This Author published in this journals
All Journal Mediator
Dewan Redaksi MediaTor
Fikom Unisba

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Dalam otonomi daerah, tak pelak lagi pembangunan mengalami pergeseran paradigma dengan bergulirnya pembangunan partisipatif, yakni pembangunan yang dilandaskan para partisipan yang aktif dari masyarakat terendah, terutama di desa, yang dimulai dari perencanaan, rencana tindak, sumber dana dan evaluasi. Dalam pembangunan partisipatif melalui program Community Action Plan (CAP), komunikasi memegang peranan sangat penting, yaitu pada proses sosialisasi serta diskusi-diskusi yang dilakukan dalam mengidentifikasi sejumlah persoalan dan potensi, menjembatani proses kemitraan dalam mendukung program CAP, dan lain sebagainya. Dengan begitu, para sarjana komunikasi punya peran menentukan dalam menangani proyek-proyek fisik, yang selama ini kerap dipersepsi hanya merupakan lahan kerja bagi para sarjana teknik. Begitulah kira-kira kesimpulan yang hendak disodorkan Rini Rinawati dalam artikel “Komunikasi dan Pembangunan Partisipatif” yang membuka wacana kita lewat jurnal komunikasi Mediator kali ini.Perkembangan pemikiran seputar pemanfaatan dan peranan komunikasi dalam melaksanakan upaya pembangunan, sebagaimana dipersepsi Rini, memperlihatkan hubungan yang langsung dengan konsepsi yang dianut dalam merencanakan dan menafsirkan “pembangunan” itu sendiri. Sembari membangun, kita pun ternyata dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang senantiasa mewarnai perjalanan bangsa ini. Berbagai konflik, khususnya yang bernuansa etnik, muncul di mana-mana. Arkanudin tergugah untuk coba “Menelusuri Akar Konflik Antaretnik di Kalimantan Barat.” Apa sesungguhnya yang terjadi di sana? Konon, menurutnya, akar konflik antara etnik Dayak dengan etnik Madura di Kalimantan Barat berawal dari munculnya perbedaan sosial budaya yang melahirkan perbedaan pemahaman, sikap, dan perilaku, yang pada gilirannya memunculkan pandangan negatif, bahkan kebencian dan sikap antipati, sehingga peristiwa yang semula tampak sepele, yang dilakukan individu, berubah menjadi penyulut meledaknya konflik yang melibatkan etnik. Ini, tentu saja, menimbulkan pelbagai dilema moral. Namun, kalau kemudian M.E. Fuady memunculkan soal dilema moral dalam judul tulisannya, ini hanyalah kebetulan belaka, sebab yang jadi fokus perhatiannya lebih tertuju kepada “Dilema Moral: Kepalsuan dan Keteladanan Komunikasi Politik di Indonesia”. Demikian judul lengkapnya. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wacana konflik sebagaimana diusung Arkanudin.Ada artikel yang cukup menarik dari contributor lainnya, Ratih Tresnati. Judulnya, “Pemasaran bagi Petualang sebagai Kegiatan Komunikasi Pemasaran”. Kami katakan menarik, sebab “marketing for adventurer” sangat jarang disentuh para pakar komunikasi kita. Jika, misalnya, Anda jalan-jalan ke mal-mal di Jakarta, jangan kaget jika Anda menemukan begitu banyak peralatan outdoor petualang dipajang di sejumlah gerai. Sekarang konsumen tidak akan lagi kesulitan kalau mencari ransel, jaket, atau sepatu gunung. Bahkan, peralatan khusus untuk berburu atau menyelam pun tersedia di sana. Apakah ini pertanda orang Indonesia yang punya hobi berpetualang tambah banyak? Jawabannya, Anda perlu menyimak penjelasan Ratih dalam tulisan tersebut. Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Wacana lainya yang coba kami hadirkan adalah “Wacana ‘Investigative Reporting’.” Penulisnya, siapa lagi kalau bukan seorang kolega kami yang akrab dengan bidang itu, Septiawan Santana K. Apa itu “investigative reporting” dan siapa “reporter investigatif” serta bagaimana “cara kerja” investigative reporting, semuanya ia paparkan secara terperinci. Tapi, dunia media adalah dunia yang penuh kebohongan. Coba saja, misalnya, simak uraian Alex Sobur yang mengajak Anda untuk sama-sama “Membaca Kebohongan Media Amerika”. Lewat analisisnya seputar beberapa isu filosofis, dominasi Yahudi atas media, serta politik luar negeri AS, ia paparkan pelbagai persoalan itu dengan sangat jelas. Sementara, Awang Ruswandi, menyoroti persoalan media ini atas “Perubahan Format dan Desain Surat Kabar Indonesia dalam Perspektif McJournalism”. Apa itu McJournalism? Awang menjelaskan, McJournalism adalah konsep Bob Franklin yang mengadopsinya McDonaldization dari George Ritzer. McDonaldization sendiri adalah konsep yang diperkenalkan Ritzer dengan mengambil filosofi pengelolaan restoran cepat saji McDonald. Dari Amerika Serikat kita diajak jalan-jalan Rita Gani ke Sumatera Barat untuk mengamati “Tungku Tigo Sajarangan”. Apa itu “Tungku Tigo Sajarangan”? Rita mencoba memberi jawabannya lewat “Analisis Pola Komunikasi Kelompok dalam Interaksi Pemimpin Pemerintahan di Sumatera Barat”. “Tungku Tigo Sajarangan” itu menunjuk kepada ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai, yang merupakan simbol kepemimpinan di Minangkabau. Selanjutnya, berkenaan dengan praktik komunikasi, masyarakat, terutama para pelaku komunikasi dari kalangan media massa, humas, dan periklanan, mereka umumnya cenderung mengunakan teknik pengemasan pesan(message packaging) demi memeroleh tujuan-tujuan komunikasinya. Mereka tak lagi sekadar membuat, menampilkan, dan mengirimkan pesan berdasarkan apa yang diinginkannya, tetapi merancang pesan dengan dilandasi dan dipengaruhi oleh “visi dan misi strategis”-nya, sekaligus mengirimkannya kepada khalayak melalui cara dan teknik yang sangat persuasif. Dalam konteks ini, mereka mengembangkan suatu wacana tertentu jika hendak menyampaikan pesan kepada khalayak. Kini, kesadaran wacana memang cenderung bertambah bukan saja di pihak yang memroduksi pesan, tetapi juga di pihak yang menerima pesan. Dalam kaitan ini, Ibnu Hamad menyodorkan judul artikelnya seputar “Komunikasi sebagai Wacana”. Perspektif ini, sebagaimana dijelaskan penulisnya, melengkapi empat perspektif yang sudah ada sebelumnya, yaitu: transmisionis, display, generating of meaning, dan ritual.Di nomor ini, Mediator juga menurunkan tiga tulisan hasil penelitian. Andy Corry Wardani,misalnya, menulis “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Komunikasi Penyuluhan Pertanian”. Atie Rachmiatie menyajikan laporannya seputar ‘Konsistensi Penyelenggaraan RRI dan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik”. Lalu, Dedeh Fardiah mengemas hasil penelitiannya dengan judul “Tinjauan Kritis tentang Program Tayangan Anak di Televisi”. Semuanya menarik untuk kita simak. Bagaimana “Mengenalkan Anak pada Dunia Film”? Satya Indra Karsa mencoba memaparkannya. Bagaimana pula mengelola “Bantuan di Masa Krisis”? Santi Indra Astuti menawarkan sejumlah tips atau gagasan untuk Anda. Terakhir, Agus Sofyandi Kahfi, Bakir Hasan, dan Teguh Ratmanto, melengkapi semua tema diatas dengan ide-ide segarnya, masing-masing berbicara tentang “Informasi dalam Perspektif Islam”, “Ekonomi Media: Perlukah?”, dan “Filsafat Pesan”. Semuanya memang kami hadirkan untuk Anda. Penyunting,Alex Sobur
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 8, No 1 (2007): Berkomunikasi dengan Anak
