Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Tauhid of Imam Al-Asy’ari in The Malay Tradition: An Analysis of Faridat Al-Farāid by Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zayn Sisaeng, Affan; AB, Zuherni
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): July-December
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v4i2.27608

Abstract

This article aims to analyze the concept of tauhid (Islamic monotheism) according to Imam Al-Asy’ari as elaborated in the book Faridat al-Farāid fi ilmi al-‘Aqāid by Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zayn , highlighting its relevance to the Islamic educational tradition in the Malay world. The study employs a descriptive-analytical method using a qualitative approach grounded in library research. The Faridat al-Farāid serves as the primary source, while secondary sources include theological references and scholarly works related to Imam Al-Asy’ari's concept of tauhid. The findings indicate that Imam Al-Asy’ari’s tauhid as presented in the Faridat al-Farāid encompasses three main aspects—dzāt (essence), sifat (attributes), and af’al (acts)—which are explained through 13 obligatory attributes, 13 impossible attributes, and one permissible attribute of Allah SWT. The book adopts a detailed (tafsili) approach to strengthen the understanding of tauhid while bridging textual and rational arguments in line with the Asy’ari school of thought. Furthermore, the book’s relevance lies in its role as a theological guide for traditional Islamic education in the Malay world, integrating textual and rational pedagogies. This study concludes that the Faridat al-Farāid not only reflects Imam Al-Asy’ari’s theological thought but also significantly contributes to Islamic education. Future studies are recommended to explore the application of Asy’ariyah theology in addressing contemporary challenges.
Peran Masjid Agung Baitul Ghafur Sebagai Pusat Kegiatan Sosial dan Keagamaan di Kabupaten Aceh Barat Daya Rinanda, Hafidha; AB, Zuherni; Fajarni, Suci
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1416

Abstract

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki kontribusi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Masjid Agung Baitul Ghafur sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara dengan pengurus masjid, remaja masjid, serta masyarakat sekitar, dan dokumentasi kegiatan. Penulis menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens untuk menganalisis keterkaitan antara aktivitas masyarakat dan peran masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Agung Baitul Ghafur tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan tersebut meliputi Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), tahfiz camp, pengajian bagi masyarakat umum dan remaja, santunan anak yatim, SHULING (Subuh Keliling), serta berbagai aktivitas lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat menyambut baik keberadaan masjid sebagai tempat belajar, berkumpul, dan berbagi. Meskipun demikian, pengurus masjid menghadapi beberapa kendala seperti keterbatasan dana, kurangnya partisipasi generasi muda, dan minimnya promosi kegiatan. Kendala tersebut diatasi melalui kerja sama, ide-ide kreatif, dan dukungan dari berbagai pihak. Sebagai kesimpulan, Masjid Agung Baitul Ghafur telah berperan sebagai pusat penguatan ibadah sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat, sehingga mampu menumbuhkan semangat kebersamaan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Examining The Doctrine of Seven Grades of Being (Maratib Sab’ah) in Tuhfah al-Mursalah; An overview toward Quranic’s Perpective AB, Zuherni; Juwaini, Juwaini
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v20i1.17291

Abstract

The seven grades (Marataib al-Sab’ah) very closed associated with Muhammad Fadhl Allah al-Burhanpuri, an Indian Sufi scholar through his Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Written di Arabic Tuhfah al-Mursalah’s circled around India and also popularize in Mecca Madina and Malay word afterward.  Burhanpuri and Tuhfah al-Mursalah many times mention in numerous manuscripts written in Arab Jawi, which identified from his principles mostly from ‘alam jawi (Nusantara) around 16-17 century. Some of them Shams al-Din al-Sumatra’i, Hamzah al-Fansuri, Nur al-Din al-Raniry and ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili. Afterward, these principles, identically Maratib al-Sab’ah in Malay world known as Martabat Tujuh. The main point suggested by Burhanpuri, an explaration toward Ibn ‘Arabi’s idea wahdah al-wujud. Maratib al-Sab’ah considered as the proper medium to attain Ibn ‘Arabi’s Oneness of Being and relate it with the Qur’an perspective and as well as Hadits point of view on certain explanation in his Tuhfah al-Mursalah.
Utilization of Al-Qur'an Verses in Mental Therapy at The Islamic Therapy Center (ITC), Banda Aceh Bahri, Samsul; Wahid, Abdul; AB, Zuherni; Humaira, Siti
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.10145

Abstract

The Quran, serving as a guiding principle for Muslims' lives, provides comprehensive rules regarding life in this world and the hereafter. Described as “al-Shifa” or a healing remedy, the Quran plays a crucial role as a cure for all ailments, both physical and spiritual. Mental therapy emerges as a vital aspect in maintaining life balance and addressing mental disorders. This article aims to explore the role of Quranic verses as a method of mental therapy at the Islamic Therapy Center (ITC) in Banda Aceh. The study employs a qualitative method with field research. Data are obtained through observations and in-depth interviews at ITC Banda Aceh. The study reveals that mental therapy at ITC involves Quranic verses as a means of treatment closely tailored to the patients' level of disturbance. Cases ranging from mild to severe disorders are addressed through the recitation of adapted ruqyah verses. The study concludes that Quranic-based mental therapy at ITC Banda Aceh is effective in addressing various mental disorders, leading to physical and mental improvements post-ruqyah therapy. Positive impacts include increased faith, inner peace, and a deeper spiritual understanding. Thus, this approach can be considered an alternative in addressing the mental health of the community.Abstrak: Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat Muslim, memberikan aturan paripurna terkait kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur'an dijelaskan sebagai “al-Syifā” atau obat penawar, memegang peran penting sebagai penyembuh segala penyakit, baik fisik maupun rohani. Terapi mental menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan mengatasi gangguan jiwa. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ayat-ayat Al-Qur'an sebagai metode terapi mental di Islamic Therapy Center (ITC) Banda Aceh. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam di ITC Banda Aceh. Kajian ini menunjukkan bahwa terapi mental di ITC melibatkan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sarana pengobatan dan terkait erat pada tingkat gangguan pasien. Kasus-kasus seperti gangguan ringan, sedang, hingga berat, semuanya ditangani dengan membaca ayat-ayat ruqyah yang disesuaikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa terapi mental berbasis Al-Qur'an di ITC Banda Aceh efektif dalam mengatasi berbagai gangguan jiwa. Pasien mengalami perbaikan fisik dan mental setelah menjalani terapi ruqyah. Dampak positif ini mencakup peningkatan keimanan, ketenangan jiwa, dan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan alternatif dalam merawat kesehatan mental masyarakat.