Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI UNIVERSITAS ISLAMDALAM MENGHADAPI TANTANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA Dinar Kania; Kholili Hasib
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 13 No 01 (2018): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.396 KB)

Abstract

Menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengungkap: (1) pembudayaan organisasi di perguruan tinggi Islam (Islamic university) dapat dimulai dari kesiapan para individu-individu yang memiliki sifat kepemimpinan (leadership); (2) sifat kepemimpinan dalam Islam mengambil model ideal dari pribadi sempurna nabi Muhammad saw; (3) model ideal yang dimaksud adalah: ṣiddīq, faṭānah, amānah, dan tablīgh.
TASAWUF BĀ’ALAWĪ: SEJARAH DAN PENGARUHNYA Kholili Hasib
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 13 No 01 (2018): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.6 KB)

Abstract

This research is a type of library research, trying to elucidate the role played by Ṭarīqah Bā’alawī in the Malay-Indonesian archipelago. Bā’alawī is the name attributed to ‘Alawī b. 'Ubaidillāh b. Aḥmad al-Muḥājir b. ‘Īsā b. Muḥammad b. ‘Alī al-‘Uraidi b. Ja'far al-Ṣādiq b. Muḥammad al-Bāqir b. ‘Alī Zainal Ābidīn b. Ḥusein b. Alī b. Abī Ṭālib. The research found that: (1) the teachings of Ṭarīqah Bā’alawī is a synthesis between imām al-Ghazālī and imām Abū al-Ḥasan al-Syādzilī; (2) Ṭarīqah Bā’alawī belongs to the school of Ahl al-Sussunnah wa al- Jamā'ah, and is said to maintain the Asy'arī creed and Syāfi‘ī jurisprudence
Filsafat Ilmu dan Problem Metodologi Pendidikan Islam Kholili Hasib
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.318

Abstract

Salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini adalah model pengajaran Filsafat Ilmu yang masih belum tampak berwarna Islam. Hal ini bisa dipahami dari fenomena minimnya buku-buku teks Filsafat Ilmu dengan menggunakan perspektif pandangan hidup Islam. Di samping itu, pendekatan pendidikan yang digunakan oleh mayoritas lembaga pendidikan di Indonesia masih menggunakan pendekatan orientalis, yaitu historis antropologis. Dalam pendekatan tersebut ditekankan pada pemahaman keagamaan berdasarkan sudut pandang sosial keagamaan yang bersifat multidisipliner. Dalam perspektif Islam, studi keilmuan akan lebih baik apabila dipahami dengan merujuk pada sumber utamanya yaitu al-Qur’an dan al- Hadits. Sebab, kedua sumber tersebut merupakan sumber utama suatu konsep ilmu pengetahuan. Hal itu dapat dianalisa dari berbagai bentuk derivasi kata ‘ilm yang diulang sebanyak 750 kali dalam berbagai konteks. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan sangat terkait dengan akidah. Sebab, hakekat ilmu bukanlah sekedar ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, penguasaan ilmu seharusnya berdampak secara langsung perilaku atau akhlak seseorang tersebut. Atas dasar inilah Imam al-Ghazali membagi ilmu ke dalam dua klasifikasi utama yaitu ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Sebagai umat Islam yang memperhatikan hakekat ilmu pengetahuan melalui dunia pendidikan tentu pemahaman tentang klasifikasi tersebut tidak dapat diabaikan. Untuk itu, dalam konteks pendidikan sekarang, diperlukan segera desain kurikulum pendidikan Islam yang berasaskan dinamisasi konsep fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Dinamisasi demikianlah yang akan membentuk karakter secara kuat terhadap pribadi anak didik.
PENDIDIKAN KONSEP TA’DIB SEBAGAI SOLUSI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL Kholili Hasib
At-Ta'dib Vol 5, No 1 (2010): Prinsip Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v5i1.583

