Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Sistem Peramalan Penjualan Menggunakan Metode Trend Moment Pada Toko Mebel Nabila Furniture Paguyangan Brebes Berbasis Desktop Desta Nur Efika Ardini; Andi Dwi Riyanto; Primandani Arsi; Yusyida Munsa Idah; Agung Prasetyo
Jurnal Informatika Upgris Vol 5, No 2: Desember (2019)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiu.v5i2.4346

Abstract

Persediaan stok spring bed pada toko Mebel Nabila Furniture masih sering mengalami fluktuasi. Sistem peramalan penjualan barang hanya berdasarkan perkiraan saja sehingga mengakibatkan sering terjadinya kekurangan stok barang dan kelebihan persediaan barang di toko. Guna mempermudah dalam menentukan jumlah stok yang harus disediakan maka dibutuhkan sistem dengan metode peramalan penjualan tertentu. Metode yang digunakan untuk menghitung peramalan ini adalah metode trend moment. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi untuk peramalan penjualan menggunakan metode Trend Moment untuk pengambilan keputusan dalam mengetahui jumlah stok mebel di toko Mebel Nabila Furniture. Dengan adanya sistem peramalan penjualan barang mebel dan furniture menggunakan metode trend moment dapat membantu pihak toko dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan jumlah stok dan prediksi jumlah penjualan barang pada periode tertentu sehingga meminimalisir kelebihan atau kekurangan stok pada toko Mebel Nabila Furniture.
PEMODELAN PROSES BISNIS PENGADAAN BARANG (STOK) MENGGUNAKAN PENDEKATAN BUSINESS PROCESS MODELLING NOTATION (BPMN): Studi Kasus: SHM Motor Purwokerto Candra Novian; Yusyida Munsa Idah; Zanuar Rifai
Journal of Information System Management (JOISM) Vol. 3 No. 2 (2022): Januari
Publisher : Universitas Amikom Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.06 KB) | DOI: 10.24076/joism.2022v3i2.600

Abstract

Dalam organisasi tentunya sudah pasti memiliki proses bisnis yang menopang kegiatan atau aktivitas bisnis didalamnya guna mecapai visi dan misi yang teridentifikasi. Saat ini proses bisnis yang berjalan di Sahabat Hutama Mandiri atau SHM Purwokerto sudah dibantu dengan sistem inventory akan tetapi sistem tersebut masih memiliki banyak kekurangan seperti kurangnya fitur-fitur sehingga admin harus membuat pencatatan secara manual untuk bagian yang belum memiliki fitur. Maka dari itu perlu dibuat Business Process Model and Notation (BPMN) yang bertujuan untuk mengetahui proses bisnis yang terjadi di SHM Purwokerto dan, meminimalisir kesalahan yang sering terjadi pada sistem yang ada di Sahabat Hutama Mandiri Purwokerto. Hasil dari penelitian ini adalah perlu ada nya penambahan beberapa fitur-fitur seperti fitur return atau pengembalian barang yang rusak, sistem penentuan harga yang ada di sistem inventori pada Sahabat Hutama Mandiri.
Edukasi Pengelolaan Sampah Melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Kain Perca Menjadi Tas Ramah Lingkungan Yusyida Munsa Idah
Jurnal Pengabdian Mitra Masyarakat (JPMM) Vol 2, No 1: April 2020
Publisher : Universitas Amikom Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.599 KB) | DOI: 10.35671/jpmm.v2i1.919

Abstract

Perkembangan Fashion di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Namun dari perkembangan industri fashion tersebut menimbulkan  dampak negatif yaitu para penjahit dan konveksi membuang sisa kain perca tersebut begitu saja. Jika limbah-limbah tersebut dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka akan mengurangi persoalan mengenai pengelolaan limbah yang tidak terurai tersebut. Sayangnya, para pemilik usaha konveksi dan penjahit yang ada di Purwokerto Utara belum tahu apa yang harus dilakukan dengan limbah-limbah tersebut. Tujuan dari progra imi adalah untuk penanganan masalah sampah kain perca serta sampah plastik yang ada di kelurahan Sumampir Purwokerto Utara, dan juga meningkatkan ketrampilan menjahit sederhana, sehingga ibu-ibu yang mempunyai mesin jahit sendiri bisa membuat tas dari kain perca sebagai alternatif pengganti tas belanja dari plastik. Metode yang digunakan untuk merealisasikan program pengabdian masyarakat ini adalah dengan memberikan ilmu tentang pengertian sampah dan jenis-jenisnya serta bagaimana mengelola sampah  yaitu barang-barang bekas untuk dijadikan sebagai tas belanja dan barang-barang bernilai ekonomis lainnya. Hasil dari program ini adalah meningkatnya pengetahuan dan pemahaman Ibu-ibu pkk rt 01 rw 07 di Kelurahan Sumampir Kecamatan Purwokerto Utara tentang sampah dan jenis-jenisnya serta pengelolaan sampah dan kegiatan jahit menjahit, yaitu cara membuat asesoris dan tas belanja dari kain perca. Dari kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat disimpulkan bahwa dengan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu pkk rt 01 rw 07 di Kecamatan Purwokerto Utara maka ibu-ibu tersebut dapat membuat sendiri produk-produk yang terbuat dari kain perca.
Pelatihan UMKM Menjahit Masker bagi Masyarakat terdampak Pandemi COVID-19 Yusyida Munsa Idah; Wanda Fitrianingsih
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 5, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.643 KB) | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v5i1.1384

