Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Scoping Review: Efek Debu terhadap Fungsi Paru Pekerja Faldy Almatsir Maradjabessy; Yuniarti Yuniarti; Hidayat Wahyu Adji
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i1.7358

Abstract

Debu merupakan partikel kecil dengan diameter berukuran <100 µm yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit sistem pernapasan. Gangguan sistem pernapasan yang dipengaruhi oleh debu, seperti gangguan pernapasan akut dan pernapasan kronis yaitu gangguan fungsi paru baik obstruktif maupun restriktif. Gangguan fungsi paru terkait dengan pekerjaan adalah masalah kesehatan umum dan salah satu penyebab keterbatasan pada pekerja. Tujuan Scoping review ini adalah mengetahui efek debu terhadap penurunan fungsi paru dan jenis debu yang mempengaruhi penurunan fungsi paru berdasar atas artikel penelitian pada jurnal 10 tahun terakhir pada database Pubmed dan Springer Link. Metode penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data penelitian 10 tahun terakhir mengenai efek debu terhadap fungsi paru pekerja, sebanyak 3.883 artikel telah disaring berdasar atas kriteria inklusi menjadi sebanyak 166 artikel, kemudian kriteria eksklusi yang memenuhi kriteria kelayakan melalui PICOS dan artikel duplikasi sebanyak 31 artikel disajikan dalam diagram PRISMA. Hasil Scoping review terdapat 26 jurnal yang menyebutkan debu mempengaruhi penurunan fungsi paru dan terdapat 5 artikel yang menyatakan tidak memengaruhi penurunan fungsi paru. Debu memengaruhi fungsi paru disebabkan oleh tingkat pajanan yang tinggi,  durasi pajanan yang kronis, dan ukuran partikel debu yang respirable. Scoping Review: Effect of Dust on Workers' Lung FunctionDust is a small particle is a small particle with a diameter <100 µm which is a risk factor for respiratory system diseases. One of the respiratory system diseases that affected by dust is pulmonary function disorders, both obstructive and restrictive. Work-related pulmonary dyfunction is a common health problem in the worker environment and one of the causes of worker limitation. The purpose of this scoping review is to determine the effect of dust on decreased lung function and the type of dust that affect lung function decline based in research articles from Pubmed and Springer link databases in the last 10 years. The research method was carried out by collecting data from the research data of the last 10 years regarding the effect of dust on worker’s lung function, 3,883 articles were filtered based on the inclusion criteria into 166 articles, then the exclusion criteria that met the eligibility criteria through PICOS and duplicated article were 31 articles, presented in the PRISMA diagram. The results of this scoping review contained 26 articles which stated that dust affected the decline in lung function and there were 5 articles that stated dust did not affect the decline in lung function. Dust affect lung function due to high exposure levels, duration of chronic exposure and the size of dust which is respirable dust.
Gambaran Postur Kerja dan Keluhan Muskuloskeletal pada Pegawai Tata Laksana di Universitas Islam Bandung Luthfianisa Rayyani; Yuniarti Yuniarti; Caecielia Wagiono; Susan Fitriyana; Budiman Budiman
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v2i1.4342