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkomunikasi dengan AnakBanyak masalah anak sekolah berkisar pada kemampuan berprestasi. Setelah anak menerima rapor semester, maka orang tua kerap dikagetkan oleh angka-angka rapor yang menunjukkan angka lima atau kurang. Seringkali mereka menanyakan guru atau wali kelas mengapa anaknya memeroleh nilai-nilai yang mengecewakan itu. Boleh jadi, orang tua kemudian segera berkunjung ke psikolog atau biro konsultasi psikologi dengan tujuan mentes anak untuk mengetahui IQ anak tersebut. Sebenarnya, orang tua tidak perlu kelewat panik, karena dapat meneliti dulu faktor-faktor manakah yang mungkin telah menyebabkan rendahnya prestasi anak. Misalnya, dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor: (1) apakah anak sudah cukup berusaha dan belajar dengan teratur; (2) apakah anak sungguh-sungguh belajar atau banyak melamun dan berkhayal; (3) apakah anak ketat dalam disiplin belajar 4) apakah anak sudah mengerti bahan yang harus dipelajari; (5) bagaimanakah sikap anak di dalam kelas sewaktu mengikuti pelajaran.Pada dasarnya, membantu menyelesaikan kesulitan dalam hal belajar biasanya memerlukan data yang lebih luas mengenai prestasi anak di sekolah. Misalnya, mata pelajaran manakah yang sulit dipelajari oleh anak. Apakah kesulitan belajar disebabkan oleh keadaan lingkungan ataukah kesulitan berprestasi di sekolah disebabkan oleh faktor-faktor dalam diri anak itu sendiri. Jurnal Komunikasi Mediator edisi kali ini mencoba mengangkat persoalan dunia anak lewat beberapa tulisan.Selain artikel Pien Supinah Adiwira yang membincangkan ihwal “Komunikasi Reseptif dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak”, termuat juga kajian analisis isi tentang “Bahasa Rupa Wimba dalam Komik ‘Flap Book’ Anak-anak” yang ditulis Ferry Darmawan.Sementara itu, Alex Sobur sembari membincang “Harry Potter” mengajak kita untuk membaca mitos-mitos yang ada di seputar cerita fiksi karya J.K. Rowling tersebut. Artikel lainnya, sebagaimana ditulis Rita Gani, menuntun kita untuk menonton, tepatnya “meraba,” pornografi di ruang-ruang kelas. Berkomunikasi dengan anak, membawa kita, para orang tua, ke dunia tanpa batas. Di dunia tersebut bertebaran ruang-ruang tempat tumbuh kembangnya imajinasi anak. Karena itu, “Merancang Media Hiburan Buku Cergam,” menurut Ida Nurhaida dan kawan-kawan, “Menjadi Media Belajar untuk Alat Bantu Komunikasi”.Di dunia remaja dan dewasa, Rini Rinawati menawarkan sebuah gaya hidup, “Lifestyle” Muslimah. Lantas Karim Suryadi melengkapinya dengan artikel “Media Massa dan ‘Political Literacy’: Pemanfaatan Berita Politik di Kalangan Remaja Kota Bandung”. H.A. Saefudin dan Antar Venus membedahnya lewat “Cultivation Theory”. Dadi Ahmadi dan Nova Yohana menggunakan teori yang sama untuk menganalisis “Kekerasan di Televisi”. Oji Kurniadi pun mencoba mengamati fenomena kaum “Perempuan dalam Tayangan Iklan di Televisi”.Pada bagian lain, Airin Nisa, Ken Reciana, dan Billy K. Sarwono A., mengangkat persoalan media massa dalam artikelnya, “Youth Lifestyle in A Moslem Magazine: A Reception Analysis on ‘Muslimah’ Readers”. Mella Ismelina Farma Rahayu menyoroti masalah kebebasan pers dari perpektif hukum. Judul artikelnya, “Kebebasan Pers dalam Konteks KUHP Pidana: Menyoal Undang-Undang sebagai Fungsi Komunikasi”.Secara keseluruhan, isi Mediator kali ini memang tampak lebih bervariasi. Kami, di jajaran penyunting, menyebutnya perlintasan berbagai gagasan tanpa batas, sekadar untuk menunjukkan betapa luasnya kajian komunikasi. Mulai dari komunikasi intrapersonal—misal menafsirkan gejala melamun dan berpikir, sampai persoalan komunikasi internasional dan budaya komunikasi global. Maka itu, selain menyuguhkan isu-isu lainnya macam “Polemik Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP)” yang ditulis Dedeh Fardiah, kami juga mengundang Yusuf Hamdan untuk