Abstract

Covid-19 is a virus that first appeared in the city of Wuhan in China. Efforts to break the chain of the spread of Covid-19 were carried out by the government and religious institutions by issuing regulations on social distancing. Social activities are banned and temporarily suspended, the economy is weakening, shopping centers are empty and the informal sector is closed. Many fields have experienced a decline, including the fashion sector, namely clothing sewing services and other forms of fashion business. So that some tailors and other fashion entrepreneurs have decreased their income. Currently, fashion products that are still relevant to the conditions of the Covid-19 pandemic are masks. Cloth masks are alternative masks that can be used that are recommended by WHO for use by people other than medical personnel. So the tailors can take advantage of this opportunity to become an alternative product that can be produced. The problem that occurs with partners is the decline in income due to the Covid-19 pandemic and many tailors do not know information about what types of materials should be used to make masks as recommended by WHO, and the right mask model. The solution to the above problems is an effort to increase income by diversifying products, namely making masks. For this reason, training in making masks is necessary. From this service activity, several things were produced, namely knowledge of the ingredients for making masks, and skills on how to make masks. Covid 19 merupakan virus yang pertama kali muncul di kota Wuhan di Cina. Upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 dilakukan pemerintah dan lembaga keagamaan dengan menerbitkan peraturan tentang social distancing. Aktivitas sosial dilarang dan ditunda sementara waktu, melemahnya ekonomi, pusat perbelanjaan sepi pengunjung dan sektor informal ditutup. Banyak bidang mengalami penurunan, termasuk bidang fashion, yaitu jasa menjahit pakaian dan bentuk usaha fashion lainnya. Sehingga beberapa penjahit dan pengusaha fashion lainnya mengalami penurunan pendapatan. Saat ini produk fashion yang masih relevan dengan kondisi pandemi Covid-19 adalah masker. Masker kain adalah masker alternatif yang dapat digunakan yang disarankan oleh WHO untuk digunakan oleh masyarakat selain tenaga medis. Maka para penjahit bisa memanfaatkan peluang ini untuk menjadi produk alternatif yang bisa diproduksi. Permasalahan yang terjadi pada mitra adalah terjadinya penurunan pendapatan akibat terjadinya pandemi covid-19 dan banyak penjahit yang belum tahu informasi tentang jenis bahan apa yang sebaiknya digunakan untuk membuat masker seperti yang disarankan oleh WHO, dan model masker yang tepat. Solusi dari permasalahan di atas adalah upaya menaikkan pendapatan dengan mendiversifikasikan produk yaitu membuat masker. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan membuat masker.  Dari kegiatan pengabdian ini dihasilkan beberapa hal yaitu pengetahuan tentang bahan membuat masker, dan ketrampilan cara membuat masker.
PENDAMPINGAN PROGRAM INOVASI KETILANG TUBERCULOSIS¬ DENGAN MENGGUNAKAN PENYINTAS SEBAGAI AGENT OF CHANGE DI PUSKESMAS PURWOKERTO UTARA 2 Prita Suci Nurcandrani; Yusyida Munsa Idah; Adam Prayogo Kuncoro
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.19400