Abstract

Ketidaksesuaian faktor ergonomi akan mengakibatkan kesalahan dalam postur kerja dan umumnya disertai gejala kelainan/keluhan musculoskeletal yang merupakan gangguan pada sendi, otot, tendon, kerangka, tulang rawan, ligamen, dan saraf yang umumnya berupa rasa nyeri. Tujuan penelitian mengetahui gambaran postur kerja dan keluhan muskuloskeletal pada pegawai tata laksana di Universitas Islam Bandung. Jenis penelitian merupakan observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 50 orang pegawai tata laksana di Universitas Islam Bandung yang berada di bawah naungan Kopsyakardos dan sudah bekerja lebih dari 1 tahun. Sampel penelitian diambil dengan cara melakukan observasi mengggunakan employee rapid entire body assessment (REBA) working sheet untuk menilai postur kerja, kemudian melakukan pengisian kuesioner dengan menggunakan nordic body map (NBM) untuk menilai keluhan muskuloskeletal. Penelitian dilakukan Maret–Mei 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar postur kerja responden berada pada kelompok risiko sedang sebanyak 39 orang (78%), kelompok risiko tinggi sebanyak 6 orang (12%), dan kelompok risiko rendah sebanyak 5 orang (10%). Keluhan muskuloskeletal paling banyak mengeluh sakit pada bahu kanan, bahu kiri, dan pinggang. Kesalahan postur kerja yang tidak sesuai dengan kaidah ergonomi, dilakukan secara berulang-ulang, dan dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan keluhan muskuloskeletal. DESCRIPTION OF WORK POSTURE AND MUSCULOSKELETAL COMPLAINT ON THE CLEANING SERVICE IN UNIVERSITY OF ISLAM BANDUNGErgonomic factor incompatibility will lead to errors in the work posture and generally accompanied by symptoms of musculoskeletal disorder which is a disorder of the joints, muscles, tendons, skeletons, cartilage, ligaments, and nerves are generally a pain. The purpose of this study was to know the description of work posture and musculoskeletal complaints on the cleaning service in University of Islam Bandung. This method in research type is descriptive observational by using cross sectional. Research subjects as many as 50 cleaning service personnel in University of Islam Bandung under the Kopsyakardos and has worked for more than 1 year. Research sample was taken by observation using Employee Rapid Entire Body Assessment (REBA) working sheet to assess work posture, then fill out questionnaires using Nordic Body Map (NBM) to assess musculoskeletal complaints. The study was held during March–April 2018. The results showed that most of respondent’s work posture was in moderate risk group as much as 39 people (78%), in high risk group as many as 6 people (12%), and in low risk group as many as 5 people (10%). Musculoskeletal complaints most often complain of pain in the right shoulder, left shoulder, and waist. Work posture errors that are not in accordance with ergonomic rules, carried out repeatedly, and in the long term will cause musculoskeletal complaints.
Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan Carpal Tunnel Syndrome pada Karyawan Pengguna Komputer di Bank BJB Cabang Subang Kintan Nafasa; Yuniarti Yuniarti; Nurdjaman Nurimaba; Cice Tresnasari; Caecielia Wagiono
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4319

Abstract

Insidensi kejadian carpal tunnel syndrome (CTS) 3,8% di dunia dan insidensi lebih tinggi pada individu yang pekerjaannya memerlukan fleksi atau ekstensi jari berulang dalam waktu yang lama seperti karyawan bank. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara masa kerja dan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini pendekatan potong lintang dan instrumen pengumpulan data menggunakan Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. Sampel adalah 54 karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kriteria inklusi adalah perempuan dan laki-laki berusia ≥24 tahun, menggunakan komputer pada saat bekerja, serta tidak memiliki riwayat diabetes melitus dan artritis reumatoid. Kriteria eksklusi, yaitu memiliki masa kerja kurang dari satu tahun, memiliki riwayat trauma tangan atau pergelangan tangan, sedang hamil, atau telah menopause.  Analisis data dilakukan dengan Uji Eksak Fisher dan didapatkan p=0,000 (<0,05) terdapat hubungan signifikan masa kerja dengan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kelompok yang memiliki masa kerja ≥4 tahun memiliki proporsi CTS lebih besar dibanding dengan kelompok yang memiliki masa kerja <4 tahun. Semakin lama masa kerja maka semakin tinggi risiko CTS  karena terjadi gerakan berulang pada jari tangan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat menyebabkan kompresi pada jaringan sekitar carpal tunnel. RELATIONSHIP BETWEEN WORK PERIOD TO COMPLAINTS OF CARPAL TUNNEL SYNDROME ON EMPLOYEES AT BANK BJB SUBANG WORKING USING COMPUTERIncidence rates of carpal tunnel syndrome (CTS) 3.8% in the world. CTS incidence rates are higher in individuals whose jobs require long-term flexion or extension of fingers, such as bank employees. This study aimed to analyze the relationship between work period to complaints of CTS on employees at Bank BJB Subang working using computer. This research cross sectional approach and data collection using Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. The target population of this research was all employees of Bank BJB Subang, while its accessible population was all employees of Bank BJB Subang that use computer. Samples were 54 employees at Bank BJB Subang is working on computer. Inclusion criteria was women and men aged ≥24 years who used the computer at work and had no history of diabetes mellitus and rheumatoid arthritis, while the exclusion criteria are those who has work period less than a year, history of hand or wrist injury, pregnant or menopause. Technique of data processing and data analysis conducted by statistical test Fisher’s exact test meaningful results is p-value = 0.000 (<0.05) thus there was a significant relationship between work period of complaints CTS on Employees at Bank BJB Subang Working Using Computer, which in the group who had working period more than four years had a higher proportion of CTS than the group with the working period less than four years. Risk of CTS will be higher for those who is working for a long period, because of repetitive movements of the fingers continuously for long periods of time can cause compression on the tissue around the carpal tunnel.
Hubungan Derajat Merokok dengan Gejala Gangguan Sistem Pernapasan pada Pegawai Universitas Islam Bandung Aliya Salsabila; Yuniarti
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.2, Desember 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.753 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i2.562

