Bagus Ngurah Putu Arhana
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Udayana /RSUP Sanglah Denpasar

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Peran Nitrogen Oksida pada Infeksi Eka Gunawijaya; Arhana BNP
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.55 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.113-9

Abstract

Nitrogen oksida (NO) merupakan molekul kimia reaktif, disintesis dari L-Arginin denganbantuan NO synthase (NOS) dan ko-faktor. Aktifitas biologis NO terbatas dekat tempatbiosintesisnya, karena waktu paruh yang singkat. Nitrogen oksida menyebabkan relaksasiotot polos, menghambat agregasi dan adhesi trombosit, serta menghambat proliferasisel. Otot polos yang dipengaruhi ialah otot polos vaskular, traktus respiratorius,gastrointestinal, dan uterus. Relaksasi otot polos vaskular terjadi setelah sintesis sel endotelvaskular, sedangkan yang non vaskular melalui perannya sebagai neurotransmiter nonadrenergik non kolinergik.Dalam proses imunologis, NO dihasilkan oleh sel yang terpapar infeksi. Meliputi selmakrofag, sel neutrofil, sel Kupffer, sel hepatosit, sel astrosit dan mikroglial, sel kondrosit,sel otot polos vaskular, dan sel otot jantung. Pada keadaan infeksi Nitrogen oksidadisintesis dalam jumlah besar. Nitrogen oksida yang dihasilkan bersifat sitotoksik terhadapsel target, mikroorganisme patogen, dan juga pada sel tubuh normal. Inhibitor enzimNOS dan guanilat siklase bisa mengatasi sepsis, tetapi harus diberikan dini sebelumterjadi syok septik berkepanjangan. Inhibitor tersebut meliputi: deksametason, L-NAME,metilin blue, yomogin, aminoguanidin, econazol, dan indometasin. Nitrogen oksida jugaberperan menimbulkan kerusakan jaringan dan organ akibat terapi reoksigenasi padasyok septik yang mengalami hipoksia.
Surveilan Pneumokokus dan Dampak Pneumonia pada Anak Balita Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; I Komang Kari; BNP Arhana; Ida Sri Iswari; Ni Made Adi Tarini
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.359-64

Abstract

Latar belakang. Streptococcus pneumonia (SP) adalah penyebab utama meningitis, pneumonia, danbakteremia pada bayi dan anak. Mikroorganisme tersebut adalah penyebab utama kematian yang dapatdicegah dengan imunisasi pada anak usia di bawah lima tahun. Data tentang insiden invasive pneumococcaldisease (IPD) di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Mengetahui dampak pneumonia dan IPD pada populasi target di Rumah Sakit Umum PusatSanglah Denpasar, Bali, Indonesia.Metode. Surveilan aktif berbasis rumah sakit, prospektif selama satu tahun pada anak usia 28 hari sampai 60bulan. Seluruh anak yang tinggal dalam area cakupan penelitian, usia 28 hari sampai 􀁤36 bulan mengalamidemam 􀁴39°C atau menderita pneumonia, menunjukkan gejala IPDHasil. Subjek 736 anak dengan median usia 10 bulan (79,2% usia 28 hari sampai <24 bulan). S. pneumoniatidak terdeteksi dari seluruh subjek. Biakan darah dilakukan pada 736 subjek, 125 di antaranya (17,19%)menunjukkan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang diisolasi dari biakan darah antara lain Staphylococcus sp 58(46,4%), S. aureus 45 (36,0%), Pseudomonas sp 9 (7,2%), E. coli 3 (2,4%). Diagnosis awal terbanyak adalahpneumonia, 439 (59,7%). Insiden pneumonia 534,2/100000, usia 28 hari - <6 bulan 167,1/100000, danusia 28 hari - <24 bulan 839/100000. Angka insiden tertinggi pneumonia dengan foto dada usia 28 hari - <6bulan yaitu 10,9/100000, dan kelompok usia 28 hari - <24 bulan 19,4/100000. Angka insiden pneumoniadan foto dada dengan CRP 􀁴40 mg/L tertinggi pada kelompok usia 12 bulan - <24 bulan, 82,9/100000.Dilakukan pemeriksaan PCR S. pneumoniae terhadap 106 sampel, terdiri dari kasus meninggal, meningitis,sepsis dan pneumonia berat tidak terdeteksi S. pneumoniaeKesimpulan. Pneumonia mempunyai dampak yang cukup berarti bagi daerah cakupan RSUP Sanglah yangdisebabkan oleh pneumokokus, dan saat ini masih merupakan tantangan.
Rasio Neutrofil dan Limfosit (NLCR) Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Bakteri di Ruang Rawat Anak RSUP Sanglah Denpasar I Made Yullyantara Saputra; W Gustawan; MG Dwilingga Utama; BNP Arhana
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.354-9