Abstract

Dalam upaya mengembalikan tujuan pendidikan Islamkepada jalan yang selama ini terlupakan, diperlukan usaha-usahayang nyata untuk menggapai hal tersebut. Baik usaha yangbersifat membangun kembali atau bahkan lebih cenderungkepada memperbaiki system yang sudah ada sesuai dengankonsep dasar yang telah digariskan. Salah satu usaha membangunkembali orientasi pendidikan Islam yang mulai terintimidasioleh romanisasi adalah mengembalikan konsep pendidikan Islamyang mengedepankan ta’dib. Ta’dib sebagai suatu konsep pendidikanIslam yang lebih beroreintasi kepada pembentukan individu yangberakhlak al-karimah tanpa mengesampingkan kemampuanintelektual dan skill merupakan salah satu usaha yang sangatperlu untuk dibangkitkan pada masa modern ini.Tulisan ini mengkaji lebih dalam konsep pendidikan IslamAt-ta’dib yang digagas oleh Syed Naquib Al-Attas. Hal tersebutmerupakan bentuk usaha mereoriginalisasi kembali konseppendidikan Islam yang selama ini mulai berbelok arah darikonsep dasar pendidikan yang ditanamkan oleh Islam. Sehinggaakan terdetik kembali ruh pendidikan Islam yang selama initelah melayang jauh dari sarangnya.
Aliran Batiniah; Dulu dan Sekarang Kholili Hasib
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v14i1.362

Abstract

Batiniah is a particular faith that believes the most important quality in everything spirituality (batin), not physically (zahir). Batin is the essence and nature (hakikat), whereas zahir is unreal sightings. This faith goes into several sects that form their own beliefs. Its influence gets into the sects of Shi’ism philosophy, Ibahiyah, and others. In it development of faith gives influence to the teaching of syncretism, pluralism, and abortion of beliefs to sharia obligations. Finally, some famous scholars paid attention to their teachings. For example Imam al-Ghazali who wrote a special note of criticism against this sect in his book Faḍāiḥ al-Bāṭiniyyah. He explained that the characteristics of Batiniah is to deny the literal meaning of the Qur’an and Hadith. In addition, Imam Abu al-Fadl Qadi Iyad, in al-Syifā bi Ta’r īfi Ḥuqūq al-Muṣṭafa, explained that Batiniah, are those who believes that sharia and a large part of the message brought by the Prophets did not correspond to their inner meaning. This doctrine actually is a mixture of the teachings of Neo-Platonism, Aristotelian philosophy, Zoroastrianism, Judaism, and Islam. So that Batiniah can be said as the faith of syncretism comes into the sects of Islam. Although it has grown and divided since it’s beginning, the basic beliefs are still consistent, that the batin is real and zahir is not real. Thus it tends to trust dualism, the essentials of everything is batin, not the zahir.
Mazhab Akidah dan Sejarah Perkembangan Tasawuf Ba’lawi Kholili Hasib
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v15i1.822

Abstract

The people of Ba’lawi or Bani Alawi or whose ancestors came from Hadramaut, Yemen, had a significant influence on Islamic da’wah in the archipelago of Nusantara, where the majority of the population adheres to the Islamic School of Imam Syafi’i. One of that influence can be traced in the aspect of Sufism. The peole of Ba’lawi are descendant of the Prophet Muhammad PBUH-in Indonesia called Habib-which were having quite respectable position among the followers of Imam Syafi’i. In their movement, they have an important role in the internalization of Sufism pattern. Sufism of Ba’lawi has become a ‘fence’ and an effective media of da’wah. As the ‘fence’, the Sufism they called by T{ari>qah Ba> ‘lawi> contains the doctrines of aqidah and amaliyah in order to protect the aqidah of Ahlusunah wal Jama’ah (Aswaja) through a spiritual path. As’ containers’, the simple and modern T{ari>qah Ba> ‘lawi> becomes the main attraction for the Muslims to follow their teaching of aqidah. The approach of morality and mysticism are very interested for residents of the archipelago. Functionally, a number of certain prayers in the t}ari>qah has a specific purpose to protect Ba’lawi descent and Muslims from some teaching of non-Aswaja. However, some accusation related to the relationship between Ba’lawi and Shi’a are quite interesting to discuss. Especially, when the Ba’lawi preachers began to expand their message to the expansion of the archipelago, when the kingdom of Perlak become the main destination. How far are the people of Ba’lawi accused of having relationship with Syi’a? So, how do Muslim researchers react toward this potentially fatal distortion of the facts? This will be the topic of the study written by the author of this paper.
Analisis Kritis terhadap Epistemologi Studi al-Qur’an Mohammed Arkoun Kholili Hasib
al-Rasῑkh: Jurnal Hukum Islam Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.518 KB) | DOI: 10.38073/rasikh.v6i1.26

