Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Dalam otonomi daerah, tak pelak lagi pembangunan mengalami pergeseran paradigma dengan bergulirnya pembangunan partisipatif, yakni pembangunan yang dilandaskan para partisipan yang aktif dari masyarakat terendah, terutama di desa, yang dimulai dari perencanaan, rencana tindak, sumber dana dan evaluasi. Dalam pembangunan partisipatif melalui program Community Action Plan (CAP), komunikasi memegang peranan sangat penting, yaitu pada proses sosialisasi serta diskusi-diskusi yang dilakukan dalam mengidentifikasi sejumlah persoalan dan potensi, menjembatani proses kemitraan dalam mendukung program CAP, dan lain sebagainya. Dengan begitu, para sarjana komunikasi punya peran menentukan dalam menangani proyek-proyek fisik, yang selama ini kerap dipersepsi hanya merupakan lahan kerja bagi para sarjana teknik. Begitulah kira-kira kesimpulan yang hendak disodorkan Rini Rinawati dalam artikel “Komunikasi dan Pembangunan Partisipatif” yang membuka wacana kita lewat jurnal komunikasi Mediator kali ini.Perkembangan pemikiran seputar pemanfaatan dan peranan komunikasi dalam melaksanakan upaya pembangunan, sebagaimana dipersepsi Rini, memperlihatkan hubungan yang langsung dengan konsepsi yang dianut dalam merencanakan dan menafsirkan “pembangunan” itu sendiri. Sembari membangun, kita pun ternyata dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang senantiasa mewarnai perjalanan bangsa ini. Berbagai konflik, khususnya yang bernuansa etnik, muncul di mana-mana. Arkanudin tergugah untuk coba “Menelusuri Akar Konflik Antaretnik di Kalimantan Barat.” Apa sesungguhnya yang terjadi di sana? Konon, menurutnya, akar konflik antara etnik Dayak dengan etnik Madura di Kalimantan Barat berawal dari munculnya perbedaan sosial budaya yang melahirkan perbedaan pemahaman, sikap, dan perilaku, yang pada gilirannya memunculkan pandangan negatif, bahkan kebencian dan sikap antipati, sehingga peristiwa yang semula tampak sepele, yang dilakukan individu, berubah menjadi penyulut meledaknya konflik yang melibatkan etnik. Ini, tentu saja, menimbulkan pelbagai dilema moral. Namun, kalau kemudian M.E. Fuady memunculkan soal dilema moral dalam judul tulisannya, ini hanyalah kebetulan belaka, sebab yang jadi fokus perhatiannya lebih tertuju kepada “Dilema Moral: Kepalsuan dan Keteladanan Komunikasi Politik di Indonesia”. Demikian judul lengkapnya. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wacana konflik sebagaimana diusung Arkanudin.Ada artikel yang cukup menarik dari contributor lainnya, Ratih Tresnati. Judulnya, “Pemasaran bagi Petualang sebagai Kegiatan Komunikasi Pemasaran”. Kami katakan menarik, sebab “marketing for adventurer” sangat jarang disentuh para pakar komunikasi kita. Jika, misalnya, Anda jalan-jalan ke mal-mal di Jakarta, jangan kaget jika Anda menemukan begitu banyak peralatan outdoor petualang dipajang di sejumlah gerai. Sekarang konsumen tidak akan lagi kesulitan kalau mencari ransel, jaket, atau sepatu gunung. Bahkan, peralatan khusus untuk berburu atau menyelam pun tersedia di sana. Apakah ini pertanda orang Indonesia yang punya hobi berpetualang tambah banyak? Jawabannya, Anda perlu menyimak penjelasan Ratih dalam tulisan tersebut. Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Wacana lainya yang coba kami hadirkan adalah “Wacana ‘Investigative Reporting’.” Penulisnya, siapa lagi kalau bukan seorang kolega kami yang akrab dengan bidang itu, Septiawan Santana K. Apa itu “investigative reporting” dan siapa “reporter investigatif” serta bagaimana “cara kerja” investigative reporting, semuanya ia paparkan secara terperinci. Tapi, dunia media adalah dunia yang penuh kebohongan. Coba saja, misalnya, simak uraian Alex Sobur yang mengajak Anda untuk sama-sama “Membaca Kebohongan Media Amerika”. Lewat analisisnya seputar beberapa isu filosofis, dominasi Yahudi atas media, serta politik luar negeri AS, ia paparkan pelbagai persoalan itu dengan sangat jelas. Sementara, Awang Ruswandi, menyoroti persoalan media ini atas “Perubahan Format dan Desain Surat Kabar Indonesia dalam Perspektif McJournalism”. Apa itu McJournalism? Awang menjelaskan, McJournalism adalah konsep Bob Franklin yang mengadopsinya McDonaldization dari George Ritzer. McDonaldization sendiri adalah konsep yang diperkenalkan Ritzer dengan mengambil filosofi pengelolaan restoran cepat saji McDonald. Dari Amerika Serikat kita diajak jalan-jalan Rita Gani ke Sumatera Barat untuk mengamati “Tungku Tigo Sajarangan”. Apa itu “Tungku Tigo Sajarangan”? Rita mencoba memberi jawabannya lewat “Analisis Pola Komunikasi Kelompok dalam Interaksi Pemimpin Pemerintahan di Sumatera Barat”. “Tungku Tigo Sajarangan” itu menunjuk kepada ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai, yang merupakan simbol kepemimpinan di Minangkabau. Selanjutnya, berkenaan dengan praktik komunikasi, masyarakat, terutama para pelaku komunikasi dari kalangan media massa, humas, dan periklanan, mereka umumnya cenderung mengunakan teknik pengemasan pesan(message packaging) demi memeroleh tujuan-tujuan komunikasinya. Mereka tak lagi sekadar membuat, menampilkan, dan mengirimkan pesan berdasarkan apa yang diinginkannya, tetapi merancang pesan dengan dilandasi dan dipengaruhi oleh “visi dan misi strategis”-nya, sekaligus mengirimkannya kepada khalayak melalui cara dan teknik yang sangat persuasif. Dalam konteks ini, mereka mengembangkan suatu wacana tertentu jika hendak menyampaikan pesan kepada khalayak. Kini, kesadaran wacana memang cenderung bertambah bukan saja di pihak yang memroduksi pesan, tetapi juga di pihak yang menerima pesan. Dalam kaitan ini, Ibnu Hamad menyodorkan judul artikelnya seputar “Komunikasi sebagai Wacana”. Perspektif ini, sebagaimana dijelaskan penulisnya, melengkapi empat perspektif yang sudah ada sebelumnya, yaitu: transmisionis, display, generating of meaning, dan ritual.Di nomor ini, Mediator juga menurunkan tiga tulisan hasil penelitian. Andy Corry Wardani,misalnya, menulis “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Komunikasi Penyuluhan Pertanian”. Atie Rachmiatie menyajikan laporannya seputar ‘Konsistensi Penyelenggaraan RRI dan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik”. Lalu, Dedeh Fardiah mengemas hasil penelitiannya dengan judul “Tinjauan Kritis tentang Program Tayangan Anak di Televisi”. Semuanya menarik untuk kita simak. Bagaimana “Mengenalkan Anak pada Dunia Film”? Satya Indra Karsa mencoba memaparkannya. Bagaimana pula mengelola “Bantuan di Masa Krisis”? Santi Indra Astuti menawarkan sejumlah tips atau gagasan untuk Anda. Terakhir, Agus Sofyandi Kahfi, Bakir Hasan, dan Teguh Ratmanto, melengkapi semua tema diatas dengan ide-ide segarnya, masing-masing berbicara tentang “Informasi dalam Perspektif Islam”, “Ekonomi Media: Perlukah?”, dan “Filsafat Pesan”. Semuanya memang kami hadirkan untuk Anda. Penyunting,Alex Sobur