Abstract

Latar belakang. Rasio neutrofil dan limfosit (NLCR) memiliki potensi sebagai prediktor bakteremia pada pasien dengan infeksi yang didapat di masyarakat. Insidensi bakteremia, atau adanya bakteri hidup dalam darah, mencapai sekitar 1% kasus pada populasi. Angka kematian mencapai 25%-30% dan meningkat hingga 50% pada sepsis berat.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan rasio neutrofil dan limfosit (NLCR) dengan kejadian infeksi bakteri.Metode. Sebuah studi kasus-kontrol dilakukan dengan meninjau rekam medis di RSUP Sanglah, Denpasar, pada periode Januari 2016 hingga Maret 2018. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, kadar WBC, Neutrofil, limfosit, monosit, platelet, dan kultur darah. Kemudian dilakukan analisis hubungan antara rasio neutrofil dan limfosit terhadap infeksi aliran darah.Hasil. Selama periode studi didapatkan 98 pasien dengan hasil kultur positif dan 100 pasien dengan hasil kultur negatif. Dari total subjek yang dianalisis, didapatkan 116 (58,5%) subjek laki-laki dan 82 (40,9%) subjek perempuan. Median usia pada kelompok kasus adalah 12 bulan, sedangkan median usia pada kelompok kontrol adalah 24 bulan. Analisis kurva ROC menunjukkan nilai cut-off optimal untuk NLCR adalah 4,67. Rasio odd untuk hubungan antara NLCR dengan kejadian infeksi bakteri adalah 3,24 (95% IK 1,74 – 5,92) dan adjusted odds ratio sebesar 3,49 (95% IK 1,83-6,64).Kesimpulan. Nilai NLCR ≥4,67 merupakan faktor risiko untuk infeksi aliran darah yang berkembang. Hasil ini dapat digunakan sebagai titik potong untuk antibiotik yang awalnya diberikan untuk mencegah prognosis yang buruk (sepsis, kegagalan organ multipel, dan kematian).
Rasio IgM/IgG Fase Akut Untuk Menentukan Infeksi Dengue Sekunder Bagus Ngurah Putu Arhana
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.2-8

Abstract

Latar belakang. Uji hemaglutinasi inhibisi (HI) memerlukan waktu relatif lama untukmenentukan infeksi dengue primer dan sekunder, karena memerlukan pemeriksaan serumpada fase akut dan konvalesen. Beberapa penelitian dengan menggunakan rasio IgM/IgG untuk menentukan infeksi primer dan sekunder menghasilkan rasio yang berbedabeda.Tujuan. Untuk mengetahui gambaran IgM dan IgG pada infeksi Dengue dan akurasirasio IgM/IgG secara Elisa pada fase akut untuk menentukan infeksi sekunder.Metoda. Dilakukan uji diagnostik pada sampel yang diambil secara berkesinambungan(consecutive sampling) pada 62 anak yang dicurigai menderita demam berdarah dengueantara Juli 2003 sampai dengan Juni 2004, dengan menggunakan rasio IgM/IgG secaraElisa pada fase akut. Uji Hambatan Hemaglutinasi sesuai dengan kriteria WHO sebagaibaku emas.Hasil. Dari 62 anak yang ikut dalam penelitian ini, ditemukan 48 anak dengan infeksisekunder dan 14 anak dengan infeksi primer. Kadar rerata IgG pada anak denganDBD baik syok maupun tidak lebih tinggi secara bermakna daripada demam dengue.Prevalensi infeksi sekunder adalah 77,4%. Cut off point paling baik dari rasio IgM/IgG sebagai prediktor infeksi sekunder adalah < 0,9 (sensitivitas 87,5%, spesifisitas92,9%, rasio kemungkinan 12,3). Prevalensi dari syok pada infeksi sekunder adalah16,7%. Cut off point paling baik dari rasio kadar IgG sebagai prediktor SSD padainfeksi sekunder adalah > 165,0 U/mL (sensitivitas 87,5%, spesifisitas 97,5%, rasiokemungkinan 35,0).Kesimpulan. Kadar rerata IgG pada DBD nonsyok dan DBD syok secara bermaknalebih tinggi daripada demam dengue. Rasio IgM/IgG < 0,9 dapat dipakai sebagaiprediktor infeksi sekunder dan kadar IgG > 165,0 U/mL dapat dipakai sebagai prediktorterjadinya syok pada infeksi sekunder.