Abstract

Abstract. Smoking is a major risk factor for respiratory disease that can be detected early by knowing the symptoms of respiratory disorders. Smoking has become a habit for many Indonesians, including some employees of Bandung Islamic University (Unisba). This study aimed to analyse the relationship between smoking degree and respiratory symptoms in Unisba employees. The research method was an analytic study and the research design was cross sectional with a purposive sampling technique. Respondents were 77 Unisba employees who were divided into two groups, namely 33 risk factor groups (active smokers) and 44 control groups (non-smokers) for comparison. The smoking degree was assessed using a form based on the Brinkman index (the average number of cigarettes smoked per day in sticks multiplied by the length of smoking in years) which grouped into mild, moderate, and heavy smoker. Respiratory symptoms were assessed using a standard COPD Assessment Test (CAT) questionnaire which categorized into normal (asymptomatic) and abnormal (mild, moderate, severe, and very severe symptoms). Research data were analysed using fisher's exact test as an alternative because the chi square test requirements were not met. The analysis results showed p value=0.921 (p>0.05), meaning that the results were not statistically significant. The conclusion of the study is that there is no relationship between the smoking degree and respiratory symptoms in Unisba employees. Factors that can influence are passive smoking, smoking history, age, history of respiratory disease, nutritional status, exercise habits, and exposure to dust. Abstrak. Merokok merupakan faktor risiko utama dari penyakit pernapasan yang dapat dideteksi secara dini dengan mengetahui gejala gangguan sistem pernapasan. Merokok telah menjadi kebiasaan bagi banyak masyarakat Indonesia, termasuk sebagian pegawai Universitas Islam Bandung (Unisba). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan derajat merokok dengan gejala gangguan sistem pernapasan pada pegawai Unisba. Metode penelitian merupakan studi analitik dan rancangan pendekatan cross sectional dengan teknik pemilihan sampel purposive sampling. Responden sebanyak 77 pegawai Unisba yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu 33 kelompok faktor risiko (perokok aktif) dan 44 kelompok kontrol (bukan perokok) sebagai pembanding. Derajat merokok dinilai menggunakan formulir isian berdasarkan indeks Brinkman (jumlah rata-rata rokok yang dihisap per hari dalam satuan batang dikalikan dengan lama merokok dalam satuan tahun) yang dikelompokkan menjadi perokok ringan, sedang, dan berat. Gejala gangguan sistem pernapasan dinilai menggunakan kuesioner baku COPD Assessment Test (CAT) yang dikelompokkan menjadi kategori normal (tidak bergejala) dan abnormal (bergejala ringan, sedang, berat, dan sangat berat). Data penelitian dianalisis menggunakan uji fisher’s exact sebagai alternatif karena syarat uji chi square tidak terpenuhi. Hasil uji analisis menunjukkan nilai p=0,921 (p>0,05), artinya hasil tidak signifikan secara statistik. Simpulan penelitian adalah tidak terdapat hubungan antara derajat merokok dengan gejala gangguan sistem pernapasan pada pegawai Unisba. Faktor yang dapat memengaruhi adalah merokok pasif, riwayat merokok, usia, riwayat penyakit pernapasan, status gizi, kebiasaan olahraga, dan paparan debu.
Hubungan Tingkat Stres Kerja dengan Keluhan Gigi dan Mulut pada Tendik Laki-laki Universitas X Tania Kusumawardhani; Yuniarti
Jurnal Riset Kedokteran Volume 2, No.1, Juli 2022, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.305 KB) | DOI: 10.29313/jrk.vi.892

