This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri
Dwi Putro Widodo
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Perilaku pada Anak Epilepsi Alvi Lavina; Dwi Putro Widodo; Surastusi Nurdadi; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.409-15

Abstract

Latar belakang. Anak epilepsi memiliki prevalensi gangguan perilaku yang tinggi dan dapat menyebabkandampak psikososial. Sejauh ini, di Indonesia, belum ditemukan studi yang meneliti gangguan perilaku padaanak epilepsi serta faktor-faktor yang berhubungan.Tujuan. Mengetahui proporsi dan jenis gangguan perilaku anak epilepsi berdasarkan child behavior checklist(CBCL) dan hubungan antara usia awitan kejang, frekuensi kejang, durasi epilepsi, obat anti epilepsi, tingkatsosial ekonomi, dan pendidikan orangtua, dengan gangguan perilaku pada anak epilepsi, serta adaptasikeluarga dalam menghadapi anak epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang di Klinik Neurologi Anak FKUI RSCM. Skrining gangguan perilakudengan kuesioner CBCL dilakukan pada 30 anak epilepsi tanpa defisit neurologis dan disabilitas intelektual.Studi kualitatif untuk menilai adaptasi keluarga dalam menghadapi anak epilepsi.Hasil. Terdapat 3 dari 30 anak epilepsi yang mengalami gangguan perilaku dengan jenis gangguan perilakueksternalisasi (perilaku melanggar aturan dan agresif), masalah sosial, dan gangguan pemusatan perhatian.Faktor usia awitan kejang (p=0,280), frekuensi kejang (p=0,007; RP 0,036; IK95% 0,005-0,245), durasiepilepsi (p=1,000), obat anti epilepsi (p=0,020; RP 0,019; IK95% 0,001-0,437), tingkat sosial ekonomi(p=0,251), dan pendidikan orangtua (p=1,000), tidak berisiko meningkatkan gangguan perilaku. Terdapatsikap dan reaksi, serta persepsi dan stigma orangtua yang negatif dalam menghadapi anak epilepsi yangmengalami gangguan perilaku. Terdapat masalah keluarga sejak anak mengalami epilepsi dan gangguanperilaku. Orangtua tidak dapat menerapkan pola asuh displin dan kemandirian pada anak dengan gangguanperilaku.Kesimpulan. Proporsi gangguan perilaku pada anak epilepsi tanpa defisit neurologis dan disabilitas intelektualtidak tinggi. Tidak terdapat faktor yang memengaruhi gangguan perilaku. Adaptasi keluarga baik dalammenghadapi anak epilepsi tanpa gangguan perilaku, dibandingkan dengan keluarga anak epilepsi yangmengalami gangguan perilaku
Uji Kesahihan dan Keandalan Kuesioner Childhood Asthma Control Test versi Indonesia pada Anak Usia 4-11 Tahun Cynthia Utami; Mardjanis Said; Nastiti Kaswandani; Dwi Putro Widodo
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.357 KB) | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.103-9

Abstract

Latar belakang. Childhood Asthma Control Test (CACT) merupakan kuesioner penilaian terkendalinya asma pada anak yang cepat dan mudah digunakan. Di Indonesia, penggunaan CACT masih terbatas karena kendala bahasa dan budaya. Sampai saat ini, belum ada kuesioner CACT versi Indonesia (terjemahan CACT ke dalam bahasa Indonesia) yang terbukti sahih dan andal.Tujuan. Mengetahui kesahihan (validity) dan keandalan (reliability) kuesioner CACT versi Indonesia.Metode. Menerjemahkan tujuh pertanyaaan kuesioner CACT menjadi kuesioner CACT versi Indonesia. Studi potong lintang dilakukan terhadap 66 subjek usia 4-11 tahun yang dipilih secara konsekutif. Semua subjek menjalani uji fungsi paru dan pemeriksaan peak expiratory flow berkala. Analisis statistik menggunakan uji Cronbach’s α dan uji korelasi Pearson/ Spearman.Hasil. Rerata usia subjek penelitian 7,89 tahun (5,25 -11,83) tahun dengan proporsi jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebagian besar subjek penelitian yaitu 60,4% memiliki status asma tidak terkendali (nilai kuesioner CACT ≤19). Kuesioner CACT versi Indonesia mempunyai keandalan (Cronbach’s α 0,762) dan kesahihan konstruksi (r= 0,384-0,545) yang baik. Tidak terdapat korelasi bermakna antara kuesioner CACT versi Indonesia dengan nilai FEV1 (r=-0,024; p=0,846) dan nilai variabilitas mingguan PEF (r=-0,218; p=0,079).Kesimpulan. Kuesioner CACT versi Indonesia mempunyai kesahihan dan keandalan yang baik untuk menilai terkendalinya asma. Kuesioner ini tidak mempunyai korelasi dengan uji fungsi paru sehingga CACT tidak dapat menggantikan peran uji fungsi paru sebagai salah satu komponen penilaian terkendalinya asma.