Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Diagnostik dan Penatalaksanaan Hipertensi di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Tahun 2015 – 2016 Tri Adi Mylano; Silvia Audina
PRIMER (Prima Medical Journal) Vol. 6 No. 1 (2021): Edisi April
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/pmj.v4i1.1650

Abstract

Dengan meningkatnya arus globalisasi di segala bidang dengan perkembangan teknologi dan industri, telah banyak membuat perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat dapat memicu peningkatan kejadian hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang tinggi, merupakan pembunuh tersembunyi “the silent killer” yang penyebab awalnya tidak spesifik, serta dapat menyebabkan berbagai komplikasi organ. Profil kesehatan Kota Medan tahun 2007 menunjukkan hipertensi menduduki peringkat kedua terbanyak di kota Medan, dengan jumlah penderita sebanyak 423.656 orang (26,3%). Untuk mengetahui gambaran diagnostik dan penatalaksanaan penderita hipertensi di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan, telah dilakukan penelitian bersifat deskriptif dengan desain studi kasus. Populasi seluruh data rekam medis penderita hipertensi di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan pada Tahun 2015-2016 yang berjumlah 185 orang. Jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 100 data rekam medis penderita hipertensi yang diambil secara purposive sampling yaitu memilih data rekam medis yang lengkap. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pasien hipertensi dengan umur termuda 21 tahun dan yang tertua 80 tahun. Kelompok umur tertinggi 45-52 tahun sebesar 29%. Didapatkan penderita hipertensi yang tertinggi adalah laki-laki yaitu sebesar 52%, sedangkan perempuan hanya 48%. Keluhan yang paling banyak nyeri kepala sebesar 28%, serta derajat yang paling banyak yaitu hipertensi derajat II sebesar 56%, diikuti hipertensi derajat I sebesar 41%, dan yang terendah pada prehipertensi sebesar 3%. Pemberian obat anti-hipertensi yang tertinggi adalah amlodipin sebesar 79%, diikuti kaptopril 25%, dan yang terendah adalah pemberian telmisartan/micardis sebesar 1%. Status komplikasi tertinggi yaitu kelompok tanpa komplikasi sebesar 54% dibandingkan dengan yang memiliki komplikasi yaitu sebesar 46%. Kesimpulannya, penderita hipertensi banyak pada kelompok umur dewasa muda dan akan meningkat seiring bertambahnya usia. Hipertensi paling banyak terdapat pada laki-laki, dengan keluhan tersering nyeri kepala, derajat hipertensi terbanyak adalah derajat II, dan obat yang banyak digunakan yaitu amlodipin.
Perbandingan Penggunaan Gips Sintetik dan Gips Tradisional pada Pasien Fraktur Tertutup di Rehabilitasi Harapan Jaya Pematang Siantar Tahun 2014-2015 Tiorasi Pakpahan; Andrian Khu; Muhammad Rizal Renaldi; Tri Adi Mylano; Ade Arhamni; Oliviti Natali
PRIMER (Prima Medical Journal) Vol. 7 No. 1 (2022): Edisi April
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/pmj.v7i1.2789

Abstract

Immobilisasi adalah upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Immobilisasi biasanya menggunakan plaster of paris (gips) atau dengan bermacam-macam bidai dari plastic atau metal. Metode ini digunakan pada fraktur tertutup untuk mempertahankan posisinya dalam proses penyembuhan. Fraktur tertutup (closed) adalah tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan menggunakan bahan gips tipe plester atau fiberglass. Gips terdiri dari  dua jenis bahan yaitu sintetik dan tradisional. Data dari Riset Kesehatan Dasar 2007  di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam ataupun tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang tertinggi yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8,5%), dari 14.127 trauma benda tajam atau tumpul. Di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 didapatkan sekitar 2.700 orang mengalami insiden fraktur, 56% penderita mengalami kecacatan fisik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan gips Sintetik dan gips Tradisional di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematang Siantar tahun 2014-2015. Metode: Desain penelitian adalah studi kasus dengan sampel 50 data yang dipilih secara purposive yaitu dengan menggunakan data yang paling lengkap. Hasil: Pada penelitian ini, kelompok umur tertinggi yang menggunakan gips akibat fraktur tertutup terdapat pada umur 26-45 tahun sebesar 26% dengan jenis kelamin terbanyak pada laki-laki 58%.Penggunaan gips terbanyak pada fraktur tertutup adalah gips Tradisional sebanyak 64% dan lama penggunaan gips terbanyak 8-10 minggu (37,5%).Komplikasi terbanyak adalah berhubungan dengan immobilisasi 31,2% penggunaan gips Tradisional.