Abstract

ABSTRAKKetilang TB (Kelompok Motivator Layanan Pengobatan TB) merupakan program Inovasi Puskesmas Purwokerto Utara 2 yang ditujukan untuk mencapai indikator pelayanan kesehatan pada orang terduga (suspect) tuberkolosis di wilayah kerjanya hingga 100% di tahun 2023, yaitu pada angka temuan target sebanyak 297 pasien. Pada tahun 2022 capaian hanya 79,79% yang artinya masih jauh dari keberhasilan yang diharapkan. Terhitung sejak bulan Januari hingga awal April 2023 tercatat ada 10 pasien baru, dan 9 pasien lanjut pengobatan, serta 8 pasien sembuh. Angka tersebut masih jauh dari target yang dicanangkan sehingga perlu percepatan untuk dapat menjangkau suspect hingga 8 bulan ke depan. Program inovasi tersebut menekankan pada pemberdayaan kader post TB (penyintas) yang sudah sembuh/pengobatan lengkap. Tujuan dari program pendampingan ini adalah memaksimalkan peran penyintas yang dikemas dalam bentuk media videografi edukasi mengenai pentingnya sanitasi yang baik dan perilaku hygiene. Media tersebut dipandang penting untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang berkelanjutan bagi program ini. Media juga mendampingi penyintas dalam menyampaikan pesan sehingga diharapkan lebih efektif. Target pada pengabdian ini yaitu penguatan karakter penyintas, peningkatan pengetahuan mengenai sanitasi dan perilaku hygiene oleh suspek TB, keterampilan memanfaatkan media oleh kelompok inovator Ketilang TB meningkat dengan prosentase peningkatan sejumlah 24% (dua puluh empat persen) berdasarkan pengujian melalui kuesioner pre-test dan post-test. Kata kunci: pendampingan; program ketilang tuberculosis; penyintas; media edukasi. ABSTRACTKetilang TB (TB Treatment Service Motivator Group) is an Innovation program of Puskesmas Purwokerto Utara 2 which aims to achieve health service indicators for suspected tuberculosis in their work area up to 100% in 2023, namely at a target finding of 297 patients. In 2022, the achievement is only 79.79%, which means that it is still far from the expected success. From January to early April 2023, there were 10 new patients, 9 patients who continued treatment, and 8 patients recovered. This figure is still far from the declared target so it needs acceleration to be able to reach suspects for the next 8 months. The innovation program emphasizes empowering post-TB cadres (survivors) who have recovered/completed treatment. The purpose of this mentoring program is to maximize the role of survivors which is packaged in the form of educational videography media about the importance of good sanitation and hygiene behavior. The media is considered important to ensure the fulfillment of sustainable IEC (Communication, Information and Education) needs for this program. The media also assists survivors in conveying messages so that it is expected to be more effective. The targets of this service are strengthening the character of survivors, increasing knowledge about sanitation and hygiene behavior by TB suspects, media utilization skills by the TB Finite innovator group increasing by an increasing percentage of 24% (twenty-four percent) based on testing through pre-test and post-test questionnaires. Keywords: mentoring; tuberculosis finches program; survivors; educational media.
Peningkatan kapasitas badan usaha milik desa melalui pengelolaan sumber mata air dan manajemen sumber daya manusia Siti Alvi Sholikhatin; Yusyida Munsa Idah; Zanuari Rifai; Neva Fradista; Raihan Zein Muzakki; Sabrina Nur Aulya
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.36282

