Erma Defiana Putriyanti
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE AUTHORITY TO FILE BANKRUPTCY PETITIONS AFTER THE ESTABLISHMENT OF INDONESIA’S FINANCIAL SERVICES AUTHORITY Erma Defiana Putriyanti
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 27, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.101 KB) | DOI: 10.22146/jmh.15898

Abstract

The transfer in the functions, duties, and authority for regulation and supervision as stipulated in Article 55 of the Act concerning the Financial Services Authority (OJK) does not include the transfer of authority in filing a petition for bankruptcy. The authority to file a bankrupty petition against a debtor in the financial services sector still refers to Article 2 paragraph (3) to (5) Act No. 37 of 2004 concerning Bankruptcy and Suspension of Payment. Peralihan fungsi, tugas dan kewenangan pengaturan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 Undang-undang tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak termasuk peralihan kewenangan pengajuan pailit. Kewenangan untuk mengajukan permohonan pailit terhadap debitor yang bergerak dibidang jasa keuangan tetap mengacu pada Pasal 2 ayat (3) sampai (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.
Kajian Hukum tentang Penerapan Pembuktian Sederhana dalam Perkara Kepailitan Asuransi Erma Defiana Putriyanti; Tata Wijayanta
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.456 KB) | DOI: 10.22146/jmh.16240

Abstract

Commercial courts’ judges are still strictly observing summary proof principle when trying insolvency proceedings against insurance companies. Since insurance companies are vital for our economy, the Ministry of Finance needs to formulate certain measurement and consideration that ought to be met prior to filing insolvency case to commercial courts. Pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan perusahaan asuransi masih diterapkan secara kaku oleh hakim-hakim niaga. Sebagai lembaga keuangan yang vital dalam perekonomian bangsa, Kementerian Keuangan selaku otoritas tertinggi di bidang keuangan perlu menyusun tolok ukur dan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang harus dipenuhi sebelum kasus kepailitan perusahaan asuransi dapat diajukan ke pengadilan niaga.