Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Integrasi Pelabuhan Bandar Srijunjungan Dan Angkutan Umum Dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Transportasi Elviana R Simbolon, S.Kom., M.MTr; M. Yugi Hartiman; Listantari Listantari
Jurnal Transportasi Multimoda Vol 18, No 1 (2020): juni
Publisher : Puslitbang Transportasi Antarmoda-Kementerian Perhubungan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3915.617 KB) | DOI: 10.25104/mtm.v18i1.1611

Abstract

Rencana pengoperasian angkutan penyeberangan lintas negera Ro-Ro Dumai-Malaka sudah dilakukan dan diinisiasi sejak tahun 1996. Pemerintah Provinsi Riau dan Kota Dumai telah melakukan pembangunan dermaga pelabuhan kapal Ro-Ro di Kelurahan Pangkalan Sesai Kota Dumai sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 376 Tahun 2006 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 44 Tahun 2009 tentang Penetapan Lintas Penyeberangan Dumai (Indonesia) – Malaka (Malaysia). Realisasi pengoperasian lintas penyeberangan kapal Ro-Ro Dumai-Malaka ditargetkan pada Bulan September 2019. Malaysia menyiapkan lokasi pelabuhan Ro-Ro di Tanjung Bruas, sedangkan di Indonesia ditetapkan Pelabuhan Bandar Sri Junjungan.Evaluasi keterpaduan transportasi angkutan antarmoda penumpang dan barang di pelabuhan Bandar Sri Junjungan dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan transportasi antarmoda dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek secara komprehensif, yaitu terkait dengan Integrasi jaringan prasarana yang terdiri dari integrasi ruang lalu lintas dan integrasi prasarana perpindahan moda, integrasi jaringan pelayanan yang melipuri aspek intergrasi jaringan pelayanan angkutan umum antarmoda dan integrasi pelayanan dengan aspek integrasi pelayanan dan operasional.Penilaian tingkat CSI terhadap pelayanan keterpaduan jaringan prasarana, keterpaduan jaringan pelayanan dan keterpaduan pelayanan di Pelabuhan Bandar Sri Junjungan masih rendah. Perlu ada beberapa perbaikan dan peningkatan fasilitas keterpaduan transporasi integrasi antarmoda di Pelabuhan Bandar Sri Junjungan. Berdasarkan hasil kajian diperoleh permasalahan dan solusi berupa basic design yang dapat diwujudkan lebih detail dalam DED yang didukung dengan data yang lebih komprehensif sehingga akan menghasilkan model shelter angkutan umum dan jalur penghubung yang nyaman.
How Motorcyclists Will Respond to Congestion Charging in Jakarta, Indonesia Yugihartiman, Masrono; Herawati, Herawati
Journal of Regional and City Planning Vol. 36 No. 1 (2025)
Publisher : The Directorate for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2025.36.1.2

Abstract

Congestion charging is planned to be implemented in Jakarta, Indonesia to replace the current odd-even traffic policy. Even though motorcycles account for the largest component of traffic in Jakarta, at around 75.8%, few studies exist on the effects of policy changes on motorcycle commuter trips. At the moment, motorcyclists are explicitly excluded from the odd-even scheme, therefore research on their response to congestion charging is worth doing. The response of travelers to such a policy may include transport mode shifting, route diversion, or choosing not to travel. Most studies on the influence of congestion charging emphasize one possible response, namely modal shifting. In this study, the responses studied included modal shifting, route diversion, and the possibility of telecommuting. A total of 421 out 2,125 people who answered the e-survey questionnaire were chosen as the sample. They were evenly distributed across all areas of Greater Jakarta, through which eight corridors pass. The model was analyzed using the multinomial logit model and the conditional logit model to estimate the attribute parameters of each alternative and the probability of choices, employing the NLOGIT6 econometric software. The results of the study were compared to other recent studies, providing consistent results. In-vehicle time, congestion charging rate, and public transportation fare were found to be significant factors, at α = 0.05. The socio-demographic variables income and motorcycle ownership and the travel characteristic weekly trip frequency significantly influenced the travel behavior of motorcyclists. As for the probability that motorcyclists are willing to pay a congestion charge it was found that about one-third of all motorcycle travelers say they are willing to do so, while the probability of motorcyclists diverting to alternative roads accounted for 35.46%, shifting to public transport 16.66%, and deciding not to travel 3.16%.
Analisis Structural Equation Modeling Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Jalan Kaki Masyarakat Kota Salatiga Satriawan, Ghulam; Yugihartiman, Masrono; Wijonarko, Bambang
Jurnal Transportasi Multimoda Vol 22 No 1 (2024): Juni
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/mtm.v22i1.2362

