Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERBAIKAN PROSES PRODUKSI DAN PEMANFAATAN SERAT KELAPA SEBAGAI PENGGANTI SERAT KAIN PADA INDUSTRI KECIL PEMBUATAN ASBES (STUDI KASUS PADA INDUSTRI KECIL PEMBUATAN ASBES DI KABUPATEN MALANG) Moh. Jufri; Ahmad Mubin; Nur Subekhi
Jurnal Dedikasi Vol. 4 (2007): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dedikasi.v4i0.877

Abstract

Peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM} dalam menunjang pembangunandaerah adalah sangat besar. Untuk itu, pemberdayaan UKM termasuk para pengrajinPembuatan Asbes haruslah terus dilakukan yaitu dengan cara penerapan teknologi, baikteknologi proses maupun desain produk, sehingga dapat meningkatkan kualitas, kualitasdan daya saingnya.Teknologi Proses yang digunakan oleh para pembuatan Asbes selama ini masihkonvensional secara turun temurun, demikian pula desainnya belum borientasi padapasar, sehingga kualitas produk yang dihasilkan tidak mampu bersaing terutama denganproduk sejenis yang dihasilkan oleh industri yang sudah rnenggunakan teknologimodern.Pemilihan Pembuatan Asbes "Internit MIKO" sebagai lokasi kegiatan pengabdiankarena dilihat dari posisi dan tempat yang strategis untuk pengembangan usaha di masayang akan datang. Hal inilah yang mendorong diadakannya kegiatan pengabdian untukpengembangan produk Asbes tersebut agar menjadi lebih maju dan mapan. Harapanlebih jauh lagi bisa menjadi perusahaan yang menghasilkan produk Asbes yang mempunyaikualitas yang baik.Dari hasil monitoring terhadap keberhasilan penerapan Iptek terlihat bahwa telahada peningkatan, misalnya pengrajin sudah mampu memilih alternative pengganti bahanbaku yang baik, melakukan urutan proses produksi dengan benar, memperkirakancampuran serat kelapa dengan arah serat dengan baik sehingga bahan baku tidak sampaiberlebih, dan ada peningkatan dalam memilih bahan alternatifselain kain. Peningkatanketahanan banding produk hasil penerapan Iptek dengan sebelumnya yaitu sebesar2,5%. Dalam hal pengembangan desain produk, sudah ada peningkatan yaitu mampumembuat desain sesuai keinginan pemesan atau konsumen dan mampu memberikanalternatif desain yang menarik dengan kombinasi antara desain Asbes (internit) yang dibuat dengan aksesoris rumah sesuai model Gibs dan warna dasar asbes sudah bisa menyesuaikan dengan warna cat rumah. Dari sisi penangangan order, pengrajin sudahmampu membuat sketsa gambar pesanan lengkap, perkiraan waktu penyelesaiannya, danmenentukan komponen biaya yang meliputi; biaya bahan baku (utama dan pendukung),biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya. Kata Kunci : Serat Kelapa, Asbes.
Perbaikan Proses Produksi dan Pengem,bangan Desain Produk Pisai Pandai Besi Ahmad Mubin; Nur Subeki; Moh. Jufri
Jurnal Dedikasi Vol. 3 (2006): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dedikasi.v3i0.882

