Yenny Jeine Wahani
Universitas Negeri Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEKNIK PEMBIMBINGAN LAFAL MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI GURU-GURU BAHASA JEPANG DI SULAWESI UTARA Franky R Najoan; Yenny Jeine Wahani; Fitri Ifi Gama
ABDIMAS: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 13, No 3 (2020): ABDIMAS: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : LPPM UNIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.936 KB) | DOI: 10.36412/abdimas.v13i3.3109

Abstract

Pendidikan Bahasa Jepang di Sulawesi Utara dapat dikatakan cukup maju karena terdapat 106 sekolah menengah (SMP, SMA, SMK, MA) yang mengajarkan Bahasa Jepang sebagai bahasa asing di masing-masing sekolah, dengan jumlah guru 142 orang, dan jumlah siswa 17,958 orang. Dalam pelaksanaan Pendidikan dan pembelajaran bahasa Jepang di sekolah tidak terlepas dari berbagai permasalahan, mulai dari kesiapan guru, fasilitas, daya serap siswa, motivasi, dan lain-lain. Salah satu permasalahan yang penting adalah masalah pembelajaran lafal bahasa Jepang. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran lafal di sekolah-sekolah belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Alasan yang dikemukakan oleh para guru adalah karena mereka sendiri tidak punya rasa percaya diri terhadap lafal bahasa Jepang mereka, dan tidak mengetahui metode pembelajaran lafal yang tepat. Maka yang menjadi masalah dalam kegiatan PKM ini adalah, bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri para guru terhadap kemampuan lafal mereka dan terhadap kapasitas guru membimbing lafal. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dipandang perlu untuk memberikan pembekalan kepada para guru melalui kegiatan pelatihan lafal bahasa Jepang agar pembelajaran lafal dapat terlaksana sesuai harapan. Untuk melaksanakan kegiatan PKM ini, tim bekerja sama dengan MGMP Bahasa Jepang Sulawesi Utara, menyelenggarakan pelatihan pembelajaran lafal. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk daring yang diikuti oleh 30 orang peserta. Setelah selesai kegiatan, peserta diminta untuk mengisi angket secara online untuk mengevaluasi hasil kegiatan. Para peserta merasa lega setelah mengetahui bahwa pembelajaran lafal tidaklah sesulit yang dibayangkan karena sesungguhnya guru hanya menjadi fasilitator. Mereka menyatakan mulai tumbuh rasa percaya diri untuk mengajarkan lafal. Bahan ajar untuk sekolah menengah sudah tersedia, tinggal bagaimana mengolahnya menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Bahkan peserta mengharapkan kegiatan pelatihan lafal dapat dilanjutkan untuk pemantapan.
PKM MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN BAHASA JEPANG SULAWESI UTARA Yenny Jeine Wahani
ABDIMAS: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 12, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : LPPM UNIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.879 KB) | DOI: 10.36412/abdimas.v12i1.1039