Abstract

Permasalahan transportasi yang umum terjadi dalam perkotaan ialah tingginya penggunaan kendaraan bermotor (motorized). Hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap transportasi, seperti kemacetan, kecelakaan, dan polusi udara. Selain itu, juga terjadi penurunan minat untuk menggunakan kendaraan tidak bermotor maupun angkutan umum, seiring dengan kebutuhan masyarakat terhadap alat transportasi untuk menunjang aktivitas. Kita bisa berkaca pada Ibu Kota Negara (IKN) yang mendorong mobilitas dan konektivitas yang terfokus pada kualitas hidup dengan menjadikan kota yang aktif dan ramah pejalan kaki, yang didesain lebih mengutamakan pejalan kaki atau pergerakan mobilitas aktif. Hal ini dapat menjadi contoh untuk kota-kota di Indonesia untuk mengedepankan transportasi berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor berpengaruh sebagai upaya menarik kembali minat masyarakat untuk berjalan kaki. Pengumpulan data penelitian menggunakan survei wawancara dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan pada Google Form. Pengolahan data menggunakan pendekatan SEM dengan bantuan software Smart-PLS. Berdasarkan data dari 250 responden, diperoleh faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan berjalan kaki, yakni amenities, ketertiban sosial, sikap, keselamatan, dan integrasi moda.
Strategi Peningkatan Aksesibilitas Inklusif dan Berkelanjutan di Kawasan Pendidikan Kota Malang Surya, Happy Cola Mitra; Yugihartiman, Masrono
Jurnal Transportasi Multimoda Vol 23 No 1 (2025): Juni
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/mtm.v23i1.2433

Abstract

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan bangkitan tarikan perjalanan yang tinggi karena fungsinya sebagai kota pendidikan. Kawasan pendidikan mengakibatkan berkembangnya aktivitas tata guna lahan lain sehingga menjadi sangat padat dan kompleks. Keterkaitan antara tata guna lahan dan sistem transportasi yang belum optimal mengakibatkan lalu lintas campuran sehingga aksesibilitas pejalan kaki sangat terbatas dan berisiko terhadap keselamatan pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan melalui peningkatan aksesibilitas yang inklusif dan berkelanjutan guna mereduksi emisi gas buang, meningkatkan walkability index, dan efisiensi ekonomi. Penyediaan kawasan pejalan kaki (pedestrian precinct) di Jalan Gajayana dan Jalan Sumbersari sebagai area khusus bagi pejalan kaki berperan penting dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan nyaman, konektivitas dengan halte, penyediaaan lajur pesepeda, micromobility, dan transportasi umum ramah lingkungan, menjadikan lokasi tersebut mampu memberikan multiplier effect yang berpedoman pada 3 aspek sustainable transport, yaitu aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi sebagaimana yang telah dituangkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran dengan menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Setelah dilakukan simulasi penerapan tersebut, didapatkan bahwa kecepatan rata-rata jaringan sebesar 15,34 km/jam, level of service ruas jalan di Kawasan Pendidikan Kota Malang maksimal C, penurunan emisi gas buang NOx Jalan Gajayana 2 dari 24,81% menjadi 0,10% dan walkability index dari 31,71 menjadi 95,40 (status highly walkable). Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas memiliki potensi signifikan dalam mendorong perbaikan kualitas, dan memberikan dasar strategis dalam perumusan kebijakan transportasi perkotaan yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
Portable system for real-time traffic volume and speed estimation using YOLOv10 Sradha Nanda, Ida Bagus; Yugihartiman, Masrono; Primadi Hendri, Eko; Suartika, I Made
IAES International Journal of Artificial Intelligence (IJ-AI) Vol 15, No 1: February 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijai.v15.i1.pp300-309

Abstract

Accurate traffic data is essential for effective transportation planning and policymaking. However, in many regions, especially those lacking intelligent infrastructure, data collection remains dependent on manual methods that are labor-intensive, time-consuming, and susceptible to human error. While advanced systems such as closed-circuit television (CCTV) and area traffic control systems (ATCS) offer automation, their high cost and infrastructure requirements limit widespread adoption. This study proposes a portable, low-cost, and real-time traffic monitoring system based on the YOLOv10 object detection algorithm. The system operates using only a smartphone-grade camera (1080 p, 60 fps) and a standard laptop, eliminating the need for expensive installations. It detects, classifies, and counts vehicles as they pass through a predefined region of interest (ROI), and also estimates their speed based on time–distance measurements. Field evaluations using five one-hour urban traffic videos showed excellent agreement with manual counts, achieving a mean absolute percentage error (MAPE) of just 0.30%. Speed estimation trials conducted on sample clips also demonstrated consistent and plausible results. These findings highlight the system’s potential as a scalable and accurate alternative for traffic monitoring in infrastructure-limited environments.