Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KEPEMIMPINAN MULTIKULTURAL : (Studi Empiris pada Pesantren Nurul Hidayah Masaran Palengaan) Abd Ghani
EDUTHINK: Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IAI Miftahul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.539 KB)

Abstract

This study examines the form of leadership. The leadership in question is multicultural leadership. Conceptually, a leader is a leader who is able to anticipate, dream of, apply the concept of flexibility, think strategically and work to initiate and bring about change in order to create a better future for the organization. This research uses a qualitative approach, by making educational institutions as the setting. In his research, he concluded that decision making in multicultural leadership that rubs against socio-cultural factors often sparks the fire between groups. For this reason, a leader who understands the concept of multicultural leadership is required to be a communication bridge between employees. Multicultural leaders can apply the principles of justice and truth by drawing policies based on needs, not just the desires of one or two parties. Awareness of the facts of differences needs to be addressed and managed by a leadership concept that is able to synergize each diversity into a beauty.
TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM Abd. Ghani
EDUTHINK: Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IAI Miftahul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The position of the evaluation of Islamic education is very important to find out the extent to which the results of Islamic education are planned. Without evaluation, Islamic education will run without purpose. In general, educational evaluation also has a very strategic position in the world of education, because the results of the evaluation can be used as input in improving educational activities. There are several procedural steps in carrying out an evaluation, and these steps can be used as a reference in carrying out evaluations in general. The steps in question include: Planning, Data Collection, Data Verification and Data Analysis. The educational evaluation has a very strategic position in the world of education, because the results of the evaluation can be used as input in improving educational activities. And if it is associated with Islamic education, it is clear that Islamic teachings also pay great attention to this evaluation. As in the word of Allah SWT in the holy book of the Qur'an, it has told us that evaluation activities for human students are an important task in terms of the educational process that has been carried out by educators.
Konsep Pendidikan Islam Perspektif Imam Al-Ghazali Abd. Ghani. Moh Ali
El-Fata: Jurnal Ilmu Tarbiyah Vol. 2 No. 01 (2022)
Publisher : Fakultas Tarbiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.691 KB)

