Abstract. Nilem fish (Osteochilus hasselti) is one of the freshwater aquaculture fish that many consumers like because it has a delicious taste and affordable prices. Market demand for the availability of nilem fish seeds continues to increase, but fish cultivators in Sumampir Village (RT0 / RW06) North Purwokerto, Banyumas Regency, have not been able to provide it optimally. This condition occurs because fish cultivators are still managing their hatchery business conventionally. Based on the request of the target audience, dissemination has been carried out to apply a multipurpose hatchery through training on nilem fish hatchery in limited land. The goal is to train and educate cultivators in planning, preparing tools and materials, and conducting fish hatcheries in a multipurpose cultivation container. The method applied is participatory, including preparation, implementation of training, and evaluation of activities. The realization of the activities was carried out in stages which included lectures, practice, and making demonstration plots, which were conducted face-to-face (offline) and online. The results of the activities achieved were that the Kelompok Pembudidaya Ikan (pokdakan) members were able to carry out induction of nilem fish hatchery and non-mass natural spawning, with a male to female ratio of 1: 2. The target audience has also succeeded in producing seeds on limited land using multipurpose containers. During a month able to do spawning three times. The resulting seeds are maintained for two weeks, then sold to other fish farmers. The target audience has also been able to disseminate their knowledge and skills to other fish cultivators. Abstrak. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan salah satu ikan budidaya air tawar yang banyak disukai konsumen, karena memiliki citarasa gurih dan harga terjangkau. Permintaan pasar terhadap ketersediaan benih ikan nilem terus meningkat, tetapi pembudidaya ikan di Kelurahan Sumampir (RT0/RW06) Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas, belum mampu menyediakannya secara optimal. Kondisi tersebut terjadi karena pembudidaya ikan masih mengelola usaha pembenihannya secara konvensional. Berdasarkan permintaan khalayak sasaran, maka telah dilakukan diseminasi untuk mengaplikasikan wadah pembenihan serba guna melalui pelatihan pembenihan ikan nilem di lahan terbatas. Tujuannya untuk melatih dan mendidik pembudidaya dalam merencanakan, menyiapkan alat dan bahan, dan melakukan pembenihan ikan dalam wadah budidaya serbaguna. Metode yang diterapkan adalah partisipatif, meliputi persiapan, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi kegiatan. Realisasi kegiatan dilaksanakan secara bertahap yang meliputi ceramah, praktek dan pembuatan demplot, yang dilakukan secara tatap muka (luring) dan daring. Hasil kegiatan yang dicapai yaitu anggota pokdakan telah mampu melakukan pembenihan ikan nilem secara induksi dan pemijahan alami non-massal, dengan perbandingan jantan dan betina adalah 1:2. Khalayak sasaran juga telah berhasil memproduksi benih pada lahan terbatas dengan menggunakan wadah serbaguna. Selama sebulan mampu melakukan pemijahan sebanyak tiga kali. Benih yang dihasilkan dipelihara selama dua minggu, kemudian dijual ke petani ikan lainnya. Khalayak sasaran juga telah mampu menyebarluaskan pengetahuan dan ketrampilannya kepada pembudidaya ikan lainnya.