Abstract

Salah satu kebutuhan guru-guru bahasa Jepang yakni kebutuhan untuk terus meningkatkan kompetensi bahasa Jepang salah satunya adalah untuk dapat mengikuti NOKEN (Nihongo Nouryoku Shiken) atau JLPT (Japanese Language Proficiency Test) dalam bahasa Indonesia adalah Test Kemampuan berbahasa Jepang dan agar supaya dapat memperoleh sertifikat. NOKEN dipandang penting dikarenakan dapat menguji dan mengukur tingkat kemampuan bahasa Jepang para pengajar. Hal ini dimaksudkan agar para pengajar dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka dalam bahasa Jepang. Disamping itu menjadi bekal bagi para pengajar yang belum disertifikasi, sebagai persiapan untuk dapat mengikuti uji kompetensi guru (UKG). Selain itu sertifikat NOKEN merupakan salah satu syarat bagi para guru bahasa Jepang diseluruh Indonesia untuk dapat mengikuti program pelatihan pendidikan di Jepang yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah Jepang (MONBUKAGAKUSHO) maupun The Japan Foundation, Jakarta.Dari data angket yang dibagikan kepada guru bahasa Jepang pada MGMP  Bahasa Jepang Sulawesi Utara menunjukkan bahwa guru bahasa Jepang SMA sebagian besar masih berada pada level N4. Ini berarti dibutuhkan upaya untuk meningkatkan kompetensi agar pengajar bahasa Jepang dapat berada pada level N3. Masalahnya adalah (1)Guru-guru bahasa Jepang mengalami kesulitan dalam menjawab soal Dokkai/Bunpo (読解・文法) pada saat tes uji kompetensi bahasa Jepang (NOKEN). (2)Kurangnya pemahaman dan pengetahuan khususnya tentang Dokkai/Bunpo (読解・文法) pada level N3. (3)Kurangnya latihan sebagai bentuk kesiapan menghadapi tes uji kompetensi bahasa Jepang (NOKEN). (4)Sumber belajar masih menggunakan Buku. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pada pengabdian kali ini akan dilaksanakan pelatihan NOKEN yang bertujuan untuk memberi solusi dan mengatasi masalah dan menjawab kebutuhan mitra tersebut dengan tahapan sebagai berikut: (1) pembelajaran materi NOKEN N3 (2) mengadakan kelas simulasi NOKEN (3) Penggunaan aplikasi pembelajaran multimedia interaktif dengan menggunakan program macromedia flash.Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat dalam  bentuk pembelajaran kooperatif learning dengan teknik brainstorming dan dilakukan simulasi NOKEN telah dilaksanakan dengan baik, Pelaksanaan pelatihan ini telah mencapai tujuan yang dilaksanakan karena semua peserta sudah dapat mengerjakan soal latihan NOKEN setara N3 serta mampu memecahkan masalah khususnya dalam bagian DOKKAI-BUNPOU. Kata Kunci : NOKEN, Kompetensi bahasa JepangSalah satu kebutuhan guru-guru bahasa Jepang yakni kebutuhan untuk terus meningkatkan kompetensi bahasa Jepang salah satunya adalah untuk dapat mengikuti NOKEN (Nihongo Nouryoku Shiken) atau JLPT (Japanese Language Proficiency Test) dalam bahasa Indonesia adalah Test Kemampuan berbahasa Jepang dan agar supaya dapat memperoleh sertifikat. NOKEN dipandang penting dikarenakan dapat menguji dan mengukur tingkat kemampuan bahasa Jepang para pengajar. Hal ini dimaksudkan agar para pengajar dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka dalam bahasa Jepang. Disamping itu menjadi bekal bagi para pengajar yang belum disertifikasi, sebagai persiapan untuk dapat mengikuti uji kompetensi guru (UKG). Selain itu sertifikat NOKEN merupakan salah satu syarat bagi para guru bahasa Jepang diseluruh Indonesia untuk dapat mengikuti program pelatihan pendidikan di Jepang yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah Jepang (MONBUKAGAKUSHO) maupun The Japan Foundation, Jakarta.Dari data angket yang dibagikan kepada guru bahasa Jepang pada MGMP  Bahasa Jepang Sulawesi Utara menunjukkan bahwa guru bahasa Jepang SMA sebagian besar masih berada pada level N4. Ini berarti dibutuhkan upaya untuk meningkatkan kompetensi agar pengajar bahasa Jepang dapat berada pada level N3. Masalahnya adalah (1)Guru-guru bahasa Jepang mengalami kesulitan dalam menjawab soal Dokkai/Bunpo (読解・文法) pada saat tes uji kompetensi bahasa Jepang (NOKEN). (2)Kurangnya pemahaman dan pengetahuan khususnya tentang Dokkai/Bunpo (読解・文法) pada level N3. (3)Kurangnya latihan sebagai bentuk kesiapan menghadapi tes uji kompetensi bahasa Jepang (NOKEN). (4)Sumber belajar masih menggunakan Buku. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pada pengabdian kali ini akan dilaksanakan pelatihan NOKEN yang bertujuan untuk memberi solusi dan mengatasi masalah dan menjawab kebutuhan mitra tersebut dengan tahapan sebagai berikut: (1) pembelajaran materi NOKEN N3 (2) mengadakan kelas simulasi NOKEN (3) Penggunaan aplikasi pembelajaran multimedia interaktif dengan menggunakan program macromedia flash.Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat dalam  bentuk pembelajaran kooperatif learning dengan teknik brainstorming dan dilakukan simulasi NOKEN telah dilaksanakan dengan baik, Pelaksanaan pelatihan ini telah mencapai tujuan yang dilaksanakan karena semua peserta sudah dapat mengerjakan soal latihan NOKEN setara N3 serta mampu memecahkan masalah khususnya dalam bagian DOKKAI-BUNPOU.