Abstract

Pendidikin sangat penting bagi perkembangan kehidupan manusia, bangsan dan negara, sebagaimana telah di singung dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji bagaimana pemikiran tentang konsep pendidikan islam perspektif Imam al-Ghazali telaah kitab Ihya’ Ulum al-Din Juz I. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan islam perspektif Imam al-Ghazali dan bagaimana relevansi konsep pendidikan islam perspektif Imam al-Ghazali dengan konteks pendidikan di Indonesia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), sumber data primer adalah kitab Ihya’ Ulum al-Din Juz I dan sumber sekundernya adalah terjemah Ihya’ Ulum al-Din Juz I, serta buku-buku lain yang bersangkutan dan relevan. Penelitian ini menggunakan Metode Deskriptif Analisis dan Metode Content Analisis, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemikiran Pendidikan Islam Kitab Ihya’ Ulum al-Din Juz I perspektif Imam al-Ghazali ini sangat sangat bagus dan relevan dengan konteks Pendidikan Islam di Indonesia yang akhirnya dapat diterapkan dalam dunia pendidikan, juga dalam keluarga, sekolah, pergaulan, maupun sosial kemasyarakatan. Karakteristik pemikiran beliau dapat digolongkan dalam corak praktis yang tetap berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadits
MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN Abd Ghani; Fera Rahmawati
EDUTHINK: Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam Vol. 3 No. 02 (2022)
Publisher : Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IAI Miftahul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Model pengembangan sistem pendidikan Pesantren, dan (2) Kendala serta solusi model pengembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren. Dari tujuan diatas dapat dijelaskan bahwa model pengembangan pesantren dapat diterapkan dengan baik meliputi beberapa hal, diantaranya ialah dengan menggunakan model pendidikan komprehensif yang menggabungkan sistem pendidikan klasik dengan sistem pendidikan modern. Selain itu, sistem pendidikan yang di kembangkan mulai dari tenaga pendidik, santri, pendidikan rohani, proses pembelajaran, dan sarana prasarana. Adapun kendala yang dihadapi dalam model pengembangan sistem pendidikan pesantren yaitu terletak pada kegiatan santri yang begitu padat, sehingga pengembangannya di lakukan pada kegiatan yang telah ada dan memaksimalkan kegiatan ekstra dalam pengembangan kemampuan santri. Dari sini ada beberapa kekurangan yang dihadapi oleh Pesantren, salah satunya dalam pengembangan bakat santri yang memiliki kemampuan diluar keagamaan. Solusi dari kendala yang dihadapi dalam pengembangan sistem pendidikan pesantren tersebut adalah bagaimana pesantren harus membuat kurikulum yang bisa mewadahi minat dan bakat yang dimiliki oleh masing-masing santri, sehingga banyak Masyarakat yang tertarik memondokkan anaknya ke Pesantren karena model Pendidikan pesantren sudah mampu menjawab keinginan Masyarakat secara luas.
A Critical Review of AI Chatbots as Interactive Media for Arabic Language Learning: Integrating Explainable AI and the Cognitive Theory of Multimedia Learning Gufron Zainal Abidin Sdawi Manasiq; Abd Ghani
Journal of Education and Contemporery Linguistics Vol. 1 No. 02 (2024)
Publisher : CV Alifba Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigates the pedagogical limitations of AI chatbots in Arabic language learning, particularly the lack of integration of Explainable AI and the Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML). The aim is to develop a theoretical framework that promotes cognitive alignment and instructional transparency. A qualitative, library-based method was used, analyzing academic literature on Arabic instruction, AI systems, and multimedia learning. Findings reveal that current chatbot designs often neglect cognitive load and offer limited explanation of responses. As a result, learner trust and comprehension suffer. The study concludes that integrating CTML and Explainable AI can enhance the effectiveness, trustworthiness, and cognitive depth of chatbots in Arabic language education.
TREN KOMUNIKASI DALAM PENGAJARAN BAHASA ARAB: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS (2020-2025) Gufron Zainal Abidin Sdawi Manasiq; Abd Ghani; Mustaufir Mustaufir
Journal of Education and Contemporery Linguistics Vol. 2 No. 01 (2025)
Publisher : CV Alifba Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti-bukti empiris mengenai tren komunikasi dalam pengajaran bahasa Arab antara tahun 2020 dan 2025. Tinjauan ini secara spesifik menganalisis jenis-jenis tren komunikasi yang dominan, efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan bahasa Arab, serta tantangan dan faktor keberhasilan implementasinya. Tinjauan literatur sistematis ini dilakukan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian literatur dilakukan di enam database akademik utama (ERIC, Scopus, Web of Science, Google Scholar, ProQuest, dan ScienceDirect) untuk artikel penelitian primer yang diterbitkan antara Januari 2020 dan Oktober 2025. Proses seleksi melibatkan screening judul dan abstrak, diikuti oleh penilaian full-text berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi yang ketat. Penilaian kualitas dan risiko bias dilakukan menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tools. Sintesis data dilakukan secara kualitatif (analisis tematik) dan kuantitatif (meta-analisis terbatas). Dari 72 catatan awal, 20 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi pada tahun 2024-2025. Tren komunikasi yang paling dominan dan efektif adalah Mobile Learning (M-Learning), Digital Teaching Tools, dan Blended Learning, yang secara konsisten menunjukkan efektivitas tinggi (65% studi) dalam meningkatkan keterampilan bahasa, terutama keterampilan berbicara (speaking skills) dan kompetensi komunikatif interaktif. Meta-analisis terbatas pada 8 studi kuantitatif menunjukkan ukuran efek gabungan yang besar (pooled effect size, Cohen's d = 0.81 [95% CI: 0.66, 0.96]), yang mengindikasikan dampak positif yang kuat dari intervensi komunikasi berbasis teknologi. Tantangan utama yang teridentifikasi adalah keterbatasan infrastruktur teknis (dilaporkan oleh 40% studi) dan kurangnya persiapan guru (35% studi). Tren komunikasi modern, khususnya yang berbasis mobile dan blended learning, secara signifikan mentransformasi pengajaran bahasa Arab dengan meningkatkan engagement, personalisasi, dan efektivitas pembelajaran
Kebebasan Berekspresi di Media Sosial: Dialektika Hak Asasi Manusia dan Hukum Islam dalam Pembentukan Regulasi Digital Gufron Zainal Abidin Sdawi Manasiq; Mohsi Mohsi; Hammis Syafaq; Fahmi Assulthoni; Abd Ghani
Qisth : Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36420/qfmm9k86

Abstract

The normative regulation of freedom of expression on social media platforms remains unresolved, particularly in Muslim-majority countries that simultaneously operate under international Human Rights (HR) frameworks and Islamic Law principles. Available comparative scholarship tends to address this issue in general terms, without examining its specific implications within digital ecosystems. Drawing on a qualitative-comparative approach grounded in document analysis, this study examines international HR instruments specifically Article 19 of the UDHR and ICCPR alongside Islamic normative sources comprising the Qur'an, Sunnah, fatwa council rulings, and maqasid al-shari'ah literature. Both systems recognize freedom of expression as a fundamental right, yet differ substantially in philosophical foundation. HR frameworks condition restrictions on the principles of legality, legitimate aim, necessity, and proportionality; Islamic Law, by contrast, frames expression as a moral trust bounded by the protection of maqasid al-shari'ah and the principle of amar ma'ruf nahi munkar. This tension produces concrete regulatory gaps in digital content moderation, particularly regarding hate speech, blasphemy, and disinformation. In response to these gaps, the study proposes a three-component integrative regulatory model: balanced cyber-regulation design, multi-stakeholder co-regulation mechanisms, and digital literacy grounded in cross-perspectival communication ethics. The model offers an operational framework for policymakers and digital platforms seeking to develop fair and contextually sensitive content moderation policies.