. The study concludes that hijrah among marginalized groups is not merely a symbolic change but a profound reconstruction of identity, life orientation, and social relations, contributing to the strengthening of religious commitment and community solidarity.