Abstract

Abstract. Work stress is one of the health problems that can occur in workers and cause other physical health problems. One of them causes complaints in the teeth and mouth area, since stress can increase the flow of salivary cortisol which will cause an imbalance of microbes that can increase susceptibility to infection. The aim of this study was to determine the association between work stress levels and dental and oral complaints among male academic staff at the Bandung Islamic University. This study used an observational analytic method with a cross-sectional design using a job stress diagnosis survey questionnaire based on the Minister Regulation of Employement No.5 2018 and related patient data forms. The study sample included 60 people collected by purposive sampling. Data collection was carried out in the period March–August 2021 using a google form. The results showed that 39 respondents(65%) experienced moderate work stress and 52 respondents(87%) had complaints of the teeth and mouth area. Continuity Correction bivariate analysis showed that there was no significant association between work stress levels and dental and oral complaints in male academic staff at the Bandung Islamic University with a value of P=0.893(P> 0.05). Insignificant results in this study can be caused by factors that cause dental and oral complaints not only from psychological stress, it can be caused by differences in age, oral hygiene, frequency of visits to the dentist, diet, socioeconomic status, habitual behavior, body mass index, and sleep duration that were not examined in this study. Abstrak. Stres kerja merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada pekerja dan menyebabkan terjadinya masalah kesehatan fisik lainnya. Salah satunya menyebabkan keluhan di daerah gigi dan mulut karena stres mengakibatkan peningkatan aliran kortisol saliva yang menyebabkan ketidakseimbangan mikroba yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat stres kerja dengan keluhan daerah gigi dan mulut pada tenaga kependidikan laki-laki Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross-sectional menggunakan kuesioner survei diagnosis stres kerja berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.5 Tahun 2018 dan Formulir data isian pasien terkait. Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 60 orang yang diambil dengan cara pengambilan purposive sampling. Pengambilan data dilakukan pada periode Maret – Agustus 2021 menggunakan google form oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 39 responden(65%) mengalami stres kerja sedang dan sebanyak 52 responden(87%) memiliki keluhan daerah gigi dan mulut. Hasil analisa bivariat Continuity Correction menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat stres kerja dengan keluhan daerah gigi dan mulut pada tenaga kependidikan laki-laki Universitas Islam Bandung dengan nilai P=0,893(P>0,05). Hasil tidak signifikan pada penelitian ini dapat disebabkan karena faktor penyebab keluhan gigi dan mulut tidak hanya dari stres psikologis, bisa disebabkan dari perbedaan usia, kebersihan rongga mulut, frekuensi kunjungan ke dokter gigi, diet atau jenis makanan yang dikonsumsi, status sosial ekonomi, perilaku kebiasaan, indeks massa tubuh, dan durasi tidur yang tidak diteliti pada penelitian ini.
Gambaran Tingkat Kecemasan Mahasiswa Tingkat 1 Fakultas Kedokteran Unisba pada Sistem Pembelajaran Daring Selama Pandemi Covid-19 Nurmalia Putri; Yuniarti; R. Ganang Ibnusantosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1437

