Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pembuatan Nanosilikon dari Hasil Ekstraksi Silika Sekam Padi dan Pemanfaatan Alumunium dari Limbah Kaleng Minuman untuk Sintesis Gas Hidrogen Dea Amelia Putri; Robert Junaidi; Cindi Ramayanti
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - November 2025
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v14i2.25317

Abstract

Krisis energi global serta meningkatnya jumlah limbah pertanian seperti sekam padi mendorong pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan silika dari sekam padi sebagai bahan baku pembuatan nanosilikon yang kemudian digunakan dalam sintesis gas hidrogen. Ekstraksi silika dilakukan dengan larutan NaOH 1 M dan diendapkan menggunakan HCl, kemudian direduksi secara aluminotermal menggunakan serbuk aluminium dari limbah kaleng minuman. Proses reduksi dilakukan dengan rasio Al:SiO₂ sebesar 1:1, 1,5:1, dan 2:1 pada suhu 650°C selama 3 jam. Hasil silikon dimurnikan menggunakan larutan HCl 2 M dan dikarakterisasi menggunakan XRF dan FTIR. Komposisi silikon tertinggi tercatat sebesar 53,70 ppm pada rasio 1,5:1, dengan gugus fungsi utama Si–Si (500–520 cm⁻¹), Al–O–Si (600–700 cm⁻¹), dan Si–O–Si (1300–1050 cm⁻¹). Silikon hasil reduksi digunakan dalam proses sintesis gas hidrogen menggunakan reaktor semi-batch pada suhu 90°C selama 20 menit dengan variasi konsentrasi NaOH 3–4,5 M. Volume gas hidrogen tertinggi sebesar 79,40% diperoleh pada rasio Al:SiO₂ 2:1 dan konsentrasi NaOH 4,5 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio reduktor dan konsentrasi basa meningkatkan efisiensi produksi gas hidrogen. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah pertanian dan aluminium dapat menjadi solusi potensial dalam pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
The ability of the Ni/Al2O3 catalyst in the CO2 methanation process in terms of variations in CO2 flow rate and catalyst Sultan Parega; Robert Junaidi; Didiek Hari Nugroho; Helda Niawanti
Konversi Vol 13, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v13i2.20235

Abstract

Carbon dioxide (CO2) is one of the biggest contributors to the greenhouse effect. Based on International Energy Agency (IEA) data, global emissions of carbon dioxide (CO2) from burning energy and industrial activities will reach 36.8 billion tons in 2022. The increase in emissions in 2022 will mainly come from burning coal and fuel oil (Fuel Oil). Carbon dioxide emissions from coal rose 1.6% while fuel oil emissions increased 2.5%. One effort to reduce carbon dioxide emissions is to convert carbon dioxide into methane gas (CH4) which can be used as fuel. This research aims to produce methane gas from carbon dioxide using Ni/Al2O3 catalyst treatment and varying CO2 flow rates. In this research, CO2 was used as a raw material with a Ni/Al2O3 catalyst and Zn metal. Based on the research results, the highest conversion yield of methane gas was 49.23% with a variation of 0.05 L/minute with Ni_R4 catalyst treatment
Pengaruh Praperlakuan Pembekuan terhadap Karakteristik Proksimat Jamur Kering Menggunakan Food Dehydrator Ahlam Inayatullah; Robert Junaidi; Nia Boru Ritonga; Aldilla Sari Utami
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 8, No 1 (2026): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v8i1.14749

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh praperlakuan pembekuan terhadap karakteristik proksimat jamur kering yang dikeringkan menggunakan food dehydrator. Sampel jamur dibekukan pada suhu −20 °C selama 24 jam, kemudian dikeringkan pada suhu 40, 50, dan 60 °C selama 6 dan 18 jam. Penelitian menggunakan rancangan faktorial 2×3×2 dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, dan kadar protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan lama waktu pengeringan merupakan faktor dominan yang memengaruhi karakteristik proksimat jamur, sedangkan praperlakuan pembekuan memberikan kontribusi yang lebih kecil. Praperlakuan pembekuan cenderung mempercepat penurunan kadar air pada kondisi pengeringan tertentu, yang berdampak pada peningkatan kadar protein secara relatif akibat efek konsentrasi. Kombinasi pembekuan dengan pengeringan pada suhu 50 °C selama 18 jam menghasilkan kadar protein tertinggi sebesar 47,03%. Pendekatan praperlakuan pembekuan sebelum pengeringan udara panas berpotensi menjadi alternatif sederhana dalam pengolahan jamur kering, khususnya untuk skala rumah tangga dan industri kecil.