Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Identifikasi Potensi Permudaan Alam Di Hutan Rawa Gambut Taman Hutan Raya Orang Kayo Hitam Provinsi Jambi Pasca Kebakaran Hutan Rike Puspitasari Tamin; Maria Ulfa; Zuhratus Saleh
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i1.15136

Abstract

AbstrakRegenerasi dan restorasi hutan rawa gambut merupakan hal yang sulit terjadi secara alami. Restorasi ekosistem bukan hanya membuat tegakan baru tetapi juga harus berbasis keanekaragaman hayati lokal untuk membuat peluang berhasilnya menjadi lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data mengenai potensi permudaan alam dalam rangka regenerasi dan restorasi lahan gambut di Tahura Orang Kayo Hitam pasca kebakaran hutan. Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan, yaitu dari Maret sampai Oktober 2019 di Tahura Orang Kayo Hitam, Herbarium Fakultas Kehutanan Universitas Jambi dan Laboratorium Silvikultur dan Manajemen Universitas Jambi. Metode yang digunakan adalah kombinasi transek dengan garis berpetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 29 jenis anakan alam yang tergabung dalam 19 famili tumbuhan. Jenis yang paling dominan adalah arang-arang (Diospyros mangiayi) diikuti oleh meranti bunga (Shorea teijsmanniana) dengan Indeks Nilai Penting (INP) berturut-turut sebesar 20,10% dan 19,33%. Indeks kekayaan Margaleff D= 4,88, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener H’= 2,96 dan indeks Evennes E= 0,88. Nilai dari semua indeks menunjukkan kondisi permudaan alam yang cukup baik di Tahura Orang Kayo Hitam. Hal ini diharapkan mampu menjadi pendorong dalam restorasi ekosistem yang berbasis jenis lokal untuk masa depan hutan rawa gambut. Abstract Regeneration and restoration of peat swamp forests is a difficult thing to happen naturally. Ecosystem regeneration and restoration not only create new stands but must also be based on local biodiversity to make the chances of success even higher. The purpose of this study is to obtain data and information about the potential of seedlings for the regeneration and restoration of peatlands in Tahura Orang Kayo Hitam after forest fires. This research was conducted for 7 months from March to October 2019 with locations in Orang Kayo Hitam Tahura, Herbarium of the Faculty of Forestry at the University of Jambi and the University of Jambi's Silviculture and Management Laboratory. The most dominant types are arang-arang (Diospyros mangiayi) followed by meranti bunga (Shorea teijsmanniana) with Important Value Index (INP) respectively of 20.10% and 19.33%. Margaleff's Wealth Index D= 4, 88. The Shannon-Wiener Diversity Index shows a value of H 'of 2.96 and the Index of Evennes indicates a value of E= 0.88. The values obtained from all of the measured indices indicate the condition of natural regeneration which is quite good in Tahura Orang Kayo Hitam. This is expected to lead to local species-based ecosystem restoration for the future of peat swamp forests.
KONSERVASI TUMBUHAN OBAT KELUARGA (TOGA) DAN MANFAATNYA BAGI MASYARAKAT DESA SEKITAR KAMPUS PINANG MASAK UNIVERSITAS JAMBI Albayudi; Zuhratus Saleh; Maria Ulfa
Bio-Lectura : Jurnal Pendidikan Biologi Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/bl.v9i1.9580

Abstract

Pada era yang maju ini terjadi fenomena kembali ke alam dan kecenderungan fenomena ini terjadi di wiayah yang dekat perkotaan. Gaya hidup ini menjadi sangat strategis dalam menunjang pembangunan di masa kini dan masa mendatang. Salah satu wujudnya adalah berkembangannya kebiasaan menggunakan obat tradisional termasuk tumbuhan obat untuk mengobati beberapa penyakit yang diderita. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data dan informasi mengenai jumlah jenis dan cara penggunaan tumbuhan obat keluarga (TOGA) oleh masyarakat desa sekitar kampus Pinang Masak Universitas Jambi. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dari Bulan Agutus sampai dengan Oktober 2020 dengan lokasi di desa sekitar kampus Pinang Masak Universitas Jambi dan Herbarium Fakultas Kehutanan Universitas Jambi. Metde yang digunakan adalah survey dan wawancara kepada masyarakat desa pengelola taman TOGA. Hasil penelitian mendapatkan 52 spesies tumbuhan obat yang terkumpul dalam 33 famili tumbuhan yang semuanya ditemukan dalam taman TOGA desa sekittar kampus. Hanya satu spesies yang tumbuh liar sedangkan sisanya memang sngaja ditanam oleh masyarakat. Hasil wawancara menujukkan bahwa masyarakat pengelola taman TOGA mengetahui dan memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan obat yang mereka tanam. Secara umum dapat disimpulkan bahwa taman TOGA yang ada di sekitar kampus sangat berguna dalam konservasi tumbuhan obat sekaligus bermanfaat bagi masyarakat dan pengelolanya.
Jenis dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Suku Anak Dalam Di Taman Nasional Bukit Duabelas Maria Ulfa; Albayudi Albayudi; Mitaria Sirait
Jurnal Silva Tropika Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v3i1.7588

Abstract

Suku Anak Dalam (SAD) is a traditional tribe in Jambi Province. They live in the forest and utilize forest products including non-timber forest products (NTFPs) to meet their daily needs. One of the SAD population areas is in the Bukit Duabelas National Park (TNBD). The purpose of this study was to determine the type and economic value of NTFPs that SAD utilized to meet its economic needs in TNBD. The study was conducted in January-May 2019 in the buffer village of TNBD with the method of field observation, interviews and literature review. Respondents were determined by simple random technique while the number of respondents was determined by Slovin Technique. Data were analyzed descriptively after complete tabulation. The results showed that there were 10 types of NTFPs that were utilized economically by SAD. The highest economic value of NTFPs is Rattan with a total value of Rp. 554,887, 000 / year or with a proportion reaching 53.25% while the lowest economic value of NTFPs is Balam sap with an economic value of Rp. 1,800,000 / year with a proportion of 0.17%. From these results it can be concluded that NTFPs have enormous benefits to the SAD economy and livelihood in TNBD.