Abstract

Abstract. The COVID-19 pandemic was declared a "public health emergency of international concern" by WHO on January 30, 2020, and designated a pandemic on March 11, 2020. The COVID-19 pandemic causes psychological and social effects. One of the psychological effects of the COVID-19 pandemic is anxiety. This anxiety can occur among students. Data from Chang et al in China shows that students have an incidence of mental disorders due to the COVID-19 pandemic, namely anxiety around 26.60%. This study aims to describe the level of anxiety in level 1 students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung for the 2020/2021 academic year in the online learning system during the COVID-19 pandemic. The research design used was descriptive observational, with a cross-sectional design. The sample size is 133 first-year students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung for the academic year 2020/2021 with a simple random sampling technique, the instrument used is the Zung Self Rating-Anxiety Scale (ZSAS) questionnaire. The results showed that most of the respondents did not experience anxiety as many as 104 people (76%) and the rest experienced mild anxiety as many as 32 people (24%). Students don’t experience anxiety (normal) because of their adaptability to prevent the emergence of anxiety that arises such as interesting learning, doing self-care, namely sleeping, physical activity, and meeting nutritional needs. Students who experience a mild level of anxiety means that students still have to self-focus on things that cause anxiety but are still able to do other activities. Abstrak. Pandemi COVID-19 dinyatakan sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" oleh WHO pada tanggal 30 Januari 2020, dan ditetapkan sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Pandemi COVID-19 menyebabkan efek psikologis dan sosial. Salah satu efek psikologis pandemi COVID-19 yaitu kecemasan. Kecemasan ini dapat terjadi di kalangan mahasiswa. Data dari Chang dkk di negara China menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kejadian gangguan mental akibat pandemi COVID-19 yaitu kecemasan sekitar 26,60%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2020/2021 pada sistem pembelajaran daring selama pandemi COVID-19. Desain penelitian yang digunakan adalah observational deskriptif, dengan rancangan cross sectional. Besar sampel berjumlah 133 mahasiswa tingkat satu Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2020/2021 dengan teknik simple random sampling, instrumen yang digunakan adalah kuesioner Zung Self Rating-Anxiety Scale (ZSAS). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan sebanyak 104 orang (76%) dan sisanya mengalami kecemasan ringan sebanyak 32 orang (24%). Mahasiswa tidak mengalami kecemasan (normal) karena kemampuan adaptasinya untuk mencegah timbulnya rasa cemas yang muncul seperti pembelajaran yang menarik, melakukan perawatan diri yaitu tidur, aktivitas fisik dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Mahasiswa yang mengalami tingkat kecemasan ringan artinya mahasiswa masih mempunyai fokus diri terhadap hal- hal yang menimbulkan kecemasan tetapi masih mampu melakukan aktivitas lain.
Hubungan Antara IMT dengan Keluhan Lower Back Pain pada Mahasiswa FK Unisba Dimas Muhammad Farhan; Dede Setiapriagung; Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6259

Abstract

Abstract. Low Back Pain (LBP) is a pain complaint that often occurs in the world, especially in Indonesia. Body Mass Index (BMI) is one of the risk factors for someone to experience LBP and there has been no research on the relationship between BMI and LBP complaints in student of the faculty of medicine, Bandung Islamic University. This study aims to analyze whether there is a relationship between body mass index and LBP complaints in FK UNISBA students. This study used an analytic observational method with a cross-sectional approach. The sampling method is by using probability sampling technique with random sampling. The number of samples according to inclusion enumeration was 85 people with measurements including measurements of height, weight and LBP complaints. The average age of the respondents was 18 years old as many as 43 people (50.6%) and based on gender the majority were women as many as 54 people (63.5%). The average BMI of the respondents was in the normal BMI category, namely 35 people (41.2%). LBP complaints to respondents, namely as many as 58 people (68.2%) did not experience LBP complaints. Bivariate analysis using the chi square test obtained BMI results with LBP complaints (p: 0.182) > 0.05 which means that there is no relationship between BMI and LBP complaints in FK UNISBA students. Abstrak. Low back Pain (LBP) merupakan keluhan nyeri yang sering terjadi di dunia terutama di Indonesia. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah satu faktor risiko seseorang untuk mengalami LBP dan belum ada penelitian tentang hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Cara mengambilan sampel adalah dengan teknik probability sampling dengan jenis random sampling. Jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 85 orang dengan pengukuran meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan dan keluhan LBP. Usia rata-rata responden adalah berusia 18 tahun sebanyak 43 orang (50.6%) dan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 54 orang (63.5%). Indeks massa tubuh rata-rata pada responden adalah kategori IMT normal yaitu sebanyak 35 orang (41.2%). Keluhan LBP pada responden yakni sebanyak 58 orang (68.2%) tidak mengalami keluhan LBP. Analisis bivariat menggunakan uji chi square mendapatkan hasil IMT dengan keluhan LBP (p: 0.182) > 0.05 dengan hal ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA.
Rokok sebagai Faktor Risiko terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru pada Dewasa Ari Susanti; yuniarti; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6942