berdiskusi soal “Kepribadian Negosiator”. Tiga tulisan lain kami munculkan sebagai penutup, Dede Lilis Ch. Subandy, masih menyinggung soal dunia anak. Ia coba mengungkap “Sosialisasi Anak dalam Majalah ‘Bobo’.” Anne Ratnasari memublikasikan hasil penelitiannya beberapa waktu lalu, berkenaan dengan “Pengaruh Komunikasi Antarpribadi Bermedia Internet terhadap Persahabatan Mahasiswa di Dunia Maya”. Terakhir, Ratih T. menuliskan “’Call Center’ sebagai Alat Komunikasi Pemasaran di Abad ke-21". Tanpa perlu berpanjang kata, akhirnya, kami sekadar ingin menyapa Salam, sekaligus mengantarkan Anda untuk menjelajahi, menafsirkan, dan memberi makna terhadap berbagai hasil penelitian dan pemikiran konseptual yang coba kami hadirkan dalam Mediator nomor ini. Moga saja ada manfaat yang bisa dipetik.Penyunting,
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 8, No 2 (2007): Proses Berkesenian = Proses Berkomunikasi
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses Berkesenian = Proses BerkomunikasiSeni adalah keindahan. Begitu kata Quraish Shihab. Ia merupakan ekspresi ruh dan budayamanusia yang mengandung dan mengungkapkan keselarasan, keserasian, keharmonisan, dan ketepatan yang memesonakan batin manusia. Musik itu indah. Itu sebabnya musik banyak diposisikan sebagai salah satu wujud seni. Tapi, bagaimana cara “Mengomunikasikan Musik kepada Anak”? Ihwal persoalan inilah yang coba diangkat Aziz Taufik Hirzi. Masih soal seni, Alex Sobur mengulas “Karya Seni sebagai Media”. “Karya seni itu media. Media itu pesan. Karya seni mengandung pesan. Kalau karya seni itu tidak bisa dimengerti, maka pesan seni bakal macet,” begitu paparnya. “Seni yang macet,” menurut Alex,”adalah seni yang tidak bisa berbicara.” Apabila karya seni itu sudah bisu, maka ditandaskannya, seni tidak lagi menjadi media.Media itu macam-macam jenisnya. Ada media ruang ada pula media luar ruang. M. WildanYahya melalui tulisannya, “Strategi Dakwah Islam dalam Pengembangan Seni dan Peradaban”,  menyinggung ihwal seni ruang, khususnya dalam perspektif Islam. Menurutnya, kepedulian Islam kepada seni ruang tidak terlepas dari tujuan utamanya, yaitu menampilkan keindahan pada ruang yang terjalin dengan nilai-nilai tauhid. Begitulah, pembaca budiman, Mediator Volume 8, No.2, ini mencoba mengangkat persoalan seni dari berbagai perspektif. Tidak kurang dari tiga penulis menjadikan seni sebagai topik bahasannya. Mengapa membahas seni? Apa sesungguhnya kaitan antara seni dan komunikasi? Para ahli komunikasi bilang, komunikasi itu bersifat ubiquitous, komunikasi itu hadir di manamana.Komunikasi itu juga bisa hadir di ruang-ruang seni. Komunikasi eksis di pergelaran pergelaran seni. Jadi, tidak berlebihan kalau proses berkesenian itu sesungguhnya juga adalah proses berkomunikasi. Sebab, komunikasi itu adalah berpesan-pesanan. Kesenian mengandung pesan. Kalau kesenian itu tak lagi bertata pesan, maka kesenian hanya pepesan kosong. Seni yang berkosong pesan, juga adalah seni yang bisu.Televisi adalah medium yang sarat dengan nilai seni. Lewat jangkauannya yang sangat luas,nilai-nilai seni disosialisasikan. Kajian performance arts, sinetron (sinema elektronik), bahkan juga pertunjukan wayang golek, dapat kita apresiasi lewat siaran televisi. Tak terkecuali pun tayangan tayangan seronok yang berdarah-darah, tayangan pornografi, sampai tontonan bernuansa mistik kerap dipertunjukan dalam layar kaca ini. Sebagai medium komunikasi massa, televisi sesungguhnya netral-netral saja. Fungsinya, tergantung pada orang-orang yang mengendalikan di belakangnya. Apakah ia berfungsi sebagai media pendidikan, penerangan, hiburan, kontrol sosial, atau