p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri
Ayu Sasmita Rany
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Azitromisin Untuk Pencegahan Bronchopulmonary Dysplasia pada Bayi Prematur Ayu Sasmita Rany; Putri Maharani Tristanita Marsubrin
Sari Pediatri Vol 23, No 4 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.4.2021.270-8

Abstract

Latar belakang. Bronchopulmonary dysplasia (BPD) merupakan salah satu komplikasi terbanyak pada bayi prematur dan juga merupakan prediktor penting terjadinya gangguan perkembangan. Upaya untuk mencegah BPD penting dilakukan untuk menurunkan angka mortalitas bayi prematur. Tujuan. Mengetahui efektivitas azitromisin dalam pencegahan BPD pada bayi prematur. Metode. Penelusuran pustaka dilakukan secara ekstensif melalui beberapa pangkalan data, yaitu Pubmed, Cochrane, Google scholar, dan EBSCO dengan kata kunci “neonates”, “OR” “newborn”, “AND” “preterm”, “OR” “premature”, “AND” “azithromycin”, “AND” “bronchopulmonary dysplasia”. Hasil. Penelusuran literatur diperoleh 1 artikel yang terpilih kemudian dilakukan telaah kritis, yaitu studi telaah sistematik dan meta-analisis oleh Razak dkk, dengan level of evidence 1a. Studi tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok untuk luaran BPD pada seluruh bayi prematur (RR 0,92, IK 95%, 0,71-1,19, p=0,53). Namun, terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang mendapat azitromisin dan kelompok yang mendapat plasebo atau tidak mendapat terapi untuk luaran angka kematian atau BPD pada bayi prematur dengan Ureaplasma positif (RR 0,83, IK 95%, 0,70-0,99, p=0,04). Durasi penggunaan suplementasi oksigen lebih rendah secara bermakna pada kelompok azitromisin dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat terapi (rerata perbedaan -6,06%, IK 95%, -7,4 hingga -4,72, p<0,00001). Kesimpulan. Bukti yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian azitromisin tidak terbukti secara bermakna dapat mencegah BPD pada seluruh bayi prematur, tetapi terdapat penurunan risiko BPD atau kematian pada bayi prematur dengan kultur Ureaplasma positif. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menilai efektivitas azitromisin dalam pencegahan BPD pada bayi prematur.
Masalah Psikososial dan Praktik Transfusi Darah pada Remaja dengan Talasemia Mayor di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Masa Pandemi COVID-19 Ayu Sasmita Rany; Rini Sekartini; Hanifah Oswari; Fitri Primacakti; Hardiono D Pusponegoro; Haryanti Fauzia Wulandari
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.130-7

Abstract

Latar belakang. Pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan masalah psikososial dan mengganggu praktik transfusi pada remaja dengan talasemia mayor. Gambaran keduanya di Indonesia selama pandemi belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran masalah psikososial dan dampak pandemi COVID-19 terhadap praktik transfusi pada remaja talasemia mayor di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.Metode. Studi potong lintang pada 121 pasien talasemia mayor usia 10–<18 tahun. Penilaian psikososial menggunakan SDQ dan CDI. Analisis komparatif berpasangan dilakukan untuk menilai perbedaan frekuensi transfusi dan rerata Hb pretransfusi sebelum dan selama pandemi.Hasil. Sebanyak 11,6% subjek memiliki total skor SDQ abnormal, dengan masalah emosi (18,2%) dan conduct (9,9%) sebagai temuan terbanyak. Suspek depresi ditemukan pada 19% subjek. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada frekuensi transfusi sebelum dan selama pandemi, tetapi terdapat perbedaan bermakna pada pola interval transfusi (p=0,017), rerata Hb pretransfusi (p=0,043), dan volume darah yang didapatkan lebih rendah daripada kebutuhan (p<0,001).Kesimpulan. Masalah emosi dan conduct merupakan masalah psikososial paling umum pada remaja talasemia mayor selama pandemi. Pandemi berdampak pada pola interval transfusi, rerata Hb pretransfusi, dan volume darah yang didapatkan pasien.