Eka Intan Fitriana
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sriwjaya/RSUP Dr. Mohammad Hoesin, Palembang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kejadian Defisiensi dan Insufisiensi Vitamin D pada Pasien Anak dengan Penyakit Ginjal Kronis Anies Mediressia; Eka Intan Fitriana; Achirul Bakri; Hertanti Indah Lestari
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.36-42

Abstract

Latar belakang. Peranan vitamin D penting untuk optimalisasi tata laksana penyakit ginjal kronis (PGK). Defisiensi vitamin D sering terjadi pada pasien PGK. Beberapa cara untuk mencegahnya adalah dengan mengendalikan faktor-faktor yang menyebabkan defisiensi vitamin D dan memberikan suplementasi vitamin D pada pasien PGK.Tujuan. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kejadian defisiensi dan insufisiensi 25(OH)D.Metode. Studi potong lintang dengan analisis regresi logistik terhadap pasien PGK derajat 1-5 berusia 1-17 tahun di RS Muhammad Hoesin Palembang pada Agustus 2019 hingga April 2020. Kadar 25(OH)D diperiksa menggunakan metode enzyme immunoassay dan dikategorikan menjadi defisiensi, insufisiensi dan normal sesuai rekomendasi American Academy of Pediatric. Hasil. Didapatkan 70 pasien PGK dalam penelitian ini. Defisiensi 25(OH)D terjadi pada 64,3% subjek, insufisiensi pada 7,1% dan normal pada 28,6% subjek. Sebagian besar subjek dengan PGK derajat 1 dan 5. Analisis multivariat menunjukkan usia <14 tahun, lama diagnosis ≥2 tahun dan hipoalbuminemia memberikan risiko lebih tinggi pada pasien PGK untuk mengalami defisiensi 25(OH)D dengan OR berturut-turut 5,6; 5,1; 21,2 (p<0,05). Kesimpulan. Angka kejadian defisiensi vitamin D anak PGK 64,3%. Faktor risiko bermakna terhadap kejadian defisiensi vitamin D, yaitu hipoalbuminemia, usia <14 tahun dan lama terdiagnosis ≥2 tahun.
Dampak Usia Pertama Pemberian Makanan Pendamping Asi Terhadap Status Gizi Bayi Usia 8-12 Bulan di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang Eka Intan Fitriana; Julius Anzar; HM. Nazir HZ; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.351 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.249-53

Abstract

Latar belakang. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dini sebelum usia enam bulan akan menyebabkan bayi rentan mengalami penyakit infeksi dan alergi, sehingga dapat mengakibatkan malnutrisi dan gangguan pertumbuhan.Tujuan. Menilai hubungan antara usia pertama pemberian MPASI terhadap status gizi bayi usia 8-12 bulan.Metode. Penelitian kasus-kontrol dilakukan pada bulan 1 Februari-30 April 2012 di Puskesmas dan Posyandu di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang. Sampel didapatkan secara consecutive sampling, dan dikelompokkan sebagai kelompok kasus dengan gizi kurang dan kelompok kontrol dengan gizi baik yang memenuhi kriteria inklusi. Semua subjek dilakukan penelusuran retrospektif mengenai usia pertamakali diberikan MPASI.Hasil. Telah diteliti 240 subyek terdiri dari 80 subyek dengan gizi kurang dan 160 subyek dengan gizi baik. Hasil analisis chi-square dalam mencari hubungan antara usia pertama pemberian MPASI terhadap status gizi menunjukkan OR 1,42 dengan 95% CI antara 0,8-2,4 (p=0,2).Kesimpulan. Pemberian MPASI dini tidak berhubungan dengan status gizi pada usia 8-12 bulan.