Bieng Brata
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS KESESUAIAN FAKTOR EKOLOGIS TAMBAK PADA BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla sp) DI KOTA BENGKULU – BENGKULU Purnawarman Purnawarman; Bieng Brata; Zamdial Zamdial
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.10.2.20404

Abstract

Kesesuaian faktor ekologis dalam ekosistem pertambakan mempunyai peran yang signifikan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tambak. Informasi mengenai kesesuaian faktor ekologis tambak untuk budidaya kepiting sampai saat ini belum dipunyai oleh pembudidaya kepiting bakau di Kelurahan Padang Serai, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Beveridge (1996) mengemukakan bahwa kesesuaian faktor ekologis digunakan untuk menjabarkan produksi dari budidaya yang dapat berkelanjutan dalam suatu lingkungan, Kelurahan Padang Serai KecamatanKampungMelayuKota Bengkulu merupakan daerah sentra budidaya soft crab kepiting bakau (Scylla sp), terdapat bebrapa petak tambak dengan luas rata-rata 0,25 ha/tambak dan hasil produksi budidaya soft crab kepiting bakau (Scylla sp) rata – rata 200 kg/bulan/petak tambak (Profil Kelurahan Padang Serai, 2015). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian faktor ekologis dalam ekosistem tambak sehubungan dengan adanya kegiatan budidaya soft crab kepiting bakau di Kelurahan Padang Serai Kec. Kampung Melayu Kota Bengkulu. Metode penelitian diskriptif analitik, kondisi kesesuaian faktor ekologis dianalisa melalui beban limbah total fospor dari sistem budidaya (variabel utama), dan variable pendukungnya adalah ; tekstur tanah, salinitas, DO, pH air, kecerahan, diversitas dan densitas fytoplankton, luas dan kedalaman tambak. Hasil Penelitian didapatkan krateristik kesesuaian faktor ekologis Tambak Kepiting Bakau dengan nilai kateristik 70,48, dengan demikian carrying capasity dalam kreteria interval tinggi (61,7 - 75,6). Semua parameter terukur pada tambak udang bakau menunjukan kondisi layak nya kesesuaian faktor ekologis yang tinggi bagi usaha budidaya soft crab, kepiting bakau.
KAJIAN PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA DANAU KEMBAR DI KABUPATEN KAUR Marnida Marnida; Bieng Brata; Zamdial Zamdial
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.10.2.20401

Abstract

Objek wisata Danau Kembar merupakan objek wisata Danau yang berada di Desa Suka Menanti Kecamatan Maje Kabupaten Kaur, obyek wisata ini dikeloal sejak tahun 2006 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur. Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Kaur (RIPPDA Kaur) disebutkan bahwa Kabupaten Kaur memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik dan potensial untuk dipasarkan. Namun sangat disayangkan sekali, objek-objek wisata di Kabupaten Kaur belum tertata dan dikembangkan secara baik menurut standar kepariwisataan. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian Kajian Pengembangan Destinasi Wisata Danau Kembar Di Kabupaten Kaur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan obyek wisata Danau Kembar berdasakan kondisi Danau Kembar saat ini dan sampel survei persepsi pengunjung, masyarakat dan pemerintah terhadap kondisi objek wisata sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Potensi wisata Danau Kembar yang dapat dikembangkan sebagai obyek ekowisata daerah Kabupaten Kaur yaitu suasana danau yang tenang, sejuk dan indah, hal tersebut didukung dengan sumber daya alam berupa flora dan fauna, memiliki sarana dan prasarana, aksesibilitas sangat mendukung, adanya partisipasi dan dukungan masyarakat untuk ikut aktif dalam kegiatan pengembangan wisata, letak obyek wista Danau Kembar yang strategis karena berada di tepi jalan lintas kabupaten bahkan provinsi sehingga mudah untuk dijangkau oleh para pengunjung.
KAJIAN KEDUDUKAN GARIS PANTAI UNTUK PENETAPAN SEMPADAN PANTAI KOTA BENGKULU Gading Putra Hasibuan; Yar Johan; Bieng Brata
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13513

Abstract

Sempadan pantai merupakan daratan sepanjang tepian pantai yang berfungsi untuk pengamanan dan pelestarian pantai. Perubahan fungsi sempadan pantai menjadi lahan tambak dan pemukiman telah mengakibatkan terjadinya abrasi, banjir, rusaknya rumah, rusaknya jalan, berkurangnya jumlah produksi penangkapan ikan, memburuknya sanitasi lingkungan permukiman dan intrusi air laut. Oleh karena itu, penetapan sempadan pantai harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai. Namun, belum ada kajian teknis mengenai kedudukan garis pantai yang digunakan sebagai acuan dalam penetapan sempadan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan garis pantai dan menentukan penetapan sempadan pantai di Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah melakukan analisis elevasi pantai, analisis pasang surut, analisis citra Landsat 8 dan analisis kemunduran garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan garis pantai yang digunakan dalam menentukan sempadan pantai di Kota Bengkulu adalah kedudukan garis pantai Highest Astronomical Tide (HAT) dengan rata-rata kemunduran garis pantai sebesar 1,801 m/tahun yang dominan terjadi di Muara Kualo, Muara Jenggalu, dan Pelabuhan Pulau Baai. Sempadan pantai di Kota Bengkulu untuk proyeksi selama 30 tahun memiliki lebar sebesar 154,038 m (Kecamatan Muara Bangkahulu, Sungai Serut, Ratu Agung, Gading Cempaka, dan Kampung Melayu) dan 100 m (Kecamatan Sungai Serut, Teluk Segara, Ratu Samban, dan Ratu Agung).