sekaligus menjalankan keempat fungsi tersebut. Atau memilih “fungsi” lain, sebut saja ekstremnya merusak norma-normayang selama ini diindahkan masyarakat? Namun, berbagai keluhan pemirsa tampaknya bisa dijadikan indikator, betapa televisi kita, meski tak hendak memukul rata, telah menjadikan dirinya sebagai wahana praktik kaum kapitalistik dalam mereguk laba besar. Kerap, atas nama hak publik untuk tahu, ia seolah bisa melabrak urusan privat siapa saja menjadi urusan publik. Cukup bisa dimengerti jika kemudian publk sendiri menuntut agar, hak-hak penyiaran yang disebut-sebut sebagai ranah publik itu perlu dikembalikan kepada habitatnya. Dengan kata lain, dunia penyiaran tampaknya masih perlu diatur olehlembaga regulasi independen.Berbicara ihwal penyiaran, sudah tentu kita berbicara soal ruang publik (public sphere). Jika kita mengacu pada pendapat Habermas, maka dalam ruang publik itu, di satu sisi, terjadi tarik-menarik kepentingan antara para cendekiawan, kaum pemodal, dan publik itu sendiri. Di sisi lain, ada lembaga negara (state), yang juga berkepentingan untuk “merebut” ruang publik itu. Terjadilah tarik-ulur kepentingan yang menjadikan dunia penyiaran semakin “amburadul”. Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang notabene merupakan representasi publik, posisinya semakin tidak menguntungkan, sebab ia berada persis di tengah-tengah pusaran pertarungan tersebut. Jadi, “Mengapa Kita Perlu Regulasi Penyiaran?” Jawabannya bisa kita simak lewat paparan M. Rochim.Masih banyak tema tulisan lain yang menarik kita simak. Dadi Ahmadi dan Nova Yohana, misalnya, mengangkat ihwal “Konstruksi Jilbab sebagai Simbol Keislaman”. Maman Chatamalah menyoroti “Opini Publik dan Kebijakan Pemerintah”. Ani Yuningsih membincangkan “Peran dan Komitmen Indonesia dalam ‘Millenium Development Goals’: Perspektif Humas Internasional”. Haryati melihat berbagai kecenderungan “Ketika Parpol Mengiklankan Kandidatnya di Televisi”. Sementara, Saleha Rodiah mencoba menyoroti “Manajemen Komunikasi ‘Bidan Delima’ Kota Bandung” dan Prima Mulyasari Agustina mengangkat tema yang agak beda, “Membangun Loyalitas Pelanggan ‘Citilink’ Garuda: Tinjauan Manajemen Hubungan Pelanggan”.“Konsep Waktu: Perspektif Komunikasi, Islam, dan Anak TK” adalah judul tulisan yang ingin ditawarkan Rini Rinawati. Sementara, Ibnu Hamad mengajak kita untuk “Lebih Dekat dengan Analisis Wacana”. Tak ketinggalan, Anne Ratnasari dan Yusuf Hamdan, masing-masing membincangkan “Komunikasi Harmonis Orang Tua dengan Anak” dan “Karakteristik Khutbah Jumat di Mesjid Kampus: Perspektif Komunikasi”. Selebihnya, lewat hasil amatan duet-penulis, Teuku Winnetou dan Iwan Setiawan, mereka memaparkan “Peranan Radio Komunitas Agro dalam Pelayanan Informasi Pertanian di Desa Pangalengan” sementara, Dede Lilis Ch. Ingin berbagi cerita seputar “Representasi Simbolik Film Kartun ‘Dora the Explorer’: Ethnographic Content Analysis”. Muatan Jurnal Komunikasi Mediator ini, sebagaimana biasa, ditutup dengan telaah buku. Kali ini yang ditelaah adalah Etika Komunikasi karya Haryatmoko. Ditulis oleh Rita Gani, salah seorang kontributor yang spesialis menelaah karya-karya terbaru komunikasi. Selamat membaca.Penyunting
