Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Studi Kasus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Afwan Faizin; Ali Mansur
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v5i2.9413

Abstract

Abstract:This study aims to describe the application of Law Number 14 of 2008 concerning Public Information Openness at the State Islamic Higher Education (PTKIN) with a case study of the Syarif Hidayatullah State Islamic University in Jakarta. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta was chosen because among PTKIN throughout Indonesia, only UIN Jakarta has an Information and Documentation Management Officer (PPID). The research method used is action research by observing public bodies in the field of education namely UIN Jakarta by mapping public information services by PPID based on KMA Number 200 of 2012 concerning Information and Documentation Management Officials (PPID). Based on the research conducted it is known that PPID as the manager of public information services has not been optimal in providing public information services according to the mandate of Law Number 14/2018. The contributing factors are: First, the leaders at the level of the Bureau, Section, and Subbag many who do not know the obligations and urgency of the public body that must have a PPID to carry out public information management and services. Secondly, the incomplete list of public information that has been displayed on the UIN Jakarta website includes its supporting documents. Third, there is no infrastructure support, funds, adequate information officers so that the performance of the PPID can run simultaneously and continuously, given the PPID task is an additional task.Keywords: PPID, Public Information Disclosure, PTKIN. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) dengan studi kasus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipilih karena diantara PTKIN seluruh Indonesia, baru UIN Jakarta yang telah memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Metode penelitian yang digunakan action research dengan melakukan observasi badan publik bidang pendidikan yakni UIN Jakarta dengan memetakan layanan informasi publik oleh PPID berdasarkan KMA Nomor 200 tahun 2012 tentang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Berdasarkan penelitian yang dilakukan diketahui bahwa dari PPID sebagai pengelola layanan informasi publik belum optimal dalam memberikan layanan informasi publik sesuai amanat UU Nomor 14/2018. Faktor penyebabnya adalah: Pertama, para pimpinan pada level Biro, Bagian, dan Subbag banyak yang belum mengetahui kewajiban dan urgensi badan publik yang harus memiliki PPID untuk melakukan pengelolan dan pelayanan informasi publik. Kedua, belum lengkapnya Daftar Informasi Publik yang telah ditampilkan di website UIN Jakarta termasuk dokumen-dokumen pendukungnya. Ketiga, belum adanya dukungan prasarana, dana, petugas informasi yang memadai sehingga kinerja PPID dapat berjalan secara simultan dan kontinyu, mengingat tugas PPID adalah tugas tambahan.Kata Kunci: PPID, Keterbukaan informasi Publik, PTKIN.  
Problematika Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka pada Era Digital di SMP Negeri 2 Ambarawa Ali Mansur; Mukh Nursikin
Risâlah Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v11i2.1378

Abstract

Permasalahan merupakan hambatan atau permasalahan yang tidak dapat diselesaikan sehingga pencapaian tujuan menjadi terhambat dan kurang maksimal. Di SMP Negeri 2 Ambarawa, guru Pendidikan Agama Islam masih menemui beberapa kendala dalam penerapan program Kurikulum Mandiri pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMA Negeri 2 Ambarawa. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana penerapan kurikulum mandiri dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di kelas VII SMP Negeri Ambarawa? (2) Apa permasalahan guru Pendidikan Agama Islam di Ambarawa? SMP Negeri 2? (3) Solusi apa yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam untuk mengatasi permasalahan di SMP Negeri 2 Ambarawa?. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Jenis penelitian ini mendeskripsikan dan mengidentifikasi pengguna dan tujuannya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan pencatatan. Sedangkan analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validasi data menggunakan teknik triangulasi dan sumber. Kendala yang dihadapi antara lain karakteristik siswa yang beragam, rendahnya motivasi, terbatasnya sarana dan prasarana, kesulitan penilaian, beban kerja guru dan terbatasnya mekanisme waktu pembelajaran. Solusi yang disarankan antara lain memetakan karakteristik siswa, membedakan pengajaran, meningkatkan motivasi, mengembangkan alat peraga, pelatihan penilaian, koordinasi untuk mengurangi beban guru, mengoptimalkan alokasi waktu, mengintegrasikan nilai-nilai PAI dan layanan bimbingan siswa. Implementasi solusi tersebut secara kolaboratif dapat meningkatkan kualitas penerapan kurikulum mandiri dalam pembelajaran PAI untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
THE ROLE OF RELIGIOUS EDUCATION IN SHAPING THE CHARACTER OF LAW STUDENTS Ali Mansur
Istiqra: jurnal hasil penelitian Vol. 13 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ist.v13i1.4498

Abstract

This study examines the role of Religious Education in shaping the character of law students, emphasizing the urgent need for them to acquire not only intellectual competence but also moral integrity grounded in religious values. A descriptive qualitative approach was used, with data collected through interviews, participant observation, and document analysis involving students and lecturers of Religious Education courses. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, including reduction, display, and conclusion drawing, with triangulation applied to ensure validity. The findings show that Religious Education significantly contributes to four key values: honesty, responsibility, justice, and multicultural awareness. Honesty underpins academic and professional integrity, while responsibility develops discipline and accountability. Justice provides an ethical orientation beyond formal law, and multicultural awareness fosters tolerance and inclusivity. Together, these values form the ethical foundation required for integrity-based legal professionalism. This research highlights that Religious Education is not merely a normative subject but a transformative instrument for character formation. It suggests that Religious Education curricula should be systematically integrated with legal ethics, multiculturalism, and contemporary challenges to prepare law graduates who are not only intellectually competent but also morally grounded professionals