Abstract

Peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menunjang pembengunan daerah adalah sangat besar. untuk itu, pemberdayaan ukm termasuk pengrajin pandai besi haruslah terus dilakukan yaitu dengan cara penerapan teknologi, baik teknologi proses maupun desain produk, sehingga dapat meningkatkan kuantitas, kualitas dan daya saingnya.Teknologi proses yang digunakan oleh para pengrajin pandai besi selama ini masih konversional secara turun menurun, demikian pula desain belum berorientasi pada pasar, sehingga kualitas produk yang dihasilkan oleh industri yang sudah menggunakan teknologi modrenPemilihan pandai besi "Soli A" sebagai lokasi kegiatan pengabdian karena dilihat dari posisi pandai besi tersebut menunjukan tempat yang strategis untuk pengembagan usaha dimasa yang akan datang. hal inilah yang mendorong diadakanya kegiatan pengabdian untuk mengembangkan pandai besi tersebut agar menjadi lebih maju dan mapan. harapan lebih jauh menjadi perusahaan yang menghasilkan produk peralatan rumah tangga dan pertanian.dari hasil monitoring terhadap keberhasilan penerapan Iptek terlihat bahwa telah ada peningkatan, misalnya pengrajin sudah mampu memilih bahan baku yang baik, melakukan urutan proses produksi dengan benar, memperkirakan temperatur pemanasan dengan baik sehingga bahan baku tidak sampai mencair, dan ada peningkatan dalam memilih media pendingin. peningkatan ketahanan korosi produk hasil penerapan Iptek dengan sebelumnya yaitu sebesar 2,5 %, sedangkan nilai kekerasanya meningkat 1,8% dari sebelumnya. dalam hal pengembagan desain produk, sudah ada peningkatan yaitu mampu membuat desain sesuai keinginan pemesan atau konsumen dan mampu memberikan alternatif desain yang menarik desain dengan kombinasi antara pegangan (garan) dan bahan pisau yang serasi. dari sisi penangan order, pengrajin sudah mampu membuat sketsa gambar pesanan lengkap dengan ukuran, perkiraan waktu penyelesaiannya , dan menentukan komponen biaya yang meliputi biaya bahan baku (utama dan pendukung), biaya tenaga kerja, dan biaya oprasional lainya Kata Kunci : Proses Produksi, Desain Produk, Pisau, UKM
ANALISIS PENAMBAHAN MAGNESIUM DAN CERIUM SEBAGAI PEMBULAT GRAFIT BESI TUANG NODULAR Moh. Jufri
Jurnal Gamma Vol. 1 No. 1 (2005): September
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besi Tuang Nodular adalah salah satu jenis dari besi tuang yang grafitnya berbentuk bulat dan mempunyai sifat mekanik yang relatif lebih baik dibandingkan jenis besi tuang lainnya. Pembentukan grafit bulat dalam Besi Tuang Nodular dipengaruhi oleh unsur magnesium dan logam tanah jarang. Logam tanah jarang dapat diperoleh dari limbah pertambangan timah telah banyak dilakukan dan berhasil mendapatkan cerium oksalat ((. Cerium oksalat yang dihasilkan akan dicoba sebagai unsur pembulat grafit pada proses pengecoran besi tanah jarang lainnya seperti lanthanum (La), neodymium (Nd), samarium (Sm) dan lainnya dengan sebutan Cerium Rich Miscemetal. Hasil pengujian menunjukkan penambahan cerium oksalat sebesar 0.025% dapat meningkatkan jumlah grafit bulat sebesar 18.75%, menurunkan kekuatan mekanis yang diakibatkan adanya porositas akibat adanya dekomposisi cerium oksalat, menimbulkan terbentuknya grafit serpih, inklusi, dan penyusutan mikro.
Optimalisasi Proses Injection Moulding Pada Nanoalumina Moh. Jufri
Jurnal Teknik Industri Vol. 12 No. 1 (2011): Februari
Publisher : Department Industrial Engineering, University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/JTIUMM.Vol12.No1.16-19

Abstract

Composite is arranged from material with function as matrix that has weaker characteristic and material with filler function that has a function to transfer force from load in matrix. Plastic has more advantages than other materials;those are, able to be formed finely, light in weight, easy to get and the price is cheaper relatively. However, the problem is the filler that is involved here is still using fiberglass in which it will disturb human health. Alumina dust used here is Merck by particle size of > 0.063 mm, to get nano size then it would be mixed by Mixer Ball Mill for 50 hours and would be measured for dust grain size with particle size analyzer (PSA), then it is dehydrated in the oven by temperature of 80° C. The percentage of nano alumina for each are 1%, 2%, 3%, 4% ,5%,6% and 7%. Furthermore, it is mixed with PP plastic grain that is conducted by internal mixer to ensure the material distribution evenly, then it is poured in hoper in injection moulding machine that is operated in the temperature of 170° C and is injected in sample test moulding. The result of characterization of tensile strength, modulus elasticity and tensile show the decrement by addition of 2–3% of nano alumina in polypropylene matrix.
The effect of adding borax on the Oxy-Acetylene Welding (OAW) process on tensile strength of ST42 steel Moh. Jufri; Hendaryati, Heni; Nur Subeki; Pramojo, Mita Putri Bambang; Baiq Firyal Salsabila Safitri
Journal of Energy, Mechanical, Material, and Manufacturing Engineering Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jemmme.v9i2.34988

Abstract

The welding process aims at joining materials, especially metals or thermoplastic for certain purposes. It melts the materials in the joining process. In some cases, such material is difficult to be joined with the welding process. Therefore, an appropriate flux is needed in this process. The effect of adding borax in the welding process of OAW is the focus of this research. The research was conducted using the experimental method of adding 1 gram, 3 grams, and 5 grams of borax to the brass and ST42 steel welding process. Borax was added to aid the adhesion process between brass and steel as both have different properties. This research results in the highest elongation value in 1 gram of borax addition; the elongation is 3.9935 cm. Meanwhile, adding 1 gram of borax also affects the welding joints’ ultimate tensile strength (UTS). It results in the highest UTS value of 9.961779 kN/mm2 among the other weight variations of borax addition. It indicates that the borax addition with proper weight in the welding process affects the joints. Moreover, the borax addition in the welding process influences the elongation values, ultimate tensile strength, and modulus of elasticity of the welding joints.