Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : TSAQAFAH

Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol 16, No 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.
Tekstualisasi al-Qur’an: Antara Kenyataan dan Kesalahpahaman Syamsuddin Arif
TSAQAFAH Vol 12, No 2 (2016): Qur'anic Studies
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.572 KB) | DOI: 10.21111/tsaqafah.v12i2.759

Abstract

In recent decades al-Qur’an has been the subject of increasing interest among scholars in the Muslim world as well as in the West. One of the most important issues that most researchers are dealing with pertains to its textualization –that is, how al-Qur’an was transformed from oral tradition into the written text as we have it today; how the Revelation was received and recorded, circulated and passed down from generation to generation, in both the ancient way of memorization and through the methods of reading and writing, as rigorously and accurately as it should be. Although initially the contents of al-Qur’an were widely distributed in the memories of men (i.e. the Prophet and his Companions), they were also written down piecemeal on various materials. The compilation and codification of the al-Qur’an was accomplished under the authority of Caliph Abu Bakr, and the standard codex (al-muṣḥâf al-imâm) was produced during the Caliphate of Utsman in order to bring consensus among the Muslim community both with regard to recitation and orthography (al-Rasm al-‘Utsmâniy). Given its paramount importance in Islam, the history of Qur’anic text will remain of perennial interest to both Muslim and non-Muslim researchers as it could be manipulated, distorted or exploited by those pursuing their own goals for polemical or political reasons. The present article addresses such concerns with a view to separating the wheat from the chaff in the textual history of al-Qur’an.
Tekstualisasi al-Qur’an: Antara Kenyataan dan Kesalahpahaman Syamsuddin Arif
TSAQAFAH Vol. 12 No. 2 (2016): Qur'anic Studies
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v12i2.759

Abstract

In recent decades al-Qur’an has been the subject of increasing interest among scholars in the Muslim world as well as in the West. One of the most important issues that most researchers are dealing with pertains to its textualization –that is, how al-Qur’an was transformed from oral tradition into the written text as we have it today; how the Revelation was received and recorded, circulated and passed down from generation to generation, in both the ancient way of memorization and through the methods of reading and writing, as rigorously and accurately as it should be. Although initially the contents of al-Qur’an were widely distributed in the memories of men (i.e. the Prophet and his Companions), they were also written down piecemeal on various materials. The compilation and codification of the al-Qur’an was accomplished under the authority of Caliph Abu Bakr, and the standard codex (al-muṣḥâf al-imâm) was produced during the Caliphate of Utsman in order to bring consensus among the Muslim community both with regard to recitation and orthography (al-Rasm al-‘Utsmâniy). Given its paramount importance in Islam, the history of Qur’anic text will remain of perennial interest to both Muslim and non-Muslim researchers as it could be manipulated, distorted or exploited by those pursuing their own goals for polemical or political reasons. The present article addresses such concerns with a view to separating the wheat from the chaff in the textual history of al-Qur’an.
Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol. 16 No. 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.