Abstract

Studi ilmu al-Qur’an pada era kontemporer menemui berbagai tantangan baru. Salah satu di antaranya penggunaan metode-metode modern yang lahir dari tradisi filafat Barat. Persoalannya adalah, penggunaan metode modern itu dalam perjalanannya menggeser metode standar dalam ulum al-Qur’an sebagaimana dijalankan oleh para ulama ahli al-Qur’an. Dalam hal ini, Mohammed Arkoun, menggunakan metode filsafat postmodernisme dalam menganalisis al-Qur’an. Pemikiran-pemikiran tentang tradisi Islam dan konsep wahyu diuraikan oleh Arkoun dengan analisa-analisa filosofis yang berasal dari para ilmuan-ilmuan Prancis, seperti Jecques Derrida, Paul Ricour, Michel Foucault, Ferdinand de Saussure, Roland Barthes dan lain-lain. Arkoun mempertanyakan kembali esensi wahyu sebagai Kalamullah yang suci. Ia membaca kalam Allah yang transenden dan kalam-Nya dalam tataran imanen yang ia sebut wacana wahyu.Dengan merujuk kepada pendapat Paul Ricoeur, Arkoun membedakan tiga tingkatan wahyu. Pertama, wahyu Allah sebagai yang transenden, dengan beberapa fragmen kecil saja yang diwahyukan lewat para nabi. Kedua, wahyu yang diturunkan secara oral melalui nabi-nabi Israel, Yesus dan nabi Muhammad. Wahyu ini diwujudkan dengan berbagai bahasa, wahyu yang turun kepada para nabi Israel menggunakan bahasa Ibrani, wahyu yang turun kepada Yesus berwujud bahasa Aramaik dan nabi Muhammad SAW menerima wahyu dalam bentuk bahasa Arab. Wahyu ini menurut Arkoun disampaikan secara lisan dalam waktu yang panjang sebelum ditulisakan. Ketiga, obyektifitas firman Tuhan berlangsung menjadi korpus tertulis dan kitab suci ini pun bisa dibaca oleh kaum beriman hanya lewat versi tertulisnya, terlindung dalam korupus yang secara resmi ditutup. Dalam konsep al-Qur’an, kanon firman Tuhan itu diresmikan secara tertulis oleh Khalifah Ustman bin Affan. Dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmu Barat-modern, Arkoun mengubah status al-Qur’an. Arkoun mengharuskan mempraktikkan ilmu antropologi, linguistik dan sejarah untuk membeber fakta yang sebenarnya yang bersemayam dalam wahyu. Secara terus terang metode yang ditawarkan adalah metode yang telah diterapkan oleh masyarakat Kristen dan Yahudi. Ia ingin mengubah masyarakat Islam seperti Barat pada era renaissance. Dengan demikian, persoalan pemikirannya tentang studi al-Qur’an bermula dari epistemologi Arkoun yang ia gunakan. Artikel ini mengkaji pemikiran Arkoun tentang stui al-Qur’an dengan didahului oleh kajian kritis epistemologinya.
Tasawuf Dan Reformasi Umat Berdasarkan Pemikiran Imam al-Ghazali Kholili Hasib
al-Rasῑkh: Jurnal Hukum Islam Vol 6 No 02 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.377 KB) | DOI: 10.38073/rasikh.v6i02.58