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 9, No 2 (2008): Dari “Starbucks’ hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari “Starbucks’ hingga Pembebasan Biaya Kesehatan DasarJika Anda penikmat kopi sejati, maka Anda tentu mengenal Starbucks sebagai sebuah kedai kopi dengan kesuksesan bisnis yang luar biasa. Cobalah sesekali meluangkan waktu untuk sekadar mengamati fenomena menarik seputar bisnis minuman kopi ini. Setiap hari para pengunjung kedai tersebut, dengan sabar berdiri dalam antrian menanti giliran untuk memesan segelas kopi. Semua fenomena yang kita saksikan itu, termasuk keberhasilan bisnis kopi Starbucks, sebenarnya berawal dari apa yang sering disebut-sebut sebagai aktivitas komunikasi “getok tular”. Komunikasi getok tular mengantarkan Starbucks menjadi bahan perbincangan dan kemudian menjadi pilihan para individu untuk bertemu, berbincang lebih sekadar dari memeroleh manfaat dan menikmati kopi. Sebagai bagian dari jaringan kedai berkelas dalam penataan interior maupun eksterior, Starbucks di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia mengesankan sebagai tempat nyaman untuk menikmati kopi dan bertemu dengan relasi bisnis. Begitulah. “Komunikasi Getok Tular” yang ditulis Rudy Haryanto dan Deddy Mulyana menjadi sajian pembuka kami di edisi Mediator kali ini. Secara detail, kedua penulis ini berhasil melukiskan bagaimana, misalnya, Starbucks berhasil membujuk orang-orang yang masuk ke kedai Starbucks untuk melihat-lihat dan kemudian berhasil menjual barang daganganny a. Mereka, demikian Haryanto dan Mulyana, bukan lagi datang untuk menikmati secangkir kopi, namun mereka juga datang untuk bersedia menunggu giliran untuk dilayani dan meracik minumannya sendiri. Sementara, di kedai kopi yang lain, mereka dengan santai dapat memesan minumannya dan dilayani. Mereka tidak lagi sekadar menikmati kopi, tetapi juga sebagai gaya hidup menikmati kopi dengan melakukan antrian, bukan saling mendahului seperti halnya bus kota ketika beraksi di jalan raya.Dari fenomena gaya hidup menikmati kopi Starbucks, kami ajak Anda untuk sejenak mengalihkan perhatian ke fenomena keberadaan anak jalanan yang terjadi di hampir setiap kota besar. Lewat tulisannya, “Penyebaran Informasi Program ‘Children Special Protection’ (CSP) dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Anak Jalanan,” Jeanny Maria Fatimah mencoba mengangkat ersoalan anak jalanan yang belakangan ini kian marak terjadi di kota-kota besar. Mereka, yang seharusnya menikmati indahnya masa kanak-kanak, justru harus merasakan kerasnya kehidupan. Mimpi indah untuk menikmati pendidikan, sebagaimana anak-anak lainnya, hanyalah sebuah angan-angan. Waktu-waktu berharga yang seharusnya mereka lewati di bangku sekolah, harus tergantikan dengan kegiatan mencari uang.Tulisan menarik lain yang sayang jika dilewatkan adalah ihwal keberadaan perempuan di ranah politik, sebagaimana ditulis Zaenal Mukarom, “Perempuan dan Politik: Studi Komunikasi Politik tentang Keterwakilan Perempuan di Legislatif”. Undang-Undang RI No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 6, secara tegas menyebutkan bahwa sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif dan sistem pengangkatan di bidang eksekutif dan yudikatif harus menjadikan Dari “Starbucks’ hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar Dari “Starbucks” hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar  keterwakilan perempuan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Bahkan, penegasan hak politik perempuan ini juga bisa dibuktikan dengan diratifikasinya Konvensi Hk-Hak Politik Perempuan (Convention on the Political Right of Women) serta penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap prerempuan melalui Undang-Undang No.7 Tahun 1984. Di tengah-tengah keprihatinan publik terhadap sajian televisi swasta yang lebih mengedepankan selera pop, kita ditawari pada kemasan lain yang digagas TV publik. Dapat dipahami dan dianggap wajar jika kemudian publik menggantungkan harapannya pada TV publik yang mengutamakan program-program yang berorientasi kepada kepentingan