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis is a disease of the lower respiratory disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Smoking behavior is a risk factor for infection with Mycobacterium tuberculosis. Smoking can weaken the lungs and make the lungs more easily infected with tuberculosis germs. Inhaled large amounts of cigarette smoke can increase the risk of tuberculosis severity. This scoping review aims to determine the relationship between smoking behavior and the incidence of pulmonary tuberculosis based on research in the last 10 years. The research method was carried out by scoping review articles published by the Pubmed, Springerlink, and Science Direct databases, published from 2012 to 2022. From 21,254 articles, 411 articles were filtered based on inclusion criteria, then followed by filtration using exclusion criteria were obtained 402 articles. and there were 6 articles of duplication, so the articles that met the eligibility criteria based on PICOS are 3 articles. The results of the analysis of all articles show that individuals with smoking habits have a higher risk of suffering from pulmonary tuberculosis than non-smokers which is characterized by positive smear results more likely to be found in smokers than non-smokers. This is because exposure to cigarette smoke can cause immunological changes, acting on alveolar macrophages, by reducing the production of TNF-α, IFN-γ, and mucociliary clearance, resulting in promoting the development of pulmonary tuberculosis. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko untuk terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis. Merokok dapat memperlemah paru dan menyebabkan paru lebih mudah terinfeksi kuman tuberkulosis. Asap rokok dalam jumlah besar yang dihirup dapat meningkatkan risiko keparahan tuberkulosis. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkulosis paru berdasarkan penelitian 10 tahun terakhir. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara scoping review artikel yang dipublikasikan oleh database Pubmed, Springerlink, dan Science direct, diterbitkan pada tahun 2012 sampai 2022. Dari 21.254 artikel dilakukan filtrasi berdasarkan kriteria inklusi terdapat 411 artikel, kemudian dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan kriteria ekslusi didapat sebanyak 402 artikel dan terdapat duplikasi sebanyak 6 artikel sehingga artikel yang memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan PICOS yaitu 3 artikel. Hasil analisis semua artikel menunjukan bahwa individu dengan kebiasaan merokok mempunyai risiko lebih tinggi menderita tuberkulosis paru dibandingkan bukan perokok yang ditandai dengan hasil BTA positif lebih cenderung ditemukan pada perokok dibandingkan bukan perokok. Hal ini disebabkan karena paparan asap rokok dapat menyebabkan perubahan imunologi, bekerja pada makrofag alveolar, dengan menurunkan produksi TNF-α, IFN-γ, pembersihan mukosiliar, sehingga mendorong perkembangan penyakit tuberkulosis paru.
Bahasa Inggris Caecielia Makaginsar; Meta Maulida Damayanti; Yuniarti; Siska Nia Irasanti
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 14, No 1, (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol14.Iss1.art7

Abstract

Background: Good knowledge and behaviours are crucial to prevent coronavirus disease (COVID-19) transmission in boarding school communities during the pandemic.Objective: To evaluate the relationship between sociodemographic characteristics, knowledge, and behaviours to prevent COVID-19 among students in an Islamic boarding school. Methods: A descriptive cross-sectional study was conducted in March 2021 at the Manarul Huda Islamic Boarding School on 39 students who met the inclusion criteria. Sampling was employed using the total sampling technique. Variables analysed were students’ age, education level, knowledge, and behaviour on COVID-19 prevention as measured using a closed questionnaire. Data were then analysed univariately using frequency distribution and bivariate using the Chi-Square (χ2) and Fisher’s Exact test. Results were considered significant if the p-value was < 0.05.Results: No significant relationships were found between age and knowledge of COVID-19 (p = 0.97); education level and knowledge of COVID-19 (p = 0.619); age and behaviours to prevent COVID-19 transmission (p = 0.136); and education level and behaviours to prevent COVID-19 transmission (p = 0.399) among of the Islamic boarding school students. In contrast, knowledge was significantly (p = 0.035) linked with behaviours to prevent COVID-19 transmission among students.Conclusion: There is a relationship between knowledge and behaviours in preventing COVID-19 among students. However, no relationship was found between demographic characteristics of age and educational level and knowledge and behaviours to prevent COVID-19 in our study participants.