Abstract

AbstrakBadan Usaha Milik Desa (Bumdes) merupakan lembaga ekonomi desa yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa dan bertujuan untuk menampung seluruh kegiatan ekonomi dan pelayanan umum di desa demi meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Bumdes Melung di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas memiliki beberapa sub-unit yaitu: sub-unit wisata, sub-unit simpan pinjam, sub-unit perdagangan, dan sub-unit sumber daya air. Secara umum, sub-unit yang berjalan dan mampu dikelola dengan maksimal hanya sub-unit wisata, sedangkan sub-unit yang lain kurang berkembang. Hal ini menyebabkan manajemen internal bumdes tidak mampu memaksimalkan potensinya. Padahal, secara khusus, sub-unit sumber daya air sangat berpotensi untuk dikembangkan karena Desa Melung memiliki sumber mata air Cendana yang mengalirkan air murni dari kaki Gunung Slamet. Sumber mata air tersebut mampu mengaliri seluruh kebutuhan masyarakat di Desa Melung dan merupakan sumber kehidupan. Sayangnya, sumber mata air tersebut belum dikelola dengan maksimal untuk sebaik-baiknya kebutuhan masyarakat. Terutama untuk memenuhi kebutuhan air konsumsi. Sehingga pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi bumdes Melung serta menerapkan alat suling air untuk memproduksi air minum siap konsumsi agar kebutuhan masyarakat terpenuhi secara mandiri. Metode yang digunakan yaitu dengan sosialisasi intensif serta pelatihan yang berkelanjutan. Hasil dari kegiatan yaitu terselenggara pelatihan dan pendampingan kepada manajemen staf bumdes. Selain itu, telah diterapkan alat suling air yang digunakan untuk memproduksi air konsumsi dan didistribusikan bagi masyarakat Desa Melung. Kata kunci: pengabdian masyarakat; bumdes, Melung; manajemen AbstractBadan Usaha Milik Desa (Bumdes) is a village economic institution whose capital is wholly or largely owned by the village and aims to accommodate all economic activities and public services in the village in order to improve the welfare of its community. Bumdes Melung in Kedungbanteng District, Banyumas Regency, has several sub-units: a tourism sub-unit, a savings and loan sub-unit, a trade sub-unit, and a water resources sub-unit. In general, the only sub-unit that is running and can be managed optimally is the tourism sub-unit, while the other sub-units are underdeveloped. This has resulted in the internal management of Bumdes being unable to maximize its potential. In fact, the water resources sub-unit has great potential for development because Melung Village has the Cendana spring, which flows with pure water from the foothills of Mount Slamet. This spring is capable of supplying all the needs of the community in Melung Village and is a source of life. Unfortunately, this spring has not been managed optimally to best meet the needs of the community, especially for drinking water. Therefore, this community service project aims to develop the capacity and competence of the BUMDes and implement a water distillation device to produce ready-to-drink water so that the community's needs can be met independently. The methods used are intensive socialization and ongoing training. The results of the activity include the implementation of training to the staff. Additionally, a water distillation device has been implemented to produce drinking water, which is distributed to the community of Melung Village. Keywords: community service; bumdes; melung; management.
Penerapan alat produksi dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk olahan kopi melung Yusyida Munsa Idah; Zanuari Rifai; Siti Alvi Sholikhatin; Fiby Nur Afiana; Anugerah Bagus Wijaya; Rida Purnama Sari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.31063

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim pelaksana dari Universitas Amikom Purwokerto berkolaborasi dengan mitra yaitu Kopine Inyong dan Lung Coffee, didampingi oleh BUMDes Alam Lestari, bertujuan untuk mengangkat brand kopi lokal Melung dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas produk kopi. Metode peningkatan kapasitas produk kopi dilakukan dengan menerapkan inovasi berupa pengadaan alat produksi yang lebih mutakhir, antara lain alat roasting, grinder, dan alat pengemasan sachet. Sementara metode untuk meningkatan kualitas dilakukan dengan menciptakan produk turunan kopi berupa kopi rempah, kopi krimer, dan kopi gula aren. Visibilitas merek dilakukan dengan membuatkan desain logo dan kemasan sehingga lebih menarik. Selain itu, pelatihan dan pendampingan digital marketing juga dilakukan dalam upaya menjangkau konsumen di pasar yang lebih luas. Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan terdiri dari delapan kegiatan yaitu: Sosialisasi, Pelatihan Public Speaking, Pelatihan Desain Logo dan Kemasan, Pelatihan Diversifikasi Produk Turunan Kopi, Pelatihan dan Pendampingan Pemasaran Online, Pendampingan Peningkatan Bahan Baku, Pendampingan Pengujian Label Nutrisi, Pelatihan dan Pendampingan Kemasan Sachet. Hasil kegiatan yaitu mitra Kopine Inyong dan Lung Coffee telah berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk kopi melung, serta adanya pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace. Kata kunci: pengabdian masyarakat; kopi melung; digital marketing AbstractCommunity service activities conducted by the team of Amikom Purwokerto University in collaboration with partners Kopine Inyong and Lung Coffee, accompanied by BUMDes Alam Lestari, aim to raise the local coffee brand Melung by increasing the capacity and quality of coffee products. The method of increasing the capacity of coffee products is carried out by implementing the product equipments, including roasting equipment, grinders, and sachet packaging equipment. Meanwhile, the method to improve quality was carried out by creating coffee derivative products such as spice coffee, creamer coffee, and palm sugar coffee. Brand visibility was enhanced by creating logo and packaging designs to make them more attractive. In addition, digital marketing training and assistance were also conducted in an effort to reach consumers in a wider market. The training and mentoring consisted of eight activities, namely: Introduction of the Program, Public Speaking Training, Logo and Packaging Design Training, Coffee Derived Product Diversification Training, Online Marketing Training and Assistance, Raw Material Improvement Assistance, Nutrition Label Testing Assistance, Sachet Packaging Training and Assistance. The results of the activity are that Kopine Inyong and Lung Coffee partners have succeeded in increasing the production capacity and quality of melung coffee products, as well as digital marketing through social media and marketplaces. Keywords: community service; kopi melung; digital marketing