Abstract

Sejauh ini masih terdapat kesalahfahaman terhadap ilmu tasawuf. Kesalah fahaman terhadap ilmu tasawuf yang melahirkan tuduhan sesat biasanya bersumber dari ketiada fahaman tentang hakikat tasawuf yang terkait dengan syariah. Di antara pemahan yang menolak tasawuf adalah, kaum sufi dikatakan tidak terlalu taat pada syariah, bahkan ada di antara kaum sufi yang menafikan syariah. Padahal, mempraktikkan syariah pada taraf sempurna itulah akan ditemukan intisari tasawuf. Syariah yang dijalankan dengan sempurna itu tidak sekedar hukum dzahir, tapi juga mementingkan fiqih batin. Maka, tasawuf yang sebenar merupakan praktik dari syariah itu pada tingkat yang sempurna (ihsan), dzahir dan batin. Antara syariah dan tasawuf memiliki kaiatan erat yang tiada dapat dipisah. Jika dipisah, maka Islam menjadi tidak sempurna. Selain itu, ada tuduhan tasawuf penyebab kemunduran umat Islam. Terkhusus, tasawuf yang dipraktikkan imam al-Ghazali oleh sebagian sarjana – baik dari orientalis maupun dari kalangan sarjana Muslim sendiri – diyakini penyebab matinya ilmu sains, dan filsafat di dunia Islam. Padahal, pemikiran imam al-Ghazali menurut Majid Irsan Kailani memiliki kontribusi signifikan dalam kebangkitan umat pada masa perang Salib. Maka, di sinilah menariknya mengkaji ulang kembali hakikat tasawuf imam al-Ghazali. Makalah ini menemukan bahwa, justru dengan tasawuf imam al-Ghazali terjadi kebangkitan umat. Tuduhan mematikan sains ternyata tidak terbukti. Karena setelah era imam al-Ghazali, sains berkembang bahkan pesat. Imam al-Ghazali hanya mengoreksi, bahwa ilmu pengetahuan termasuk sains dan filsafat tidak menemukan hakikat kebeneran kecuali dengan mengintegrasikan dengan tasawuf.
Konsep Insan Kulli menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas Kholili Hasib
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v4i2.4696

Abstract

This article is an analysis the concept of insān kullī according to Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas based on philosophy approach. In his thought’s, the concept of insān kullī (universal man) is one’s of basic elements of the worldview of Islam. Therefore, the concept of insān kullī is the one of most important thing at the Prof. Al-Atta’s thought. Through this approach, the writer find that the concept of insān kullī are related to the worldview, epistemology, and education. In the education aspect for, instant, the concept of insān kullī is like a symbol of Islamic university. The islamic university should reflected the universal man. The high education institutions must be chaired by an individual academic leader who has fardhu ‘ain science, requaired knowledge. And also committed to religious-philosophical and socio-cultural values in education which is called insan adabi. In addition, an understanding of insān kullī is studied from metaphyscila aspects of Islam. So, the concept of insān kullī is the basic of Islamic education. The main aims of islamic education are incalculate the insan adabi. So, the basic metaphysic of Islam must be main and basic element of Islamic education.
Manusia dan Kebahagiaan: Pandangan Filsafat Yunani dan Respon Syed Muhammad Naquib al-Attas Kholili Hasib
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.551 KB) | DOI: 10.21111/tasfiyah.v3i1.2980

Abstract

The thought of Greek Philosophers has influenced both the western and eastern scholar (Muslims), included the concept of human being. The concept of man in Islam including in metaphysic area. Syed Muhammad Naquib al Attas, the contemporary Muslim scientists who articulate the concepts of Muslim philosophers, the Sufis, and Mutakallim in themodern world. Al Attas’ concept of human being has two functions; first, as a response to the western’s thought. Second, as a base concept of Islamic psychology. Therefore, the concept of the human being toward Al-Attas is to raise the Traditional Islamic Concept in modern form and needs.