Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Kisah Nabi Ayyub dalam Al-Quran dan Bible Ramadani, Nur Shofiyah; Muzammil, Iffah
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.28743

Abstract

Tulisan ini membahas tentang kisah salah satu Nabi yang dikenal dengan kesabaran dan ketabahannya menghadapi ujian dan cobaan dalam hidupnya. Adanya relasi historis Al-Quran dan Bible mendasari penelitian ini dilakukan dengan fokus pembahasan pada kisah hidup Nabi Ayyub. Jenis penelitian yang digunakan adalah kepusatakaan (library research) dengan model penelitian kualitatif dan menyajikannya secara deskriptif-analisis. Sekalipun dalam Al-Quran dan Bible terdapat kesamaan dalam membahas tentang kisah Nabi Ayyub, namun juga terdapat beberapa perbedaan. Pertama, sesuai dengan ke khasannya, Al-Quran menyampaikan kisah Nabi Ayyub dalam narasi yang singkat, sementara Bible menyajikannya dalam narasi yang lebih detail. Dalam Al-Quran, di kisahkan pada 6 ayat, sedangkan dalam Bible dikisahkan dalam 42 pasal. Kedua, dalam Al-Quran disebutkan bahwa Ayyub sabar dan tabah menghadapi ujian dan cobaan, sedangkan dalam Bible disebutkan bahwa Nabi Ayyub mengeluh dalam melewati ujian dan musibah. Ketiga, dalam Al-Quran disebutkan bahwa istri Ayyub yang menemaninya selama masa sulit, sedangkan dalam Bible disebutkan bahwa ketiga sahabat Ayyub yang menemaninya selama sakit. Keempat, dalam Al-Quran disebutkan bahwa Ayyub berbaik sangka akan takdir Allah, sedangkan dalam Bible disebutkan bahwa Nabi Ayyub berburuk sangka kepada Allah. Kelima, doa Nabi Ayyub dikabulkan karena adab dan keyakinan kepada Allah, sedangkan dalam Bible disebutkan bahwa Allah menegur Nabi Ayyub karena sikapnya yang mengeluh dan merasa tinggi.
Diskursus Keabsahan Al-Qiraat Al-‘Ashr sebagai Bacaan Mutawatir Muzammil, Iffah
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 5 No. 2 (2015): DESEMBER
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.221 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2015.5.2.201-222

Abstract

Ten qirâ’ah belongs to the ten Imams of Qur’anic recitaters. It composes seven Imams who are remarkably recognized in Muslim traditions mainly introduced by Ibn Mujâhid (245- 324 H), with three additional Imams, Abû Ja‘far al-Qa‘qâ‘, Abû Ya‘qûb al-Ha?ramî, and Khalaf bin Hishâm. Different from seven qirâ’ah that is officially approved (mutawâtir) by most of Muslim scholars, the existence of ten qirâ’ah is still debatable. Indeed, some of scholars classify it as poor qirâ’ah (shâdh). Five centuries later after Ibn Mujâhid’s introduction on seven qirâ’ah, al-Jazarî (d. 833 H) argues some evidences on the validity of chain transmission (sanad) of the last three Imams. In the hand of al-Jazarî, the ten qirâ’ah is attested to be completely meeting a requirements of qirâ’ah such like, reliable chain’s transmission, compatible to rasm ‘Uthmânî, and convenient to Arabic rules. Therefore, there is no reason to leave and refuse the last three Imams (ten qirâ’ah) in the Islamic tradition of Qur’anic recitation.