publik. Maka itu, sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI/RRI perlu melakukan usahanya untuk memperbesar peran keberadaan stakeholder-nya. Bagaimana sesungguhnya opini masyarakat terhadap keberadaan TV publik ini?Apakah kehadiran TV publik itu hanya berangkat dari keinginan suatu kelompok masyarakat saja atau memang masyarakat itu sendiri yang memerlukan kehadiran TV publik? Melalui tulisannya “Televisi Publik: Kajian tentang Opini Masyarakat Kota Bandung mengenai TV Publik,” Betty RF Sabur mencoba membedahnya. Sementara, masih seputar lembaga penyiaran publik, Lisa Adhrianti melihat persoalan ini dari sudut pandang politik-ekonomi: “Idealisasi TVRI sebagai TV Publik: Studi ‘Critical Political Economy’.” “Kampanye Pemilu Dialogis untuk Pemilu 2009” yang ditulis Andy Corry Wardhani adalah tema lain yang juga kami anggap penting untuk kami hadirkan ke tengah-tengah Anda, sidang pembaca. Ini, tentu saja, sebuah tema yang tetap aktual setiap kita menghadapi pesta demokrasi seperti Pemilu 2009 ini. Menjelang pemilu, biasanya masyarakat memerlukan banyak informasi tentang partai politik. Informasi ini penting bagi mereka untuk mengambil keputusan partai mana yang akan dipilih pada saat pelaksanaan pemungutan suara. Adalah Dadi Ahmadi yang mencoba untuk memopulerkan kembali salah satu dari perspektif komunikasi, “Interaksi Simbolik”. Meski sekadar bersifat mengantarkan, kita akan diingatkan kembali bagaimana, misalnya, “diri” itu pada mulanya menjadi objek terlebih dahulu sebelum ia berada pada posisi subjek. Dalam hal ini, “diri akan mengalami proses internalisasi atau interpretasi subjek atas struktur realitas yang luas. Lantas, Sumadi Dila lewat “Simbolisasi Etnik Muna di Bandung: Studi Identitas Etnik Orang Muna” melengkapi tulisan Dadi. Dila melihat, di anara sekian banyak warga dan etnis pendatang yang hidup menetap dan bekerja di kota Bandung adalah etnik Muna, yang merupakan salah satu dari 12 suku bangsa di Sulawesi Tenggara.Tidak lengkap rasanya jika kita tidak mencoba mengarahkan perhatian kita pada salah satu persoalan seperti sejauh mana sebetulnya “Pengaruh Etos Pimpinan terhadap Motif Berprestasi Kerja Karyawan”. Untuk menjawab pertanyaan ini, Maman Suherman memberikan analisisnya secara komprehensif. Beragam tulisan lain coba pula kami hadirkan untuk menyemarakkan penerbitan Mediator kali ini. Ahmad Sihabudin, misalnya, menulis “Pengaruh Interaksi Sosial Komunitas Adat Terpencil Baduy Luar terhadap Persepsinya pada Kebutuhan Keluarga.” Lalu, Karomani, menawarkan sebuah “Studi tentang Pengelolaan Kesan Elite Lokal Umaro terhadap Jawara dan Ulama di Banten Selatan”. Sementara, Hanny Hafiar dan Oji Kurniadi, lebih memfokuskan analisisnya pada “Geliat Komik Indonesia,” dan Aning Sofyan Sadikin mencoba membedah “Presiden Wanita dalam Perspektif Media.” Empat tulisan lainnya lagi, “Perkembangan Teknologi Komunikasi: Ditinjau dari Perspektif Komunikasi Peradaban” karya Asep Saefudin; “Strategi Public Relations dalam Promosi Pariwisata” (Maman Chatamalah); “Program Komunikasi dan Motivasi Kerja terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan” (Sunarto); dan “Implementasi Kebijakan Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar” yang ditulis Akadun, kami hadirkan sebagai penutup. Dari “Starbucks” hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar  Tak kurang dari tujuh belas tulisan, masing-masing dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kami sajikan kepada Anda, sidang pembaca. Tentu dengan sebuah harapan, kiranya Anda semua bisa memilah, memilih, sekaligus bisa mengapresiasinya, sesuai minat Anda.Selamat membaca.Penyunting.